Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
21. Berkah Makan Siang


__ADS_3

Albar akhirnya sampai di pekarangan di mana komplek kandang ayam Aki berada.


Pekarangan itu cukup luas, dengan banyak kandang ayam yang bukan hanya milik Aki, tapi juga milik peternak lain yang ikut kelompok ternak desa.


"Wah banyak banget ternyata, bisa nih bikin konser di sini."


Kata Albar sambil turun dari tossa milik Fajar.


"Konser dangdut?"


Fajar yang mematikan mesin tossanya kemudian menyusul turun.


"Konser seriosa."


Kata Albar sambil merangkul bahu Fajar yang tingginya masih di bawah Albar.


"Jar, sekalian Aki titip telur saja ya."


Kata Aki yang juga turun lalu berjalan ke dekat kandang ayam petelur miliknya.


Kandang A, kandang B, kandang C, begitu Aki memberi nama Kandangnya, sudah seperti komplek perumahan tempat tinggal Albar di Jakarta, blok A, blok B, blok C.


"Siap Ki, jangankan telur, pupuk kandangnya juga Fajar siap angkut."


Kata Fajar yang menghampiri Aki juga.


Albar tampak langsung sigap memakai masker ninjanya, baru kemudian mengikuti Fajar mendekati Aki.


Benarlah kata Aki, jika ternyata aroma di sekitar kandang ayam membuat hidung Albar serasa di tampar bolak balik.


Tapi, inilah kenapa pengalaman itu berharga. Ia akan pamer pada Flo, jika ia bahkan bisa berada di tengah komplek kandang ayam dengan warga ayamnya yang menyambutnya dengan ramah.


Yah lihatlah, mereka semua menatap kedatangan Albar dengan riang.


Albar berasa kembali ke tengah para fans nya.


Fajar dan Aki sibuk mengambil beberapa Ayam yang akan segera menuju eksekusi.


Albar menatapnya dengan iba.


Umur memang tak ada yang tahu. Kemarin dia dikasih makan Aki, siang nanti dia dimakan orang lain dan uangnya dipakai Aki.


Albar menggelengkan kepalanya.


Dunia memang kejam, terutama pada mahluk-mahluk polos tanpa dosa. Kucing, Ayam dan Albar. Batin Albar melo.


Albar berkeliling komplek kandang Ayam, lalu berfoto ria dengan latar kandang Ayam di belakangnya dengan Ayam-ayam yang berpose dalam berbagai gaya.


Albar mengirimkannya pada sepupu sekaligus manajer tercintanya.


Siapa lagi jika bukan Flora Mariana Harrys.


[Saat ayam juga tak bisa menolak pesona Albar Harrys]


Begitu tulisan Albar di bawah foto yang ia kirimkan.


Albar kemudian senyum-senyum sendiri.


Fajar yang diam-diam mengamati kelakuan Albar jadi geleng-geleng kepala.


Aki yang mulai sibuk mengurusi telur ayamnya, begitu sadar si Fajar malah mengamati tingkah polah Albar jadi menabok lengan Fajar.


"Eh iya Ki, maaf Ki."


Fajar langsung kembali membantu Aki.


"Dia baru lihat kandang ayam, maklum anak orang kaya."


Kata Aki.


Fajar tergugu.


Memang suka terbalik-balik dunia ini.


Hal biasa buat orang kaya terlihat luar biasa untuk orang sederhana, hal yang buat orang sederhana biasa, terlihat istimewa buat orang kaya.


Yah dengan catatan, orang kaya yang udah kaya dari orok, kalau yang tadinya sederhana ya biasanya malah sok tidak mau lihat beginian. Batin Fajar.


Albar sendiri mulai melihat pemandangan sekitar pekarangan.


Pekarangan yang terletak di dekat bentangan sawah, ladang dan bukit kecil menjulang.


Albar mengambil foto bukit dan sawah itu, lalu mengunggahnya di media sosialnya lagi.


[Aku ingin jadi bukit, yang menjulang tinggi tanpa takut dihembus angin kencang]


Albar tersenyum pada hp nya.


Seperti senyum pada pacar saja.


Hmm belakangan tinggal di desa bersama Aki membuatnya bisa membuat story yang berbeda rasa dan warna, daripada dulu yang hanya bisa mengunggah foto makan, foto jalan-jalan dan foto konser atau promo film yang ia bintangi saja.

__ADS_1


**-----------**


Jam Istirahat sekolah,


Balqis dan ketiga sahabatnya keluar kelas menuju kantin.


"Bakso ah."


Kata Eti merangkul Balqis berjalan beriringan masuk ke dalam kantin, sedangkan Po dan Dinda mengikuti di belakang mereka sambil bicara soal kios jilbab baru yang tak jauh dari gedung sekolah.


"Pulang sekolah mampir yuk."


Kata Po.


Dinda mengangguk setuju.


Balqis dan Eti memilih tempat duduk, Dinda dan Po menyusul.


"Siapa hari ini giliran tugas pesan?"


Tanya Dinda.


"Aku."


Sahut Balqis.


"Ah aku bakso ngga usah pake mie."


Kata Dinda.


"Aku mie ayam bakso dong."


Kata Po yang lebih suka mie ayam bakso


"Aku bakso lengkap plus tetelan yang banyak."


Eti nyengir.


"Minumnya?"


"Aku es teh."


Kata Dinda.


"Aku juga."


Lanjut Po.


Pesan Eti.


"Sekalian aja satu balok gede."


Seloroh Po membuat Eti melet ke arahnya.


Balqis kemudian beranjak dari tempat mereka duduk lalu mendatangi pemilik lapak bakso di kantin untuk memesan.


Saat Balqis sibuk memesan, tiba-tiba seseorang menyapa Balqis dari belakang.


Balqis yang mendengar suara tak asing itu seketika langsung menoleh, dan tentu saja tampak sosok itu tersenyum manis.


Ah Bang Adit.


Tapi...


Balqis yang ingat jika mereka kini berada di lingkungan sekolah tak bisa memanggil Adit dengan panggilan Bang.


"Pak Guru, selamat siang."


Balqis membungkuk memberi salam.


Adit mengangguk dengan senyumnya yang semakin manis.


Dari tempat duduk kantin, ketiga teman Balqis mengamati pergerakan mencurigakan keduanya.


Mata mereka yang tiba-tiba seperti memiliki sinar laser itu menatap Balqis dan Adit lekat-lekat, apalagi saat kemudian Balqis dan Adit juga terlihat mengobrol sambil menunggu pesanan Balqis selesai.


"Apa Balqis mau embat dua orang sekaligus?"


Gumam Po.


"Huz, gitu banget ngomongnya."


Sahut Dinda.


"Tapi lihat dong, kelihatan banget Balqis suka sama Bang Adit."


Lirih Po.


Eti yang merupakan pendukung setia Bara alias Albar jelas saja langsung terlihat serius berkata pada teman-temannya.


"Kita harus nasehatin Balqis dan berusaha menyadarkannya jika ia sudah setengah milik Bara."

__ADS_1


Kata Eti.


Dinda mengangguk setuju.


Dinda adalah pendukung prinsip kesetiaan.


"Tapi kayaknya Balqis emang enggak suka sama Bara, Balqis sukanya sama Bang Adit, kan dari kecil dia mah emang sudah fans banget kan ke Bang Adit, kita semua juga tahu."


Kata Po.


"Tapi kan sekarang Balqis udah dijodohin sama Bara oleh Aki."


Sela Eti.


Dinda setuju lagi sama Eti.


"Ya kan hati ngga bisa dipaksa."


Ujar Po.


"Tapi seorang gadis itu lebih baik menikah dengan cowok yang direstuin walinya."


Kata Dinda.


"Nah tuh."


Eti menjentikkan jarinya.


"Kasihan dong kalau menikah dengan laki-laki yang enggak disukai."


Gumam Po.


"Ya nanti juga lama-lama suka."


Sahut Eti enteng.


"Lagian Bara udah baik banget sama Balqis, dia ganteng banget juga kan mirip Albar."


Tambah Eti.


"Huuu kamu mah di pihak Bara karena halu dia Albar Harrys."


Kata Po.


Eti tergugu.


"Biarin weeee..."


Eti melet pada Po.


Mereka masih kasak-kusuk tak jelas ketika Balqis dan Adit datang ke tempat duduk.


Balqis membawa dua gelas es teh, sementara Adit membawakan dua gelas minuman lainnya, es Nutrisari Eti dan juga jus lemon milik Balqis.


Adit meletakkan dua gelas minuman yang ia bantu bawakan untuk Balqis di atas meja di depan teman-teman Balqis.


"Siang Pak."


Dinda, Po dan Eti memberi salam pada Adit.


Adit tersenyum sambil mengangguk.


Di belakang Adit, Pak Mul yang membawa pesanan bakso Balqis dan teman-temannya menyusul meletakkan pesanan mereka.


"Selamat menikmati yah, hari ini Pak Guru yang traktir."


Kata Adit tersenyum.


"Waaah cihuuuy."


Eti menyambut senang.


Lupa dia tadi ada di pihak siapa.


"Terimakasih Pak."


Ucap Po.


"Terimakasih Pak Guru."


Kata Dinda.


"Aku juga makasih Pak."


Eti nyengir.


Adit kemudian permisi.


Balqis di tempatnya yang wajahnya sudah macam kepiting rebus itu langsung tambah memerah begitu Adit pergi dan teman-temannya langsung sibuk menggoda.


**-----------**

__ADS_1


__ADS_2