The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Dunia Tanpa Kematian


__ADS_3

Ketika mengingat kembali kisahnya itu, Alfeus tersenyum. Dia awalnya bermuram di kegelapan dan sekarang tersenyum manis dengan sendirinya. Mengingat dia saja sudah cukup untuk membuat pria itu kembali menenangkan emosinya.


Tiba-tiba, pikirannya seperti diketok sesuatu dan menimbulkan bunyi dengung. Dia langsug sadar jika itu tandanya dia sedang dipanggil oleh majikannya.


Dia berdiri dan menarik nafas. Lalu, menunggu. Matanya terbuka kembali dan dia sudah berada di tempat lain. Di ruang kosong, ada seorang wanita yang duduk sambil membelai bunga-bunga di sekitarnya. Di belakang wanita itu ada satu buah ranjang. Dia tersenyum dengan lembut seolah bunga-bunga itu adalah anaknya.


"Apa kau memanggilku, nona?" Sang pria langsung membungkuk di hadapan wanita itu.


"Melaluimu, aku melihat apa yang terjadi. Soal Haidon mungkin sudah waktunya mengakhiri ini. Upaya Haidon harus dihentikan. Karena itu, aku menugaskanmu," ucap sang wanita yang masih bermain dengan bunga-bunganya. Wanita itu mencabut salah satu bunga lalu menghirup aromanya.


"Tapi, aku tak bisa mengalahkan Haidon jika aku tidak menggunakan Ansalasor."


"Kau pasti bisa. Kau adalah ksatriaku." Dengan mata merah delimanya, wanita itu menatap Alfeus dengan penuh kepercayaan.


"Baiklah, akan kulaksanakan." Pria itu lalu bangkit dan bersiap untuk kembali.


Namun, sang wanita mencegahnya. "Tunggu. Ada satu hal lagi. Anak muda itu, Ashnard, apa sungguh dia bertemu kakakku?"


"Dari yang ingatannya kulihat. Iya. Dia telah mengubah alur mimpi yang dibuat Nona Mimpi dan membuat sendiri alur mimpinya."


"Sungguh? Itu menarik!" Wanita itu berseru senang. "Kalau begitu, mungkin dia bisa menjadi sepertimu untuk kakakku. Eristhiar setidaknya harus mengalami apa yang kurasakan biar dia paham. Setelah kau menyelesaikan urusanmu dengan Haidon, bawa dia kepadaku."


"Aku mengerti, nona." Alfeus membungkuk lagi, mengiyakan perintahnya tuannya. Namun, ketika dia hendak berbalik lagi, wanita itu lagi-lagi menghentikannya.


"Sakit rasanya kau tidak menyebutkan namaku. Aku ingin kau selalu memanggil namaku."


"Kalau begitu, maaf, Erida."


Wanita itu bangkit, kemudian duduk di pinggir ranjangnya. "Bagus. Sekarang, tinggal lah sebentar di sini. Di luar sana, waktu berjalan lebih lambat. Aku sudah lama merindukan sentuhanmu, Alfeus. Sudah berapa lama sejak terakhir kali kita melakukannya. Setengah abad?"


"Aku mengerti. Aku juga sudah lama menantikannya, Erida."


Tanpa aba-aba, Alfeus langsung mendorong tubuh Erida di ranjang dan menindihnya. Pertama mereka saling mengamati mata indah masing-masing, lalu dilanjutkan dengan ciuman. Alfeus menggunakan tangannya untuk membelai kaki sang wanita yang tertekuk. Dia memulai dari lulut, lalu masuk ke dalam rok gaunnya dan meraba paha wanita itu. Semakin jauh dan semakin dalam dia menjajahkan tangannya ke dalam rok, semakin membuat wanita itu terpuaskan.

__ADS_1


"Akhirnya. Tubuhku merasakan tanganmu yang hangat itu," desah Erida.


***


Setelah diceritakan dengan panjang dan waktu yang cukup lama, Ashnard dan yang lainnya akhirnya memahami dengan apa yang terjadi. Tapi, mereka tidak paham soal tujuan Haidon untuk melakukan semua ini. Menggulingkan Dewi Kematian adalah hal yang tidak masuk akal sama sekali, bahkan ketiga manusia muda itu berpikir seperti itu.


Di singgasananya yang hitam legam-terinspirasi langsung dengan singgasana Sang Kematian, makhluk itu menjelaskan dengan bangga cita-citanya. Wajah tengkoraknya tersenyum sambil memperlihatkan gigi-gigi tajamnya pada para anak muda.


"Orang bilang mimpi sebesar mungkin, kan? Katakan padaku apa yang salah." Haidon menopang pipinya sambil menyuruh mereka menyebutkan apa kesalahannya. Karena memang dia tidak memiliki kesalahan satu pun. Jika ada, dia mungkin tidak akan mengakuinya.


Ashnard dan yang lainnya saling menatap dengan bingung. Mereka dipaksa berlutut di depan Haidon dan tangan mereka diikat di belakang punggungnya. Namun, bukan ikatannya yang menyiksa mereka, tapi ocehan Haidon yang seperti mimpi di siang bolong.


Ashnard mengira jika Haidon adalah orang yang benar-benar mengerikan. Berwujud buruk rupa memang benar, tapi hatinya seperti anak kecil yang sedang bermimpi. Taring, tanduk dan sabitnya sangat tidak cocok dengan sikap pria itu yang penuh semangat. Tidak jauh beda dengan sikap Roc, menurutnya.


Selagi mereka dipaksa untuk mendengar cerita panjang sang penguasa menara, salah satu bawahan Haidon muncul. Dia menghampiri Haidon dan berlutut. "Semua persiapan sudah siap, Tuanku"


"Bagus."


"Kau sedang mencari Ibumu, kan? Aku bisa membantumu mencarinya asalkan kau harus membantuku terlebih dulu," kata Haidon.


"Biar kutebak, pasti menggulingkan kekuasaan Dewi Kematian, kan?" Ashnard membalas dengan menatap malas.


"Ya. Kau tidak tahu betapa pentingnya ini bagiku. Sama pentingnya Ibumu bagimu. Karena itu, aku harus melakukannya."


Saat makhluk besar itu berdiri, terdengar suara gertakan di setiap sendi tubuhnya. Lalu, suara hentakan saat dia berjalan melewati Ashnard dan terus ke belakang hingga ke sebuah bukaan besar seperti balkon yang digunakan Haidon untuk menonton pertempuran.


Di arena yang dia bangun sendiri, kedua jiwa sedang bertarung. Bukan sampai mati, tapi sampai waktu yang ditentukan sudah berakhir. Dan masih ada sisa tiga puluh menit sebelum pertarungan berakhir.


Pertarungan itu tidak dipaksa oleh siapapun. Haidon tahu itu. Dia hanya membawa jiwa yang tidak terbelenggu ke menaranya, untuk diberikan pilihan. Jiwa-jiwa yang akan menentukan pilihannya sendiri. Sejatinya, Haidon sangat menolak apapun yang bersifat pemaksaan di menara ini.


Menara yang berisi berbagai macam fasilitas ini menjadi hunian para jiwa dan bawahan Haidon. Kamar tidur, kebun, pasar, tempat olahraga, bahkan yang paling populer yaitu arena. Semua orang bebas melakukan apapun yang mereka mau di menara ini. Tanpa ada hukum kematian dan waktu. Jika mereka ingin bertarung untuk menghibur diri, tidak ada yang melarangnya. Karena para roh sendiri tidak akan terluka atau terbunuh.


Tempat ini adalah tempat yang paling aman dari segala makhluk neraka yang masih berkeliaran entah bagaimana caranya. Mereka tidak perlu takut lagi dan mereka masih bisa menikmati hiburan disini. Haidon menganggap tempat ini sebagai utopia miliknya. Dan Haidon sangat berharap, dunia luar juga bisa seperti di sini.

__ADS_1


"Jika kau sudah mengalahkan Kematian, lalu apa?" Berlutut di lantai, Ashnard masih bingung terhadap tujuan Haidon.


"Aku akan membuat utopiaku sendiri. Dunia dimana tidak ada kematian. Bayangkan jika tidak ada lagi kematian. Orang-orang tidak akan lagi bersedih, merasa sendirian atau merasa tidak adil. Jika itu terjadi,aka dunia itu akan menjadi surga yang sesungguhnya."


"Kau tidak akan bisa mengalahkan seseorang yang menguasai kematian," sahut Roc, juga tidak menyetujui ucapan Haidon. "Dia bisa saja mengambil nyawa kita bahkan sebelum tali ini terlepas."


"Tidak. Dia tidak akan bisa. Pada dasarnya, jiwa kalian ada di sini, itu berarti kalian sudah mati. Dan aku adalah makhluk yang tidak hidup. Untuk apa membunuh orang yang sudah mati, bukan? Lagipula, dia sudah dilarang untuk melakukan hobi anehnya. Dia sekarang tidak bisa apa-apa selain menyuruh pelayannya yang tampan itu."


Selagi Haidon menonton pertarungan di arena yang sengit, Ashnard beringsut mendekati Ein. Ketika tubuhnya sudah menempel pada Ein, Ashnard menjulurkan tangannya yang terikat di punggung secara diam-diam ke tangan Ein.


"Ein, tanganmu," bisik Ashnard untuk menyuruh Ein menjulurkan tangannya juga. Tapi, Ein justru menggenggam tangan Ashnard. "Hei, bukan itu! Julurkan tanganmu, biar aku bisa melepaskan ikatanmu terlebih dulu. Lalu, lepaskan ikatanku."


"Saling menggenggam tangan di tempat yang menegangkan seperti ini, bukankah sangat menarik?"


Ashnard tidak begitu mempedulikan ucapan Ein yang aneh dengan wajahnya yang datar. Yang terpenting saat ini adalah untuk bergerak secepat mungkin, tapi tetap tersembunyi.


Ein sudah mendekatkan talinya ke tangan Ashnard, sehingga Ashnard bisa membuka ikatan talinya. Akan tetapi, dia melupakan satu hal. Bawahan Haidon yang sedari tadi berdiri di belakangnya, melihat secara jelas apa yang Ashnard dan Ein sedang lakukan. Dia mendekat, lalu memegang kepala Ashnard dan Ein yang ketahuan.


"Jangan macam-macam. Aku melihat apa yang kalian lakukan," kata orang itu.


"Ada apa?" Haidon berbalik dan melihat Ashnard dan Ein yang dipegang kepalanya oleh anak buahnya.


"Mereka mencoba melepaskan ikatannya," jelasnya.


"Lepaskan saja mereka. Disini tidak ada yang namanya keterpaksaan. Kalian bebas ingin pergi dari sini atau mengikuti rencanaku. Kalian bebas ingin membawaku pada Alfeus atau diam seribu bahasa. Tapi, yang jelas tujuanku tidak akan berhenti sampai disini saja. Aku memegang mimpi untuk semuanya. Katakan, Ein, apa kau ingin tinggal bersama Ibumu lagi tanpa harus melanggar peraturan dengan bolak-balik alam? Kau juga, Roc, apa kau mau tinggal di dalam tubuh Ashnard tanpa bisa melakukan apapun? Saat aku menciptakan duniaku, aku akan mengembalikan para roh di alam roh kembali ke dunia kehidupan. Aku bisa membuat Ibumu hidup kembali. Dan aku bisa memberikannya tubuhnya kembali atau tubuh baru. Itu berlaku untukmu juga Roc."


"Teman-teman, jangan dengarkan dia. Dia berusaha memanfaatkan pikiran kalian," ujar Ashnard gelisah saat melihat Ein dan Roc terdiam.


Ashnard tahu bahwa Haidon menggunakan kondisi mereka saat ini agar mereka bisa memahami tujuan Haidon. Tapi, jika Haidon berhasil menyelesaikan tujuannya, itu berarti akhir bahagia untuk Roc dan Ein. Ashnard merasakan akan menjadi penjahat jika dia menghentikan mereka.


"Ashnard, aku tahu kau merindukan Ibumu. Kita berdua adalah seorang putra. Dan sudah sewajarnya, sesama putra Ibu saling membantu, kan? Aku bisa membuatmu bertemu kembali dengan Ibumu."


Ashnard melihat tangan bertulang itu terjulur ke arahnya. Namun, entah mengapa Ashnard merasa seperti seorang pahlawan datang untuk menolong dirinya yang sedang tidak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2