Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
56. Malam Perpisahan


__ADS_3

Malam ini acara pengajian Aki masih dihadiri banyak warga, bahkan Adit juga datang malam ini untuk ikut mendoakan Aki sekaligus menyampaikan titipan Umi nya kepada Balqis.


"Maaf saya tadi ke tempat Ustadz Zaki lebih dulu, jadi terlambat, kalau untuk hari ini sudah ada kue, ini yang dari Umi untuk besok saja."


Kata Adit.


Balqis mengangguk.


"Iya Bang."


Kata Balqis.


Adit yang sengaja masuk dari pintu samping karena di depan sudah mulai dipenuhi warga kemudian dipersilahkan Balqis masuk ke ruang dalam melewati teras belakang rumah.


Di sana Adit melewati Dinda, Eti, Po, Wa Icih, Inggit yang memangku Cimot dan Flo yang duduk bergelar karpet juga dekat anak tangga menuju loteng kamar Albar.


Adit tampak membungkuk memberi salam ke arah semuanya, sedangkan Balqis berjalan di belakangnya seraya membawa tiga kotak kue brownies titipan Umi.


Wa Icih kemudian berdiri untuk membantu Balqis menyimpankannya.


"Kita masukkan kulkas saja Qis, yang hari ini kan sudah semua."


Kata Wa Icih.


Balqis mengangguk.


Balqis kemudian menyerahkan tiga kotak kue brownies itu pada Wa Icih, sedangkan Balqis kembali duduk bersama teman-temannya.


Dari tempat duduk mereka, bisa dilihat Albar dan juga Adit duduk berdekatan hanya berselang Fajar dan Navie.


"Hmm... ini kayak di suruh pilih apel sama pir, ya kan Qis?"


Kata Po membuat Balqis menatap Po.


"Apel sama Pir apa?"


Balqis tak paham.


"Ah ya sudahlah, itu nama buah."


Sahut Po tak mau bahas lebih panjang.


Wa Icih kemudian menyusul Balqis untuk kembali duduk bersama anak-anak.


"Besok berangkat jam berapa Nak Flo?"


Tanya Wa Icih pada Flo.


"Kemungkinan selepas subuh Wa."


Jawab Flo, lalu menatap Balqis yang tampak tertunduk menyembunyikan wajah sedihnya.


"Nanti setiap Albar tak begitu sibuk, kami akan usahakan untuk sesekali berkunjung."


Tambah Flo pula.


"Kalo bisa, misal ada film suruh syuting di desa ini dong Kak Flo, trus butuh figuran rekomendasikan aku yang istimewa ini."


Ujar Eti.


"Istimewa kayak martabak."


Komen Po.


"Haiiish... nyambung aja nih Po, kayak ada kabelnya."


Eti melet pada Po.


Dinda dan Inggit yang duduk berdampingan jadi geleng-geleng kepala sambil tergugu melihat tingkah polah mereka.


"Nanti kalo ada ya, aku akan coba."


Kata Flo.


"Wiiiiih... Mantap jiwa dong kalo beneran desa ini buat syuting."


Eti senang bukan main.


"Tenang Kak, aku akan tetap jadi fans fanatik Albar Harrys, sekalipun nantinya dia menikah sama Balqis, aku akan tetap menjadi fans sejatinya."


Kata Eti berbisik pada Flo.


Flo jadi terkekeh.


"Kalo Albar nikah sama Balqis, aku mundur jadi manager, udah biar Balqis saja yang ngurusin si absurd itu."


Kata Flo.


"Ciyeeeee Aqis."


Semua jadi mengganggu Balqis.


Wa Icih merangkul Balqis sambil ikut terkekeh. Balqis sendiri hanya bisa senyum-senyum dikulum.


Hingga kemudian pak kyai datang untuk memimpin acara tahlil itu malam ini.


Semua langsung diam untuk kemudian mengikuti acara mendoakan Aki hingga selesai hingga hampir jam sembilan malam.


Rumah Aki berangsur kembali sepi, semua pergi meninggalkan tempat acara, termasuk Adit yang semula akan pamit pada Balqis lagi langsung dihalangi Albar.


"Saya wakilin tuan rumah, iya hati-hati di jalan."


Kata Albar sebelum Adit bicara.

__ADS_1


Adit menghela nafas menatap Albar.


Ada kesal di hatinya, tapi Adit bisa apa, marahpun tidak lucu, mereka bukan lagi anak SD yang saat marah langsung diluapkan.


Adit akhirnya permisi.


"Iya... Iya..."


Albar macam pada anak ayam saja.


Balqis yang melihat Albar begitu jadi mengurut kening, sementara teman-temannya dan Flo cekikikan.


"Albar itu memangnya kapan mau ngalah, jangankan sekarang soal Balqis, dia mah makan keripik kentang saja ngga mau dicomot satu doang."


Kata Flo cekikikan.


Eti sebagai fans garis keras jelas langsung tertarik dengan kisah keripik kentang.


"Oh jadi dia pelit ya aslinya."


Eti mantuk-mantuk.


Flo menoleh ke arah Eti.


"Bukan pelit sih, lebih tepatnya dia kalau sudah suka sesuatu ya ngga bakal ngijinin siapapun dapetin."


Dan sontak semua ke arah Balqis lagi.


"Ciyeeeee Aqis."


"Ikh apaan sih, kenapa aku terus."


Kata Balqis yang wajahnya bersemu merah jadinya.


"Ya kali masa kita bilang, ciyeee Wa Icih."


Kata Eti, membuat semua tertawa, termasuk juga Wa Icih.


"Eh udah malem, kita balik yuk, badan remek nih."


Kata Po.


"Iya, besok pelajaran olahraga juga."


Kata Dinda yang kemudian berdiri, Po mengikuti dan akhirnya disusul yang lain.


"Aku foto dulu sama Albar."


Kata Eti.


"Ah ide bagus, kita foto-foto dulu."


Sambut Flo.


Semua masuk ke ruang dalam, di mana kini Albar tampak sibuk membantu Navie dan Fajar menggulung tikar yang dekat pintu karena nanti akan menghalangi pintu jika akan ditutup.


Kata Flo.


Albar menengok dan...


Klik.


Jelas saja Eti mengambil gambarnya.


"Eh fans rasa haters, jangan asal ambil gambar."


Albar ngomel.


"Biarinlah, ini kan ngga mungkin ada di internet."


Kata Eti tertawa senang.


"Haiiish... Dasar kaleng icik-icik."


Albar bersikap seolah akan menjitak Eti dari tempatnya.


Flo mendekati Albar dan kemudian menariknya untuk kemudian menyatukannya dengan Balqis.


"Nah, kalian pasti belum punya foto berdua kan? Yuk foto dulu, baru setelah itu kita foto ramai-ramai."


Ujar Flo.


"Ikh jangan, aku ngga mau."


Balqis mencoba menghindar saat kamera hp Flo ke arahnya.


Tapi Albar segera meraih bahu Balqis untuk kemudian merangkulnya.


"Ayo foto."


Albar menghadap kamera, sementara Balqis malah menatap Albar di sebelahnya.


Flo mengambil gambar.


"Posisi duduk dong."


Kata Albar sambil menarik tangan Balqis lalu memintanya duduk di atas karpet.


"Apaan sih Bar."


Balqis protes, tapi mana mau dengan si Albar.


"Teh Inggit, Cimot mana Cimot."

__ADS_1


Kata Albar.


Inggit segera meraih Cimot yang tadi melepaskan diri dan main dengan belalang.


Inggit membawa Cimot pada Albar yang langsung memangkunya.


"Hari ini kita foto mangku Cimot, kali lain kita foto mangku anak-anak kita Bal."


Kata Albar mengundang tawa semuanya.


Flo yang paling terpingkal.


"Kenapa kamu Flo ketawa begitu?"


Tanya Albar tersinggung.


"Lha ya kamu, sadar ngga yang diajak ngomong soal anak bocah masih sekolah, dasar otak mesum."


Kata Flo.


"Hahaha... Sialan, berisiklah cepet foto."


Albar jadi mati gaya karena semua jadi terpingkal, termasuk Fajar dan Pardi begitu mendengar kata-kata Flo.


Dan acara foto-foto bersama mereka pun begitu ramai, membuat Balqis sejenak melupakan kesedihannya karena Aki yang meninggal tiba-tiba.


Setelah selesai foto dengan berbagai gaya, akhirnya Dinda, Eti dan Po kembali berpamitan untuk pulang.


"Aku antar mereka sekalian pulang juga ya."


Kata Fajar pamit.


Albar merangkul Fajar.


"Thanks bro, barangkali besok aku berangkat habis subuh, mungkin kita ngga sempat ketemu lagi."


Kata Albar.


"Ah iya Bar, jadi sedih aku nih pengin nangis."


Kata Fajar.


Albar tertawa.


"Pake nangis segala kamu Jur, kayak emak-emak ngiris bawang."


"Sialan, kamu ini hobi merusak suasana batin."


Ujar Fajar.


"Baik-baik urusin ayam Aki, aku titip."


Kata Albar lagi.


Fajar mengangguk.


"Jangankan ayam, Balqis juga akan aku jaga."


Albar menabok punggung Fajar.


"Balqis ngga usah, dia udah ada Wa Icih sekeluarga."


Semua jadi tertawa lagi.


"Lagian Bang Fajar mah, jagain tuh Dinda, ngapain jagain Balqis."


Seloroh Eti membuat Dinda langsung malu.


"Ya kan jagainnya dalam arti yang berbeda."


Sahut Fajar.


"Mau berbeda juga ngga usah, kecuali diminta tolong."


Kata Albar.


"Jiaaaah, lha itu maksudnya."


Fajar ganti menabok punggung Albar.


"Eh ngomong-ngomong ini kita kapan pulang, gerimis nih."


Kata Po mengingatkan.


"Ah iya..."


Fajar segera turun dari teras.


"Kami pulang ya."


Pamit mereka semua.


Dinda, Eti dan Po yang mampir sejak pulang sekolah tampak naik ke sepeda mereka.


Sementara Fajar naik ke motor bututnya.


"Jur, jangan lupa mobilnya sering pake."


Pesan Albar.


"Iya Bar... Nanti aku pakai buat ngangkut ayam."


Hahahaha...

__ADS_1


Albar tertawa.


**------------**


__ADS_2