Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
151. Selamat Datang Albar


__ADS_3

"Kenapa Qis? Sedih banget mukanya."


Tanya Eti duduk di samping Balqis di ruang TV setelah mereka makan malam dan kini tinggal menunggu yang lain pada pulang.


Balqis yang duduk bersandar di sofa ruang TV terlihat hanya senyum sekedarnya saja ke arah Eti.


Pikirannya sebetulnya sedang tak tenang, karena Albar belum juga menghubunginya hari ini.


"Albar?"


Tebak Eti macam dukun saja tebakannya tepat.


Balqis nyengir.


Eti menghela nafas.


"Mungkin lagi tidak punya kuota."


Kata Eti pula, yang jelas saja itu adalah sebuah kemustahilan.


Bagaimana bisa seorang Albar Harrys yang uang jajannya saja dua ratus juta sampai kehabisan kuota.


Oh... oh yang benar saja kau Katemi.


"Sepertinya Albar sudah mulai tidak menganggap aku penting Et."


Kata Balqis tiba-tiba.


Tak ada angin, tak ada hujan, tak ada geluduk, tak ada petir, dia ujug-ujug galau.


Eti mengerutkan kening.


Saking banyaknya kerutan, keningnya sudah macam gorden tahun 90'an yang dibuat plisket.


"Mana mungkin, kau itu buat Albar adalah pasangan sejatinya. Jika Albar adalah sendok maka kamu adalah garpu, jika Albar adalah gelas maka kamu adalah teko, jika Albar piring maka kamu adalah mangkuk."


Ujar Eti yang perumpamaannya sama sekali tidak romantis.


"Tapi nyatanya belakangan ini dia sepertinya sudah mulai sibuk sendiri dengan dunianya sendiri."


"Mungkin dia sedang fokus. Eh lagian kan katanya dia mau nikahin kamu dalam waktu dekat, ya tidak mungkin lah Aqis kalau Albar tuh lupain kamu. Kecuali dia kejedot sampe benjol lima, baru mungkin bisa lupa sama kamu."


Ujar Eti.


Balqis menghela nafas.


Ia mengganti-ganti channel TV di hadapan mereka. Sementara tampak jam bergerak mendekati angkat tujuh malam.


Eti tiba-tiba berdiri.


"Ke mana Et?"


Tanya Balqis menatap Eti heran.

__ADS_1


"Aku mau ambil mangga di kulkas."


Sahut Eti.


"Oooh."


Oh saja Balqis tak berniat meneruskan.


Eti nyengir, lalu berjalan menuju dapur, meninggalkan Balqis seorang diri di ruang TV yang kini memilih rebahan di atas karpet bulu dengan bantalan kepala memakai bantal sofa.


Balqis kembali mengganti-ganti channel TV lagi, semua acara rasanya tak menarik, tak ada yang bagus untuk ditonton.


**--------------**


Sementara itu, di bandara, terlihat Flo baru turun dari mobil dan bergegas melangkah cepat karena sudah terlambat.


Panggilan tak terjawab dari Albar sudah masuk ke hp nya macam diberondong peluru.


Di belakang Flo, terlihat Indra yang sudah turun juga dari mobil kini berlari mengejar Flo.


Panggilan dari Albar masuk lagi, Flo mengangkat panggilan itu sambil terus berjalan menuju pintu kedatangan penumpang.


"Ah sialan, kirain kamu lupa."


Kata Albar begitu Flo mengangkat panggilannya sementara mereka kini berhadapan.


Flo cepat memutus panggilan Albar.


Albar terlihat nyengir ke arah Flo sambil melambaikan tangannya ke arah sang sepupu yang langsung mengerucutkan bibirnya.


Albar dan Indra sejenak saling berpandangan, Flo yang berdiri di antara mereka jadi cengar-cengir seperti sisir ompong.


Indra menatap Albar tak percaya.


Sementara Albar juga menatap Indra tak percaya.


Indra sulit percaya jika ternyata saudara Flo adalah Albar Harrys, artis yang dulu sempat naik daun lalu sering diterpa isyu miring akhirnya tenggelam dan kemudian memutuskan hengkang dari dunia hiburan.


Sementara Albar sama sulit percaya jika Flo benar-benar sudah punya pacar.


"Ngg... Dia saudaraku, Ndra."


Kata Flo yang rasanya masih begitu canggung memanggil Indra dengan menyebut nama saja.


Indra mendekat, lalu mengulurkan tangannya lebih dulu untuk mengajak Albar berjabat tangan.


Albar pun dengan senang hati menjabat tangan Indra.


"Albar."


Kata Albar.


"Indra."

__ADS_1


Sahut Indra pula memperkenalkan diri.


Melihat ekspresi Indra yang seperti ingin diyakinkan bahwa yang kini berdiri di depan mereka adalah nyata Albar Harrys si artis itu, Flo akhirnya membuka suara.


"Dia Albar yang dulu sempat jadi artis tapi memilih pensiun karena kebanyakan gosip."


Kata Flo ke arah Indra, tepat saat jabat tangan Indra dan Albar terlepas.


"Ya dia ini manajernya."


Ujar Albar yang tentu saja tak mau kalah.


"Oh jadi kalian dulu..."


Indra takjub.


Albar mantuk-mantuk.


"Ya aku artis, dan dia manajerku, trus kami gagal, begitulah kisah singkatnya, bahkan dibuat cerpen saja terlalu singkat."


Kata Albar.


Indra jadi tertawa mendengarnya.


"Ya kamunya yang jadi artis terlalu ganjen, bikin banyak gosip nggak enak terus-terusan muncul, aku sampai dibikin mau botak nih kepala."


Kata Flo pada Indra yang tambah tertawa.


"Jangan percaya Ndra, percayalah itu hanya mitos."


Ujar Albar.


"Apaan."


Flo akan bicara lagi, tapi Albar segera merangkulnya dan membekap mulut Flo sambil membawanya keluar dari bandara.


Beberapa orang melihat Albar yang memang selalu macam bintang yang bersinar terang di antara lampu-lampu lima wat.


"Udah ah hayuk pulang, laper aku."


Kata Albar pula.


Indra pun menyusul Albar yang membawa Flo dan kemudian mengimbangi langkah panjang Albar.


"Di sana Bang Albar mobilnya."


Indra menunjuk ke tempat di mana mobil Flo ia parkirkan.


"Jangan panggil Bang lah, panggil Albar saja, panggil Bang nanti dikira saingan Bang Doel."


Kata Albar.


Indra pun senyum-senyum sambil mengangguk.

__ADS_1


**--------------**


__ADS_2