
Mereka pun sampai di bangunan tersebut. Tampak pilar-pilar tinggi seputih gading yang menopang langit-langit. Membuka jalan di bagian kiri adalah sebuah lorong panjang yang luas.
"Tempat apa ini?" Mata Ashnard berkeliling sepanjang lorong. Mengagumi segala kemegahan dan ukiran cantik pada lorong tersebut.
Kedua sisi lorong tersebut di penuhi dengan pintu-pintu besar dari kayu. Gerlon berdiri di depan salah satu pintu. Matanya fokus pada sebuah nama yang terukir di papan sebelah pintunya. Tiga nama gadis yang mereka tidak kenali.
"Kurasa tempat ini adalah asrama," jawab Gerlon. "Mau coba masuk?" tawarnya dengan seringai.
"Ide yang bagus. Ayo, Ash. Masuklah," balas Roc yang setuju.
"Jangan!" bentak Ashnard yang membuat semua pandangan tertuju padanya. "Maksudku, kita tak boleh masuk. Ini asrama perempuan," bisik Ashnard.
"Kenapa kau berbisik? Tak ada siapapun disini."
Ashnard memerhatikan gerak-gerik Reinhard yang berpindah dari satu pintu ke pintu yang lainnya dengan panik. Ia tampak seperti mencari sesuatu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ashnard.
"Bukan urusanmu." Reinhard berpindah ke pintu sebelah, lalu ke seberang. Terus hingga mencapai ujung lorong yang gelap.
Ashnard dan Gerlon tak ada pilihan lain untuk mengikutinya.
Di ujung lorong tersebut, terdapat dua cabang ke arah kiri dan kanan, tapi di depannya ada sebuah dua tangga melingkar. Ashnard dan Gerlon tak sempat untuk memikirkan jalan mana yang akan dituju, karena Reinhard langsung memilih tangga.
Tangga tersebut membawa mereka sebuah lorong lagi yang sama memiliki pintu-pintu. Reinhard masih sibuk mencari sesuatu di pintu-pintu tersebut.
Lalu, ia berhenti di pintu di sebelah kiri lorong dan berseru, "Ketemu!"
Ada dua nama yang asing bagi mereka, tapi salah satu namanya tidak. "Ini kamar Liliya!" seru Ashnard ikut senang.
Mengetahui itu kamar milik Liliya, Ashnard segera menghalangi pintu ketika Reinhard berusaha meraih gagangnya.
"Sedang apa kau? Menyingkirlah!" geram Reinhard.
__ADS_1
"Kau sendiri, apa yang ingin kau lakukan di kamar Liliya?" tolak Ashnard.
"Sudah kubilang bukan urusanmu." Reinhard masih memaksa menyingkirkan Ashnard.
"Ini kamar perempuan. Kau tak boleh sembarangan memasukinya."
Reinhard tak mempedulikan ucapan Ashnard. Pada akhirnya, ia berhasil mendorong Ashnard dan masuk ke dalam. Diikuti oleh Ashnard dan Gerlon yang memilih diam dari tadi.
Kamar tersebur cukup luas, dengan tiga ranjang tidur, lemari pakaian, meja dan kursi dan meja rias. Aroma ruangannya pun seperti aroma gadis. Benar-benar kamar milik gadis.
Di kamar tersebut, Reinhard masih sibuk melakukan halnya. Ia mengangkat bantal, membongkar selimut dan memeriksa bawah ranjang. Tapi, wajahnya menunjukkan kekecewaan karena tak menemukan sesuatu.
Ashnard langsung menghalanginya sekali lagi, ketika Reinhard menuju ke lemari.
"Ini lemari pakaian, kau tidak boleh membukanya."
Reinhard tak peduli akan hal itu. Ia terus berusaha melewati Ashnard, namun usahanya sia-sia.
"Masih saja melindunginya," gumam Reinhard.
"Kau sangat berisik. Sudah kukatakan sekian kali, ini bukan urusanmu."
"Sejak di kota, kau selalu mengangguku dan Liliya. Aku akan memukulmu jika kau menganggunya lagi," ancam Ashnard.
Sementara Gerlon yang hanya menikmati ketegangan antara Ashnard dan Reinhard, mulai penasaran dengan apa yang terjadi. "Siapa sebenarnya Liliya ini?"
"Dia temanku," jawab Reinhard dan Ashnard serentak. Mereka lalu saling melempar pandangan benci satu sama lain.
"Kau bukan temannya," ucap Ashnard.
"Terserahlah," Reinhard membalas cuek.
Gerlon menangkat kedua bahunya. Karena menurutnya jawaban yang ia dapatkan sudah memuaskannya, ia pun keluar dari kamar. Memilih menjauh dari pergelutan masa muda.
__ADS_1
Reinhard memilih menyerah dari Ashnard. Kemudian, ia beranjak ke meja rias. Ia membuka salah satu lacinya dan menemukan sebuah kotak kecil hitam.
"Aku menemukannya," bisiknya senang.
"Apa yang kau temukan?" Ashnard berusaha mengintip dari belakang bahu Reinhard.
Reinhard langsung menyembunyikan kotaknya pada sakunya dari pandangan Ashnard. "Tak ada."
Reinhard berbalik dan melewati Ashnard, menuju ke pintu kamar.
Di kamar gadis yang sama, Ashnard juga memikirkan gadis yang sama. Di saat ini, ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk menanyakan tentang gadis tersebut.
"Tunggu," sela Ashnard menghentikan langkah lelaki itu. "Ada yang ingin kutanyakan padamu."
"Apa itu?"
"Aku sudah tahu apa yang terjadi pada para bangsawan dan keluarga Liliya. Tentang perjanjian kalian, kenapa kalian tak melepaskan keluarga Liliya?"
Reinhard awalnya terdiam, ia hanya melirik melalui bahunya. "Ini demi kebaikannya."
"Tapi, apa yang kalian lakukan dengan memanfaatkan keluarga Nerefelon itu tak baik. Segala peraturan dan kerahasiaan itu membuat hidup Liliya terkekang. Apa kau tak bisa melihat bagaimana Liliya ingin terlepas dari semua itu?"
"Seperti yang kubilang, ini demi kebaikannya," Reinhard mengatakan jawaban yang sama lagi.
"Hei, kalian harus ke sini." Tiba-tiba, suara Gerlon memanggil dari luar ruangan.
Ashnard pun harus menundanya. Ia dan Reinhard menuju ke sumber suara tersebut yang terdengar di ujung lorong. Sebuah balkon, di mana Gerlon berdiri di sebelah terompet besar yang menghadap ke arah bangunan utama akademi.
Sebuah tanaman rambat terukir melilit pada terompet itu. Saat Ashnard dan Reinhard semakin mendekati Gerlon. Wajah Gerlon berbeda seperti biasanya yang selalu tersenyum.
Wajahnya tampak serius juga muram. Cahaya tak tampak di bola matanya.
Kedua lelaki itu telah menyadari bahwa ada orang lain di tempat itu selain Gerlon. Orang itu muncul di belakang Gerlon saat Ashnard dan Reinhard sampai di balkon.
__ADS_1
Seorang wanita dengan jubah hitam dan bros kuning di dadanya. Wanita itu tampak marah pada mereka semua.