
"Kau membencinya, ya? Si Asberion itu."
Tanpa Arlon sadari, ia didatangi oleh seorang murid yang memakai sebuah tudung, menyembunyikan wajahnya di balik bayang-bayang.
Arlon melirik ke murid itu yang bersandar di pohon sebelah kanannya. "Apa urusanmu?" tanyanya yang masih dalam kondisi penuh amarah.
Anak bertudung itu lalu membuka tudungnya, memperlihatkan rambut putih dan bola matanya yang memiliki warna berbeda. Yang sebelah kiri tampak normal, dan yang sebelahnya berwarna hitam legam.
"Seperti yang kau tahu, meskipun status disama ratakan di akademi, tapi itu sama sekali tak berpengaruh. Aku adalah rakyat jelata biasa yang mendapatkan rekomendasi, dan orang-orang sudah membenciku karena hal itu. Bukan membenciku karena aku melakukan pelanggaran atau tindakan kejahatan, tapi karena mendapatkan apa yang seharusnya orang sepertiku tidak dapat. Itu aneh, kan?"
"Lalu, apa? Kau ingin meminta belas kasihan padaku?" tanya Arlon dingin.
"Itu! Itulah yang kumaksud!" sergahnya. "Kalian para bangsawan selalu bersikap arogan dan tidak pedulian. Padahal, kita ini makhluk yang sama. Kita ini manusia dan manusia haruslah saling berdampingan. Tapi, entah kenapa kalian membuatnya seolah-olah bangsawan dan rakyat jelata itu makhluk yang berbeda. Itulah satu hal yang kubenci dari kalian."
Arlon berbalik menghadapnya dan mulai mengerti tentang apa yang terjadi. Anak laki-laki di depannya hanyalah orang-orang yang melantangkan perubahan besar, meneriakkan revolusi pada dunia, menyorakkan ketidakadilan pada sistem, dan mengutuk mereka yang berkuasa di atas, hanya karena merasa hidupnya lebih malang daripada yang lain. Hal seperti ini biasa ditemui di kehidupan Arlon dan kerajaan lainnya.
"Aku tidak peduli dengan semua omongan soal ketidakadilanmu itu. Ini nasihatku untukmu, jika kau merasa dirimu paling malang, lihatlah sekitarmu dan tentukan, apakah kau memang orang yang paling malang, orang yang paling tidak bisa apa-apa atau hanya sedang memanfaatkan kemalanganmu demi menarik perhatian orang lain," balas Arlon, lalu ia mengabaikan orang itu dengan pergi meninggalkannya di tempat.
Masalah selesai bagi Arlon, tapi tidak bagi murid bertudung itu yang menyeringai mendengar jawaban yang tidak memuaskan baginya.
Reinhard keluar dari kelasnya dan masih diikuti oleh sejumlah murid perempuan yang mengidolakannya. Ia berjalan di sepanjang lorong dan para gadis itu masih mengikutinya. Ini membuat Reinhard sedikit risih.
Mereka baru mulai berhenti mengikuti Reinhard ketika seorang gadis yang lebih cantik dari mereka datang. Sosok putri bagai dewi yang berjalan di dunia fana.
Wilia adalah sosok yang dimaksud. Penampilannya terkesan lebih anggun walaupun memakai seragam yang sama dengan para gadis lainnya. Langkah kakinya yang tenang dan seirama, sesuai dengan standar seorang putri yang bermartabat.
Gadis berkuncir bunga itu tersenyum lembut pada Reinhard, tapi menatap tajam pada para gadis yang mengikuti Reinhard di belakang. Serentak, para gadis itu bergegas pergi menjauhi amarah sang putri.
"Reinhard, aku datang untuk menemuimu. Hari ini cuacanya sangat pas, dan waktuku juga sedikit longgar. Aku ingin mengundangmu minum teh bersamaku, sama seperti dulu," sapa Wilia. Suara yang keluar dari bibir manisnya itu selembut desiran ombak di musim semi, mengalir dengan perlahan sambil memberikan kehangatan sekaligus kesejukan.
Reinhard beranggapan jika ini kesempatan yang bagus untuk menghindari kejaran para murid perempuan. Ia juga ingin sekali-kali terbebas dan bersantai. Dan mungkin, minum teh bersama Putri Wilia tidak ada salahnya untuk dilakukan.
Di taman, di salah satu meja antik terbuat dari kayu berkualitas tinggi dan ornamen perak yang berkilau, Reinhard dan Wilia duduk di kursi dengan keempukan setingkat dengan kursi kerajaan. Mereka mengangkat cangkir marmer dengan ukiran dari tinta emas, dan meminum tehnya yang tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin, tapi aromanya semerbak bunga-bunga khas Rabalm.
__ADS_1
"Teringat masa-masa dulu?" tanya Wilia. Gerakan tangannya yang lembut memutar-mutar sendok perak, mengaduk teh dan sebongkah gula yang baru saja ia tambahkan.
"Ya, hanya saja waktu itu di kamarmu. Dan di akademi, ini pengalaman yang berbeda," jawab Reinhard tenang sambil meletakkan cangkir mewah itu perlahan.
Wilia menyeruput tehnya kembali, setelah itu meletakannya di meja. "Kau benar. Di Rabalm, suasananya sangat menenangkan, tapi di sini, terlalu banyak mata dan telinga. Aku sangat rindu minum teh di sana."
Di koridor taman, banyak murid-murid yang menonton atau menguping acara minum teh. Jumlahnya semakin bertambah setiap detik dan menitnya, membuat Wilia semakin merasa risih dilihatin terus menerus.
"Apakah Reinhard dan Putri Wilia menjalin hubungan?" bisik salah seorang murid yang terdengar di telinga Wilia.
"Kenapa kau menyeringai?" heran Reinhard yang melihat Wilia mengangkat cangkirnya untuk menyembunyikan seringainya, tapi tetap kelihatan.
"Ti-tidak ada," jawab Wilia panik, meletakkan kembali cangkirnya dengan sedikit keras.
"Nona Wilia, kenapa kau bersekolah di akademi? Bukankah sulit bagi orang berkedudukan tinggi sepertimu untuk bersekolah di luar kerajaan?" tanya Reinhard memulai dengan rasa penasarannya.
Pada umumnya, anggota keluarga kerajaan dilarang untuk bersekolah di luar. Mereka biasanya mendapatkan kelas pribadi sendiri. Hal ini, dikarenakan jika anggota keluarga kerajaan bersekolah di luar, itu akan melemahkan posisi kerajaan di dalam.
Reinhard menyingkirkan cangkirnya, meletakkan kedua tangannya di meja sambil menopang dagunya. "Pasti keras hidup sepertimu."
Wilia lalu bertanya setelah meniru Reinhard yang menyingkirkan cangkirnya dan tangannya yang menopang dagu. "Apa kau tidak mau menjadi raja untuk Winfor, Reinhard?" Ia menyeringai lembut. "Atau raja untukku?"
Sontak, Ashnard terkejut dan hampir menjatuhkan cangkirnya. "Se-sepertinya, kata-kata anda terlalu berlebihan, Tuan Putri," ucap Reinhard gelagapan.
Wilia tertawa kecil. "Di akademi semua sama, kau tidak perlu mendadak sopan dan memanggilku tuan putri, Reinhard. Anggap saja aku sebagai gadis yang mengagumimu saja."
"Ya tapi, aku tidak percaya kau akan mengatakan itu."
"Dasar kau ini. Ternyata sisi konyol di balik sikapmu yang selalu keren itu masih ada. Aku sudah lama tidak melihatnya."
"Aku masih Asberion. Aku harus tetap menjaga sikapku di tempat umum."
"Ya, ya, aku mengerti. Aku juga melakukan hal yang sama sepertimu. Setiap saat, setiap hari."
__ADS_1
Terdengar di balik kerumunan para murid, ada suara Liliya yang sedang memanggil Reinhard. Mendengar panggilan itu, Reinhard pun berdiri dan pamit untuk pergi.
"Padahal kau sedang berminum teh dengan tuan putri, tapi kau malah memilih pergi dengan gadis lainnya," ucap Wilia dengan tenang, padahal di lubuk hatinya ia cemburu dan masih ingin melanjutkan berbincang dengan Reinhard.
Reinhard yang sudah berdiri, menoleh sedikit ke Wilia. "Maafkan aku, Nona Wilia. Aku harus pergi."
Perkataan itu membuat Wilia menatap dingin. Ia pun menepuk tangannya, seketika pelayan-pelayannya yang sedang menyamar sebagai teman-teman sekolah datang dan mengambil kursi, meja, cangkir untuk dirapikan.
Mereka mengikuti tuan putri yang tak puas kembali menuju ke asrama. Setelah mereka sampai di asrama, Wilia menuju kamarnya dan berdiri di depan jendela yang terbuka.
"Bagaimana hasilnya? Apakah Tuan Asberion menerima anda?" tanya salah satu pelayan yang merupakan seorang gadis remaja seusia Wilia, menghampiri Wilia yang memandang ke luar.
"Apa kau tidak lihat wajahku!?" bentak Wilia, menunjukkan emosinya yang meledak bagaikan gunung meletus. Matanya menyalang liar pada pelayan itu meskipun tidak bersalah apa-apa. Wilia mendorong tubuh pelayannya itu hingga menatap dinding. "Lihat wajahku!"
Pelayan yang ketakutan itu berusaha mengangkat kepalanya sambil dibantu jari-jari sang putri. "Katakan kepadaku, kenapa Reinhard tidak memilihku?" tanya Wilia menggeram.
"Aku tidak tahu, nona," jawab pelayan itu gemetaran.
Mendadak, wajah Wilia yang awalnya penuh urat emosi menjadi muram dan sayu. Wilia yang saat itu menahan tubuh pelayannya di dinding, seketika memeluknya dalam kesedihan.
Memeluknya sangat erat, hingga sang pelayan merasakan degupan jantung Wilia. "Tidak apa, nona. Mungkin lain kali Tuan Asberion akan menerima anda," ucap pelayan itu berusaha menenangkan majikannya.
Melihat emosi Wilia yang benar-benar seperti gadis biasa yang cintanya ditolak, membuat hati pelayan itu melunak.
Bagi pelayan bernama Cynthia yang sudah melayani Wilia semenjak kecil, Wilia benar-benar berubah semenjak Reinhard dan keluarganya berkunjung ke Rabalm. Awalnya, putri yang sombong, dingin dan tak berbelas kasihan itu berubah ketika Reinhard menerima undangan minum tehnya.
Walaupun Wilia terkadang masih bersikap arogan dan kejam, pelayan itu bisa merasakan sisi lembut Wilia yang akhirnya muncul ke permukaan.
Wilia yang tidak menyukai bunga, menjadi suka ketika gaun bermotif bunganya dipuji oleh Reinhard. Ia menjadi lebih hangat daripada dingin.
Ia juga menjadi lebih dekat dengan pelayannya karena sering menanyakan pakaian apa yang harus dikenakan saat Reinhard datang, parfum apa yang harus dipakainya, kalimat apa yang harus diucapkan agar Reinhard suka. Ia selalu meminta saran dan masukan dari pelayannya tersebut.
Bahkan, yang awalnya hubungan mereka selayaknya majikan dan pelayan, sekarang hubungan mereka lebih terasa seperti sahabat.
__ADS_1