
Setelah kejadian itu, mereka memutuskan untuk segera menemui Dokter Nora lagi. Tapi, di kliniknya dia tidak ditemukan. Peralatan medis dibiarkan pada tempatnya, tak tersentuh. Menandakan Dokter Nora sudah lama pergi.
Liliya tak ingin dirinya terus mengalami kejadian yang memalukan sekaligus mengesalkan lagi. Karena itu, dia mendesak untuk menemui Dokter Nora secepatnya. Ditambah dia juga sebal dengan Reinhard. Jika dia melakukannya lagi dengan atau tanpa sadar, Liliya tidak akan pernah memaafkannya, atau kemungkinan paling buruknya dia akan mengabaikan Reinhard.
Tujuan mereka berikutnya tentunya adalah asrama perempuan. Di sana tidak hanya kamar untuk para murid tapi juga untuk guru-guru. Menurut mereka, jika Dokter Nora tidak ada di kantornya, itu berarti dia sedang beristirahat. Lagipula, sekarang sudah waktunya untuk kembali ke asrama.
Mereka pun sampai di depan pintu asrama perempuan, di mana ada Eris yang sedang berjaga.
"Aku sudah menunggumu, Liliya. Ini sudah malam. Apa yang kau lakukan? Dan kenapa kau membawa Reinhard kesini? Reinhard seharusnya juga kembali ke asramanya." tanya Eris mencurigai Liliya, lalu dia melempar pandangan curiganya ke Reinhard.
"Maaf, tapi aku sedang mengantar Reinhard. Dia lagi sakit. Kami datang kesini karena kami tidak menemukan Dokter Nora di klinik," jelas Liliya.
Eris membuka catatannya, lalu berkata, "Dokter Nora belum kembali. Aku tidak melihatnya masuk ke asrama dari tadi. Faktanya, semua guru belum ada yang kembali ke sini."
Perkataan itu jelas mengundang tanya bagi Reinhard dan Liliya yang saling menatap.
"Semua guru, maksudmu SEMUA guru yang ada di akademi ini?" tanya Reinhard memastikan kembali apakah dia salah mendengar atau tidak.
"Itu yang kukatakan." Eris menunjukkan catatannya. Di kertas putih, terlihat daftar nama penghuni asrama perempuan yang begitu banyak dengan tanda centang di sebelah namanya. Di antara nama-nama itu, ada nama para guru perempuan yang tidak memiliki tanda centang. "Lihat, aku menandai setiap orang yang sudah masuk ke asrama pada waktu yang tepat dengan tanda centang. Sementara yang belum kembali tidak kucentang, sepertimu, Liliya."
Reinhard yang curiga, mengerutkan keningnya. "Apa maksudnya ini? Apa mereka ingin melakukan suatu rencananya lainnya?"
"Lalu, bagaimana sekarang? Jika kita tidak segera menemukan Dokter Nora, nanti kau ...." Liliya terlalu takut membayangkan apa yang terjadi pada Reinhard, hingga dia tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Sebenarnya penyakit apa yang kau derita?" tanya Eris pada Reinhard. "Jika kau ingin konsultasi soal penyakit, ada salah satu murid yang cukup paham. Namanya Ein."
"Oh, dia gadis yang selalu menyendiri di perpustakaan, kan?" sahut Liliya cukup senang, karena dari dulu dia cukup kesulitan untuk mendekati Ein. "Rein, kita minta tolong dia saja!"
Mata yang berbinar-binar penuh cahaya berkilauan, tentu saja Reinhard tidak dapat menolak tatapan yang membuat hatinya bersemi layaknya bunga.
__ADS_1
"Kalau begitu, ikut aku. Akan kuantar kalian ke kamarnya. Seharusnya dia sudah ada di kamarnya dari tadi," ucap Eris yang masuk ke dalam setelah dia memeriksa kembali catatannya dan memastikan jika nama Ein sudah dicentang.
Ini bukan pertama kalinya Reinhard masuk ke asrama perempuan. Dia yang bersikap biasa saja, tenang, dan tak melirik penasaran ke sekitar justru membuat curiga Liliya dan Eris.
"Kau bilang jika kau sakit, tapi aneh bagiku jika orang sakit tampak sepenuhnya sehat dan tidak menunjukkan gejala yang aneh."
Keheranan Eris itu juga sama seperti yang di alami Liliya. Seseorang yang tidak tampak seperti orang sakit, tapi tanpa diduga bersikap tidak normal. Tidak ada satu orang pun yang menganggap itu tidak aneh. Hanya saja, Liliya tak memiliki banyak informasi soalnya, sehingga dia mengasumsikan gejala aneh Reinhard sebagai salah satu penyakit daripada dia bilang jika Reinhard tiba-tiba bertingkah layaknya binatang yang bernafsu tinggi padanya dan ingin menghisap darahnya.
"Karena gejalanya tidak tampak lah yang membuat penyakit Rein aneh," balas Liliya.
"Tunggu, apa benar gadis ini bisa dipercayai? Aku tidak yakin soal ini. Jika Dokter Nora saja tidak tahu masalahnya, bagaimana dengan dia? Dia bukan dokter profesional, kan?" tanya Reinhard gelisah.
Liliya berhenti di depan Reinhard, dan menatapnya tajam. "Hei! Ini satu-satunya cara! Aku tak ingin kau tiba-tiba melakukan itu padaku. Awalnya kukira kau sungguhan melakukannya, lalu ternyata tidak. Rasanya aku seperti dipermainkan olehmu. Aku tidak sanggup lagi. Kita coba saja tanya saja dulu ke Ein. Jika dia juga tidak tahu, kita cari cara lain," bisik Liliya yang bersikap tegas.
Reinhard sebelumnya tidak pernah melihat sisi tegas dari Liliya seperti Wilia atau Eris. Dia terkejut bahkan tak bisa berkata-kata, hanya bisa menurut.
Eris mengetuk pintu kayu itu dan memanggil nama Ein, tapi tak ada jawaban dari dalam. Karena Eris adalah prefek asrama, dia diberikan hak untuk memegang kunci cadangan untuk seluruh ruangan di asrama perempuan. Eris menggunakan kuncinya, masuk ke kamar Ein.
Atmosfer yang berbeda langsung menyembur keluar seperti air dalam bendungan yang dibuka kembali setelah sekian lama. Tidak hanya karena atmosfer yang mencekam membuat bulu kuduk mereka menegak, tapi juga karena seisi kamar yang terlihat tidak normal di mata mereka.
Tidak seperti kamar lainnya yang berwarna lebih cerah, tembok kamar ini berwarna hitam. Karena itu membuat seisi kamar terlihat gelap seperti tak memiliki cahaya sedikitpun. Seluruh perabotan, kasur, bantal dan tirai semuanya berwarna hitam. Semua furniturnya memang masih milik akademi, tapi diwarnai dengan cat hitam.
"Gadis ini tampak menyukai warna hitam, ya?" gumam Reinhard.
"Ein memang sedikit 'aneh' tapi percayalah cara dia menangani penyakit-penyakit bisa dibilang cukup unik, menurut pandangannya," jawab Eris yang menuju ke kamar mandi. Dia mengintip ke kamar mandi, tapi tidak ada seseorang.
"Apa tidak ada orang satupun di tempat ini?" heran Reinhard.
"Ein tinggal sendiri. Teman sekamarnya pindah karena tidak nyaman tinggal bersama Ein," ungkap Eris.
__ADS_1
Di langit-langitnya, tergantung seperti tulang-tulang, ranting, dan benda aneh yang diikat dengan tali hingga setinggi kepala Liliya. Dan gantungan itu tidak hanya satu, melainkan banyak.
"Biar kutebak, mereka pindah pasti gara-gara benda-benda aneh yang digantung ini, kan?" Reinhard bertanya pertanyaan yang sudah dia ketahui jawabannya.
Di lain sisi, Liliya menemukan sejumlah benda aneh lainnya di rak panjang yang seharusnya menyimpan buku. Rak itu terletak di sebelah kanan satu kasur yang dipenuhi dengan kelopak bunga-bunga hitam di atasnya.
Mereka berkumpul untuk memeriksa benda apa sebenarnya yang di letakkan di rak tersebut. Ada yang bentuknya seperti cacing besar di simpan di dalam toples berisi cairan berwarna hijau, lalu ada yang seperti bentuk organ tubuh namun lebih abstrak dan berwarna lebih gelap. Ada juga benda yang seperti cangkang spiral namun tersambung dengan satu batang panjang yang keras berwarna putih.
Dari semua benda aneh yang tidak dapat mereka pahami, hanya ada satu yang masuk di akal mereka, yaitu sebuah buku di bawah bantal.
"Hei, dimana gadis itu? Kau bilang dia ada di sini," tanya Reinhard pada Eris yang juga sama bertanya-tanya.
Eris membuka kembalu catatannya untuk yang kedua kalinya. Dan dia bisa memastikan dengan kedua matanya sendiri bahwa nama Ein sudah dicentang yang berarti, Eris sudah melihat Ein masuk ke dalam asrama.
"Bagaimana bisa? Aku selalu ada di luar. Jika ada yang meminta izin pergi ke luar, seharusnya aku tahu," gumam Eris tak henti-hentinya mengamati nama Ein.
"Mungkin, buku itu bisa memberi kita petunjuk." Tunjuk Liliya ke buku bersampul hitam.
"Sebaiknya, jangan. Itu privasi seseorang," tolak Eris. "Seperti yang bisa kalian lihat sendiri, Ein tidak ada. Dan aku tidak tahu jawabannya. Karena itu, kalian akhiri tujuan kalian. Ini sudah malam dan kalian harus kembali ke kamar kalian. Kalian bisa lanjutkan besok saja."
Itu adalah tanda bahwa Liliya dan Reinhard harus mengakhiri tujuan mereka hari ini. Liliya memang merasa sedikit kesal karena tak mendapatkan jawaban apapun soal keanehan pada Reinhard. Yang dia takutkan jika terlalu lama adalah, ketika dia tak mampu untuk menghentikan Reinhard.
Mau sekeras apapun, mereka tak menemukan ujung cara lain. Memaksa mereka untuk mengakhiri malam ini dan kembali ke kamar masing-masing. Meninggalkan kamar aneh itu dengan satu misteri. Dimana tepatnya sang pemilik kamar yang bernama Ein?
Jawabannya hanya diketahui satu orang. Satu orang yang kini sedang melakukan sesuatu yang penting bersama Ein itu sendiri. Di perpustakaan, hanya mereka berdua. Di tempat yang sepi dan jauh dari tempat orang-orang beristirahat. Sehingga mereka bisa mengeluarkan suara apapun sepuas mereka.
Di perpustakaan yang sekarang menjadi milik mereka berdua, mereka bebas melakukan apapun. Termasuk menggambar sebuah lingkaran berukuran besar di lantai perpustakaan tanpa dimarahi oleh siapapun. Cahaya terang muncul setelah lingkaran selesai digambar dengan kapur putih, menyinari wajah sang lelaki dan sang gadis.
Dari cahaya itu, muncul harapan di dalam kegelapan. Di mana perjalanan baru sang lelaki akan dimulai dengan bantuan seorang gadis aneh yang selalu mengamatinya dalam diam selama ini.
__ADS_1