
Flo mengajak semuanya naik ke lantai dua Flora Cafe, di mana biasanya Flo menjamu beberapa rekan sesama manajer artis dulu, atau bahkan ada artis yang ingin menikmati makan di cafe Flo.
Ruangan di lantai dua jauh lebih terlihat santai dan terlihat lebih luas karena tak begitu banyak kursi dan meja, di tambah sebagian ruangan dibiarkan menjadi area terbuka yang dibuat semacam taman dengan beberapa tanaman hijau serta dindingnya yang enam puluh persennya terbuat dari kaca membuat pandangan mata jadi semakin leluasa.
"Kak Flo keren deh, mau dong jadi karyawan di sini Kak."
Kata Eti malah mendaftar kerja.
Flo tertawa kecil mendengar Eti yang setelah puas berfoto dengan Po tampak menghampiri Flo yang duduk bersama Dinda dan Balqis.
"Serius Kak, aku suka banget tempat ini, ya kan sekalian ngisi waktu pas nanti kalo aku lagi ngga ada kelas."
Kata Eti.
Flo mantuk-mantuk.
"Ya okey, silahkan saja, datanglah tiap Sabtu-Minggu, cafe sangat ramai seperti ini butuh banyak tenaga tambahan."
Ujar Flo.
"Wah sungguh?"
Eti sumringah.
"Yah, why not?"
Kata Flo.
"Aku juga maulah Kak."
Po nimbrung juga.
"Tumben dia mau kerja, biasanya apa-apa manggil Emak."
Seloroh Bang Zul menggoda adiknya membuat Po memanyunkan bibirnya ke arah Kakaknya.
Bang Zul tertawa, lalu memilih ke area terbuka untuk menikmati suasana Jakarta dari sana.
Kilau lampu stasiun TV juga terlihat dari lantai dua itu, sungguh menyenangkan.
"Eh kalian makan dong, tadi belum jadi pesan kan?"
Tanya Flo.
"Ah iya, sampai lupa, hahaha..."
Po tertawa, yang disambut tawa yang lain juga.
Flo kemudian memanggil seorang pelayan yang bertugas di lantai dua untuk mencatat pesanan.
"Aduh semua makanannya dibaca aja udah pusing Kak."
Ujar Eti saat melihat buku menu lagi.
"Lah dodol, gimana mau jadi pelayan, katanya mau magang bantuin Kak Flo."
Po menabok lengan Eti.
Semua jadi tertawa.
"Udah gini aja, Kak Flo sajikan menu andalan cafe Kak Flo aja buat kalian semua, oke."
Kata Flo.
"Wah oke bangetlah kalau itu sih."
Sahut Bang Zul dari posisinya yang kini menikmati semilir angin kota Jakarta.
"Aqis, apa Aqis mau milih sendiri?"
Tanya Flo pada Balqis, jelas ia mengistimewakan Balqis lebih dari yang lain.
Balqis tampak menggeleng seraya tersenyum.
"Baiklah..."
__ADS_1
Flo kemudian beralih ke arah pegawainya yang setia menunggu untuk mencatat pesanan.
"Tolong bawakan untuk menu appetiser, spring roll, fabulous waffle dan bitter ballen, ah Dimsum juga boleh yang spesial yah."
Kata Flo.
Pegawainya mencatat.
"Untuk main course, bawakan steak lima porsi dengan daging yang terbaik kita ya, lalu udang mayonaise, pasta untuk aku, dan fish and chips dua porsi dulu."
Tambah Flo lagi.
Eti dan Po melongo mendengarkan Flo menyebutkan nama-nama makanan yang lebih mirip nama tokoh dalam telenovela.
"Dan untuk dessert, bawakan saja crepes suzette, banana fritters, dan cheesecake pasti semua suka kalau cheesecake."
"Yang New York Cheesecake, Nona Flo?"
Tanya pegawai Flo.
"Ah yeah, bawakan yang itu, jangan lupa es krim."
"Waaah, mantap, aku vanila."
Kata Eti.
"Aku coklat."
Ujar Po.
Balqis dan Dinda berpandangan sejenak, lalu mereka juga ikut jejak Eti, pesan vanila.
"Minumnya Nona?"
Tanya pegawai Flo lagi.
"Minimnya apa?"
Flo pada mereka.
Sahut Eti sok British.
"Es jeruk gitu ajalah gampang."
Kata Po membuat semua tertawa.
"Ah Kak Flo, aku mau ikut sholat, bisa ngga Ka?"
Tanya Balqis yang melihat jam sudah lewat jam enam seperempat.
"Oh bisa banget, di kamar yang biasanya buat istirahat aku saja, ada kamar mandi juga kok Qis, masuk aja itu deket."
Flo menunjuk ke arah dinding yang dilukis macam gambar dua topeng, di dekatnya ada pintu yang sepertinya di situlah kamar Flo biasanya istirahat.
Balqis dan Dinda segera ke sana.
"Ntar gantian."
Kata Eti dan Po kompak.
**------------**
Albar baru selesai mandi dan juga sholat ketika ia melihat Beni duduk di sofa kamarnya sedang menikmati martabak terang bulan rasa keju susu.
"Kangen banget aku pengin makan ini, enak nih Bar, cobain gih."
Kata Beni.
Albar duduk di sofa yang panjang, sedangkan Beni duduk di sofa yang pendek.
Di atas meja ada dua macam martabak, demi menghormati yang sudah membeli dan juga menawari, Albar pun mencomot satu potong martabak rasa susu keju lalu menikmatinya.
"Enak banget kan."
Kata Beni.
__ADS_1
Albar mantuk-mantuk saja.
"Aku barusan nelfon Paman, katanya rumah sudah ada yang nempatin, jadi besok aku ke rumah agak siang saja."
Kata Beni.
"Maksudnya gimana? Rumahmu dikontrakkan?"
Tanya Albar.
Beni menggeleng.
"Jadi itu kan aslinya rumah Bibi, dia tuh selama menikah ngga ada anak, trus karena Bibi ini kan kakak adik sama orang tuaku tiga orang bersaudara, pas kebeneran semuanya udah punya rumah, cuma aku doang yang belum punya jadi dikasihkan rumah peninggalan Bibi buat aku."
"Ooh, semacam warisan?"
Albar memandang Beni.
"Ya warisan."
Beni mantuk-mantuk.
"Orangtua kamu di Jakarta juga?"
Tanya Albar.
"Nggak lah, semua keluargaku di Bandung, aku nempatin rumah itu sejak kuliah S1, begitu dapet beasiswa S2 ke Perth aku tinggalin tuh rumah, aku titipin ke Paman, adik Ayahku juga."
"Dia yang nempatin sekarang?"
Beni menggeleng.
"Aduh kamu aslinya mudeng ngga sih Bar?"
Tanya Beni jadi kesal sendiri karena bahas rumah tidak selesai-selesai.
"Lho kamu bilang tadi rumah udah ditempatin, kamu titip ke Paman kamu."
Kata Albar.
"Iya nitipnya mah ke dia, tapi kan tadi di awal aku udah jelasin kalau aku dipilih mewarisi rumah itu karena aku satu-satunya yang belum punya rumah. Aku titipin ke Paman karena dia yang ada di Jakarta, jadi buat nyari orang yang bisa merawat rumahku istilahnya."
Ujar Beni panjang lebar.
"Oooh bilang dong dari tadi."
Kata Albar yang sebetulnya memang tidak fokus sama sekali dengan apa hang sedang mereka bicarakan.
Albar sedang memikirkan banyak hal, termasuk ingin mengunjungi makan Pak Nurdin lagi.
Ah entahlah...
Mungkinkah jika ia melakukannya akan terjadi kehebohan lagi dari awak media?
Setelah satu tahun lebih berlalu, apa mungkin media masih akan mengejar beritanya? Atau orang masih ingat sosoknya lalu akan mengunggahnya menjadi berita pula?
Albar sedang mencoba menimbang-nimbang hal itu.
"Besok ikutlah ke rumahku Bar."
Kata Beni.
"Kata kamu belum ada rencana mau ke mana? Ah bukankah cafe saudara kamu katanya di Jakarta Barat? Sekalian sajalah kita ke sana nanti."
Kata Beni memberikan ide.
Albar memandang ke arah Beni, seolah mempertimbangkan.
Tampak Albar kemudian menghela nafas, lalu...
"Ya lihat nantilah, besok soalnya Flo yang akan ke sini."
Kata Albar.
**-----------**
__ADS_1