
Liliya terlihat berdiri di depan toko bunga, memandangi bunga-bunga. Seperti sedang menunggu kehadiran seseorang.
Sembari matanya mendapati Liliya, Reinhard otomatis berjalan ke arahnya. Ia berusaha merentangkan tangannya ke depan seolah ingin menggapai sang gadis. Namun, ketika ia memanggil namanya, sang putri yang cemburu menariknya pergi.
Wilia membawa Reinhard ke belakang gang sempit dan gelap sebelum Liliya sempat menyadarinya. Liliya menoleh dan tidak menemukan apa-apa. Padahal ia merasa ada yang memanggilnya.
"Apa-apaan kau!?" bentak Reinhard kesal, ia menepis tangan Wilia yang menggenggamnya.
"Saat kencan dengan seorang gadis, kau tidak boleh melihat ke gadis lain," tegur Wilia.
"Berisik! Kau tidak bisa terus memaksaku, Wilia. Di luar sini, di akademi, kau bukan seorang putri."
"Kalau kau tidak mematuhiku, aku akan menyebarkan rahasiamu."
"Aku tidak peduli!" Reinhard sudah muak. Ia mendorong Wilia cukup keras hingga menabrak dinding di belakangnya. Wilia jatuh terduduk. "Tidak semua hal harus sesuai keinginanmu. Kau terlalu dimanjakan di Rabalm."
Wilia lagi-lagi menarik baju Reinhard seperti sebelumnya, tak ingin Reinhard pergi darinya. "Kau ... harus ... mematuhiku, Reinhard," lirihnya. Tubuhnya masih terasa sakit karena benturan.
"Berapa kali harus kukatakan. Kau bukan Ayahku atau seorang penguasa. Kau hanyalah gadis remaja biasa."
"Tidak!" Tangannya mencengkeram baju Reinhard, semakin naik sambil membantunya berdiri. Setelah ia bisa menatap langsung mata Reinhard, ia memeluknya.
Tubuh Wilia menekan Reinhard hingga terpojok di dinding. Tangan yang melingkari punggungnya semakin erat, melepaskannya akan butuh usaha yang lebih.
Pada saat ini, Reinhard seperti terjebak dalam ruangan tanpa pintu. Belakangnya ada dinding, dan ia tak bisa bergerak ke samping, karena Wilia yang menahannya. Reinhard hanya bisa merasakan semua kehangatan, nafas dan degup jantung Wilia.
Wilia terus menekankan tubuhnya ke Reinhard seolah tubuh mereka akan menyatu. Jika memang bisa, Wilia akan melakukan itu. Ia akan melakukan segala cara agar bisa bersama lelaki idamannya.
"Lepaskan aku, Wilia! Aku tidak ada waktu lagi," ujar Reinhard yang berusaha mendorong Wilia.
"Aku tidak mau melepaskanmu hingga kau jawab pertanyaanku dengan jujur. Kenapa kau lebih memilih gadis itu daripada aku? Kenapa selalu dia? Apakah aku masih belum cukup bagimu?"
Reinhard tak bisa melihat wajah Wilia yang menekan dadanya. Jadi, dia tidak tahu ekspresi apa yang Wilia pakai sekarang. Dia bisa saja menggunakan trik liciknya untuk mempermainkan Reinhard.
__ADS_1
Meskipun Reinhard tak bisa melihatnya, ia masih bisa mendengarnya. Suaranya yang lemah dan penuh kekesalan, serta ada kelembutan di antara keduanya.
"Apa maksudmu, Wilia?" Reinhard tak yakin, kenapa Wilia bertanya seperti itu padanya.
"Yang benar saja! Saat aku selalu berusaha mendekatimu, selalu saja ada sesuatu atau peristiwa yang membuatmu menjauhiku dan beralih ke Liliya. Kenapa bisa begitu, Reinhard?"
Reinhard bisa merasakan dadanya yang basah. Sontak, ia langsung menurunkan ketegangannya. "Aku ... tidak tahu."
"Padahal, aku hanya ingin bersamamu seperti dulu ...."
Ucapan Wilia membuat Reinhard teringat kembali akan masa lalunya. Pikirannya terlalut dalam pusaran masa lalu. Ia terbawa seperti menyaksikan kembali kenangan ia dengan Wilia. Sebuah memori masa lalu yang masih tersimpan dalam lemari ingatannya. Memori tersebut tak akan pernah terlupakan karena pernah berada dalam bagian yang penting.
Pagi di Rabalm sangat berbeda daripada di Winfor atau negara sekitar. Ketika di Winfor, awal hari akan disambut oleh para angin yang hilir-mudik dari puncak ke lembah, dari bukit ke pantai, dan dari hutan ke padang, lalu semuanya berkumpul untuk menyambut para warga di kota. Sementara di Rabalm adalah suatu pengalaman yang berbeda bagi Asberion.
Negeri yang dijuluki Negeri Bunga terkenal akan padang bunganya yang tak terhingga. Bangun di pagi hari akan langsung disambut dengan bunga-bunga yang bermekaran di pot depan jalan, dinding dan jendela, atau di atap rumah. Di Rabalm, tidak ada satu tempat pun yang tidak diisi oleh bunga. Bunga akan tumbuh di lubang tergelap hingga sungai yang paling dalam sekalipun.
Karena semuanya adalah bunga, Reinhard yang saat itu berumur 12 tahun menganggap kalau negeri ini hanya untuk perempuan atau orang-orang flamboyan.
"Seperti kata orang, jangan menilai buku dari sampulnya, nak. Meskipun begitu, Rabalm terkenal dengan senjata rahasianya yang berbahaya," ungkap ayah Reinhard menasihati putranya.
Reinhard yang awalnya bersandar di jendela kereta kudanya, tiba-tiba tertarik dengan perkataan ayahnya. "Senjata apa?"
"Entahlah, namanya juga rahasia. Yang jelas, menurut kabar, senjata ini cukup kuno. Tidak semodern dan secanggih senjata milik Heraton, tapi lebih kuat."
"Pfft, Ayah pasti bercanda! Mana mungkin negeri kecil yang terlihat lembek ini memiliki kekuatan seperti itu?"
"Jaga sikapmu, Reinhard. Kita akan menghadiri acara resmi, kau harus bersikap layaknya Asberion di depan keluarga yang lain, mengerti?" tegurnya.
"Ya, aku mengerti, ayah."
"Kita akan menyapa raja dan keluarganya terlebih dahulu. Kudengar putrinya seusia denganmu. Akrablah dengannya, itu bisa membantumu dan memperluas koneksimu."
Kereta kuda menurukan Gerwin dan Reinhard di Istana Veneburgh milik keluarga Walhemstein. Ini pertama kalinya mereka di undang ke Rabalm dan Gerwin langsung menerimanya. Ia melihat undangan ini sebagai kesempatannya mempererat hubungan.
__ADS_1
Ketika mereka masuk, raja dan keluarganya langsung menyambut mereka. "Selamat datang, Asberion, di Rabalm. Semoga para bunga memberkatimu," sambut sang raja yang duduk di singgasananya sambil merentangkan tangannya dan tersenyum penuh sukacita.
Disitulah pertemuan pertama kali Reinhard dengan Wilia. Saat Reinhard membungkuk, ia tak sengaja melirik dan mendapati tuan putri duduk dengan wajahnya yang dingin. Wilia menyadari lirikan Reinhard, tapi mengabaikannya seolah itu tidak akan mengganggunya.
Saat itu, Reinhard tahu kalau Wilia bukanlah sosok tuan putri yang ramah, lemah lembut dan penuh kasih. Melainkan putri yang arogan, kejam dan tidak pedulian. Tatapannya begitu dingin, seolah hanya dengan lirikan saja Reinhard bisa merasakan kebencian Wilia pada dirinya meskipun baru bertemu.
Lalu, mereka bertemu lagi di lorong, tapi Reinhard yang sudah tersenyum ramah dan membungkuk tidak digubris olehnya. Wilia justru melewati Reinhard dengan langkah sombongnya sambil didampingi dengan pelayan yang seusianya. Jika bukan karena perintah ayahnya, Reinhard akan membiarkan putri itu sendirian dengan kesombongannya.
Hari demi hari berlalu di istana, Reinhard sudah berusaha menyapa dan membungkuk dengan segala kehormatannya sebagai Asberion, namun tidak satu kata pun yang keluar dari bibir Wilia. Reinhard sudah ingin menyerah tapi ayahnya terus memaksanya.
Hingga suatu hari, di kebun bunga belakang istana, Reinhard menemukan Wilia yang sedang duduk di kursi dengan meja berpayung sambil meminum cangkir teh berwarna biru hitam. Reinhard tahu kebiasaan bangsawan di Rabalm, tidak boleh pergi selagi teh masih tersisa. Dan juga, para bangsawan apalagi keluarga kerajaan seperti Wilia, harus meneguk tehnya dengan perlahan, tidak boleh terburu-buru. Karena itu, Reinhard yakin akan memiliki kesempatan untuk mengobrol dengan Wilia.
"Halo, tuan putri, perlu kutemani minum teh?" sapa Reinhard.
Belum saja Reinhard duduk, Wilia sudah memberikannya lirikan yang tak enak. Lirikannya menyiratkan bahwa Reinhard harus pergi sekarang. Meskipun paham, Reinhard tak akan melakukannya.
Ia pun menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Wilia. Sambil bertopang tangan di meja, Reinhard tersenyum dengan ramah. "Jadi, aku belajar beberapa ungkapan Rabalm. Cahaya matahari untuk seluruh makhluk hidup, bunga Daffodil untukmu." Reinhard menngeluarkan sebuah bunga berwarna kuning ke arah Wilia.
Dengan perlahan, Wilia meletakkan cangkirnya di meja. Menarik nafas dengan berat seolah ia terpaksa melakukannya. "Jika kau sudah mempelajarinya, berarti kau seharusnya tahu artinya, kan?"
"Tentu saja, bunga Daffodil bermakna pertemanan. Dengan memberikan bunga ini ke orang lain, itu berarti kau mengajak seseorang untuk berteman, kan. Sudah kubilang aku sudah belajar," jelas Reinhard dengan bangga karena mengira dia seratus persen benar.
"Biar kuperjelas lagi, Asberion. Memberikan bunga Daffodil untuk ajakan pertemanan memang benar. Yang salah adalah orang yang kau tuju. Di Rabalm, memberikan bunga Daffodil ke orang yang derajatnya lebih tinggi darimu adalah suatu hal yang tidak sopan, apalagi kau memberikannya ke keluarga kerajaan. Hanya orang yang berkududukan lebih tinggi atau setara yang boleh," jelas Wilia dengan sikap cueknya. Matanya tak selalu menatap ke Reinhard, terkadang ia melihat ke arah lain yang lebih pantas untuk dilihat. "Jadi, hentikan ungkapan bungamu! Aku juga sudah muak mendengar kata bunga lagi."
"Oh, jadi begitu. Tapi, kita kan setara. Usiamu juga sama denganku, kan?"
Wilia berdengus mengejek. "Jangan bercanda. Meskipun kau Asberion, bukan berarti kau setara dengan keluarga kerajaan. Walhemstein punya sejarah lebih panjang dan lebih hebat daripada Asberion. Jadi, jangan membuat kau dan aku seolah-olah setara."
"Kau salah, Wilia, kita tetaplah setara sebagai manusia. Sesama anak dari kedua orang tua yang hebat. Karena itu, aku mengajakmu untuk berteman, Wilia."
Wilia yang dingin dan sulit didekati seperti bunga mawar dengan durinya, mulai memekarkan dirinya seolah ada cahaya matahari yang menyinarinya.
"Aku akan mengajakmu berteman dengan cara yang lebih umum." Reinhard menjulurkan telapak tangannya yang terbuka ke atas. "Jika kau menerimanya, aku dengan senang hati berteman denganmu," ucap Reinhard sambil tersenyum.
__ADS_1