
Ashnard kembali ke perpustakaan dan bertemu lagi dengan Ein yang menunggunya di salah satu meja baca cukup besar khusus untuk ukuran 6 orang. Tapi, di meja tersebut hanya ada satu kursi yang ditempati, yaitu Ein sendiri.
Meja tersebut berada paling jauh dari bagian depan perpustakaan. Terletak di antara seksi-seksi buku-buku tua dan membosankan. Menjadikan bagian perpustakaan itu tempat yang jarang di singgahi. Cocok untuk menjadi tempat Ashnard dan Ein membahas hal yang rahasia.
Ketika Ashnard datang, Ein mengangkat kepalanya dan mengalihkan perhatiannya dari buku yang dia baca ke Ashnard. "Apa urusanmu sudah selesai?"
Ashnard menghela nafas, berharap semua keresahannya hilang begitu nafasnya terbuang. "Kurasa belum selesai sama sekali."
"Sayang sekali, ya. Padahal kau bisa memilih tinggal di Alam Roh dan melupakan semua urusan duniawimu," ucap sang gadis berwajah datar yang kembali sibuk membaca buku di meja.
"Melarikan diri dari masalah itu tidak baik," timpal Ashnard. "Aku masih harus mencari tahu cara agar aku bisa menuju ke lokasi Ibuku."
"Mau kubantu? Aku bisa ikut denganmu," tawar Ein.
"Tidak perlu. Kau sudah cukup banyak membantuku. Ini sekarang masalah yang ingin kuselesaikan sendiri. Lagipula, lawanku mungkin akan jauh sangat kuat seperti yang dikatakan Erida. Satu atau dua orang tambahan saja tidak cukup. Aku masih harus berlatih sekuat mungkin terlebih dulu."
"Padahal aku ini istrimu. Seharusnya kau ajak istrimu kemanapun kau pergi."
Ashnard berdecak. "Sudah kubilang kita bukan suami istri," kesal Ashnard berujung capek.
Seolah ditarik oleh kekuatan tak terlihat yang sangat kuat, Ashnard menjatuhkan kepalanya di meja. Dia merengek seperti sapi yang tak dikasih makan.
"Apa yang harus kulakukan?" rengeknya.
"Soal ibumu?"
"Bukan, soal Nina."
"Apa kau serius membicarakan wanita lain di depan istrimu sendiri?"
"Ein, ini serius. Kau bukan istriku."
"Dia juga bukan istrimu."
__ADS_1
Ashnard lalu mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Ein yang sedang fokus pada bukunya. "Aku telah membuatnya marah dua kali ini."
"Lalu?"
"Mungkin kau ada saran?"
"Baiklah, akan kuberi saran." Ein menghela nafas pasrah melihat Ashnard yang berwajah sedih. Bahkan hati sang gadis berwajah datar sekalipun tidak kuat menahan rasa ibanya pada Ashnard. "Kau tinggal jujur saja. Apa susahnya? Apapun masalah yang terjadi, jujur akan membuat hatimu merasa lega, meskipun hasilnya bisa jadi tidak sesuai keinginanmu. Tapi saranku, sebaiknya kau jangan memalingkan pandanganmu dari istrimu yang sebenarnya."
Ashnard menganggap kalimat terakhir sebagai angin lewat saja. Setelah itu, Ashnard membaca buku untuk menenangkan pikirannya. Karena memang itu tujuannya dia datang ke perpustakaan selain melihat kondisi Ein.
Malamnya, Eris yang menjaga asrama seperti biasa di datangi oleh Ashnard. Erin berkata dia tahu cara agar Nina memaafkan perbuatan Ashnard, dan dia ingin membantu. Karena itu, Ashnard datang di tengah malam seperti ini sesuai yang Eris suruh.
"Asalkan kau tahu, aku menyuruhmu melakukan ini demi Nina, bukan karena aku membenarkan perbuatan ini," ucap Eris mengingatkan Ashnard dengan wajah judesnya.
"Aku mengerti."
"Kalau kau sudah siap. Masuk saja. Jika Nina sudah tidur, itu bisa menjadi kesempatanmu."
Eris lalu mengantar Ashnard masuk ke dalam asrama hingga mencapai sebuah kamar. Di sebelah pintunya bertuliskan tiga nama di sebuah papan, salah satu namanya adalah Nina.
Tatapan mata tajam di balik kacamata itu menembus ke dalam jiwa Ashnard. Membuat jiwa bergidik ngeri seolah ditatap oleh kematian itu sendiri.
"Aku mengerti," jawab Ashnard lagi, sambil menelan ludah.
"Kalau begitu, masuklah. Aku akan berjaga disini."
"Berjaga? Tapi-"
"Sst!" Eris seketika menutup mulut Ashnard saat dia meninggikan suaranya. "Diamlah! Jangan mengacaukan rencana ini. Aku akan berjada disini. Titik! Tidak usah protes."
Akhirnya Ashnard masuk dengan wajah yang memerah. Ini adalah sebuah kamar perempuan. Apalagi kamar seseorang yang dia cintai. Jantungnya berdegup lebih cepat daripada langkahnya yang lambat seperti siput. Dia tak mau mengagetkan siapapun dan dia juga belum siap dengan apapun yang akan terjadi ke depannya.
Ruangan itu sangat gelap. Dia tidak bisa melihat banyak hal kecuali dia tahu bahwa ada Nina di kamar ini. Jika lampu kamar di matikan, maka itu berarti pemilik kamar sedang tidur. Ashnard berusaha menerawang sekuat tenaga untuk melihat objek-objek di kamar tersebut. Tapi yang dia lihat tetaplah siluet dan bayangan. Meskipun begitu, kamar tetaplah sebuah kamar. Dekorasi yang diatur tidaklah jauh berbeda dengan kamar pada umumnya. Tempat tidur terlihat jauh lebih besar dan pasti dekat dengan lemari. Karena siluet tinggi pasti adalah lemari maka disebelahnya adalah tempat tidur.
__ADS_1
Ashnard sambil melangkah sepelan mungkin meraba-raba sekitarnya. Dia merasakan benda keras dengan tekstur halus, itu adalah kayu. Lalu turun dan dia merasakan tekstur kasur yang empuk. Semakin jauh dia meraba semakin terasa hangat udara sekitar. Saat itulah Ashnard menemukan tangan Nina yang lembut. Ashnard meraihnya dan mengenggamnya. Merasakah hangatnya sambil mengingat kembali kenangan yang dia miliki bersama tangan tersebut.
Tiba-tiba, tangan itu meremas balik tangan Ashnard dengan kuat. Lalu, tangan itu menarik Ashnard hingga membuatnya terjatuh di kasur. Nina sudah menyadari kedatangan Ashnard sejak tangannya dipegang. Karena itu, dia langsung menarik tangan Ashnard dan membuatnya berbaring di sebelahnya.
"K-kau sudah bangun?"
"Tentu saja." Tatapan Nina tak berubah seperti sebelumnya. Meskipun Ashnard dan Nina wajahnya saling berdekatan, justru semakin membuat tatapan benci Nina terasa jauh lebih menakutkan. Ditambah warna merah matanya yang menyala di kegelapan, semakin membuatnya terlihat seperti iblis jahat.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Nina mempertanyakan kehadiran Ashnard di kamarnya.
"Ti-tidak, aku hanya ... ingin menemuimu saja." Ashnard meletakkan tangan di pipi Nina yang lembut itu. Walaupun api amarahnya sedang menyala, tapi kulit gadis itu tidak terasa panas sama sekali. Ashnard berpikir amarahnya Nina belum mencapai tahap yang memprihatinkan.
"Menemuiku? Yang benar saja! Ini pasti ulah Eris. Kau tidak akan bisa masuk ke sini begitu saja tanpa melewati Eris."
Nina membuka selimutnya dan bangkit untuk menemui Eris. Tapi, tiba-tiba Ashnard menarik kembali Nina, membuatnya kembali berbaring di kasur sementara Ashnard berada di atasnya. Kedua tangannya menopang Ashnard di kedua sisi leher Nina, membuatnya kesulitan untuk keluar dari situasi ini.
"Maksudku ingin menemuimu adalah "menemuimu"." Tatapan Ashnard yang berikan pada Nina begitu dalam, hingga membuat Nina yang merengut benci, menjadi melunak. Amarahnya hilang digantikan wajah lembutnya yang kebingungan dan fokus ke Ashnard.
Kedua jantung mereka sama-sama berdegup kencang. Mengetahui posisi masing-masing terlalu dekat, membuat keduanya saling bertatapan dan diam. Beberapa inci saja tubuh mereka akan saling bersentuhan. Nina yang saat itu berada di bawah, luarnya tampak tenang, tapi dalamnya ia serasa panik dan ingin menjerit. Ia ingin bergeser sedikit tapi takut itu akan membuatnya semakin parah.
Di mata Ashnard, terlihat seorang gadis yang diam seolah menunggu. Mata gadis yang cantik itu tampak bingung harus melakukan apa. Pipinya yang merona merah seperti apel baru matang yang tampak menggairahkan untuk digigit. Aroma rambutnya harum memenuhi hidung Ashnard. Leher ramping terekspos begitu jelas di mata Ashnard meskipun cahaya di kamar itu gelap. Entah mengapa, Ashnard bisa begitu melihat kulit putih Nina di lehernya yang terekspos hingga sampai dada bagian atasnya ikut terlihat.
Mata Ashnard terus turun ke bawah ke gaun tidur berwarna merah muda yang biasa dipakai Nina saat tidur. Gaun itu tampak lucu dipakai Nina dengan motif-motif seperti bunga di seluruh bagiannya. Walaupun itu gaun khusus tidur tapi ada bagian yang membuat bagian tubuh Nina terlihat jelas. Karena itulah mata laki-laki itu berhenti di bagian dada sang gadis.
Nina yang menyadari kemana tatapan Ashnard langsung menutupi dadanya dengan tangannya. Wajahnya semakin memerah seperti panci yang dipanaskan, dia berpaling.
"A-apa yang kau lihat?" Nina berniat untuk membentak, tapi nadanya terdengar seperti malu-malu.
Bunyi nafas masing-masing terdengar bagi keduanya. Saking sunyinya. Saat itu Ashnard berpikir jika Nina mungkin akan mendengar ucapannya saat ini.
"Nina, maafkan aku!" ucap Ashnard dengan tegas. "Aku seharusnya mengatakannya padamu, tapi tidak. Aku tahu aku bodoh, karena itu aku minta maaf atas kebodohanku. Sebenarnya, tidak hanya di lubuk hatiku saja, tapi di seluruh hati dan jiwaku, aku tidak berniat untuk membuatmu kecewa padaku. Aku hanya melakukan kesalahan dan aku datang untuk menebus kesalahanku padamu."
Nina perlahan mengangkat pandangannya lagi ke Ashnard yang berada di atasnya. Dia melihat wajah tulus itu lagi. "A-apa maksudmu dengan menebus kesalahanmu?" tanya Nina bingung.
__ADS_1
Untuk menjawab pertanyaan Nina, Ashnard meletakkan satu tangannya di pipi Nina, lalu membelai pipi itu dengan jempolnya. Perlahan Ashnard mendekat.