Terjebak Cinta Sang Idol

Terjebak Cinta Sang Idol
160. Bintang Terang


__ADS_3

Albar mengajak Balqis duduk di lantai atas cafe Flo, di tempat yang dibiarkan terbuka dengan sedikit taman kecil yang menghias di sana.


Tiga set kursi kayu terlihat kosong, Albar memilih salah satunya, yang paling dekat dengan dinding setinggi dadanya yang apabila berdiri di sana bisa melihat jalan raya dan suasana sekitar.


"Kenapa pulang tidak kasih kabar?"


Tanya Balqis begitu akhirnya keduanya duduk di salah satu set kursi di lantai atas itu.


Mereka duduk saling berhadapan, dibatasi satu meja kayu kecil berbentuk kotak dengan vas berhias bunga matahari.


Albar menatap Balqis lekat-lekat.


Tatapan penuh kerinduan yang dalam, tatapan lembut dan teduh.


"Kamu marah?"


Tanya Albar.


Balqis menggeleng pelan.


"Bukan marah Albar, aku tadinya sangat khawatir, aku takut kamu kenapa-kenapa sampai tak ada kabar sama sekali."


Lirih Balqis.


Albar tersenyum.


Hatinya tentu saja merasa senang dikhawatirkan oleh kekasihnya.


"Maaf, aku semula ingin membuat kejutan, tapi Flo justeru membuatku terkejut lebih dulu."


Albar tertawa.


Balqis mantuk-mantuk.


"Aku juga tidak menyangka sama sekali, aku pikir Kak Flo mengundang makan siang karena ia ingin merayakan sesuatu."


Ujar Balqis.


Albar tersenyum.


Balqis tampak menatap Albar yang menurutnya terlihat lebih kurus dibandingkan saat terakhir mereka bertemu.


"Kamu kok lihatinnya begitu amat Bal?"


Tanya Albar.


"Kamu habis sakit?"


Balqis malah balik tanya.


Albar membulatkan matanya.


"Siapa? Aku?"


Albar menunjuk dirinya sendiri.


Balqis mengangguk.


"Kamu terlihat lebih kurus dari saat terakhir kita ketemu."

__ADS_1


Ujar Balqis akhirnya.


"Ah, aku diet."


Sahut Albar asal saja.


Balqis mengangkat kedua alisnya.


"Diet apa? Albar kan tidak gendut, ngapain diet."


Balqis tentu saja tak percaya.


Albar terkekeh.


"Di Perth aku jarang ketemu nasi Bal, lagian makanan di sana tak terlalu banyak yang aku suka, beda kalau di sini, apa saja aku doyan."


"Hum, apalagi mie instan rebus."


Kata Balqis.


Albar tentu saja langsung tambah tertawa.


"Nah mie instan buatan kamu, nanti bikin ya."


"Hmm... Malah jadi minta dibikinin."


"Ya habis kamu ingetin aku, jadi pengin makan mie instan kan akunya."


Balqis tertawa.


"Besok Mami datang, aku hari ini tidur di rumah, besok siang, jemput Mami ke Bandara ya."


Balqis mengangguk.


"Jangan khawatir, Mami mungkin cerewet, tapi dia baik."


"Aku malu Albar."


"Kenapa harus malu? Jangan malu, kamu istimewa, tidak usah malu."


Balqis menatap Albar.


"Kamu seperti bintang yang sangat tinggi, sementara aku sebetulnya hanya rumput liar yang tumbuh di antara ratusan rumput lain."


Albar menghela nafas.


"Jangan berpikir begitu, aku tidak suka Bal."


Ujar Albar tegas.


"Mami sudah memberikan restu, besok Mami datang untuk menemui keluarga kamu yang ada di sekitar Kampung Rambutan dan setelah itu, Mami berencana akan menemui keluarga kamu juga di Tasik. Keluarga Mang Kus, keluarga Aki."


Kata Albar.


Balqis kedua matanya berkaca-kaca.


"Mami ingin kita menikah setelah itu kamu tetap kuliah juga tidak apa-apa, aku juga tidak keberatan jika kamu tetap ingin melanjutkan kuliah sampai S3 bila perlu."


Kata Albar.

__ADS_1


Balqis menggeleng.


"Tidak Albar, bisa wisuda S1 saja sudah Alhamdulillah."


Kata Balqis.


"Apapun Bal, apapun mimpimu, apapun harapanmu, apapun cita-citamu, aku tak akan menghalangi hanya karena kita nanti menikah lebih awal."


Albar menatap Balqis dan begitu juga sebaliknya.


"Aku juga akan menyelesaikan sekolahku sampai selesai dan bergabung dengan perusahaan Mami. Aku akan pastikan bisa menjadi kepala keluarga yang mapan dan bisa membahagiakanmu Bal."


Kata Albar pula berjanji.


Balqis mendengarnya tanpa terasa jadi menitikkan air mata kembali.


"Setelah menikah, kamu tak lagi sendirian di dunia ini Bal, karena ada aku, suamimu, dan ada Mami, yang juga akan jadi Ibumu juga. Kamu bisa janji sama aku satu hal?"


Tanya Albar.


Balqis terdiam, menatap Albar seolah takut ia harus berjanji apa.


Albar meraih tangan Balqis yang ada di atas meja.


"Berjanjilah tak akan menangis lagi, jika ada yang membuatmu sedih berbagilah denganku, jangan ditanggung sendirian lagi."


Kata Albar.


Balqis akhirnya tak lagi kuasa menahan air matanya luruh.


Dadanya bergetar luar biasa mendengar ucapan-ucapan Albar.


Yah, air mata yang semula hanya tetesan-tetesan kecil saja kini berubah jadi air mata yang bercucuran.


"Jangan menangis, kumohon."


Albar yang melihat Balqis menangis begitu jadi tak tahan untuk tak menangis juga.


Sungguh Albar merasa bahwa dosanya menjadi penyebab kematian Pak Nurdin kini seolah mendapatkan jalan untuk ia bisa menebusnya sepanjang hidup.


Albar meraih tisu di atas meja di antara mereka duduk, lantas pelahan dan lembut, Albar pun menyeka air mata Balqis dengan tisu di tangannya.


"Jangan menangis lagi sayang."


Lirih Albar.


Balqis menunduk, bibirnya yang bagaikan kelopak mawar terlihat bergetar hendak mengucapkan sesuatu.


Hingga...


"Aku menangis karena terlalu bahagia Albar, aku bahkan tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Tapi... Tapi..."


Balqis terisak lagi.


Albar menyeka air mata Balqis lagi.


"Tapi sungguh, buatku, kamu adalah bintang dalam setiap gelapku Albar. Terimakasih."


Lirih Balqis.

__ADS_1


**-----------------**


__ADS_2