
Seperti yang sudah diniatkan dari hati yang paling dalam, Balqis pulang sekolah tak langsung menuju rumahku istanaku, melainkan ikut pulang ke rumah Dinda.
Kebetulan Po dan Eti yang masing-masingnya akan ada acara sendiri akhirnya tak punya alasan untuk merecoki, merubesi, mengruwedi dan lain sebagainya.
Sekitar lima belas menit mengayuh sepeda dari sekolah, Balqis dan Dinda akhirnya sampai di rumah Dinda yang sederhana.
"Assalamualaikum."
Dinda mengucap salam sambil masuk ke dalam rumah yang pintunya dibuka lebar.
Balqis mengikuti di belakang Dinda.
"Waalaikumsalam."
Jawab Ibu nya Dinda yang tampak duduk di ruang tengah. Beliau tampak sedang sibuk memasukkan adonan bolu kukus ke dalam cetakan sambil menonton sinetron azab-azab favorit para Emak.
Dinda dan Balqis menyalami Ibu nya Dinda.
"Aqis, lama sekali baru main, sehat Qis?"
Tanya Ibu nya Dinda perhatian seperti sebelum-sebelumnya.
Balqis mengangguk sambil tersenyum.
"Baik Bi."
Sahut Balqis.
"Sholat terus makan itu Ibu masak sop ceker sama perkedel kentang dan tempe geprek."
Kata Ibu nya Dinda pada Dinda dan Balqis.
"Ya Bu."
Dinda mengangguk, lalu mengajak Balqis ke kamarnya untuk menyimpan tas dan jilbab untuk kemudian ambil wudhu untuk sholat dzuhur lebih dulu.
"Mau salin Qis? Nih salin kaos biar ngga gerah."
Kata Dinda sambil memberikan kaos untuk Balqis salin.
Balqis menerima kaos yang diberikan Dinda.
"Aku wudhu dulu ya, kamu salin di sini aja, biar ngga basah seragamnya."
Kata Dinda pula, lalu beranjak keluar kamar.
Sepeninggal Dinda, barulah Balqis melepas jilbabnya, lalu seragam atasnya dan menggantinya dengan kaos yang dipinjamkan Dinda.
Setelah itu, ia gantung seragamnya di gantungan belakang pintu kamar Dinda.
Kamar dengan nuansa ungu yang ditempel banyak foto Selfi Dinda sendiri itu begitu rapi dan bersih.
Meski ukuran kamarnya kecil dengan perabotan sederhana, namun kamar Dinda termasuk kamar yang nyaman untuk ditempati.
Tak lama kemudian Dinda sudah kembali ke kamar, ia sudah dalam keadaan wudhu dan sudah mengganti seragamnya dengan baju rumahan.
"Sana Qis kamu wudhu gantian, habis sholat kita makan, baru kalo mau curhat ya curhat aja."
Kata Dinda.
Balqis nyengir.
Ia sebetulnya masih ragu jika harus menceritakannya pada Dinda, tapi mau sampai kapan Balqis sibuk dengan pikirannya sendiri terus.
Bagaimanapun Balqis sungguh tidak ingin nantinya hanya akan sibuk memikirkan masalah Albar dan malah jadi tidak bisa konsentrasi belajar hingga gagal mendapatkan beasiswa.
Balqis akhirnya keluar dari kamar Dinda untuk ambil wudhu.
Tepat saat Balqis keluar dan Dinda sholat, hp Balqis berbunyi mengabarkan ada sebuah panggilan masuk.
Panggilan masuk itu terus berulang hingga tiga kali. Dinda yang sedang sholat sampai merasa sedikit terganggu.
Hingga kemudian setelah tiga kali panggilan tak terjawab, barulah panggilan masuk itu tak lagi terdengar.
Balqis masuk ke dalam kamar, duduk di kursi depan meja belajar menunggu Dinda selesai sholat untuk gantian mukenah.
Tiga menit menunggu, akhirnya Dinda tampak mengucap salam, lalu berdzikir sebentar baru kemudian menoleh pada Balqis yang langsung terlihat berdiri.
"Qis, barusan hp mu kayaknya ada panggilan deh, sampai tiga kali."
Kata Dinda.
"Oh yah?"
Balqis kemudian meraih tas nya, lalu mengambil hp nya dari dalam tas.
Balqis melihat ke layar hp di mana tampak tertulis panggilan dari Albar.
Balqis mengerutkan kening.
"Siapa Qis? Bara?"
Tanya Dinda pada Balqis sambil sibuk melepas mukenah.
Balqis mengangguk.
Dinda tersenyum, lalu memberikan mukenanya pada Balqis.
"Sholat dulu gih, nanti keburu habis waktunya."
__ADS_1
Ujar Dinda.
Balqis mengangguk.
"Ya Nda."
**---------**
Balqis dan Dinda memilih makan lesehan di halaman belakang rumah Dinda, di mana di sana ada bale-bale yang di sana ada dua kolam dengan ukuran 2x2 milik Ayah Dinda untuk beternak Lele.
"Seneng ya punya Ibu, pulang sekolah tinggal sholat langsung makan, hehe..."
Balqis tertawa kecil.
Tapi Dinda malah menatap Balqis dengan sedih.
Ya Dinda memang selalu merasa kasihan pada Balqis.
Bukan hanya karena Balqis merupakan anak yatim piatu, tapi juga sebuah rahasia yang sepertinya hanya segelintir orang saja yang tahu, termasuk adalah Ayah Dinda.
Ya, rahasia masa lalu Balqis yang sepertinya begitu rapi disimpan oleh Aki bersama keluarganya.
"Kenapa sih Nda, dari tadi di ajak ngomong kayaknya ngga fokus terus."
Ujar Balqis.
Dinda tersenyum.
"Iya maaf Qis."
Ujar Dinda jadi tak enak karena ketahuan tak terlalu fokus mendengarkan Balqis bicara.
Balqis menghela nafas.
Tampak Balqis meletakkan sendok nya di atas piring kosong bekas Balqis makan.
"Aku cuci sebentar."
Kata Balqis, tapi Dinda segera meraih tangan Balqis.
"Udah Qis, biarin nanti aja, dapurnya juga paling dipakai Ibu bikin bolu kukus."
Kata Dinda.
Balqis akhirnya menurut tak jadi membawa piring kotornya ke dapur dan kembali duduk sambil melihat kolam lele di dekat bale-bale.
"Kamu mau curhat soal apa Qis?"
Tanya Dinda akhirnya.
Balqis tampak menatap Dinda.
"Soal Bara bukan?"
Tanya Dinda dengan senyum penuh arti, membuat Balqis akhirnya mengangguk mengiyakan.
"Cerita saja Qis, ada masalah apa?"
Ujar Dinda.
Balqis menghela nafas.
Lalu...
"Nda."
Panggil Balqis.
"Ya Qis."
Dinda memandang Balqis yang seolah bersiap akan bercerita sesuatu.
"Ngg... kayaknya kamu bakal marah ngga kalau aku cerita Nda?"
Tanya Balqis.
Dinda mengerutkan kening.
"Marah? Marah kenapa?"
Dinda balik tanya.
"Soal Bara, kalau aku cerita yang sebenarnya, kamu bakal marah enggak?"
Balqis tampak masih begitu ragu.
Dinda akhirnya meraih tangan Balqis.
"Cerita saja Aqis, apapun itu akan aku dengarkan."
Kata Dinda mencoba meyakinkan Balqis lagi.
Balqis akhirnya untuk kesekian kali tampak menghela nafas. Lalu...
"Nda, Bara itu sebetulnya bukan Bara."
Kata Balqis.
Dinda kembali mengerutkan kening.
__ADS_1
"Bukan Bara, maksudnya gimana sih Qis?"
Dinda malah jadi tambah bingung.
"Bara itu sebetulnya memang Albar Harrys Nda."
Ujar Balqis.
Demi mendengarnya tentu saja Dinda langsung terlonjak.
"Apa Qis? Kamu... Kamu bukan lagi becanda kan Qis?"
Tanya Dinda.
Balqis cepat menggeleng.
"Serius Nda, dia adalah artis itu. Albar Harrys. Idolanya Eti."
Kata Balqis.
Dinda menganga tak percaya.
Ya meskipun memang wajah mereka sangat mirip, tapi untuk sungguh-sungguh percaya jika Bara adalah memang sosok Albar Harrys nyatanya terlalu sulit.
Artis masuk desa mereka saja itu sudah aneh, apalagi ini sampai tinggal di rumah Aki dan kemudian berteman dengan mereka.
"Albar Harrys adalah cucu dari majikan Aki, dan juga anak dari majikan Abah."
"Hah, maksudnya gimana sih Qis? Pusing banget kamu mah ngomongnya kayak judul novel."
Dinda jadi protes.
"Maksudnya keluarga Albar Harrys dulunya ya majikan Abah dan Aki."
Terang Balqis.
"Ooh..."
Dinda mantuk-mantuk.
Balqis akhirnya menceritakan semua tentang Albar kepada Dinda.
Dari masalah kenapa Albar pura-pura bernama Bara, lalu kemudian mengatakan dia dan Balqis dijodohkan, sampai kemudiannya lagi soal kepulangan Albar yang tinggal dua tiga hari.
Balqis tertunduk di tempatnya duduk.
Dinda menatap Balqis sambil kembali menghela nafasnya.
Ia sungguh-sungguh tak percaya jika Albar Harrys ada bersama mereka selama ini.
"Aku bingung Nda, aku bingung banget."
Kata Balqis tiba-tiba setelah semua kisah Albar selesai ia ceritakan.
"Ya Qis aku ngerti kegalauanmu."
Ujar Dinda akhirnya.
"Tapi kalau kamu maksa soal kamu musti gimana ke Bara, aku rasa kamu musti kasih dia kesempatan."
"Tapi menikah setelah sekolah itu aku ngga ingin Nda."
Dinda yang mendengar keluhan Balqis tampak tersenyum.
"Jalani yang sekarang dulu saja Qis, urusan menikah dan lain-lain itu kan nanti, masih lama inih."
Kata Dinda.
"Biar saja semua mengalir seperti air."
Tambah Dinda pula.
Balqis terdiam.
"Kamu bilang semua sudah heboh soal perjodohan kalian kan? Lalu di warung kamu beli lauk apa juga sudah mulai dikomen, belum lagi soal jualan sempolan dan lain sebagainya."
Kata Dinda.
Balqis mengangguk.
"Ya udah, aku rasa Bara, eh Albar memang niat tulus ingin ngasih solusi Qis, jangan buruk sangka dia cuma main-main, aku rasa Albar itu meskipun tajir melintir tapi dia ngga suka main perempuan Qis."
Balqis tampak menatap Dinda.
"Dan, lebih baik kamu jujur juga pada Po dan Eti."
Kata Dinda.
"Bagaimanapun mereka adalah supporter dari jaman Dinosaurus makan bakmi."
Lirih Dinda pada Balqis.
Balqis pun mengangguk.
"Ya Nda."
Kata Balqis.
**---------**
__ADS_1