
Albar melangkah mundur ke teras rumah saat sebuah mobil Kijang keluaran lama berjalan mendekati rumah Aki lalu berhenti di depan.
Turun kemudian seorang pemuda yang berpenampilan rapi, lalu membuka payung dan bergegas berjalan memutar untuk membukakan pintu samping mobil di mana Balqis duduk.
"Makasih."
Kata Balqis malu-malu sambil turun lalu berjalan di bawah payung yang dibawa Bang Adit.
Setelah Balqis diantar sampai teras, barulah Adit menuju ke belakang mobil untuk kemudian mengeluarkan sepeda Balqis.
Albar menyipitkan mata saat Adit terlihat susah payah mengeluarkan sepeda itu, lalu menggotongnya menuju teras.
"Maaf Bang Adit, jadi merepotkan."
Kata Balqis.
Albar mengerutkan kening.
Ah jadi namanya Adit. Batin Albar.
Adit tersenyum, lalu tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan Albar yang ada di teras depan dapur.
Ia sejak tadi di sana, tapi mungkin terlihat seperti asap saja untuk Balqis dan Adit.
Balqis yang menyadari dua orang pemuda itu saling pandang, akhirnya segera memperkenalkan keduanya.
"Bang Adit, ini Bara saudara Aki."
Kata Balqis.
Adit tersenyum lalu mengangguk.
Tampaknya karena kesibukannya, Adit memang belum mendengar gosip soal Balqis dan Albar.
"Dan Bara, ini Bang Adit, dia Guru di sekolahku."
Kata Balqis.
Adit tampak menghampiri Albar lalu mengulurkan tangan untuk mengajak jabat tangan tanda persahabatan.
Albar menyambutnya malas-malasan.
"Sebentar lagi maghrib, masuk Bal, nanti kena marah Aki."
Kata Albar.
Issh... Apaan sih. Kesal Balqis.
"Ah benar kata Bang Bara, sebentar lagi maghrib, lebih baik masuk Qis."
Ujar Adit.
Balqis akhirnya mengangguk sambil tersenyum manis.
Hmm apa itu ia pakai senyum begitu. Batin Albar tiba-tiba kesal melihat Balqis yang tersenyum begitu manis pada Adit.
Albar bahkan belum pernah melihat Balqis senyum semanis itu sebelumnya, apalagi saat pertama bertemu Albar yang jelas-jelas artis saja dia sama sekali tidak tersenyum semanis itu.
Adit akhirnya pamit, ia masuk ke dalam mobil dan melambai pada Balqis.
Sepeninggal Adit dengan mobilnya, Balqis pun segera masuk ke dalam rumah.
Albar menutup pintu rumah dan menguncinya, mengikuti Balqis yang masuk ke dalam.
"Siapa itu?"
Tanya Albar kepo.
Balqis menoleh.
"Bang Adit, kan tadi udah kenalan."
"Kata kamu Guru tapi manggilnya Bang, masa Bang Guru."
Albar protes.
Haisssh...
"Dia anak ustadzah Nur, trus jadi Guru di sekolah."
__ADS_1
Meski kesal herannya Balqis tetap saja menjelaskan.
"Kalian pacaran?"
Albar menyelidik.
"Enggak, bukan gitu."
Balqis cepat menggeleng, meskipun senyumnya yang terbit malu-malu menyiratkan hal yang berbeda.
Albar mengangkat alisnya.
Sudah jelas itu senyuman yang bermakna apa. Batin Albar, dan entah kenapa Albar tidak suka.
Kenapa ya? Batin Albar.
"Aku mau mandi, kamu ngga akan ke kamar mandi kan?"
Tanya Balqis.
"Kalo kamu lagi mandi ngapain aku ke kamar mandi, emangnya aku mesum."
Sahut Albar sambil berlalu menuju kamarnya di loteng.
Ikh... Dasar. Batin Balqis sambil menatap punggung Albar.
**----------**
Albar duduk di lantai kamar lotengnya. Menyalakan kipas angin dengan remote agar hawa panas di sekitarnya yang tiba-tiba muncul bisa segera menguap kena angin.
Apa tadi? Senyam-senyum, tatap-tatapan, dikira ini FTV pagi apa bagaimana?
Albar menghadapkan wajahnya ke arah kipas angin, terbayang lagi bagaimana senyuman Balqis kepada Adit.
Kenapa dia senyum semanis itu sama si Medit itu? Apa mentang-mentang dia pakai mobil? Batin Albar kesal.
Albar kemudian meraih hp nya di atas kasur. Ia jelas kalau bukan mengganggu Flo ya mengganggu Fajar si juragan ayam.
[Kamu kenal Bang Medit ngga Jur?]
Tanya Albar lewat pesan singkatnya.
Haisssh...
Bersamaan dengan itu Adzan maghrib berkumandang dari mushola.
Suara Fajar.
Ah yah, dia muadzin, Albar sampai lupa.
Albar akhirnya berdiri dari duduknya. Hari ini tak ada Aki, jadi dia tidak akan ke mushola, dia akan sholat di rumah saja.
Albar keluar dari kamar lotengnya saat kemudian ia melihat Balqis di dekat pintu yang menuju ke ruang dalam rumah Aki sedang duduk sambil memasang hansaplast di kedua lututnya.
"Kenapa Bal?"
Tanya Albar sembari menuruni tangga kayu loteng.
"Ngga apa, tadi cuma jatuh karena ada kubangan ngga lihat."
Kata Balqis.
"Untung ada Bang Adit, jadi bisa numpang."
Tambah Balqis lagi.
Balqis kemudian berdiri, Albar masih mengamatinya.
"Kenapa?"
Tanya Balqis heran karena Albar mengamatinya dengan cara yang tak biasa.
"Ngga, aku cuma lapar."
Sahut Albar.
Ikh... Balqis rasanya ingin jitak kepala artis yang satu ini.
"Aku mau sholat, abis itu masak dong Bal, lapar nih."
__ADS_1
Kata Albar.
"Iyaa... Ngga usah nyuruh juga aku mau masak, aku juga lapar keles."
Ujar Balqis yang berjalan ke rak handuk.
"Aku tiba-tiba ingin mie goreng yang kayak dulu kamu masak, tapi telornya jangan dibikin mata sapi bisa kan? Bikin dadar saja, yang daun bawangnya banyak biar kayak martabak, trus kasih potongan cabe kecil-kecil biar pas makan kayak dapet surprise."
Balqis mengurut keningnya.
"Kamu tuh pesen makan apa baca puisi sih, udah ah aku mau mandi, nanti masak."
Balqis setengah berlari menuju kamar mandi.
Hujan mulai mereda, meskipun masih turun rintik-rintik.
Albar ambil wudhu di keran dekat sumur. Sedikit kehujanan, tapi Albar tampaknya menikmati saja.
**-----------**
"Kamu tuh kenapa uplod foto Bukit desa ini?"
Tanya Balqis begitu akhirnya keduanya sudah selesai dengan kegiatan masing-masing lalu berkumpul di dapur.
"Bukit apa?"
Tanya Albar lemot.
"Bukit yang kamu unggah di media sosial milik kamu pagi tadi."
Kata Balqis.
"Ooh kirain bukit berbunga."
"Itu mah lagu lawas."
Kesal Balqis.
"Ah iya, itu mah lagu jaman Emak kita."
Albar mantuk-mantuk.
Balqis menggelengkan kepalanya, lalu mulai sibuk mengiris daun bawang.
"Memangnya kamu lihat? Bagus kan?"
Tanya Albar.
"Haish ... Bukan masalah bagusnya. Itu bukit kan bikin Eti jadi penasaran, gimana kalau dia akhirnya nyadar kalau kamu memang Albar Harrys?"
"Tadi saja dia sudah mulai tanya-tanya."
Omel Balqis.
"Hapus aja postingannya."
Kata Balqis lagi.
Albar diam sejenak.
"Kecuali kalau kamu memang niat kasih clue ke semua orang kalau kamu ada di desa ini."
Ujar Balqis.
Ah benar juga, kenapa aku tidak kepikiran tadi? Ini pasti karena mabok kotoran ayam. Batin Albar.
"Hp ku lagi di chas, aku pinjam laptop nya Bal, aku masuk akun lewat laptop aja sini, mau aku hapusin fotonya."
Ujar Albar, yang seketika gantian Balqis yang terdiam.
"Heh malah diem."
Kata Albar ketika Balqis malah diam saja.
"Pakai hp aku aja tuh, laptop aku rusak."
Balqis akhirnya menunjuk hp miliknya yang ada di atas rak piring tak jauh dari Albar duduk menemani Balqis masak di dapur.
**---------**
__ADS_1