
Wanita yang merupakan perwujudan dari mimpi itu menurunkan bintang di langit ke tangannya. Bintang yang awalnya seukuran matahari, menyusut menjadi seukuran apel di tangan wanita itu.
Bola cahaya yang murni berisi cahaya saja, perlahan berubah. Muncul suatu gambaran, ilustrasi, atau tayangan di bola cahaya itu. Tampaknya seperti sebuah cerita yang tersimpan atau ingatan di dalam bola bintang tersebut.
Lalu, sang wanita melambaikan tangannya membuat bola itu melayang turun ke bawah, ke samping jalan. Di bawah hanya ada kekosongan sama seperti langitnya. Namun, saat bola bintang turun di tingkatan tertentu, bola itu seperti tenggelam ke dalam permukaan air. Muncul riak di kekosongan tersebut.
"Aku mengirimkan sebuah mimpi baru untuk para manusia di dunia mimpi."
Bola mimpi itu pun turun di sebuah pinggir pantai, dimana ombak-ombak dengan hebohnya memecah batu karang. Bola itu meletup, menciptakan sebuah kilatan cahaya yang memunculkan rumah dengan nuansa pantai. Rumah itu menjadi sebuah mimpi bagi manusia yang memimpikan rumah idamannya.
Lalu, bintang kedua dia ambil. Di tangannya, bintang itu menyusut, kemudian membentuk sebuah makhluk kecil, cantik dan bersayap. Seekor peri dengan bulu hijau dan gradasi biru, serta empat sayap transparannya mengepak sangat cepat sehingga tidak terlihat. Sayap tersebut membuatnya untuk terus berada di udara.
Bintang kedua di ambil untuk diubah menjadi seorang pria tampan berambut pirang panjang dengan telinga runcing. Pria itu adalah seorang elf yang memakai baju zirah berwarna perak serta membawa tombak dari kayu pohon ek. Mata biru indahnya setajam elang, serta kakinya kuat membuatnya bergerak dengan lincah di antara pepohonan seperti kijang. Dia sudah bersiap untuk melindungi Sang Mimpi dari siapapun yang berniat jahat padanya.
Bintang ketiga menjadi seorang wanita cantik dengan kaki berbentuk ekor ikan yang bersisik merah jambu. Rambutnya terurai seputih permata sementara mata birunya sedalam lautan. Daripada berenang di lautan yang luas dan dalam, putri duyung itu justru berenang di udara, mengitari sang penciptanya seperti sedang menari. Kulitnya yang terekspos terlihat putih dan sangat lembut serta buah dadanya yang bulat dan menawan menjadi daya tariknya. Selain asetnya yang sempurna, dia juga memiliki suara yang luar biasa indah. Sehingga tidak memerlukan paduan alat musik, cukup dia saja sudah membuat hati orang yang mendengarnya langsung tenggelam ke dalam alunan suaranya. Dia sudah siap untuk menjadi penyanyi pribadinya sekaligus menjadi mainan baru Sang Mimpi, pengganti adiknya.
"Inilah arti mimpi bagiku. Mimpi adalah rumah. Tempat untuk melepaskan semua kelelahan dan mendapat kesenangan. Hadiah atas semua usaha keras yang kita lakukan. Mimpi memberiku kebahagiaan sejati tanpa ada penipuan di baliknya. Mimpi itu sendiri adalah kejujuran. Aku menganggap mimpi tidak hanya sebagai keinginan terdalam kita, tapi juga sebagai konsep-konsep pemikiran yang terkumpul dan menciptakan sebuah semesta ide."
Seekor peri, penjaga elf, dan putri duyung. Semua itu adalah ciptaan Sang Mimpi berdasarkan keinginannya. Meskipun para makhluk mimpi itu tercipta karena mimpi, bukan berarti mereka adalah bentuk kehidupan sempurna. Mereka selamanya adalah bagian dari mimpi. Dengan kata lain, mereka akan hilang saat pemimpi terbangun. Mimpi akan tercipta saat seseorang bermimpi, lalu akan lenyap saat orang tersebut tidak bermimpi dan muncul kembali ketika bermimpi. Manusia adalah pembuat mimpi itu sendiri. Sedangkan Sang Mimpi adalah hasil dari terciptanya seluruh siklus tersebut.
Kebebasan dalam bermimpi adalah alasan banyak orang yang menyukainya. Tidak ada aturan apapun yang membatas mereka. Tidak ada waktu. Tidak aturan. Mereka bebas bermimpi seindah apapun, seliar apapun, bahkan mimpi seburuk apapun semua akan terjadi.
Mimpi adalah yang pertama kali muncul diantara entitas lainnya. Meskipun belum ada kehidupan, namun dia tetap tercipta karena dunia juga memerluka sebuah mimpi. Setiap benda mati, udara, batu, air juga memerlukan mimpi mereka sendiri. Karena itu, betapa pentingnya peran Sang Mimpi untuk seluruh semesta.
"Sekarang kau mengerti, kan? Mimpi itu ada karena manusia, dan manusia memerlukan mimpi untuk hidup," lanjut wanita yang berdiri paling atas dari semua mimpi.
__ADS_1
"Itu penjelasan yang sangat bagus. Aku memahaminya, Nona Mimpi," jawab Alfeus tersenyum puas.
"Bagus. Kalau begitu, kau bisa kembali bermimpi atau bangun untuk menjalani kenyataanmu."
"Maaf, tapi aku tak bisa." Penolakan dari Alfeus, membuat Eristhiar terkejut kesal hingga ingin marah. "Aku masih memiliki tugas yang harus kuselesaikan. Aku masih harus melindungi Nona Kematian, karena itu adalah tugas seorang ksatria. Jika aku harus pergi, maka Nona Kematian juga akan ikut."
"Kenapa kau masih berpihak padanya? Apa yang pernah dia berikan padamu? Dia hanya bisa mengambil sesuatu darimu. Nyawa adikmu! Tapi, kau masih ada untuknya padahal kau bukan siapa-siapa baginya."
"Itu karena mimpi sudah cukup banyak memberikan kebahagiaan, sementara Nona Kematian tidak mendapatkan kebahagiaan tersebut. Jika apa yang kau ceritakan benar soal masa lalu Nona Kematian, itu berarti dia tidak merasa bahagia. Dia melalui penderitaan yang cukup panjang sebagai Pencabut Nyawa. Aku akan tetap di sisinya untuk memberikan dia kebahagiaan tersebut!"
"Alfeus ...." Erida merasa terharu mendengar ucapan itu datang dari seorang manusia. Dia tidak menyangka seorang manusia sepertinya membuat hatinya yang telah mengeras, perlahan retak dan memancarkan kehangatan. "Kau menerima tawaranku?"
Alfeus menatap ke wanita yang dirangkulnya, tersenyum sambil berkata, "Ya. Aku menerimanya, nonaku."
Perasaan yang sudah lama hilang atau bahkan tidak pernah ada sebelumnya, muncul dan dirasakan langsung oleh wanita itu. Lega, bahagia, puas, sedih, nyaman. Semua itu perasaan yang sangay bertolak belakang dengan keberadaan Sang Kematian yang terkenal dingin dan kejam. Bisa dibilang, Sang Kematian sudah melengkapi semua perasaan yang ada.
Menyaksikan tekad dan akhir yang bahagia di depan matanya, tak membuat wanita penguasa mimpi itu ikut bahagia. Dia justru kesal. Gigi-giginya saling bergemeretak, dan matanya seolah ingin melompat keluar. Dia menggeram seperti binatang buas yang sudah tidak tahan untuk menyergap mangsa di depan matanya.
"Kau! Kalian benar-benar membuatku jengkel!" geramnya.
Awan dan bintang bergerak tak beraturan dan tanah yang mereka pijak bergetar, bahkan makhluk-makhluk ciptaannya ikut menatap tajam Alfeus dan Erida seolah merespon amarah Sang Mimpi. Kemudian, semuanya kembali tenang saat Eristhiar menghirup nafas dan membuangnya kembali dengan tenang.
"Baiklah, aku mengerti. Tidak, maksudku aku tidak mengerti. Manusia yang lebih memilih kematian daripada mimpi, ini pertama kalinya terjadi." Eristhiar lalu menyuruh ketiga makhluk ciptaannya untuk masuk ke kastil sementara dia membawa kembali Alfeus dan Erida kembali ke dunia mimpi. "Tapi, aku tidak akan menghentikan kalian lagi. Kalian bebas mau melakukan apapun. Anggap saja, permintaan maafku. Ditambah, aku belum pernah melihat adikku seperti itu." Wajahnya merah, tapi tatapannya berpaling ke arah lain.
Alfeus awalnya bingun, namun setelahnya dia sadar bahwa hubungan Eristhiar dan Erida tidak terlalu rumit.
__ADS_1
Eristhiar sangat mencintai Erida dalam arti yang romantis, terlepas dari hubungan kakak adik mereka. Hanya saja, rasa cintanya terkadang ditunjukkan dengan cara yang lebih brutal. Dia suka menjelekkan adiknya atau membuatnya terpuruk, tapi sekaligus dia mencintainya. Dia bersikap buruk pada adiknya, bukan karena tidak sayang tapi karena dia adalah orang yang jujur dan menerima kenyataan.
Dia suka membuat adiknya tersiksa dengan cara yang liar, karena memang itu adalah kepribadiannya. Eristhiar tidak menyembunyikan selera dan nafsunya pada sang adik, melainkan dia mengungkapkannya secara langsung. Sesuai dengan kenyataan bahwa mimpi adalah kejujuran itu sendiri.
Ketika Eristhiar menyadari bahwa ucapannya salah dan melihat bahwa ada perubahan pada adiknya, dia ikut merasa senang karena melihat hal yang baru dari adiknya. Walaupun, dia juga menyukai sisi lama adiknya, dia tidak bisa berbohong soal sisi barunya.
Bersamaan dengan kembalinya mereka ke dunia mimpi yang lebih asri dan menghangatkan, tubuh Erida kembali menjadi sehat.
Alfeus melepaskan rangkulannya. Dengan pandangan yang lebih jelas, dia melihat secara utuh Erida yang memakai gaun hitam, bukannya jubah hitam. Pemandangan itu jelas membuatnya terpesona.
"Jadi, selama ini kau memakai gaun itu dibalik jubahmu? Kenapa menyembunyikannya? Menurutku kau juga terlihat bagus di gaun itu," puji Alfeus.
Walaupun dengan gaun itu Erida justru terlihat lebih seksi karena bekas pertarungan sebelumnya yang membuat sebagian gaun itu robek dan berlubang, terutama roknya yang robek panjang hingga pahanya terlihat jelas. Ditambah bagian dadanya yang semula sudah sangat terbuka. Namun, secara keseluruhan, tanpa memikirkan hal yang kotor, Alfeus menganggap gaun itu sangat pas bagi Erida.
"Hei, manusia, jangan sampai dia kenapa-kenapa? Aku ingin seluruh tubuhnya selalu utuh. Jagalah dia dengan sangat baik. Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan menghukummu," ucap Eristhiar memberikan peringatan kepada Alfeus.
"Tentu saja. Terima kasih atas sarannya, Nona Mimpi."
"Dan jangan lupa, sering-seringlah datang ke tempatku, Erida. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan padamu," ucap Eristhiar dengan manja ke adiknya.
"Akan aku usahakan. Namun, bukankah lebih baik kau juga mencari ksatria manusiamu sendiri? Aku yakin ada banyak manusia seperti Alfeus di luar sana yang akan memilihmu," ujar Erida.
"Itu perkara yang mudah. Aku tinggal memberinya mimpi terindah, mereka akan seketika tunduk padaku."
"Jangan gunakan mimpi, tapi gunakan hati."
__ADS_1
"Iya, aku mengerti. Karena itu aku bilang mudah, kan? Lagipula ada yang jauh lebih sulit mulai dari sekarang. Bagaimana dengan manusia itu? Kita tidak boleh memiliki Duw Marnaeth, kau tahu itu, kan? Apa yang akan kau lakukan sekarang? Jika Ibu atau mereka mengetahuinya, manusia itu akan diambil darimu. Kau tidak akan bisa selamanya menyembunyikannya di kamar kecilmu."
Saat kedua kakak-beradik itu saling tatap menatap dengan serius dan bingung. Seketika bunyi lonceng yang sangat nyaring terdengar di udara. Saat bunyi itu menggema di seluruh penjuru langit, terlihat wajah kedua kakak beradik yang pucat. Lebih pucat daripada orang mati.