
"Hah?"
Albar melongo saat Maminya memanggil Albar untuk melihat foto anak teman Mami yang akan dijodohkan dengan Flo.
"Namanya Zack, dia sekarang mulai menggeluti bisnis otomotif, dia sebelumnya sempat ikut tim balap lho Al."
Kata Mami.
Albar mengangkat dua alisnya.
"Ganteng kan Al?"
Tanya Mami sambil melirik Albar yang tampak garuk-garuk kepala sambil menatap layar laptop di meja depan sofa Mami dan dirinya duduk.
Albar sejenak menghela nafas, lalu...
"Flo kayaknya nggak mau Mam."
Kata Albar akhirnya.
Mami membulatkan matanya.
"Lho, ini kurang keren apa sih?"
Tanya Mami heran.
Albar menghempaskan tubuhnya bersandar di sandaran sofa.
"Bukan kurang keren Mam, tapi Flo katanya sudah punya calon sendiri."
Ujar Albar.
"Hah? Anak itu sudah punya calon?"
Mami kaget luar dalam.
Albar mantuk-mantuk.
"Albar juga belum tahu sih yang dimaksud Flo calon dia tuh siapa."
Kata Albar.
Mami ikut bersandar pada sofa, lalu menoleh pada Albar.
"Jangan-jangan Pardi."
Mami tiba-tiba menabok lengan Albar.
Albar yang ditabok dan juga mendengar Mami bicara begitu jelas saja terkejut, lalu sekian detik berikutnya terpingkal-pingkal.
"Mami bisa-bisanya kepikiran Flo sama Pardi, hahahaha..."
Albar tertawa tak henti-henti.
Mami yang ditertawakan hanya nyengir keki.
"Eh kamu mah tidak tahu jaman sekarang pada suka aneh-aneh."
"Ya Mami lihat-lihat dong Mam, yang kita bicarain itu Flo, kan Mami tahu Flo itu lihat Justin Bieber lewat depannya aja nggak ngaruh."
Albar geleng-geleng kepala.
"Aah iya, yang dulu kata kamu pas di Miami itu kan ya?"
__ADS_1
Albar mengangguk.
"Ah padahal ini Zack ganteng banget, kan cocok sama Flo, sebetulnya Flo itu kan cantik sekali, cuma dia tomboi tidak suka bersolek saja."
"Ah Zack sama aku gantengan aku Mam."
Albar tertawa sambil berdiri.
"Mau ke mana?"
Tanya Mami.
"Tidur Mam, besok ada kuliah pagi."
Mami menepuk sofa sebelahnya.
"Duduk dulu sebentar."
Kata Mami.
"Kan tadi udah."
"Kan tadi ngomongin Flo, sekarang giliran kamu."
Ujar Mami.
Albar mengangguk, meskipun hatinya lumayan degdegan juga.
Mau membicarakan apa Mami kira-kira? Batin Albar.
"Bulan depan, bikin jadwal pulang ke Indonesia Al."
Kata Mami.
Albar menatap Maminya.
"Mam, Mami serius? Dia kan perancang perhiasan terkenal itu kan?"
Albar tampak begitu bahagia, ia tak menyangka jika Mami nya memberikan perhatian sebesar itu pada rencananya.
"Iya dong, kan apa kata dunia nanti kalau menantu Mami hanya pakai perhiasan biasa yang begitu dipakai ternyata kembarannya banyak."
Kata Mami.
Ah yeah, tetap ya sombong harus didahulukan. Albar menghela nafasnya.
Mami menghela nafas. Lalu...
"Mami akan kosongkan jadwal awal bulan depan, jadi kamu urus dengan baik semuanya, jangan sampai nanti ditunda dan lain-lain. Kamu tahu kan Al, buat Mami waktu adalah uang, uang dan uang."
Albar menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mami... Mami, apa Mami sangat menyukai uang?"
Tanya Albar.
Mami tersenyum mendengar pertanyaan Albar.
"Memangnya siapa di dunia ini yang tak suka uang Albar?"
Tanya Mami.
"Kucing, semut, rayap, kutu, ular, mereka nggak suka uang."
Haiiish... Mami mendesis.
__ADS_1
"Manusia Albar, manusia..."
"Kan Mami bilang di dunia ini."
"Ah kamu mah musti ditabok."
Mami yang gemas jadi menabok Albar.
Albar tertawa.
"Mami suka pada uang karena bisa melakukan banyak hal Al, kita bisa bantu yayasan yang menaungi anak-anak korban perang dengan uang, kita bisa memberikan lapangan pekerjaan pada banyak orang dengan uang yang kita buat jadi modal bisnis, kita bisa gunakan uang untuk menggaji para pekerja agar mereka bisa menghidupi keluarganya, kita juga bisa gunakan uang untuk membayar pajak agar negara bisa terus melakukan pembangunan."
"Tak ada yang salah dengan menyukai uang asalkan uang yang kita miliki adalah dari hasil sendiri, bukan meminta atau mengambil dari orang lain. Mami sebagai janda, hidup sendiri, bisa berdikari dan bisa melakukan semuanya sampai sejauh ini tanpa harus bergantung pada laki-laki apalagi laki-laki suami perempuan lain, tentu saja ini adalah pencapaian Al."
Kata Mami.
Albar yang mendengarkan Maminya bicara jadi terdiam.
Selama ini nyatanya ia memang jarang sekali bisa duduk bersama Maminya, karena perempuan itu selalu sibuk setiap saat.
Albar dulu sempat berpikir bahwa Mami bukanlah gambaran sosok ibu yang baik, karena ia lebih sering berada di luar rumah, perhatian dan waktunya tersita untuk pekerjaan yang nyaris tak ada ujungnya.
Albar sempat merasa bahwa ia menjadi anak yang tak seberuntung anak lainnya, yang kapan saja bisa berkeluh kesah pada Ibunya, meminta di masakkan makanan yang ia sukai, atau bisa jalan-jalan ke tempat yang ingin ia kunjungi bersama sang Ibu.
Tapi...
Sekarang, setelah Albar mendengar semua yang dikatakan Mami, rasanya Albar mulai bisa memahami posisi Maminya, Albar bahkan sepertinya harus mulai merasa berbangga hati memiliki Ibu yang tangguh seperti Mami.
"Sudah sana katanya mau tidur, nanti kita bicarakan lagi tentang lamaranmu."
Kata Mami membuyarkan lamunan Albar.
Albar menatap Maminya, lalu memeluk Mami tiba-tiba dan mencium pipi Maminya.
"Albar sayang Mami, sehat terus Mam."
Ujar Albar membuat Mami menatap putranya dengan haru.
Ya setelah sekian lama, akhirnya Albar kembali menjadi anak yang manis lagi.
**--------------**
Di sebuah ballroom salah satu hotel berbintang, terlihat pelaminan yang sangat indah dan megah.
Bunga-bunga memenuhi ruangan dengan penataan yang sangat cantik dan elegan.
Ruangan itu dipenuhi tamu undangan yang hadir, di antaranya bahkan ada beberapa selebritis tanah air yang namanya cukup terkenal dan wajahnya sering wara wiri di layar kaca.
Band pengiring di atas panggung yang berada di sudut ruangan dekat pelaminan terdengar menyanyikan lagu Beautiful In White milik Shane Filan.
Ya, lagu yang sangat indah itu kemudian mengiringi terbukanya pintu ballroom yang membuat seluruh mata para hadirin memandang ke arah pintu ruangan tersebut, di mana kini terlihat masuk laki-laki dan perempuan mengenakan busana pengantin, yang berjalan beriringan sambil bergandengan tangan menuju pelaminan.
Semua yang hadir tampak bertepuk tangan sembari memberikan jalan untuk pasangan itu lewat.
Hingga sampailah mereka di pelaminan, dan kemudian pasangan itu berdiri saling berhadapan, keduanya saling bertatapan penuh cinta.
Pengantin laki-laki mendekatkan wajahnya pada sang perempuan, dan...
Gubrak!!
Flo jatuh ke lantai sambil memeluk guling.
Ah sial, ternyata mimpi. Flo garuk-garuk kepalanya.
Bagaimana bisa dia mimpi menikah dengan Indra. Sungguh otaknya sudah benar-benar berkarat sekarang.
__ADS_1
Flo yang kesal jadi menggigit bantal gulingnya
**----------**