The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Memancing


__ADS_3

Nous yang menunggu cukup lama, menyadari jika Ashnard belum kembali. Ia akhirnya mencarinya.


Terlihat Ashnard berdiri di pinggir sungai, bersama orang lain. Anak itu asyik mengobrol dengan seorang pria yang sedang memancing.


"Oh, halo tuan, aku tak menduga bertemu dengan kalian di sini," sapa pemancing tersebut. Mengenakan tunik hitam dan rompi abu.


"Aku juga tidak tahu kalau tempat ini cocok untuk memancing," sahut Nous. Berjalan mendekat pemancing tersebut.


"Lihat, ikannya banyak!" tunjuk Ashnard pada ember sang pemancing yang berisi banyak ikan-ikan tangkapannya.


"Padahal aku baru mancing beberapa jam yang lalu, tapi ternyata sudah dapat tangkapan sebanyak ini. Tempat ini sangat luar biasa," ucap pemancing itu senang.


"Ashnard, bagaimana dengan jamur yang kusuruh kumpulkan?" tanya Nous ke Ashnard.


"Ya, ini." Ashnard menyerahkan tiga jamur pada Nous. "Bagaimana?"


Nous mengesah kecewa. "Cuman segini?"


"Yang penting dapat daripada tidak sama sekali."


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya sang pemancing.


"Aku menyuruhnya untuk mengumpulkan jamur yang tidak beracun," jawab Nous.


"Bukan, maksudku, apa yang sebenarnya kalian lakukan disini?"


Ashnard menjawab, "Kami sedang berpetualang. Benar, kan?" Ia melirik ke Nous.


Nous hanya diam saja.


"Kalian berdua terlalu kaku, bagaimana kalau memancing bersamaku? Memancing akan membuat kalian lebih bersantai," ajaknya.


Nous melirik ke Ashnard, dan menyadari jika ini kesempatan yang bagus untuk mengajari Ashnard untuk memancing.


"Boleh."


Ashnard terkejut. "Eh? Tidak lanjut?"


"Ini salah satu cara untuk bertahan hidup. Kau harus belajar cara memancing," jelas Nous.


Pemancing itu lalu memberikan salah satu alat pancing cadangannya pada Nous. Nous memasangkan umpan pada kail pancingnya, kemudian melemparkannya ke sungai.


"Perhatikan baik-baik, Ashnard. Jangan lempar kailmu terlalu jauh atau terlalu dekat. Perhatikan juga agar tidak terlalu dekat dengan bebatuan dan cabang tanaman di sekitar, itu bisa membuat kailmu tersangkut atau putus."


"Mengerti," jawab Ashnard sedikit malas.


Sambil mengatur kembali tali pancingnya, pemancing itu berkata, "Omong-omong, namaku Finn."


"Aku Ashnard."


"Aku tak peduli," balas Nous cuek.


"Uhh ... misterius. Sungguh tidak sopan," cibir Finn. "Apa kalian juga dari kota Pardom?"


"Tidak, kami dari Winfor," jawab Ashnard. Nous melempar pandangan mata tajam pada Ashnard.


"Oh, Negeri Angin. Aku sangat ingin pergi ke sana. Kudengar angin di sana lebih sejuk dari angin manapun. Rasanya seperti sebuah negeri yang damai, kan?"


"Jadi, kau dari Pardom?" Nous bertanya pada Finn.


Pria itu mengangguk. "Sebenarnya aku sedang mencari lokasi memancing di luar kotaku, lalu tanpa sengaja aku menemukan sungai ini."

__ADS_1


Tiba-tiba ada sesuatu tersangkut pada kail Nous. Dari tenaganya, ia tahu kalau itu adalah ikan. Nous pun segera menariknya dan berhasil mendapatkan seekor ikan.


"Kau paham? Sekarang giliranmu." Nous lalu memberikan pancingannya pada Ashnard.


Ashnard mengikuti apa yang telah Nous tunjukkan. Walaupun sederhana, tapi menunggu ikan datang adalah yang paling menyebalkan bagi Ashnard.


"Aku harus tunggu berapa lama?" tanya Ashnard merengut.


"Baru juga mulai. Kau harus sabar, nak. Memancing itu berarti kau harus tenang dan sabar. Bersantailah sambil mendengarkan musik alam: bunyi burung, deruan sungai, dan daun yang bergesekkan," jelas Finn.


"Padahal lebih mudah seperti ini." Ashnard menggunakan elemen airnya untuk membuat gelembung air yang memerangkap ikan dan melemparkan ikan tersebut ke padanya. "Dapat!"


Nous dengan cepat mengambilnya, lalu melemparnya kembali ke sungai. "Jangan pakai kekuatanmu!" bentaknya.


"Oh, jadi kau Elemagnia. Hebat sekali," ucap Fin terkejut saat Ashnard menggunakan kekuatannya.


"Aku sebenarnya tak ingin memukulmu, tapi jika kau terus melakukannya, kesabaranku akan habis," geram Nous.


"Ayahmu benar, nak. Menggunakan kekuatan itu merusak kesenangan. Kadang kala, kau hanya harus menggunakan hatimu saja, tentu dengan bantuan alam juga," timpal Finn.


Ashnard merengut kesal, karena tak ada yang membelanya. "Dia bukan ayahku."


"Oh, bukan?"


"Kami hanya berpetualang bersama. Ayahku yang sebenarnya telah lama pergi, sebelum aku lahir," Ashnard menjelaskan.


"Maaf."


"Tidak apa. Anak ini memang sedikit nakal. Dia berkata ingin sekali berpetualang, tapi belajar cara bertahan hidup saja dia tak mau," ejek Nous.


"Hei, kau tak boleh menyebarkan rahasiaku!" teriak Ashnard.


Beberapa jam telah berlalu. Ashnard sudah melakukan tugasnya dengan baik. Ia berhasil mendapatkan sejumlah ikan dengan tanpa kekuatan. Murni usahanya sendiri.


Tapi, karena itulah, sekarang ia menjadi bosan. Ashnard duduk bersandar di bawah pohon rindang sambil menunggu Nous mengumpulkan kayu.


Finn yang melihat Ashnard melamun karena bosan, mendekatinya dan berkata, "Hei, nak. Apa kau suka cerita?"


Mata Ashnard seketika berbinar seperti bintang paling terang di langit. "Apa itu cerita tentang petualangan?"


"Tidak."


Api semangat di mata Ashnard kembali redup.


"Tapi, ini cerita yang terkenal di kalangan para pemancing. Legenda tentang makhluk misterius penghuni perairan, apa kau tak penasaran?" tanya Finn sambil membuat suara dan gerakan yang terkesan dramatis.


Ashnard lebih penasaran daripada kucing yang mendengar suara gemerisik. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan.


"Ada sebuah legenda, di mana saat kau memancing tepat pada saat malam bulan purnama. Kau tidak akan mendapatkan ikan, melainkan kau akan mendapatkan seorang wanita yang cantiknya melebihi wanita manapun."


"Seorang wanita?" heran Ashnard.


"Roh air. Rambutnya halus dan panjang seperti air terjun. Matanya sebiru permukaan air yang memantulkan cahaya bulan. Kulit telanjangnya pucat tapi lembut."


"Te-telanjang?"


"Ya. Kau bisa melihat buah dadanya dengan jelas," ucap pria itu tersenyum nakal.


"Kau ternyata orang yang mesum."


"Kau masih kecil, nak. Suatu saat nanti kau akan paham apa yang sebenarnya kau inginkan. Lagipula, bukan itu saja, roh air tersebut akan mengabulkan permintaan siapapun yang berhasil memancingnya."

__ADS_1


"Itu cuman cerita, kan?"


"Itu cerita nyata. Teman sesama pemancingku pernah bertemu dengan roh air tersebut. Dan keesokan harinya, mereka mendapatkan keburuntungan yang luar biasa."


"Jika kau berhasil menangkapnya, apa yang ingin kau minta dari wanita itu?"


"Aku? Kalau aku ingin menjadikannya sebagai istriku," pria tersebut mendengus sambil melipat tangannya.


"Yap. Kau orang yang mesum."


Tak lama kemudian, Nous datang membawa tumpukan kayu di tangannya.


"Di depan sana, aku menemukan air terjun dan tempat yang cocok untuk bermalam," ucap Nous.


"Kau mau ikut, Tuan Finn?" ajak Ashnard ke Finn. Sekali lagi, Nous menatap tajam pada Ashnard, tapi Ashnard mengabaikannya.


"Tentu. Berpetualang akan terasa menyenangkan saat bersama-sama, kan?" Finn setuju.


Mereka pun mengemaskan semua barang-barang. Kemudian beranjak ke depan.


Tempat yang dimaksud Nous, ternyata cukup jauh. Membutuhkan waktu yang sangat lama untuk sampai ke sana. Jalanan sedikit menurun dan berbatu, Nous memegang tangan Ashnard untuk membantunya agar tak terjatuh. Tapi, Ashnard menepisnya setelah berhasil lewat. Ia hanya tak ingin dianggap seperti anak kecil yang perlu perhatian 24 jam.


Setelah melewati bebatuan dan pepohonan yang lebat. Sampailah mereka di sebuah kolam kecil. Air terjun mengalir dari sebuah lubang di dinding jurang ke kolam tersebut.


Api unggun didirikan di sekitar kolam sebelum matahari beranjak pergi. Sementara Ashnard memindahkan batang kayu yang sudah ditebang menggunakan pedangnya.


Nous memberi tahunya untuk memilih kayu yang kokoh dan tak berongga. Ia juga memberitahu Ashnard cara menebanh pohon tersebut agar hasilnya rapi dan bisa digunakkan sebagai dudukkan. Batang kayu pun tersebut di letakkan melingkari api unggun.


Ashnard yang kelelahan duduk di batang kayu setelah bekerja keras menebangnya. Ia melirik ke Nous yang sedang mengasah pisaunya. "Hei, kau kan orang dewasa-"


"Jangan panggil aku 'hei', itu tidak sopan. Kau tahu namaku, kan?" sahut Nous.


"Kenapa kau tak membawa busur legendarismu? Sefenfor, Reibo, dan Zefiria, semuanya selalu membawa senjata mereka, tapi aku tak melihat senjatamu."


"Busurku patah saat aku tanpa sadar menyerang Reibo di gunung," jawab Nous.


"Kau tak meminta Reibo memperbaikinya lagi?"


"Tidak."


"Kenapa?"


Nous berhenti mengasah pisaunya. "Kenapa kau tiba-tiba cerewet?"


Ashnard tersentak. "Aku hanya penasaran saja."


Nous menghela nafasnya panjang. Sebenarnya ia tak ingin mengatakannya, tapi lebih baik Ashnard mengetahuinya daripada tidak.


"Kau ingat perkataanku sebelumnya, kan? Tugas kami sebagai penjaga sudah berakhir. Reibo menyuruhku untuk beristirahat. Mempunyai rumah dan keluarga atau semacamnya. Sebenarnya bagiku itu sulit, tapi aku memikirkan perkataannya, karena itu aku membuang senjataku," jawabnya.


"Aku juga bertanya pada Zefiria soal itu."


"Apa jawabannya?" tanya Nous penasaran.


"Dia juga ragu apakah bisa melakukannya atau tidak," jawab Ashnard.


Nous sedikit terkejut, lalu tersenyum. "Padahal wanita itu sangat mengidamkan menikah dengan Sefenfor. Aku tak percaya dia masih ragu juga ternyata," kata Nous. "Kurasa kami semua masih sulit untuk beradaptasi setelah kegelapan pergi."


"Hei, Nous, aku ingin membantu kalian. Kalian telah melindungi Winfor selama ribuan tahun, kalian layak untuk mendapatkan kehidupan yang pantas. Karena itu, aku akan membantu kalian," ucap Ashnard bertekad.


Nous tersenyum, tapi lebih lebar dari sebelumnya. "Kalau kau ingin membantu kami. Kau harus menjadi lebih kuat dari kami terlebih dulu."

__ADS_1


__ADS_2