The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Malam Terakhir


__ADS_3

"Jadilah ksatriaku."


Alfeus terdiam sejenak seakan sedang mengamati apakah wanita itu sedang mempermainkannya atau tidak. Dilihat dari senyuman, matanya, dan kejadian barusan yang dia lihat, tentunya Alfeus sudah tahu akan jawabannya.


"Kenapa aku?" tanya Alfeus.


"Kau itu pria yang menarik. Kau mengingatkanku pada ksatriaku yang dulu, namun kebalikannya. Pada dia, aku melihat semangat. Padamu, aku melihat ketulusan. Tidak seperti manusia yang lainnya, walaupun kau sudah tahu apa aku ini, tapi kau masih melanjutkan pembicaraan ini seolah aku ini setara denganmu."


Alfeus menganggap itu pujian. Dia tersenyum. "Di mataku, kau hanyalah nona cantik pada umumnya. Kau memiliki mata indah sepertiku, tangan, bibir, hidung. Kau juga tersenyum sama sepertiku. Kau tidak jauh berbeda sepertiku. Jadi, untuk apa aku harus takut padamu."


Wanita itu menganggap ucapan tersebut pujian yang dia simpan di dalam hatinya. "Jadi, bagaimana?"


Penawaran tersebut cukup membuat sang pria bingung. Dia tidak tahu apakah maksud menjadi ksatria untuknya adalah kiasan yang berarti menjadi pendamping hidupnya atau bisa dibilang menjadi suaminya. Atau mungkin hanya ksatria biasa. Dia tidak tahu pasti. Dia juga merasa tidak enak jika menganggapnya salah satu dari itu padahal dia sendiri masih kebingungan. Apalagi jika itu adalah persoalan yang berkaitan dengan kekuatan dewa. Alfeus sama sekali tidak paham soal itu. Alhasil, Alfeus terus merenung dengan gelisah memikirkan jawabannya.


Namun, ada hal yang dilupakan Alfeus dan harus dia pelajari dengan benar. Sebagai seorang pria, Alfeus harus belajar bahwa tidak baik membiarkan seorang wanita menunggu jawaban. Banyak wanita yang menyukai pria yang tegas dan berterus terang.


Jika seorang wanita berbalik dan pergi, itu berarti dia sudah menunjukkan ketidaksukaan. Dan itulah yang dilakukan sang wanita, ketika Alfeus masih berkutat dengan pikirannya sendiri.


Sementara, Alfeus tidak mengejar wanita itu. Hanya diam melihat sang wanita pergi semakin menjauh. Tidak ada yang bisa Alfeus lakukan lagi, dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Di saat dia berpikir bahwa saat itu adalah pertemuan pertama dan terakhirnya dengan wanita misterius tersebut, dia bertemu lagi di sebuah kedai.


Malam yang melelahkan setelah konflik panjang yang perlahan semakin mereda. Kedai adalah pilihan yang pas untuk mengistirahatkan segala lelah dan kepenatan seorang ksatria. Sambil mengangkat gelas mereka di udara, para ksatria seperjuangan berharap jika malam ini akan menjadi malam yang mengakhiri semua kekacauan yang melanda negeri tercinta mereka.


Aroma orang mabuk dan orang bahagia tercampur aduk mengisi seluruh kedai disertai dengan tawa yang menggelegar. Setiap kursi penuh dengan pria-pria yang ingin menyenangi diri mereka sendiri. Sementara wanita di bawa para pria ke kamar di lantai atas dan menghabiskan malam dengan bercumbu selagi masih bisa. Malam ini, kedai tidak akan sepi hingga pagi hari.


Setiap ada wanita masuk di kedai, itu berarti wanita tersebut sedang mencari seorang pria yang cukup kuat dan mampu dalam segi ekonomis untuk diajak tidur bersama. Berita sudah menyebar dengan cepat, saat pasukan depan berhasil menghalau sumber daya musuh, mereka mengambil dan mengeruk habis semua barang berharga yang bisa ditemukan. Selain dapat memengaruhi kondisi musuh dalam pertempuran, juga dapat memberikan keuntungan tambahan. Para wanita menggunakan momen ini untuk bekerja. Selama tubuh mereka masih bisa digunakan, mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang.


"Sial, yang itu sudah diambil oleh Bernard!" gerutu seorang pria yang duduk di sebelah kiri Alfeus. Dia meneguk anggurnya hingga habis.


"Kau harus cepat, Belroy. Wanita akan habis, tersisa anak-anak saja." Seketika, tiga dari lima orang di meja tersebut tertawa. Hanya Belroy dan Alfeus saja yang tidak.

__ADS_1


"Diamlah, Greg! Kau sendiri kalah dari Herbert dan Balle. Mereka sudah mendahuluimu bahkan sebelum perang." Berloy menatap sinis ke Greg yang duduk di depannya.


Greg tersenyum, lalu menatap ke Herbert yang duduk di sebelah kanannya dan Balle yang duduk di sebelah kanan Alfeus. Mereka saling melempar pandangan seolah meremehkan ucapan Greg.


Greg yang memahami gerak-gerik temannya tersebut menggeleng tidak percaya. "Tidak. Tidak. Jangan bilang dia? Tidak mungkin kau bisa mendapatkan putri pemilik kedai!" bisiknya sambil menggeram dan melirik ke seorang gadis berambut pirang yang mengantar gelas dari satu meja ke meja yang lainnya.


Greg mendengus mengejek. Gayanya cukup santai dan sombong. Dia lalu mengangkat gelasnya di udara sambil menatap Belroy dan berteriak, "Tambah dua gelas lagi!" Tatapannya seolah ingin memberikan sebuah bukti pada Belroy yang terlalu meremehkannya.


Tak lama kemudian, seorang gadis yang berambut pirang datang. Mengenakan tunik putih, korset dan rok coklat, serta celemek putih yang menandakan dia seorang pelayan di kedai. Gadis itu membawa dua gelas yang dia letakkan di meja dengan perlahan.


Saat gadis itu sedang meletakkan gelasnya, tangan Greg turun ke bawah meja. Dari bawah, tangannya perlahan masuk ke dalam rok sang gadis hingga mencapai puncaknya. Wajah gadis itu yang merah tampak menikmatinya.


"Tunggu aku di lantai atas," bisik sang gadis ke Belroy. Kemudian pergi melanjutkan pekerjannya sambil membenarkan roknya.


"Sekarang kau melihatnya, Belroy? Jangan khawatir, teman-teman. Dia sudah di atas umur. Lagipula, dadanya cukup besar untuk seorang gadis muda sepertinya. Ditambah dia menyukai tanganku." Greg tertawa puas, diikuti dengan Herbert dan Balle. Dia mengambil gelasnya yang baru dan langsung meneguknya.


Berbeda dengan Greg yang bahagia dan Belroy yang menyesal, Alfeus merasa terganggu saat melihat perbuatan Greg di depan umum. "Kau menganggu malam kita, Greg! Apa-apaan tadi itu? Kenapa kau melakukannya di tempat umum seperti ini?"


Setelah apa yang Greg lakukan dihadapannya, Alfeus merasa tidak nyaman untuk melanjutkan minumnya. Malamnya semakin buruk dengan Greg yang mengatainya karena belum menemukan pasangan seumur hidupnya. Padahal, dia berharap jika malam ini, dia bisa bersantai bersama teman-temannya sebelum perang besar terjadi.


Jika benar, dewa yang memberikan mata putihnya, dan bukan kutukan sihir yang diberitahu ibunya sejak kecil, Alfeus tidak akan menggunakan matanya untuk hal yang tidak senonoh tersebut. Dia akan menggunakannya demi kebaikan.


Sekarang tersisa 4 orang di meja. Semuanya diam. Sama-sama merasa canggung dam bingung harus memulai pembicaraan apa. Melihat Alfeus yang sudah berwajah tidak nyaman dan Berloy yang seperti bersedih membuat suasana semakin sulit dicairkan. Pada akhirnya, mereka tidak melakukan apapun. Beberapa dari mereka memainkan sisa anggur yang masih menggenang di dasar gelas mereka.


Saat keheningan itu terjadi, seorang wanita berjubah gelap muncul dan mendekat. Dia berdiri di samping meja yang ditempati Alfeus dan teman-temannya.


Alfeus yang mengenali siapa wanita itu, terkejut tidak percaya. Penampilannya tidak jauh berbeda semenjak pertemuan pertamanya sebulan yang lalu. Hanya saja, kali ini tudungnya lebih memperlihatkan wajahnya.


Semua pria di sana termasuk teman-teman Alfeus terpesona hanya dengan wajah wanita itu saja, meskipun seluruh tubuhnya tertutup jubah.


Meskipun banyak mata yang tertuju ke arahnya, tapi hanya satu orang yang wanita itu tatap.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu, Tuan Alfeus? Kuharap kebaikanmu masih tetap ada sebagai nyala api di hatimu." Wanita itu tersenyum pada Alfeus.


"Hei, Alfeus! Kau mengenal wanita itu? Siapa wanita itu?" desak Belroy. Herbert dan Berloy juga menginginkan jawaban yang sama dari Alfeus, namun Alfeus tidak memberikan jawaban apapun pada mereka. Tentu saja bukan karena dia tak mau, tapi dia sendiri tidak tahu siapa wanita itu. Ditambah, wanita itu bukanlah seorang manusia.


"Maaf, nona. Malam ini dingin, apalagi kau habis dari luar, bagaimana jika minum denganku? Atau kau bisa menghangatkan badanmu di kamar yang spesial. Aku bisa menyewakannya untukmu," ajak Belroy berusaha menggoda wanita tersebut.


Sayangnya, wanita itu tidak menganggap Belroy sama sekali, seolah dia tak ada. Dia masih saja menatap Alfeus sambil tersenyum.


"Bagaimana dengan tawaranku sebelumnya? Apa kau sudah memikirkannya dengan matang?" tanya wanita itu ke Alfeus.


"Apa yang dia tawarkan padamu, Alfeus? Apa dia keluarga bangsawan tinggi? Apa dia bangsawan dari Eskalsia? Buat dia menyokong pasukan kita, Alfeus!" Semua desakan dari teman-temannya itu membuat Alfeus tidak bisa berpikir dengan tenang.


"Begitu, ya. Mungkin kita memerlukan pembicaraan yang ... sedikit pribadi?"


Melihat tatapan yang memiliki maksud tersendiri, teman-teman Alfeus langsung paham ke mana arah tujuan dari pembicaraan ini. Mereka langsung bersemangat seperti kompor yang bergetar saat dipanaskan di tungku.


"Baiklah, aku menyerah. Dia milikmu, kawan. Ini hari keberuntunganmu," ucap Belroy.


"Sekarang waktunya, Alfeus! Bawa dia ke kamar. Ini bisa jadi pengalaman pertamamu," ucap Herbert.


"Tidak kupercaya Alfeus langsung mendapatkan permata seindah dan semahal itu. Dia benar-benar melompati kita sangat jauh," kata Balle.


Alfeus tidak tahu harus bersikap seperti apa di kondisi seperti. Desakan teman-temannya, bisikan dan tatapan orang-orang semakin membuatnya panik.


Alfeus terdiam sejenak saat wanita itu melewati belakangnya dan berbisik dengan lembut di telinganya, "Aku menunggu di kamar."


Saat Alfeus bangkit dan menengok, dia melihat wanita itu yang berjalan di antara kerumunan pria-pria yang berusaha menggodanya. Ada yang menarik jubahnya, ada yang merangkulnya, ada yang mendekatkan wajahnya sangat dekat. Apa yang Alfeus lihat adalah wanita itu sedang digoda oleh para pria.


Alfeus tanpa basa-basi menarik pedangnya dan mengarahkan pada pria-pria yang menyentuh wanita tersebut. "Menyingkirlah kalian semua! Dia milikku!"


Tatapannya yang tajam seperti pedangnya sedang tidak berbohong saat itu. Siapapun di kota itu tahu bahwa penyebab kota kecil mereka selalu menang dari invasi dan penyerangan pihak lain dikarenakan seorang pria yang dijuluki Ksatria Bermata Putih. Semua orang pun tahu, jika ksatria tersebut sudah menghunuskan pedang dengan gagang putihnya maka tidak ada siapapun yang bisa mengalahkannya.

__ADS_1


__ADS_2