The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Saran Cinta


__ADS_3

Reinhard menemukan Wilia yang berdiri di tengah taman. Segera dia menghampiri Ulfang yang masih mengikutinya karena Ulfang yang masih memegang gaun Liliya. Tanpa basa-basi, Reinhard menuju Liliya dan memberikan gaun itu.


"Liliya ... selamat ulang tahun!" ucapnya sambil terengah-engah. Dia menyerahkan sebuah tas kantung berisi gaun tersebut.


"Te-terima kasih. Aku tidak menduganya. Kau membuatku terkejut," sahut Liliya tersenyum malu.


"Aku memilih yang paling bagus untukmu. Jika kau tak suka warnanya, aku bisa carikan yang lain."


"Kau tidak perlu repot-repot, Reinhard. Ini sudah cukup."


Reinhard merasa lega karena masih sempat untuk memberikan hadiah di hari ulang tahun Liliya. Dia sadar dia telah meninggalkan Wilia begitu saja, Wilia pasti marah soal itu. Karenanya, Reinhard ingin meminta maaf pada Wilia nanti.


"Jika boleh, aku ingin kau memakainya saat pesta dansa nanti," pinta Reinhard sedikit tertunduk.


"Tentu saja. Aku akan memakainya," balas Liliya dengan riangnya. Dia begitu bersemangat dan menantikan pesta dansa itu.


Kemudian, ada momen keheningan di antara mereka berdua. Meskipun, taman ramai akan tempat hiburan dan orang-orang, suasana disekeliling mereka seperti berada di tempat lain.


Dunia begitu sunyi ketika mereka saling menatap sangat dalam. Debar jantung terdengar, serta tiap embusan nafas terasa seperti ada di dalam darah mereka. Seolah semua indera mereka menjadi lebih tajam. Hingga tidak hanya suara, namun aroma juga. Liliya mencium bau yang unik dari tubuh Reinhard.


"Reinhard ... baumu ...," ucap Wilia setengah-setengah, tak ingin membuat Reinhard tersinggung.


Reinhard langsung sadar dan mencium tubuhnya sendiri. Campuran bau keringat serta bau Wilia ini masih tidak hilang dari tadi. Reinhard yang sangat malu di hadapan Liliya seketika langsung pergi meninggalkan gadis pujaannya.


Wilia tersentak, bingung kenapa Reinhard tiba-tiba pergi. Padahal, dia tidak begitu mempermasalahkannya. Liliya hanya ingin mengingatkan Reinhard saja. Tapi, karena Reinhard sudah menghilang dari pandangannya dengan secepat angin, Liliya lepas tangan.


Sementara itu, Ashnard yang sudah siap ingin memberikan hadiah ke Liliya, dan kebetulan sekali dia menemukan Liliya sendirian di taman. Saat ingin menghampirinya, dia melihat Reinhard yang lebih dulu memberikan hadiah ke Liliya.


Ashnard tahu kalau Reinhard hanya memberikan hadiah ulang tahun saja, tapi entah mengapa hatinya terasa sakit. Seperti racun yang mengalir di seluruh tubuhnya hingga sampai di hatinya. Ashnard berusaha mengeluarkan racun itu, tapi tak bisa. Dia hanya bisa berdiri saja melihat Reinhard dan Liliya bersama.


Nina dan Eris juga melihat yang sama dan paham mengenai apa yang Ashnard rasakan. Mereka berdua menghampiri Ashnard. "Kau baik-baik saja?" tanya Nina.


Ashnard tak tahu ingin berkata apa, tapi ia merasa ingin marah tanpa sebab. Mungkinkah gara-gara apa yang dia lihat, atau mungkin karena Reinhard yang tersenyum saat bersama Liliya. Itu sisi Reinhard yang belum pernah Ashnard lihat.


"Hei, Ashnard, kalau kau tak ingin melakukannya tidak apa," ucap Nina berusaha menenangkan Ashnard.


"Aku ... Maaf, kau benar. Aku tak bisa." Ashnard berbalik lalu duduk di pinggir taman. Di bawah lampu dengan semak-semak. Nina dan Eris mengikuti.

__ADS_1


"Mungin Reinhard hanya ingin memberi hadiah," ucap Nina masih berusaha menenangkan Ashnard. Karena dia tahu, Ashnard pasti sekarang sangat terpukul.


Ini baru pertama kalinya Ashnard merasakan rasa sakit ini. Dan dia benar-benar tak menyukainyam. Dia ingin menghilangkan rasa sakitnya tapi tak tahu bagaimana caranya.


Dia memikirkannya dan menyadari kenyataan dari rasa sakitnya. Rasa sakitnya bukan tanpa sebab dan tiba-tiba muncul. Pasti ada suatu alasan dibaliknya. Alasan itu bersumber dari Liliya. Karena ada Liliya di sana saat rasa sakitnya muncul. Bukan dari Reinhard yang sudah sering membuatnya kesal.


Pada awalnya, Ashnard tidak yakin akan perasaannya. Lalu, saat rasa sakit itu muncul, semua menjadi masuk akal. Ucapan Nina dan Eris benar. Ashnard menyukai Liliya dalam artian yang khusus.


"Kau benar-benar bocah yang merepotkan," celetuk Roc, menggelengkan kepalanya.


"Apa yang kau inginkan?" gumam Ashnard yang duduk sambil memeluk lututnya.


"Kau yang datang kesini. Kenapa aku yang ditanya?" heran Roc.


"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan," rengut Ashnard seperti anak kecil.


"Kau meminta saran percintaanku? Hm, menarik. Tapi, aku sendiri punya kisah cinta yang menyedihkan, kau tahu. Kau masih pemula dalam hal seperti ini daripadaku."


Ashnard menoleh ke belakang, Roc berdiri sambil menyilangkan tangannya seperti ingin menyombongkan diri. "Jawab saja! Kau sudah melihatnya, kan? Jadi, aku tak perlu menjelaskan lagi," gerutu Ashnard.


Ashnard bingung, mengerutkan keningnya hingga terlihat seperti orang tua.


"Apa kau sudah yakin dengan perasaanmu pada Liliya? Apa kau ingin memegang terus perasaanmu dan terus mengejar Liliya? Atau berhenti disini?" tanya Roc.


"Aku tidak tahu, bodoh! Karena itu aku bertanya padamu!" bentak Ashnard.


"Kalau kau tidak tahu, akupun juga! Bagaimana caraku tahu kalau kau sendiri bingung dengan perasaanmu?" balas Roc membentak.


"Masalahnya aku tidak tahu! Katakan saja menurut apa yang kau lihat. Tidak usah pedulikan aku setuju atau tidak," ujar Ashnard.


Desakan Ashnard, membuat Roc tidak ada pilihan lain. Walaupun dia tidak ingin mengatakannya, tapi dia berpasrah saja pada keputusan Ashnard.


Roc yang pasrah lalu duduk di sebelah Ashnard, mengikuti memandang ke depan seperti menonton suatu pertunjukan. Dia menunjukan pada Ashnard sebuah momen saat Reinhard memberi hadiah pada Liliya.


Kalimatnya dimulai dengan helaan nafas yang berat. "Jika aku menjadi kau, aku akan melepaskan Liliya. Aneh memang aku menyuruhmu menyerah, sementara orang lain, Nina atau mungkin Eris pasti menyemangatimu. Aku melihatmu secara langsung, kawan. Aku bisa merasakan apa yang kaurasakan."


Ashnard melirik ke arah Roc di sebelahnya. "Apa yang kau rasakan?"

__ADS_1


"Rasa sakit, juga kebahagiaan," jawab Roc. Begitu lembut suaranya, hingga Ashnard tidak tahu apakah Roc sedang bercanda atau tidak.


"Kau bahagia karena melihatku menderita, kan?" celetuk Ashnard.


"Haha, cobalah lihat Reinhard. Dia tersenyum, kan? Apa kau pernah melihatnya tersenyum lebar seperti itu?"


Ashnard mencoba menebak apa yang Roc maksud. Namun, wujud putihnya itu benar-benar sulit bagi Ashnard. Ashnard berandai apakah Roc di kehidupan aslinya memang sesulit itu untuk ditebak.


"Menurutmu bagaimana?" tanya Ashnard, menyerah untuk menebaknya sendiri.


"Apanya bagaimana? Tentu saja dia tersenyum karena dia bahagia, bodoh!" sergah Roc, tipikal menjengkelkan seperti biasanya. "Menurutku, Liliya adalah orang yang pantas bagi Reinhard. Dia yang bisa memberikan senyuman pada Reinhard yang kasar. Karena itu, aku menyuruhmu menyerah agar kau bisa memberikan kesempatan bagi Reinhard."


Ashnard sudah mengetahui jawaban dari Roc, akan tetapi dia masih bingung. Dia tertunduk dan semakin memeluk erat lututnya.


"Tapi, bukan berarti ucapanku harus kau turuti. Aku tak ingin kau menyesal karenaku. Hidupku sudah cukup menyedihkan, dan aku tak ingin menambahnya gara-gara kau terus bersedih," ucap Roc mengingatkan.


"Kenapa kau seperti takut sekali?" heran Ashnard.


"Karena dari pengalamanku sendiri, Ash. Aku juga pernah sepertimu dulu. Aku merasa bingung di antara dua pilihan yang memberatkan. Dan jawabanku, juga sama seperti jawabanku sekarang. Pada akhirnya, aku menyerahkan gadis yang aku sukai kepada temanku sendiri."


"Kenapa kau menyerahkannya?"


"Karena aku tak ingin menjadi orang yang jahat, Ash! Aku kenal dengan temanku yang juga suka gadis yang kusukai. Saat aku melihat mereka bersama, saat itu aku merasa seperti sudah waktunya untuk berhenti. Aku senang telah membuat kenangan yang indah bersama dia, tapi aku juga senang selama dia bahagia."


Ashnard mendengus enteng. "Kedengarannya mudah."


"Kata siapa? Itu sangat sulit, tahu. Namun, apa yang sudah terjadi ya terjadilah. Kenangan pahit manis itu sudah wajar akan kau alami di masa mudamu, cepat atau lambat. Kadang semuanya manis seperti gula kadang sepahit kopi. Kau harus siap untuk hal yang seperti itu."


"Lalu, bagaimana kisah cintamu? Apa kau sudah memiliki pasangan sebelum kau mati?" tanya Ashnard penasaran.


Roc tertawa cukup puas. "Sayangnya tidak. Aku tidak beruntung dengan kisa cintaku. Tapi, bukan berarti kau akan bernasib sama sepertiku. Semoga saja." Roc tersenyum masam.


Ucapan sosok putih itu ada benarnya bagi Ashnard. Kehidupan akan selalu berjalan naik turun, dan Ashnard tidak bisa mengendalikannya. Ashnard hanya bisa mengikuti kemana benang takdir itu mengarah. Dia juga tidak boleh sampai berhenti dan terus memikirkan kesedihannya.


"Terima kasih," jawab Ashnard begitu lemas suaranya. Dia tidak mengucapkan kata apapun lagi sebelum dia menghilang di Ruang Kosong.


Ini bukan cerita Roc, dia bukan tokoh utamanya. Keberadaannya hanyalah sebatas sosok yang menonton saja. Karena itu, dia tidak bisa apa-apa. Dia hanya bisa berharap Ashnard tidak mengambil pilihan yang salah.

__ADS_1


__ADS_2