
Beni baru kembali entah dari mana, yang jelas harapannya Albar sudah tidak ada di rumahnya ketika ia pulang saat hari sebentar lagi maghrib.
Tapi...
Ternyata Beni harus kecewa manakala ia sudah dekat dengan rumahnya dan melihat mobil Albar masih ada di sana.
Beni yang kemudian mau tak mau akhirnya membawa motornya masuk ke teras depan rumah pun harus bertambah kecewa saat ia melihat Albar keluar dari rumahnya sambil menenteng tas pakaian dan Balqis berjalan di belakangnya, yang diikuti gadis-gadis lain yang Beni belum sempat berkenalan namun Beni tahu mereka teman-teman Balqis.
Beni menatap Albar dan Balqis serta yang lainnya, dimana mereka baru saja keluar dari dalam.
Tampak Albar tersenyum lebar, ada raut merasa telah memenangkan sesuatu yang sangat besar di wajah Albar saat ini, bahkan sepanjang Beni mengenal Albar satu tahun belakangan, ia tak pernah satu kalipun melihat Albar tersenyum begitu lebar seperti yang ia lihat hari ini.
"Ben... Ben... Beni."
Sapa Albar.
Beni memaksakan senyumannya pada Albar, lalu...
"Pada mau ke mana?"
Tanya Beni berbasa-basi karena melihat semua menenteng tas, hanya Balqis yang tidak membawa karena Albar yang membawakan.
Sesungguhnya untuk Beni tentu saja tidak masalah jika yang lain akan pergi atau apa, karena yang ia perdulikan tentu saja sebetulnya adalah Balqis.
"Mereka akan tinggal di rumahku saja Ben. Ah biar aku bicara denganmu sebentar."
Kata Albar yang kemudian meminta Flo untuk mengajak Balqis dan teman-temannya masuk ke mobil lebih dulu.
Balqis yang sebetulnya sangat tidak enak pada Beni terlihat berungkali menoleh ke arah Beni dan Albar yang kini berjalan masuk ke dalam rumah.
"Ayo Qis."
Flo merangkul bahu Balqis dan menghalangi pandangannya pada Beni dan Albar.
"Biarin urusan cowok."
Kata Flo.
Balqis menghela nafas.
"Rasanya ngga enak saja Kak Flo, sudah merepotkan lalu tiba-tiba pindah tanpa alasan yang jelas, padahal tadinya sudah menyanggupi akan tinggal di sini dengan perjanjian hanya menjaga dan merawat rumahnya."
Ujar Balqis.
Flo tersenyum.
"Mereka akan mengerti, tidak usah terlalu tidak enakan, sudah ayo naik."
Kata Flo membukakan pintu mobil dan menyuruh Balqis segera naik ke mobil bersama Dinda dan yang lain.
Setelah memastikan semuanya naik ke mobil, barulah Flo masuk juga ke dalam mobil dan duduk di kursi depan.
Hari ini mereka sengaja tidak mengajak Pardi karena Flo dan Albar akan bicara banyak hal yang bersifat rahasia, jadi mereka memutuskan pergi berdua saja.
Sementara itu, di dalam rumah Beni tampak Beni menganggukkan kepalanya setelah Albar bicara panjang lebar terkait pindahnya Balqis dan teman-temannya ke rumah Albar.
"Lusa aku akan pulang ke Perth dan akan kuliah seperti biasa hingga liburan musim panas, baru setelah itu aku akan pulang ke Indonesia untuk menikahi Balqis."
Kata Albar membuat Beni tersenyum kecut.
__ADS_1
Ah yah, lucu memang, Beni sebetulnya baru saja mengenal Balqis hari ini, baru juga melihat Balqis hari ini, tapi rasanya ia sungguh-sungguh telah jatuh hati.
Bukan masalah ia cantik saja, namun Beni menyukai kepribadiannya.
Cantik wajah bisa dipoles, tapi hati, kepribadian, tak akan cukup hanya dengan pencitraan.
Sungguh Albar, dia terbuat dari apa sebetulnya? Hingga sepertinya hidupnya serba beruntung. Batin Beni.
Rasanya jika dipikirkan, Beni jadi merasa hidup sangat tidak adil.
Albar terlahir sangat tampan, dia juga sangat kaya, dia juga bersuara merdu, dia juga cerdas, jadi idol dia sangat populer, dan sekarang ditambah pula kekasihnya cantik wajah serta hati.
"Oke Ben, sudah mau maghrib nih, aku pulang dulu ya, besok aku akan kirim supir dan asisten rumah tanggaku untuk nemenin teman-teman Balqis bebenah sekaligus mengambil barang yang belum kebawa hari ini."
Kata Albar.
Beni terlihat mengangguk saja.
Ya' tentu saja, mau bagaimana lagi?
Albar berdiri dan kemudian menepuk bahu Beni.
"Cabut ya, nanti ke Perth kamu bisa bareng aku lagi."
Kata Albar.
Tapi Beni menggeleng.
"Tidak usah, aku akan pesan pesawat biasa saja, aku masih bisalah beli tiket sendiri meskipun hanya kelas ekonomi."
Kata Beni terdengar sedikit sinis.
Ia tahu Beni pasti aslinya sedang kesal, tapi Albar mana mau peduli. Ia malah semakin senang karena dengan begitu ia jadi yakin bahwa ia menang telak.
Ah jadi ingat saat dulu masih di kampung Aki, saat ia bersaing dengan anak Ustadzah Nur, si Bang Medit.
Apa kabar dia? Batin Albar seraya keluar dari rumah Beni.
Beni menghela nafas melihat Albar yang kini menuju Alphard Hitam miliknya.
"Bar, aku turun di cafe sajalah."
Kata Flo.
"Ah yah, baguslah, aku juga ingin mampir cafe mu sebentar, traktirlah makan malam."
Kata Albar.
"Jiaaah, tadi kamu makan tiga piring gila!"
Kata Flo sambil terbahak.
"Lho kata Balqis juga aku suruh makan yang banyak."
Sahut Albar seraya menyalakan mesin mobilnya.
"Ya kan Bal?"
Tanya Albar pula menengok ke belakang di mana Balqis duduk.
__ADS_1
"Ya ngga tiga piring juga kali Bang Albar, aku aja belum kebagian gorengan udah habis."
Kata Po membuat semua tertawa.
"Hayoo tuh Po dendam kesumat."
Seloroh Flo.
"Nanti aku ganti pizza di tempat Flo deh."
Kata Albar yang tentu saja langsung disambut Po dengan senang.
"Berarti sholat maghrib sekalian di cafe Flo dulu saja, baru nanti kita pulang habis itu."
Ujar Albar.
"Okeee..."
Sahut semuanya kompak.
Mobil pun melaju meninggalkan pelataran rumah Beni, di mana Beni kini hanya bisa menatap kepergian mobil Albar yang membawa Balqis dan teman-temannya.
Yah, di mana-mana pasti sang pangeran lah yang menang, kecuali film Animasi Frozen yang pangerannya malah kalah dengan laki-laki dengan gerobak yang ditarik oleh Rusa.
Beni berjalan gontai menuju pagar rumahnya untuk kemudian menggemboknya, lalu masuk ke rumah sambil menelfon Pamannya.
"Mereka tidak menepati janji Paman, mereka pergi begitu saja, pindah ke tempat teman mereka karena rumahnya jauh lebih bagus."
Kata Beni pada Pamannya melalui sambungan telfon.
"Apa? Kok mudah sekali membatalkan perjanjian, nanti Paman tegur Zulkifli."
Kata Paman Beni.
"Dasar anak-anak gadis jaman sekarang, tidak bisa lihat yang lebih punya uang saja, matre, tidak tahu aturan, harusnya kan bicara baik-baik dulu."
Paman Beni mengomel tidak karuan.
Tampak Beni tersenyum saja.
"Po, kamu sudah hubungi Bang Zul kan?"
Tanya Dinda pada Po yang duduk di kursi belakang bersama Eti.
"Belum, ni baru mau chat."
"Jiaaah kamu teh, dibilangin juga suruh chat dari tadi."
Kata Dinda.
"Ya kan tadi sibuk beresin baju."
Po memberikan alasan.
"Ya sudah cepet, nanti takutnya keburu ada salah paham."
Ujar Dinda.
Po akhirnya mengetik pesan pada Abangnya dengan kekuatan super.
__ADS_1
**-------------**