Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
98. Malu Aku Tuuuuuu


__ADS_3

"Saya jadi tidak enak ini merepotkan Nona Flo dan Pak supir."


Indra, si pemuda bapake anakan kucing terlihat serba salah di depan Flo.


Tampak di pangkuannya anakan kucing yang mengikuti Indra sejak pertama kali menemui dua tamunya menatap Flo dengan mata bulatnya.


Entah apa yang dipikirkan si kucing, apa Flo terlihat seperti kucing besar, atau malah kepala ikan, atau bahkan paha ayam.


Entahlah, nyatanya sebagai cat lover sejati pun othor tak pernah tahu apa isi hati para kucing.


"Tidak apa Bang, soalnya itu di dompet ada ktp, sim dan stnk, jelas semuanya kan penting, untuk mengurusnya pasti butuh waktu."


Kata Flo.


Indra terlihat mengangguk.


"Iya Non, terimakasih sekali."


Indra tersenyum ke arah Flo yang kerongkongannya tiba-tiba jadi seret karena senyum itu terlalu manis.


Haiish sial, kenapa dia senyum terus. Batin Flo.


"Meooong."


Kucing di pangkuan Indra mengeong sambil menatap ke arah Flo, seolah tahu Flo sedang membatin.


"Wah sepertinya lovi menyapa anda Nona."


Kata Indra pada Flo.


Flo yang semula akan meneguk wedang teh nya jadi tersedak.


"Meoong... Meooong."


Kucing itu seolah menyoraki Flo yang tersedak.


Ah untungnya dia bersama Indra, coba kalau tidak, sudah Flo kepang bulunya.


Flo akhirnya memutuskan untuk pamit karena sudah siang, ia tak lupa memberikan sedikit untuk berobat Indra dan juga untuk anaknya.


Flo meletakkan uangnya di bawah taplak meja, uang seratusan ribu sepuluh lembar.


Indra kemudian menggendong anak kucingnya ke belakang untuk memanggil Ibunya.


"Nona Flo mau pulang Bu."


Kata Indra.


Tampak Ibunya Indra tergopoh-gopoh keluar dari ruang dalam menemui Flo lagi.


"Lho kok sebentar sekali Nona."


Kata Ibunya Indra.


Flo tersenyum.


"Sudah siang Bu, kebetulan saya ada janji dengan saudara."


Flo menyalami Ibunya Indra.


"Ooh ya baiklah, jangan kapok ke sini Nona, terimakasih sudah berkunjung."

__ADS_1


Kata Ibunya Indra yang mengantar hingga pintu pagar besi.


Flo jadi tidak enak dengan keramahan dan kehangatan Ibunya Indra, meskipun jujur ia sudah lama sekali tidak melihat sosok Ibu yang benar-benar ada sebagai Ibu.


Tentu selain dulu di Tasikmalaya, Flo melihat Wa Icih, Uwak nya Balqis.


Flo kemudian berjalan menjauhi rumah Indra, terdengar suara tetangga Indra yang menanyakan sosok Flo pada Ibunya Indra.


"Calonnya Bang Indra yah Mpok?"


Flo rasanya nyaris tersedak lagi, gagal nafas.


**---------**


Balqis di rumah sudah selesai mencuci dan Beni sudah masuk kamarnya sendiri untuk mengambil buku-buku yang akan ia bawa kembali ke Perth lusa.


Balqis mengeluarkan cuciannya dan memasukkannya ke dalam ember.


Baru saja Balqis akan membawanya naik ke ke atas untuk dijemur, Beni tiba-tiba muncul dari arah kamarnya.


Melihat Balqis yang akan membawa ember berisi cucian yang hendak dijemur, Beni langsung sigap menghambur ke arah Balqis dan mengambil alih ember berisi cucian itu dari tangan Balqis.


"Sini aku bawakan."


Kata Beni yang kemudian langsung menaiki tangga membawakan ember berisi cucian Balqis.


"Aduh Bang, aku juga bisa sendiri kok."


Ujar Balqis tak enak.


"Sudah santai saja, tidak apa."


Kata Beni menoleh ke belakang di mana Balqis terlihat menghela nafas lalu akhirnya berjalan menyusulnya.


Beni meletakkan ember berisi cucian Balqis di lantai atas yang memang digunakan khusus untuk menjemur cucian saja.


Beni merentangkan kedua tangannya, lalu berdiri di tepi lantai atas itu sambil menghirup udara yang panas.


(Dodol emang, wkwk)


Balqis sendiri mulai menjemur cuciannya satu demi satu, saat kemudian ia tiba-tiba ingat sesuatu.


Ya sesuatu yang juga seharusnya ia kerjakan sebelum mulai aktif kuliah.


Balqis sejenak melihat kearah Beni yang kini tampak menyibukkan dirinya menatap jalanan komplek yang bisa dilihat dari sana.


"Saat kamu jenuh, kamu bisa duduk di sini Qis, kadang merasakan hembusan angin dan cahaya hangat matahari pagi atau juga sore hari sambil minum secangkir kopi cukup membantu merefresh otak. Ya, cara paling sederhana untuk mengurangi kejenuhan daripada buang uang ke cafe atau mall."


Kata Beni.


Balqis mengangguk sambil tersenyum.


Beni yang sempat menoleh dan melihat senyuman Balqis rasanya hatinya langsung jadi berwarna pink.


Balqis melanjutkan acara menjemurnya, hingga sampai harus menjemur pakaian dalam, ia bingung dan serba salah.


Dijemur ada Beni, tidak dijemur nanti bagaimana.


Haiish... Balqis pusing tujuh keliling.


Balqis melihat Beni lagi.

__ADS_1


Duh dia mau turun ngga sih? Apa aku pura-pura turun saja supaya dia ikut turun? Atau bagaimana ya? Balqis benar-benar bingung.


Beni kemudian tiba-tiba ada telfon masuk di hp nya yang ada di saku celana.


Beni segera menerimanya.


Ah selagi Beni menerima telfon, sebaiknya Balqis segera menjemur pakaian dalamnya dan dijemur sedikit tersembunyi agar tak terlalu terpampang nyata.


Sementara Balqis sibuk mencari tempat menjemur yang sedikit tersembunyi dari tatapan Beni, si Beni mulai sibuk bicara di telfon.


"Ooh iya Bar, nanti kalau nggak hujan deh aku ke rumahmu lagi."


Deg!


Apa barusan? Bar?


Bar apa?


Albar? Akbar? Bu Bar?


Balqis yang selalu sensitif dengan kata Bar, terlihat menghentikkan gerakan tangannya.


"Oh ya ngga apa Bar, besok aja berarti aku ke rumah kamu nya kalo memang kamu mau pergi sama saudaramu."


"Ooh iya iya, santai saja Bro, ngga apa, aku juga udah di rumah sendiri kok, tadi ke rumah Paman malah Pamannya pergi takziah katanya teman sekantornya meninggal, jadi aku belum sempat ketemu juga."


"Aaah iya ini, aku ketemu sama penghuni nya atu, yang lain lagi pada pergi."


"Oke oke... santai."


Tuuut...


Panggilan terputus.


Beni kemudian beralih ke aplikasi pesan makanan online.


"Qis, pengin pizza ngga? Aku pesen ya, sekalian kamu mau makan apa? Aku pesenin."


Kata Beni.


Balqis yang ditanya dadakan jadi kaget dan benda yang dia susah-susah jemur agak terselip jadi jatuh.


Beni melihat benda itu, dan Balqis tentu saja mengambilnya dengan gugup setengah mati.


Beni jadi tersenyum tipis, apalagi melihat Balqis yang kelihatan sekali masih polos itu begitu salah tingkah.


"Udah jemur aja, aku udah biasa lihat begituan."


Kata Beni pada Balqis yang langsung memiringkan wajahnya sambil menutup matanya karena malu.


"Ah baiklah ayo kita pesan pizza satu, dan dua burger lalu minuman soda lalu dua kentang goreng."


Beni pura-pura tak peduli dengan Balqis yang kini mematung berjongkok menyembunyikan benda berbentuk kacamatanya.


Beni menuruni tangga untuk masuk ke dalam rumah agar Balqis tak lagi merasa malu.


Sepeninggal Beni, tampak Balqis langsung terduduk lemas di lantai.


"Ya Allah, jantungku mau copot."


Gumam Balqis.

__ADS_1


**--------------**


__ADS_2