
Tanah kembali ditimbun setelah benih baru diletakkan. Sambil menunggu kehidupan kecil tumbuh, air segar diberikan. Mengalir dan meresap melalui tanah hingga menyelimuti benih tersebut.
Tangan kotor dan lecet adalah hal yang wajar, namun tidak bagi sang putri. Setelah benih terakhir berhasil ditanam, ia langsung terduduk capek. Ia sudah tidak peduli lagi dengan pakaiannya atau tubuhnya yang akan kotor.
"Kerja bagus, tuan putri. Satu petak sudah selesai, dan kebun bunga masih sangat luas. Kita masih harus bekerja lagi," ucap Reinhard bersandar pada sekopnya.
"Tidak mau! Aku capek! Aku sudah tidak kuat lagi," rengek Wilia sambil mengusap keringat di keningnya. "Kenapa Ayah memintaku merawat bunga, sih? Ini kan bukan pekerjaanku! Suruh saja Cynthia atau tukang kebun lainnya."
Wilia bangkit dan berjalan sempoyongan, lalu Cynthia datang untuk memapahnya. "Kerja bagus, Nona Wilia."
"Cynthia, aku sudah tidak kuat lagi. Tubuhku, kakiku, tanganku sakit semua. Aku ingin tidur seharian," lirih Wilia. Nafasnya tidak teratur seperti orang yang habis berlari naik turun gunung.
"Wilia, mau kemana? Kita masih banyak pekerjaan! Jangan tinggalkan aku sendiri. Ini kebunmu, kau harus bertanggung jawab," teriak Reinhard memanggil Wilia.
"Tidak ada lagi berkebun! Aku ingin tidur. Jika Papa memintamu untuk membuatku melakukan hal yang merepotkan lagi, tunggu saja hingga aku bangun. Aku seorang putri, dan putri butuh istirahat. Jangan sembarang masuk kamarku lagi, mengerti?" balas Wilia yang semakin jauh dari pandangan Reinhard.
Sesampainya di kamar, Wilia langsung membaringkan tubuhnya di ranjangnya seperti ingin melepaskan semua beban hidupnya. Dia bahkan tidak peduli kalau tubuhnya masih penuh keringat dan kotor.
"Tidak ingin mandi terlebih dahulu, Nona Wilia?" tanya Cynthia.
"Aku terlalu lelah, Cynthia. Gara-gara Asberion licik itu, aku tak bisa menggerakan tubuhku lagi," rintihnya disertai hujatan terhadap Reinhard.
"Tapi, nona terlihat bersenang-senang dengan Tuan Asberion," ucap Cynthia menutup pintu dan tirai jendela.
"Melakukan hal yang merepotkan kau bilang bersenang-senang? Yang benar saja, Cynthia! Rasa sakit itu bukan kesenangan. Dan aku membenci rasa sakit."
"Saat kulihat tadi, nona lebih sering tersenyum dan tertawa. Kalian saling melempar ejekan bukan karena benci, tapi karena itu seru. Apa yang kulihat di kebun, tidak seperti nona pada biasanya." Wilia berbaring memunggungi Cynthia. Diamnya sang putri membuat pelayan itu panik dan menyadari kata-katanya. "Ma-maafkan ucapanku, Nona Wilia, aku sudah lancang."
Wilia tidak tidur atau berpura-pura tidur, dia sepenuhnya sadar dan mendengar perkataan pelayannya. Namun, karena tidak ada jawaban darinya, Cynthia mengira telah membuat sang putri marah.
"Lupakan. Tinggalkan aku dan kunci pintunya. Jangan biarkan Reinhard masuk kesini lagi," suruh Wilia sebelum akhirnya dia tertidur pulas.
Sang matahari menunggunya untuk bangun, namun sang putri tidak kunjung bangun hingga bulan menggantikan matahari. Berharap saat bangun tubuhnya akan langsung segar, nyatanya tidak.
Pegal dan meriang disekujur tubuhnya. Belum lagi gatal dan bau keringatnya yang belum hilang, cukup untuk membuat Wilia tidak bersemangat saat bangun.
__ADS_1
Saat pintu terbuka bersamaan dengan bunyi keroncong perutnya, datanglah Reinhard dan Cynthia yang membawa makan malam untuknya.
"Selamat malam, Nona Wilia," sapa Cynthia.
"Ya ampun, kau bau sekali, tuan puteri. Citraku tentangmu benar-benar menurun drastis," ejek Reinhard sambil menjepit hidungnya.
"Oh, diamlah kau! Cynthia, kenapa kau mengajak dia?" tanya Wilia dengan wajahnya yang masih kacau.
"Maafkan saya, Nona Wilia. Tuan Asberion memaksa ikut karena khawatir nona sakit gara-gara dia," jawab Cynthia membungkuk sedikit.
"Jika tuan putri meninggal, aku akan dijadikan buronan oleh seluruh negara. Keluargaku juga bisa terancam bahaya, oke? Karena itu, aku datang untuk melihatmu apakah kau baik-baik saja," tambah Reinhard, duduk setelah meletakkan makan malam di meja.
"Seperti yang kau lihat, tubuhku sakit semua. Ini pertama kalinya bagiku. Dan aku akan jujur, aku tidak akan melakukannya lagi," ucap Wilia bertekad.
Muncul kembali seringai Reinhard yang langsung membuat Wilia berpikir akan ada sesuatu yang buruk akan menimpanya tidak lama lagi. "Aku mengerti. Besok bangunlah pagi, tuan putri, kita akan berolahraga."
Seperti piring yang pecah atau buah yang jatuh dari ketinggian. Ucapan Reinhard membuat hati Wilia seperti dua benda tersebut. Telah merasa muak dengan berkebun, dia tak sanggup lagi melakukan apapun yang melelahkan.
Pada akhirnya, apapun yang Wilia pikirkan atau lakukan, dia tidak bisa menghindari Reinhard dan rencananya. Dia adalah kucing di dalam arena, semua yang perintah Reinhard haruslah dia lakukan jika ingin selamat atau terus maju.
Di pagi buta, tepatnya saat bunga mekar baru setengahnya dan udara masih sangat segar. Reinhard dengan pakaian biasanya sedang melakukan pemanasan sambil menunggu Wilia di halaman kastil.
Wilia datang sambil memakai gaunnya serta Cynthia dengan pakaian pelayannya memegang sebuah payung.
"Apa kau bercanda? Olahraga dengan payung dan gaun? Apa yang sedang kau pikirkan?" heran Reinhard menghentikan pemanasannya.
"Sudah kubilang seorang putri harus tetap berdandan dan memakai gaun yang sempurna dimanapun itu dan kapapun itu. Dan aku tidak ingin mengulangi kesalahanku lagi dengan berpanas-panasan seperti kemarin, jadi kusuruh Cynthia memegang payung untukku," jelas Wilia.
Reinhard menghela nafas, mendengar penjelasan darinya. "Jelas sekali kau belum pernah berolahraga, dasar putri tidak berguna," bisiknya. "Ya sudah. Kita akan berlari sampai di kota, lalu kembali lagi kesini, mengerti?"
"Tu-tunggu, ke kota? Apa kita tidak bisa melakukannya di halaman ini saja?" tanya Wilia yang terlihat sedikit panik.
"Ya, tentu saja. Sambil menyapa para warga dan melihat suasana pagi di kota."
Setelah cukup meregangkan semua tubuhnya, Reinhard memulai berlari. Dia sudah memelankan kecepatan berlarinya, tapi tetap langkah Wilia terdengar sangat jauh darinya. Saat Reinhard menoleh ke belakang, sang putri masih tidak berpindah dari tempatnya.
__ADS_1
"Ada apa? Kau kedinginan?" tanya Reinhard, menghampiri Wilia yang gelisah.
"A-aku ti-tidak pernah ke kota se-sebelumnya," ucap Wilia tertunduk malu sambil meremas roknya.
"Kalau begitu, ini akan menjadi pengalaman pertamamu. Sapalah para warga dan berikan senyum paling ramahmu pada mereka. Jaga citramu di depan mereka, mengerti? Jangan buat mereka kecewa," nasihat Reinhard.
Namun, Wilia tidak bisa melakukannya semudah yang Reinhard katakan. Dia lalu melingkarkan tangannya di lengan Reinhard. "Seorang laki-laki terhormat harus menggandeng seorang wanita," ucap Wilia, menghindari matanya bertatapan dengan mata Reinhard.
"Ya, aku tahu. Tapi, kita, kan sedang berolahraga." Reinhard bisa merasakan tangan Wilia yang menggandengnya gemetaran. Saat itu, dia tahu betapa seriusnya ucapan Wilia soal tidak pernah pergi ke kota. Reinhard pun membiarkan Wilia menggandeng tangannya dan mengorbankan tujuannya.
Pada awalnya, rencana mereka adalah berlari, dan kini berakhir berjalan. Daripada mereka sedang berolahraga, lebih seperti sedang berkencan. Semua tatapan di kota tertuju pada mereka. Reinhard bisa melihat ada beberapa tatapan yang kebingungan. Bukan pada dirinya, tapi pada seorang gadis disebelahnya yang tidak mereka kenali.
Mereka baru sadar setelah melihat ikat rambu Wilia berupa bunga putih, dan langsung tahu kalau Wilia adalah putri Walheimstein. Semua orang saling berbisik. Meskipun, masih sangat pagi, sudah terlihat banyak orang di jalanan atau yang sedang menyiram bunga mereka.
"Reinhard, a-ayo kita pulang saja," bisik Wilia, menundukkan kepalanya.
"Tapi, kita bahkan belum berolahraga sedikitpun," ucap Reinhard.
Wilia semakin erat menggenggam lengan Reinhard. "Kumohon, aku tidak suka disini. Aku ingin pulang saja."
Menurut Reinhard, jika Wilia terus mengikuti ketakutannya dia tidak akan berkembang lagi. Dia akan selamanya terkurung dalam istananya tanpa tahu apapun soal dunia luar.
Reinhard memutuskan untuk terus membawa Wilia menjauh dari kamarnya. Sebagai seorang putri, Wilia harus bisa keluar dari zona nyamannya.
"Reinhard, apa yang kau lakukan? Aku tak ingin melanjutkan!" Wilia berusaha menarik diri, tapi Reinhard menggenggamnya balik dan menahannya.
"Kau harus tenang, Wilia. Tarik nafas dalam-dalam, lalu pikirkan saja hal yang menyenangkan."
Semakin tertarik oleh Reinhard, Wilia tidak bisa melepaskan diri. Dia semakin menempel ke Reinhard sebagai upaya untuk mengurangi rasa takutnya.
"Hentikan semua ini, Reinhard! Kuperintahkan kau sebagai putri. Bawa aku kembali ke kamarku!"
Reinhard tentu saja mengabaikannya dan melakukan hal yang berlawanan dengan keinginan Wilia. Dia membawa Reinhard menemui satu per satu warga dan menyapa mereka. Walaupun, Wilia tak berkata apa-apa, Reinhard membantunya dan memberikan contoh.
Mereka menuju ke toko bunga dan membeli bunga. Menghampiri beberapa anak kecil dan memberikan tos ke mereka. Membantu beberapa warga yang membutuhkan bantuan dan sebagainya.
__ADS_1
Dengan memberikan contoh, Reinhard yakin Wilia melihatnya dan belajar darinya. Namun, kenyataannya tidak. Wilia dari awal menundukkan kepalanya atau memalingkan wajahnya saat menghampiri para warga. Tidak berbicara sedikitpun atau memberikan senyuman yang ramah.
Dengan begitu, tidak hanya di kalangan istana saja, Wilia akan dikenal sebagai putri yang dingin dan sombong di seluruh negeri.