
Balqis baru saja selesai sholat maghrib.
Ia tampak melepas atasan mukenahnya dalam posisi masih duduk di atas sajadah.
Seharian ini Albar tak mengiriminya pesan, entah apa yang ia sibukkan sebetulnya, padahal Balqis ingin menanyakan banyak hal, termasuk kabar rencana kepulangannya ke Indonesia dalam waktu dekat.
Balqis bertanya-tanya apakah kepulangan Albar nanti juga akan termasuk mempercepat hari H mereka?
Ah Balqis jadi ingat Aki, coba Aki masih hidup, meskipun Aki bukan kakek kandung Balqis, tapi rasanya Balqis merasa adanya Aki sangat membuat Balqis selama ini bisa hidup nyaman.
"Qis... Aqiiiis..."
Tiba-tiba terdengar suara Eti di luar pintu kamar memanggil.
Balqis yang tengah melamun memikirkan Albar terkesiap, ditatapnya pintu kamarnya, lalu menyuruh Eti masuk kamar saja.
Tak lama pintu kamar itupun terbuka dan Eti muncul dengan senyumannya yang khas.
"Qis, makan yuk, aku udah laper banget nih, habis makan mau lanjut ngerjain tugas sebentar soalnya."
Kata Eti.
"Ah iya, sebentar."
Balqis berdiri dari duduknya, melepas bagian bawah mukenahnya dan melipatnya untuk kemudian di letakkan di sisi tempat tidur.
"Tapi malam ini makan malam kita sepi."
Kata Eti sambil menggamit lengan Balqis yang akhirnya melangkah keluar bersama Eti.
"Bang Fajar sama yang lain belum pulang?"
Tanya Balqis.
Eti mantuk-mantuk.
"Tadi chat Po sih katanya mereka sekalian nonton film di bioskop."
Kata Eti.
Balqis mengangguk mengerti.
"Ya biar saja, udah lama juga Dinda dan Po ingin jalan-jalan lagi, kamu tadi diajakin nggak mau."
Kata Balqis.
"Bukan nggak mau, uangku lagi mepet, kiriman dari kampung bakal telat, aku harus hemat."
Balqis yang mendengarnya tersenyum.
"Jadi bantuin Kak Flo besok?"
__ADS_1
Tanya Balqis pula.
Eti mengangguk.
"Jadi dong, kesempatan bagus nggak mungkin aku sia-siakan."
Kata Eti cepat.
Balqis dan Eti berjalan menuruni anak tangga, lalu langsung menuju ruang makan.
Tampak Bik Tuti baru saja meletakkan satu piring ayam goreng serundeng.
"Bik Tuti jadinya repot masak ya Bi."
Ujar Balqis.
Bik Tuti terkekeh.
"Tidak apa-apa Nona Balqis, kan sudah tugas Bibik sebetulnya di sini, Nona Balqis dan yang lain saja yang terlalu baik sampai rela sibuk masak sendiri setiap hari."
Kata Bik Tuti.
Balqis tersenyum.
"Masak kan memang sudah seharusnya buat kami sekalian belajar jadi Ibu rumah tangga nantinya Bik."
"Ciyyeeee... Yang sebentar lagi jadi Ibu rumah tangga."
Balqis lalu duduk dikursi ruang makan untuk siap menyantap makan malamnya.
"Bang Zul ke mana Et?"
Tanya Balqis pada Eti.
"Tadi sih bilangnya mau pergi sebentar cari angin."
Ujar Eti.
"Ooh."
Balqis mantuk-mantuk.
Setelah sekian waktu, Balqis makan selalu ramai-ramai dengan teman-temannya, hari ini tiba-tiba semua pergi jalan-jalan dan tinggal Balqis saja di rumah dengan Eti membuat rumah rasanya jadi sepi sekali.
Eti mengambil nasi untuk piringnya sendiri dan juga untuk piring Balqis.
Sajian malam ini tak seberapa banyak, hanya sambal, ayam goreng serundeng, dan juga tumisan kacang panjang dengan campuran udang.
**----------------**
Flo baru saja akan memanggil Lisa untuk menjagakan si Luni kucingnya karena Flo akan pergi ke bandara menjemput Albar, saat tiba-tiba hp nya ada panggilan masuk.
__ADS_1
Flo yang berjalan menuju anak tangga untuk turun ke lantai satu cafenya cepat meraih hp miliknya di saku celana.
Di lihatnya di layar ada nama yang ada seperti mengeluarkan sinar ultraviolet.
Membaca nama itu mata Flo langsung tersilaukan, dan silau itu bukan hanya ke mata kepalanya, tapi juga menyilaukan mata batin Flo bahkan sampai mata kaki Flo ikut silau.
Ngg...Ngg... Aduh, Flo gugup setengah matang.
Sampai akhirnya, dilihatnya Lisa melintas, Flo segera lari menuruni anak tangga mengejar Lisa.
"Mau ke mana?"
Tanya Flo pada Lisa yang otomatis langsung berbalik arah lagi saat mendengar namanya dipanggil.
"Mau beli kuota Nona, paket data habis."
Sahut Lisa.
"Sebentar, kamu angkat ini telfonnya, bilang Nona Flo lagi sibuk."
Kata Flo.
Lisa melihat hp Flo yang di mana ada panggilan namun begitu Lisa mengambil hp itu dari tangan Flo panggilan itu berhenti.
"Lah mati Non."
Namun setelah itu panggilan baru masuk lagi.
"Bapak kucing?"
Gumam Lisa membaca nama pada layar.
Lisa menatap Flo sambil menerima hp Flo lagi.
Flo terlihat nyengir.
"Angkat ya, pokoknya kasih kesan Nona Flo kasihan."
Pesan Flo.
Lisa pun mengangguk.
"Baiklah Nona."
Lisa pun mengangkat panggilan itu.
Panggilan dari Bapak kucing, yang tak lain adalah Bang Indra.
Ah rasanya Lisa jadi ingin tertawa, bagaimana bisa Nonanya itu kepikiran cowok seganteng Bang Indra diberi nama Bapak kucing.
**------------**
__ADS_1