The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Rencana Terakhir


__ADS_3

Semenjak cahaya sudah menyelimuti seluruh tubuhnya seperti kain tipis yang menyilaukan, Ashnard merasa tidak nyaman karenanya. Tapi, Ein yang sedang memeluknya memberikan tatapan bahwa Ashnard tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja.


Tak lama kemudian, ketika lapisan cahaya sudah menyelimutinya dari ujung kaki hingga ujung rambut, tidak ada kejadian apapun yang mencurigakan. Ashnard kebingungan, bahkan penjagal harus mendadak berhenti di tengah jalan saat laki-laki dan gadis di depan matanya lenyap seketika. Seperti ilusi yang menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


"Apa yang terjadi?" Kebingungannya hanya bertambah saat penjagal itu berbalik dan menuju ke arah lain, padahal Ashnard dan Ein tidak bergerak seinci pun setelah ditutupi oleh cahaya sihir.


"Wajar saja kalau kau bingung. Yang menghilang adalah wujud kita, jadi hanya orang lain yang tak bisa melihatnya," jawab Ein.


"Menghilang? Maksudmu aku, tubuhku seluruhnya tak terlihat? Bukan menjadi transparan, kan yang kau maksud?"


"Ini sihir menghilangkan diri dari Ibuku. Secara sederhananya bukan tubuh kita yang menjadi hilang di ruang, tapi lapisan cahaya yang menyelimuti kita menyesuaikan kondisi alam sekitar yang membuat kita menjadi tidak terlihat," jelas sang gadis.


"Oh, maksudmu lapisan cahaya ini sama seperti kulit pada bunglon?"


Ein mengangguk di dada Ashnard sehingga lebih seperti menggesekkan kepalanya dari atas ke bawah. "Gulungan-gulungan ini Ibuku berikan padamu untuk situasi seperti ini. Dia sudah menyiapkannya sejak lama. Dia seperti sudah tahu dengan masa depan. Tentang kedatanganmu atau tentang kejadian ini. Ibuku memang hebat, ya?"


Sekarang Ashnard merasa seperti melihat dirinya sendiri pada Ein.


"Mumpung kita tidak terlihat, ayo pikirkan kita pikirkan rencana yang lebih matang. Kita harus benar-benar menghentikan dia sebelum membantu Alfeus," ajak Ashnard, memberikan senyumannya.


"Kukira kau ingin mengajakku berbuat mesum mumpung tidak ada satupun yang bisa melihat kita," celetuk Ein membuat Ashnard menjadi canggung dengan pelukan gadis itu.


"Jangan berpikiran aneh!"

__ADS_1


Di hutan, Ashnard membawa Ein untuk merundingkan rencana terakhir mereka untuk mengakhiri pertarungan ini. Dengan keberadaan mereka yang tak terlihat serta gulungan terakhir, akan mereka gunakan sebaik mungkin untuk menjalankan rencananya.


Mereka saling tatap menatap dengan tajam tanda mereka sudah membulatkan tekad mereka untuk memulai rencana ini.


Ashnard menunjukkan wujudnya di depan penjagal hanya untuk memancingnya masuk ke dalam hutan dan kemudian hilang lagi sekejap mata. Membuat penjagal sendirian di dalam hutan, bingung dan tersesat.


Lagi-lagi Ashnard menampakkan dirinya dan tak lama kemudian hilang. Kadang digantikan oleh Ein yang secara menyeramkan muncul di belakang penjagal. Muncul lalu hilang, muncul lalu hilang. Terus-menerus mereka lalukan seperti sosok hantu yang sangat jahil. Tidak berhenti bahkan jika penjagal menyuruh mereka berhenti untuk terus muncul dan menghilang.


Dirasa sudah cukup membuat penjagal semakin waspada dan panik, tapi juga membuka lebar celah di setiap sisinya karena gangguan yang terus muncul di sekelilingnya. Gangguan yang Ashnard dan Ein lakukan menyebabkan penjagal tersebut waspada pada semua yang ada di sekitarnya. Semakin dia terlalu mewaspadai sekitarnya, maka semakin lemah fokusnya karena terlalu banyak yang harus diperhatikan. Dia bukan maha melihat, dia hanyalah makhluk ciptaan yang dibuat untuk menjaga ide soal kebebasan. Penjagal menganggap semua suara dan bayangan di hutan sebagai ancaman yang harus dimusnahkan.


Saat itulah, Ashnard memanfaatkan momen untuk muncul di titik yang tidak terduga. Dengan pedang besar yang dia rebut dari pemiliknya, Ashnard berlari dan menusukkan pedangnya.


Penjagal terkejut saat berbalik dan menemukan sebuah pedang besar miliknya menembus di perut hingga punggungnya. Lalu, tenaga yang keluar dari laki-laki muda itu ditambah energi elementalnya sangat kuat hingga membuat penjagal terdorong dan tertahan di sebuah pohon dengan pedang tertancap di perutnya.


Ashnard melompat ke samping, membiarkan Ein yang sudah kembali normal, berdiri dengan tegak di sepanjang jalur penjagal. Di tangannya sudah terdapat gulungan andalan mereka yang teraktivasi dengan sihir Ein. Kumpulan partikel cahaya berkumpul dan memenuhi tengah lingkaran sihir hingga membentuk sebuah bola cahaya putih yang semakin bertambah seiring waktunya.


Ein sebenarnya tidak perlu khawatir soal itu. Ashnard muncul dengan senyuman di wajahnya untuk merangkulnya. Tidak hanya bertujuan untuk menopang sang gadis agar tidak jatuh, tapi Ashnard juga mengirimkan energi miliknya untuk membantu mempercepat aktivasi sihir.


Semakin tampak besar bola energi sihir tersebut. Seperti balon yang terus diisi oleh angin hingga ukurannya bertambah sebesar mungkin. Saat media yang menampung angin tersebut sudah tak mampu lagi, balon akan meletus dan melepaskan angin ke udara. Sama seperti yang terjadi pada bola sihir yang meletus dan menembukan sinaran energi sihir dengan dahsyat.


Tembakan itu meniup angin dan mendorong dua orang yang menahannya, Ashnard dan Ein sedikit demi sedikit. Tekanannya membuat pohon, semak, dan daun yang berguguran di sepanjang lintasannya hangus seperti terbakar oleh api yang sangat panas hingga tak memberikan abunya. Mengikis seluruh yang ada di depannya termasuk penjagal yang menerima langsung pancaran sinar kuat tersebut.


Tampaknya sinar itu tidak berhenti saat mengenai penjagal, melainkan terus memancar dan menembus sejauh mungkin hingga Ashnard dan Ein sendiri tidak tahu ujung dari sinarnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, saat semua energi mereka terkuras habis, sinar itu perlahan menyusut hingga kabur dalam pandangan. Debu-debu sisa cahaya terbang dan lenyap di udara menandakan selesainya masalah yang dihadapi.


Mereka tak menemukan apapun di depan. Hanya ada tanah yang tergerus dan pepohonan yang rusak akibat serangan barusan. Tidak ada tanda-tanda penjagal. Pohon dan pedangnya juga ikut lenyap. Antara makhluk itu berhasil melepaskan diri dan kabur entah ke mana atau keberadaannya telah tersapu oleh serangan yang dahsyat. Apapun yang terjadi pada penjagal, semoga ini bisa menjadi hasil yang memuaskan baginya. Semoga benar-benar sudah selesai. Karena dia dan gadis di sampingnya sudah tidak cukup jika melanjutkan pertarungan lagi.


"Kurasa sudah berakhir." Ein ambruk tepat di depan Ashnard yang dengan sigap menangkapnya. "Aku tak percaya kau masih memiliki kekuatan untuk berdiri." Gadis itu menatap Ashnard dengan lemah, sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri.


Ashnard menjadi kepikiran soal kata-kata Ein. Dia juga heran saat semakin memikirkannya dan menemukan ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Jelas-jelas dia bisa merasakan jumlah keluaran energi yang sangat banyak darinya. Sihir barusan itu bahkan menggunakan lebih dari 60 persen kekuatan Ashnard, tapi rasanya dia seperti tidak mengeluarkan begitu banyak.


Melihat Ein yang langsung rubuh ketika menghabiskan energinya, seharusnya Ashnard juga merasakan kelelahan sedikitpun. Bukankah seharusnya ada efek samping dari terkurasnya sebagian besar energinya? Saat Ashnard melihat dengan mata kepalanya sendiri dampak dari serangan terakhir mereka, sempoyong atau pingsan seperti Ein seharusnya wajar saja. Tapi, kenapa dirinya tidak merasakan hal seperti itu?


"Bagaimana menurutmu, Roc?"


Tak ada respon seperti yang Ashnard harapkan.


"Ah, aku lupa ...." Ada sedikit nada kesedihan dalam ucapannya.


Lak-laki itu menatap gadis sepucat butiran nasi di genggaman tangannya. Ashnard berjongkok dan kemudian menggendong Ein yang tak sadar di punggungnya. Membiarkannya di sini sangat berbahaya. Lagipula, masih ada satu pertarungan yang belum selesai.


Sambil memikirkan itu, Ashnard menatap ke arah menara yang puncaknya hampir menembus puncak langit. Dentuman dan gemuruh suara pertarungan yang dashyat dapat Ashnard dengar dari dalam menara yang bergetar itu. Di sana ada pertarungan yang lebih sulit dan berbahaya daripada pertarungan yang dia hadapu sebelumnya. Tapi, tidak ada tanda-tanda Ashnard akan berbalik.


Pikirannya memang masih tercampur aduk sekarang. Soal apakah penjagal masih berkeliaran di luar, alasan kenapa dia tidak merasakan kelelahan, gadis yang sekarang benar-benar tak berdaya, teman yang dia tinggalkan, dan pertarungan di dalam menara. Namun, di matanya hanya ada satu tujuan seolah hanya satu-satunya hal tersebut yang ada di matanya, yaitu sang menara.


Mungkin jawaban yang dia cari akan segera menghampirinya dengan sendirinya sama seperti sebelumnya. Karena itu, dia sudah membulatkan tekad ke depan. Rencana selanjutnya adalah menuju menara tersebut. Dia akan bertarung dan mengalahkan musuhnya atau mungkin dia akan berhenti di sini.

__ADS_1


Dia merasa sudah seperti tugasnya atau tanggung jawabnya untuk kembali ke dalam pertarungan yang sesungguhnya. Alasan yang mungkin Ashnard pegang adalah karena dia melihat sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh teman-teman mereka di tempat seperti ini. Dan melindungi teman-temannya dari kesedihan dan kepalsuan dengan cara bertarung sudah menjadi tugas yang Ashnard emban.


Kemudian, langkah baru ke masa depan akan segera terbuka untuknya dan teman-temannya.


__ADS_2