
Kelas Sihir telah selesai dan Reinhard segera menghampiri Ulfang dengan tergesa-gesa. Ia membawa temannya ke tempat yang sepi di ujung koridor taman agar tak ada yang mendengar obrolan penting ini.
"Rencananya gagal, Ulfang," ucap Reinhard.
"Apa? Bagaimana bisa? Apakah kau sudah memberikannya?" tanya Ulfang yang kebingungan.
"Belum."
"Lalu?"
"Dia bilang dia sukanya gaun, bukan cincin!" sergah Reinhard. "Ini semua gara-gara kau yang terlalu cepat menaruh cincinnya," lempar Reinhard dengan kesal.
"Oke, baik, baik, aku yang salah," hela Ulfang pasrah. Namun, sebenarnya perintah Reinhard lah yang membuat Ulfang harus menaruh kotak cincin itu di laci kamar Liliya. "Lalu, sekarang bagaimana?"
"Aku akan mencari hadiah yang baru," jawab Reinhard.
"Tapi, kalau mau ke kota, kita harus menunggu satu minggu lagi untuk diizinkan."
"Aku tidak akan menyerah. Aku akan mengambil kesempatan itu," ucap Reinhard penuh tekad.
Tujuh hari adalah waktu yang dibutuhkan Reinhard untuk mempersiapkan rencananya. Jika kali ini gagal, ia tak tahu akan melakukan apa lagi.
Setelah selesai melakukan pembicaraan pentingnya, Reinhard kembali ke asrama. Terlihat Ashnard yang sedang mengepel lantai di jam sore. "Tumben sekali."
"Setidaknya berterima kasihlah kepadaku karena merapikan kamar," kesal Ashnard sambil menarik dorong tongkat pelnya.
Reinhard menuju lacinya yang terletak di sebelah tempat tidurnya. Ketika ia ingin mengambil kotak di dalam lacinya, terlihat bekas retakan dan guratan yang padahal ia ingat sebelumnya tidak ada.
Reinhard ketakutan berpikir jika seseorang mengetahui kotaknya, ia bertanya pada Ashnard, "Apa yang kau lakukan?"
"Merapikan kamar."
"Bukan itu!" sergah Reinhard. "Apa yang kau lakukan pada laciku?"
"Lacimu? Tidak ada. Apa yang membuatmu berpikir jika aku melakukan sesuatu di lacimu?" jawab Ashnard cuek, masih sibuk mengepel lantai.
"Retakan ini. Aku ingat betul sebelumnya tidak ada retakan." Reinhard menunjuk ke arah lacinya meskipun Ashnard sama sekali tak ada niatan untuk menatapnya ataupun menoleh.
"Aku tidak melakukan apapun."
"Bohong!"
"Terserah saja."
Jawaban Ashnard semakin membuat Reinhard kesal. Bukannya ia ingin terus memaksa Ashnard menjawab pertanyaan, Reinhard justru berbalik ke arah pintu kamar.
"Mau ke mana kau?" tanya Ashnard.
"Bukan urusanmu!" Reinhard membanting pintu dan pergi.
Sementara Ashnard tidak peduli dan terus mengepel lantai seperti orang apatis. Ia mencelupkan tongkat pelnya pada ember berisi air.
"Kau sedikit jahat," ungkap Roc.
__ADS_1
"Kalau dia tahu aku membuat kekacauan di kamar ini, pastinya akan lebih parah," balas Ashnard menjelaskan sikapnya pada Reinhard. Sejujurnya, sikapnya juga berdasarkan isi hatinya sendiri yang masih tidak menyukai Reinhard.
Malam di akademi pun tiba dan berarti waktunya ia bertugas. Sebagai permintaan maaf dan pergantian sementara, Ashnard akan mengambil peran Dester sebagai seorang prefek asrama selama masa penyembuhannya.
Di akademi, prefek adalah jabatan untuk siswa tahun ketiga yang ditugaskan untuk mengatur dan mengawasi siswa di bawah bimbingan guru. Setiap asrama memiliki satu guru pembimbing. Fleus untuk asrama laki-laki dan Terenna sebagai guru pembimbing asrama perempuan.
Kemudian, guru pembimbing akan menunjuk prefek yang mewakili mereka. Dester dan khusus untuk tahun ini adalah Eris yang merupakan murid tahun pertama. Meskipun masih tahun pertama, nilai dan sikap disiplinnya yang cemerlang diakui oleh para guru hingga menjadikannya prefek termuda.
Tugas-tugasnya pun telah diberikan. Pada pagi hari, Ashnard harus berpatroli menyeluruh di jam 5-6 pagi. Lalu, pada siang hari, jam 11-12. Dan untuk yang malam hari, ia berpatroli di asrama dari jam 7-8.
Tugasnya antara lain: Memeriksa segala kegiatan siswa di luar jam kelas, memastikan keamanan di sekitar asrama, mengawasi murid dan membantu guru pembimbing menegakkan kedisiplinan.
Setelah bersiap-siap, Ashnard pun memulai patrolinya dari depan asrama. Ia pernah melawan kegelapan, jadi seharusnya tugas seperti ini mudah saja baginya.
Ashnard berjalan perlahan di lorong, memeriksa ke kanan dan ke kiri, dan menegur siapa saja yang masih ada di luar kamar selama jam malam. Bahkan, ia mendapat cibiran dan ejekan dari sejumlah murid.
"Jadi, begini rasanya menjadi Eris," gumam Ashnard yang sekarang sadar bahwa pekerjaan Eris yang merupakan komite kedisiplinan lebih berat daripada yang ia duga.
"Semakin kau mengenali seseorang, semakin kau akan menghormati kehidupannya," ucap Roc.
"Aku tak tahu bagaimana cara dia tahan dengan semua cibiran selama ini. Maksudku, dia seumuran denganku dan seorang gadis."
"Mungkin karena itulah Nina selalu ada di sisinya. Untuk menyemangatinya."
Ashnard lalu menuju ke bagian belakang asrama yang terdiri dari gudang dan ruang latihan. Saat ia mendekati ruang latihan, ia mendengar suara seseorang yang sedang berlatih.
Ashnard heran karena tidak ada laporan perizinan apapun untuk memakai ruang latihan hingga malam hari. Ia pun bergegas menuju ruangan di pojok lorong itu.
Langkah Ashnard mendadak terhenti saat ia mendengar pembicaraan mereka. "Kita bisa membunuh Reinhard dengan bekerja sama."
"Apa kau gila?"
"Takut tidak ada gunanya. Kau itu pangeran. Tunjukkan kuasamu di hadapan mereka yang lemah. Hancurkan Reinhard, lalu kita bisa menundukkan bangsawan yang lainnya."
Mendengar hal itu, Ashnard merasa panik dan akibatnya menimbulkan suara.
"Siapa?" tanya seseorang di dalam ruang latihan.
Ashnard merasa kalau dia sedang mendengar apa yang seharusnya tidak ia dengar. Tanpa basa-basi, Ashnard melarikan diri dari tempat dan kembali ke kamarnya.
"Mungkin itu prefek kita," tebak salah seorang itu yang merupakan Erik.
"Tidak. Dester terluka, dia tidak sedang melakukan patroli hari ini," ungkap Arlon.
Erik bergegas ke luar ruangan dan tidak melihat siapapun. Jejaknya sudah hilang. Ia terlambat.
"Terluka kenapa?" tanya Erik ke Arlon.
"Kalau tidak salah, ia terluka gara-gara sihir gagal dari murid tahun pertama."
"Namanya?"
"Um, kurasa namanya Ashnard."
__ADS_1
"Ah, Ashnard ... Raegulus," lirihnya menyeringai lebar.
Arlon menyipitkan matanya pada Erik. "Kau mengenalnya?"
"Aku kenal semuanya," jawab Erik yang berbalik, menunjukkan seringai mengerikannya dan bola mata hitamnya. "Aku tahu semua keburukan mereka. Keluarga mereka. Cara kotor mereka demi mendapatkan nama. Aku tahu semuanya. Termasuk kau!"
"Anggap saja kita bekerja sama, lalu apa? Bagaimana caramu agar terhindar dari Dewan Kesiswaan atau para guru?"
Dengan perlahan, Erik mengangkat jari telunjuknya. "Ada satu. Pertarungan tak resmi. Hanya kita dan dia saja. Cukup adil, kan?"
Arlon merenung sejenak memikirkan pilihannya apakah benar-benar pantas untuknya atau tidak. Dan saat Arlon menyarungkan pedangnya, Erik langsung tahu jawabannya.
Erik berjalan perlahan mendekati Arlon yang masih berpikir. "Dengan begitu, aku harus menunjukkanmu ini." Ia mencengkeram muka Arlon dengan tangannya yang dingin dan mendekatkan mata sang pangeran ke mata hitamnya. "Lihatlah melalui kegelapan!"
Ashnard berlari dengan panik mengabaikan tugasnya dan kembali ke kamarnya. Ia langsung menutup pintunya dengan kencang.
"Ada apa?" tanya Gerlon yang terheran.
Tak ada jawaban dari Ashnard yang berputar-putar di kamar dengan penuh kegelisahan. Namun, di pikirannya ia penuh dengan pertanyaan.
"Apa tadi itu Pangeran Arlon, kan? Apa yang dia lakukan di sana? Siapa yang berbicara padanya? Dan kenapa mereka ingin membunuh Reinhard?"
"Tenanglah, nak, jangan panik. Karena yang harusnya panik adalah aku," timpal Roc yang justru melempar candaan.
"Kenapa malah kau yang panik?"
"Intinya si pangeran dan satu orang lainnya merencanakan hal buruk pada Reinhard. Tapi, itu Reinhard, kan? Selama itu bukan kau, tenang saja."
"Argh ... kau memang bego!"
Gerlon yang mulai kesal karena panggilannya tidak didengar akhirnya melemparkan sebuah buku pada Ashnard. "Oi, ada apa? Kau terlihat seperti telah melihat hantu."
"Er ... ti-tidak ada. Y-ya, ya. Tidak ada."
Dengan masih diselimuti kegelisahannya, Ashnard meringkuk di kasur dengan selimutnya yang menutupi seluruh tubuhnya. Berusaha untuk tidur dan berharap ia hanya salah mendengar atau lebih baik kalau ini hanya mimpi.
Bangun di pagi hari dan Ashnard masih memikirkan soal tadi malam. Hari ini adalah akhir pekan, tidak ada kelas yang di adakan saat akhir pekan dan murid-murid diberikan waktu untuk beristirahat.
Meskipun hari libur, tapi Reinhard tetap bangun pagi seperti biasanya dan berpakaian rapi. Dengan kegelisahan, Ashnard mengamati Reinhard yang sibuk bersiap-siap semenjak tadi, hingga bunyi ketukan membuat jantungnya terlonjak. Ia terlalu berpikiran buruk hingga tak menduga bahwa Ulfang adalah orang yang dibalik pintu.
"Aku sudah mencatat banyak pilihan. Apa kau yakin tentang hal ini? Jangan sampai salah lagi seperti sebelumnya," kata Ulfang.
"Ya, tentu saja aku yakin. Ayo." Reinhard mendorong Ulfang berbalik dan pergi ke luar.
Di satu sisi, dari awal Gerlon juga mengamati Ashnard yang sedang mengamati Reinhard. Ia menciptakan ekspresi jijik saat Ashnard terus mengamati Reinhard tanpa beralih sekalipun, ia berkata, "Aku tak tahu kalau seleramu menjijikan."
"Apa?"
"Aku tidak pernah melihatmu seperti itu ke gadis, tapi ke Reinhard ... aku tidak bisa menjelaskannya."
"Apa-apaan! Tentu saja tidak! Siapa juga yang suka orang sombong seperti dia?" balas Ashnard kesal.
"Banyak."
__ADS_1