
Sarapan sudah selesai dan nafsu lapar mereka sudah terpuaskan. Tidak ada yang bisa menahan aroma lezat sup buatan Cynthia dan Eris. Mereka makan dengan lahap, hingga tak tersisa secuil apapun di piring mangkuk mereka.
"Seperti biasa, masakanmu lezat, Cynthia," puji Wilia sambil mengelap mulutnya dengan kain serbet.
"Terima kasih atas pujiannya, nona. Sudah menjadi kewajibanku," jawab Cynthia membungkuk.
"Jangan puji Cynthia saja. Eris juga ikut membantu," tegur Nina.
Wilia mengembuskan nafasnya dengan berat hati seolah dia ingin nafasnya hanya untuk dirinya sendiri. "Dengar ya, gadis api. Pagi ini kau sangat berisik sekali. Apakah ada sesuatu? Atau mungkin kau ingin mendapatkan perhatian dariku?"
Nina tersentak, merasa dipermalukan oleh Wilia yang duduk berhadapan dengannya. "Aku? Tidak! Kau yang berisik! Kau yang menjengkelkan!"
Tiba-tiba, Ashnard berdiri dari kursinya, memotong pertengkaran kedua gadis tersebut. "Daripada kalian terus bertengkar sepanjang hari seperti kucing dan anjing, bagaimana jika kalian membantu Liliya? Dia ingin mengadakan pesta api unggun nanti malam. Bantulah dia menyiapkan semuanya."
"Kalau acaranya nanti malam, kenapa sekarang mengurusnya? Ini masih pagi," heran Ulfang. "Aku dan Reinhard akan berjalan-jalan di hutan. Jadi, kami tidak akan ikut."
"Tidak, Liliya, ikutlah bersama kami. Aku pasti akan membantumu menyiapkan untuk acara api unggun, tapi nanti. Bukan sekarang," tambah Reinhard semakin memperjelaskan.
"Aku juga ikut!" teriak Wilia menyusul Reinhard dan yang lainnya keluar. "Cynthia, jangan ikut aku. Tunggu lah disini atau lakukan apapun sesukamu," perintahnya ke pelayannya.
Entah apa yang Reinhard pikirkan, tiba-tiba mengambil keputusan seperti itu tanpa merundingkan ke yang lainnya terlebih dulu. Mereka meninggalkan meja makan tanpa Ashnard mencegahnya.
"Aku juga akan pergi ke hutan. Tapi, sendiri saja. Aku hanya ingin menenangkan pikiranku, tanpa bertemu dengan mereka."
Sekarang Gerlon yang pergi. Itu juga tidak bisa Ashnard hentikan, karena memang sudah menjadi kebiasaan Gerlon yang suka menyendiri di hutan.
"Oh ya, aku dan Cynthia juga sudah memiliki rencana pagi ini. Aku baru menyadarinya saat di dapur, ternyata dia orang yang baik. Dia juga begitu bersemangat untuk mengajariku memasak," ungkap Eris, memundurkan kursinya dan menghampiri Cynthia.
"Permisi," ucap Cynthia yang bangkit lalu membungkukkan badannya ke Ashnard dan Nina. Setelah itu, Cynthia dan Eris membereskan piring dan menuju dapur.
Sekarang tersisa Ashnard dan Nina yang tertinggal daripada yang lain. Mereka berdiam diri seperti orang yang telah kehilangan tujuan hidupnya. Tidak memiliki rencana apapun dan tidak memiliki seseorang yang bisa diajak menjalankan rencana apapun.
Awalnya, Ashnard ingin membuat yang lainnya tidak saling berpencar. Dia ingin semuanya berada di satu tempat yang sama dan melakukan kegiatan bersama agar dia bisa mengawasi mereka. Nyatanya itu bukanlah hal yang mudah.
__ADS_1
"Kau mau ingin melakukan sesuatu?" tanya Nina tiba-tiba. Terlihat kebosanan di wajahnya yang ditumpu tangannya di meja. "Kau tahu, yang lainnya sudah memiliku rencana mereka sendiri. Bahkan, Eris tidak mengatakan apapun tentang rencananya padaku. Aku kesal, tapi apa lagi yang bisa kulakukan. Sekarang hanya kita berdua. Apa kau punya rencana juga? Karena aku tidak mau diam disini saja sendirian."
Ashnard sendiri tidak memiliki jawaban itu. Dia melihat sejenak ke Nina, lalu menatap ke depan lagi dan berkata, "Aku tidak tahu."
"Kalau begitu, pikirkan sekarang rencananya. Jangan kalah dari mereka," desak Nina.
Semenjak dia menatap kembali ke depan, dia sudah tidak malas untuk memikirkan apapun lagi. Pada akhirnya, hasilnya akan sama saja. Jika bisa, Ashnard ingin berdiam disini selama yang dia butuhkan. Memikirkan semua yang Servulius, Gerardus, dan Terenna katakan padanya dan memikirkan pakah dirinya memang layak untuk tugas ini.
"Kau pikirkan sendiri saja. Aku akan pergi," jawab Ashnard cuek. Langsung meninggalkan Nina setelah mengatakannya.
Pandangan Ashnard langsung tertuju ke danau sesaat setelah dia keluar dari pintu. Dia pun menghampiri apa yang dia lihat. Sebuah danau berwarna biru jernih seperti lautan yang terjebak di antara daratan tak berpenghuni. Ashnard duduk di batu di pinggir danau, menatap ke warna biru yang menyegarkan.
Ashnard tidak tahu apakah ini kebiasaannya atau kebiasaan manusia saat merenung di pinggir danau. Dia selalu merasa ingin sekali mengambil batu kecil dan melemparkannya ke danau tersebut. Ashnard melakukannya tanpa ragu.
Saat sudah bersiap ingin melempar batu lainnya, Ashnard dihentikan oleh teriakan. "Hei, kau! Kenapa kau meninggalkanku sendiri dan malah duduk merenung di pinggir danau seolah kau orang yang paling menderita di dunia? Kalau kau memang ingin merenungi nasib, setidaknya ajak aku juga!"
Ashnard menengok ke belakang dan datang Nina yang menghampirinya dengan wajah cemberut dan aura panas di sekitarnya.
"Kenapa kau tidak menemani Eris dan Cynthia?" heran Ashnard.
Nina lalu memaksa Ashnard untuk bergeser agar bisa duduk di batu yang hanya khusus untuk satu orang saja. Namun, karena desakan Nina, batu itu menjadi bisa diduduki oleh dua orang.
"Jadi, apa yang kau renungi sekarang?"
Ashnard tersentak. "Aku tidak merenungi apapun."
"Dasar pembohong!"
Nina mengambil salah satu batu, lalu melemparkannya dengan penuh emosi. Saat menyipitkan matanya untuk melihat seberapa jauh batunya terlempar, Nina melihat sesuatu di seberang danau. Seperti figur tinggi, namun tidak lebih tinggi daripada pepohonan di sekitarnya. Nina tidak yakin, karena pandangannya terlalu kabur serta figur itu tersamarkan oleh semak-semak putih.
"Ada apa?" tanya Ashnard yang kebingungan saat Nina terus menyipitkan matanya padahal batunya sudah tercemplung di danau.
"Tidak ada, kurasa," jawabnya ragu, tapi dia lebih memilih untuk tidak memikirkannya.
__ADS_1
Ashnard menghela nafas. "Aku akan kembali ke dalam saja," jawabnya tidak bersemangat.
"Tidak, tunggu!" sergah Nina menghentikan Ashnard. "Tidak usah kemana-mana. Di sini saja. Kita bisa memandangi danau atau melempar batu. Lagipula, memangnya kau sudah memikirkan rencanamu pagi ini? Tidak, kan?"
Ashnard menghela nafasnya kedua kalinya seolah dirinya sudah menyerah untuk melakukan apapun, dan memilih untuk menuruti saja.
Kini, mereka duduk berdempetan sambil merenungi kebosanan mereka. Memandangi danau dan riak air yang kian melebar memang menenangkan, tapi lama-kelamaan juga semakin membuat siapapun bosan.
Sudah banyak batu yang mereka lemparkan ke danau. Sudah banyak riak yang mereka ciptakan. Dari riakan tersebut, Ashnard melihat wajah Nina yang terefleksikan oleh Danau Cermin.
Setiap riak air akan selalu memudarkan dan menghancurkan bayangan apapun yang direfleksikan oleh air. Tapi, tidak akan pernah menghapus jejak yang sudag terekam di permukaan sebening kristal tersebut. Riak tidak akan mengubah apa yang asli dari bayangan tersebut. Dalam kasus Nina, adalah perasaan Nina saat ini.
Ketika Ashnard memandangi refleksi wajah Nina, dia hanya melihat seorang gadis berambut merah yang sedang bosan. Bukan gadis dengan kekuatan dewa api yang meluluh lantahkan dunia dengan apinya. Merinding yang bisa Ashnard rasakan jika refleksi Nina berubah seperti yang ditakutkan olehnya.
Ashnard menggelengkan kepalanya dengan kencang, supaya pikiran buruk itu lenyap.
"Aku tahu!" teriak Nina, mengejutkan Ashnard. "Bagaimana jika kita bermain air saja di danau? Itu ide bagus, kan? Bodohnya aku tidak memikirkannya dari tadi padahal ada di depan mataku."
"Terenna bilang kita tidak boleh berenang hingga tiga hari ke depan."
"Kenapa tidak boleh? Memangnya ada larangan tidak boleh masuk ke danau? Terenna hanya bersikap khawatir saja seperti seorang Ibu pada umumnya. Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jika ada apa-apa, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku tidak akan tenggelam. Dan aku juga tidak perlu takut kalau ada monster. Lagipula, ada kau disini."
Nina lalu berdiri dan langsung melakukan peregangan. Dia merapatkan tangannya lalu meninggikannya ke atas, menariknya ke samping kiri lalu ke kanan.
"Kau akan masuk ke danau pake baju itu?" heran Ashnard.
"Tentu saja! Kau pikir, aku akan membuka bajuku di depanmu dan masuk ke danau hanya memakai pakaian dalam saja? Tak kusangka, kau orang yang mesum," ledek Nina, menyeringai jahil.
"Sebaiknya kau jangan melakukannya. Guru Terenna sudah melarang kita. Itu peraturannya." Ashnard bersikeras untuk menghentikan Nina yang sudah kelewat semangat.
"Pft, kenapa kau takut sekali? Ini cuman memasukkan kakiku di air saja, kok. Apa yang berbahaya daripada itu?"
"Padahal kau punya Eris yang memfokuskan seluruh hidupnya untuk membuat orang-orang mematuhi peraturan. Tapi, malah kau sendiri yang melanggarnya."
__ADS_1
"Oh, ayolah! Aku bosan, Ash! Aku akan tetap melakukannya. Dan kau rahasiakan semuanya dari Eris!"
Nina lalu mengabaikan Ashnard, dan bersiap untuk berendam. Dia sudah tidak sabar merasakan segarnya air danau yang masih belum tersentuh oleh manusia tersebut, terlihat dari wajahnya yang lebih cerah. Nina mulai membenamkan kakinya di danau. Tiba-tiba, perasaan dingin yang amat menusuk menggerayangi tubuhnya. Kakinya yang baru dicelupkan sampai mata kakinya terasa berat dan sulit digerakkan. Nina menjatuhkan diri ke belakang. Terlihat bahwa kakinya mengeras seperti kristal es berwarna putih.