
Albar dan Fajar cukup lama berada di toko perhiasan.
Albar meminta dibuatkan satu model sesuai keinginannya, kebetulan toko emas yang memiliki pengrajin sendiri akhirnya menyanggupi pesanan Albar dan meminta Albar kembali sore nanti.
Tapi Albar tentu saja tidak mau. Ia masih harus bebenah pakaiannya di rumah, karena besok pagi kemungkinan Flo sudah sampai di rumah Aki.
"Bilang sama tukang perhiasannya, siang ini usahakan jadi, saya bayar ongkosnya tiga kali lipat."
Kata Albar.
"Tapi kalau tiga kali lipat ini akan sama seperti beli emas dua gram Tuan."
"Mau sepuluh gram juga aku bayar."
Kata Albar.
Bzzzzt...
Fajar geleng-geleng kepala.
Ini orang saking kayanya apa ada sedikit blo'on nya. Batin Fajar.
Buang duit kayak buang angin. Fajar aja buang angin masih harus mikir dulu. Takut nanti anginnya habis, susah nanti tidak bisa isi angin seperti ban motor.
"Jur, kita nyari makan dulu yuk."
Kata Albar.
"Makan apa?"
Tanya Fajar mengikuti Albar keluar dari toko perhiasan.
"Makan aspal kek, makan gerobak kek."
Sahut Albar.
Fajar tertawa.
"Ya kali kamu pengin makan orang."
"Ya kamu itu dilumurin sambel kacang."
Kata Albar menuju mobil.
Jiaaaah, dikira aku batagor kali. Batin Fajar.
Fajar menyusul Albar masuk mobil.
Albar tampak melepas maskernya.
"Kamu kayaknya usaha banget biar orang pada ngga kenal."
Kata Fajar sambil mulai menyalakan mesin.
"Ya jadi orang ganteng kan susah, takutnya yang udah punya suami begitu lihat aku jadi males lihat suaminya."
Sahut Albar asal jeplak seperti biasa.
"Jiaaaah..."
Fajar kembali tertawa.
Fajar kemudian menjalankan mobilnya menjauhi area pertokoan.
masuk ke jalan utama sambil mencoba mencari tempat makan yang enak untuk disinggahi.
"Makan sate saja gimana Ra?"
Tanya Fajar.
"Sate apa?"
"Ya macam-macam, ada sate kambing, sate ayam, sate sapi. Tempatnya enak dekat sawah, kamu pasti jarang makan di tempat makan yang deket sawah-sawah gitu kan?"
Tanya Fajar.
"Di sawah ntar yang ada lihat Surti Tejo."
Kata Albar.
"Kok Surti Tejo."
Fajar tak paham.
"Surti sumringah arjunanya pulang, tiga tahun berpisah nyari dana di kota, mereka melepas rindu di pematang sawah..."
__ADS_1
Albar malah nyanyi.
"Oh Jamrud, hahahahaa...Gila suara kamu enak juga Ra, ngga nyangka."
Yaiyalaaaaah secara gueeeee getoooo looooh. Batin Albar.
"Tapi belum seenak Ariel Noah."
Kata Fajar lagi.
"Ah sialan, bandingannya jangan yang master lah."
Omel Albar.
"Oke ngga nih makan sate?"
Tanya Fajar akhirnya.
"Ya ayuk saja aku mah, kamu yang bawa mobil juga."
Kata Albar.
"Kan tapi nanti kamu yang bayar makannya, hahaha..."
Fajar tertawa dengan ala-ala orang penikmat gratisan sejati.
Fajar pun auto tancap gas menuju Setianegara, Cibeurem, tujuannya jelas saja rumah makan Condong yang lokasinya dekat dengan Lanud, pangkalan Angkatan Udara.
"Nah kalo keluyuran di sini kita cowok-cowok siap-siap insecure Ra."
"Kenapa?"
Tanya Albar.
"Ya saingannya TNI Angkatan Udara, mereka cuma lewat aja udah auranya kayak menyebar ke mana-mana, hahaha..."
Fajar menertawakan diri sendiri.
"Ya mereka juga bisa jadi insecure sama kamu juga Jur."
Ujar Albar.
"Lho kenapa?"
Tanya Fajar malah jadi bingung.
"Hahaha... Sialan!"
Keduanya tertawa bersama.
Albar tampak menikmati hari terakhir jalan-jalan bersama Fajar di Tasikmalaya.
**----------**
Albar dan Fajar memasuki tempat makan yang letaknya ada di area persawahan itu.
Udaranya cukup sejuk hingga membuat Albar cukup nyaman.
Tempatnya yang tak begitu ramai juga membuat Albar makin betah.
Mungkin karena belum jam makan siang, jadi pengunjung memang masih bisa dihitung dengan jari.
Namun, meski begitu Albar tetap saja memakai maskernya.
Ia tetap berusaha menghindari semua kemungkinan terburuk. Misal ada wartawan yang tiba-tiba lewat, atau fans nya yang bisa mengenalinya lalu akhirnya jadi heboh.
Albar meminta Fajar memesan sate sapi untuknya, lalu Albar memilih tempat duduk yang menurutnya paling nyaman.
Ah, andai ia bisa mengajak Balqis, mungkin dia akan senang menikmati makan di tengah sawah begini.
Tapi...
Apa tadi Fajar bilang.
Banyak TNI Angkatan Udara?
Ah tidak!
Bahaya kalau harus saingan sama TNI, mau seganteng apapun kalau saingannya dengan TNI mending push up sajalah.
Jadi lebih baik kalau harus ajak makan Balqis jangan di sana. Hihihi...
Albar kemudian duduk menunggu pesanan.
Sambil menunggu ia mencoba memeriksa hp nya.
__ADS_1
Dan...
Haiish, Mami nya mengirimkan foto koper warna pink miliknya.
[Mami OTW Indonesia, kita jumpa di Jakarta sayang]
Tulis Mami Albar.
Albar menghela nafas.
Ternyata Mami benar-benar pulang dan akan menghadiri acara pembukaan Zombie Hotel. Luar biasa, niat banget. Batin Albar.
Sekitar satu jam Albar dan Fajar duduk di warung makan tersebut.
Setelah makan, mereka duduk-duduk saja sambil menunggu kabar dari toko perhiasan terkait pesanan Albar.
"Kenapa kamu ngga beli cincin saja sih Ra?"
Tanya Fajar heran pada Albar.
Albar meneguk sisan es jeruknya.
"Balqis masih sekolah, kasihan kalau dia masih sekolah pakai cincin kawin kayak emak-emak."
Kata Albar.
"Jiaaah, sekarang mah jangankan pake cincin, pada pake make up tebel juga banyak."
Sahut Fajar.
"Ah Jur, mobil ini kamu yang urus ya."
Kaya Albar akhirnya.
"Lha bagaimana, kamu ngga akan bawa mobilnya ke Jakarta?"
Tanya Fajar.
Albar menggeleng.
"Buat apa bawa mobil ini? Di sana udah banyak banget mobil, sama aja ngga kepake."
"Lha kamu mah aneh, udah punya banyak mobil malah beli mobil lagi."
Fajar geleng-geleng kepala.
"Ya kan daripada Balqis nebeng mobil si Medit."
Kata Albar.
Fajar tertawa.
"Kamu kayaknya cemburu banget sama Adit anak ustadzah Nur."
Fajar menertawakan kelakuan Albar.
"Ya kan ngga pantes juga kalau murid nebeng mobil Gurunya, nanti dikira Balqisnya yang keganjenan dengan Medit."
Tak lama kemudian, hp Albar bergetar, ada pesan masuk dari toko perhiasan yang mengabarkan pesanan Albar sudah siap dan sudah bisa diambil.
Albar menatap pesanan perhiasan yang akhirnya selesai digarap oleh si tukang perhiasan.
Albar tersenyum cukup puas.
Untuk ukuran tukang perhiasan yang alat-alatnya masih belum begitu canggih, bisa membuatkan pesanan sesuai apa yang diinginkan Albar dengan hasil tak begitu mengecewakan itu sudah lebih dari cukup.
Albar sesuai janjinya, untuk membayar ongkos pembuatan pesanannya doang langsung kontan seharga dua gram emas, sekitar satu juta dua ratus ribu rupiah, sementara untuk perhiasannya sendiri habis empat juta enam ratus ribu rupiah.
"Murah meriah, semoga Balqis suka."
Kata Albar.
Fajar menatap Albar.
"Apa Ra kamu bilang? Murah meriah?"
Fajar garuk-garuk kepala.
Untung dia tak punya ketombe, kalau punya pasti bahunya kini seperti sedang hujan salju.
"Pulang yok."
Kata Albar pada Fajar.
__ADS_1
**-----_-