The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Asal dan Akhir Sebuah Jiwa


__ADS_3

Ashnard bertanya-tanya apa maksud dari mengujinya tersebut. Jika bertarung, pastinya dia akan kalah saat ini. Ashnard tidak dalam kondisi yang pas dalam bertarung. Apalagi lawannya bukanlah manusia biasa.


"Maaf, tapi aku harus menolaknya," jawab Ashnard.


Pria itu tersenyum, lalu berbalik. "Ikuti aku."


Saat Ashnard mendengar pria itu menyuruh mengikutinya, Ashnard berpikir maksudnya adalah mengikuti dia ke arena yang luas untuk memulai pertarungan. Setelah dia keluar dari lorong yang lebih sempit daripada lorong di akademi dan hanya berisi obor di sepanjang sisi tembok, cahaya di ujung jalan mulai tampak. Cahaya itu membuka mata Ashnard untuk melihat lebih luas sebuah ruangan dimana barisan roh berakhir.


"Tempat apa ini?" Ashnard berhenti di tengah jalan yang terbuka. Baru menyadari bahwa dia dan penjara tempatnya dikurung berada di sisi bangunan yang melayang. Ashnard tidak tahu itu karena cara dia masuk dan dia keluar berbeda.


"Aula Pengadilan," jawab Alfeus.


Pria bermata putih itu berdiri di sebelah Ashnard sambil berpegangan pada pagar batu. Dia mengikuti apa yang Ashnard lihat. Roc dan Ein pun sama.


"Ketika roh memilih menuju alam selanjutnya. Mereka akan diadili terlebih dahulu. Untuk menentukan alam mana yang sesuai dengan mereka."


Ruangan besar itu sangat luas seperti arena pertarungan, namun tidak ada kursi penonton. Lantai yang para roh pijak terbuat dari batu kaca berwarna perak. Bening dan mengkilat, itu agar dapat memperlihatkan apa saja yang telah dilalui oleh seseorang sepanjang hidupnya.


Dinding bagian dalamnya terbuat dari tembok yang sama. Yang membuatnya berbeda adalah ukirannya. Ukiran tersebut sangatlah besar, membentang di seluruh dinding. Bahkan dari posisi Ashnard sekarang, dia bisa melihat dengan jelas ukiran yang ada jauh di seberangnya. Ukiran perjalanan hidup manusia. Di mulai dari benih, embrio, bayi, anak, remaja, dewasa, tua, hingga menjadi roh yang akan pergi ke tempat selanjutnya.


Selain itu, hanya ada sebuah pintu besar di mana para roh masuk. Kemudian satu roh berhenti tepat di tengah ruangan, dimana ada sebuah platform berbeda. Platform berbentuk seperti bunga itu bersinar saat roh itu menginjaknya.


"Dimana para hakim yang akan mengadili mereka?" tanya Ashnard yang sudah melihat ke kiri dan ke kanan, tapi tidak menemukan apa yang dia cari.


"Tidak ada hakim. Semua pengadilan akan dilakukan oleh roh itu sendiri. Semua nilai-nilai, tindakan, perubahan, dan pemberian akan langsung diproses saat mereka berpijak di Mimbar Pengadilan. Semua perjalanan hidup mereka yang akan menentukan akan ke mana mereka selanjutnya."


"Kenapa?"


"Karena jika ada hakim, itu berarti pasti akan ada kecurangan. Meskipun hanya diberikan satu tujuan, itu akan membuatnya semakin sulit karena akan ada banyak kemungkinan dalam suatu pengadilan. Pengadilan adalah keadilan itu sendiri, kau tahu itu, bukan? Memberikan tanggung jawab pengadilan itu sendiri kepada mereka adalah hal yang adil."


"Bisa saja mereka berbohong kalau telah melakukan perbuatan baik," sahut Roc.

__ADS_1


"Kalian tahu apa yang dekat dengan keadilan? Kejujuran. Kalian tidak bisa berbohong di pengadilan. Diri kalian sendiri yang akan menjadi saksi, terdakwa dan hakimnya. Mata, mulut, kaki, tangan, hidung, telinga, kulit, rambut. Semua bagian tubuh kalian akan memberikan saksi. Sampai disini kalian sudah paham?"


Ashnard melempar kembali pandangannya ke depan. Cahaya yang bersinar di platform tersebut tiba-tiba redup. Lalu, pijakannya hilang, menandakan pengadilan sudah selesai. Roh tersebut jatuh ke dalam lorong yang membawanya ke alam berikutnya.


Alfeus melanjutkan jalannya. Tanpa aba-aba darinya, Ashnard dan yang lain mengikutinya kembali ke lorong yang tertutup.


"Kamu adalah keanehan yang pertama kali kulihat."


Di sebuah ruang dengan nyala api perapian, Alfeus melambaikan tangannya di udara. Muncul sebuah proyeksi cahaya dari sebuah benda berbentuk pipa yang muncul ujungnya saja di lantai. Proyeksi itu membentuk sebuah gambar titik cahaya kecil. Menyadari Alfeus akan menjelaskan sesuatu dari proyeksi tersebut, Ashnard beserta yang lainnya melingkari proyeksi.


"Titik ini adalah manusia yang belum dibuat wujudnya. Masih sebuah inti yang akan menyatukan berbagai macam hal. Inti ini adalah jiwa. Bentuk sesungguhnya dari jiwa seseorang. Sebelum berbentuk seperti Roc, semua jiwa masih seperti ini. Sebuah jiwa diciptakan untuk menjadi katalis terciptanya sebuah raga. Jiwa juga mampu untuk menyimpan kekuatan seperti elemen. Jika ada seseorang yang bertanya, lebih dulu ayam atau telur. Jawabannya adalah jiwa."


Proyeksi itu lalu berubah yang mulanya sebuah titik kecil menjadi bentuk manusia putih polos seperti Roc. Jiwa yang belum memiliki tubuhnya.


Alfeus memperhatikan Ashnard dan Roc. Dia ingin mereka tidak melewatkan ini. "Dan sekarang begini. Kalian berdua awalnya diciptakan untuk dua individu yang berbeda. Roc menjadi Roc dan Ashnard menjadi Ashnard. Namun, Roc justru diarahkan untuk pergi ke tubuh Ashnard daripada tubuhnya sendiri. Yang menyebabkan jiwa kalian berada dalam satu tubuh yang sama."


"Tunggu sebentar!" sergah Roc. "Justru tubuh itu untukku, bukan untuk Ashnard. Aku melihatnya sendiri. Jiwa Ashnard yang tiba-tiba mendahuluiku masuk ke dalam gerbang."


Roc bingung. "Salah tujuan? Bagaimana bisa aku salah tujuan? Tiba-tiba, ada retakan yang menyerapku ke dalam lorong dan membuatku terbang lurus tanpa bisa kukendalikan. Aku saja tidak bisa menuju kemanapun dan kau bilang kalau aku salah tujuan."


"Memang benar, Roc. Kau salah tujuan. Kau adalah jiwa dari dunia lain yang dibawa ke dunia ini, kan? Kau seharusnya spesial. Kau seharusnya dipindahkan beserta tubuh asli ke dunia ini, bukannya ke tubuh seorang bayi. , dan jiwamu tidak melalui titik kecil. Jiwamu seharusnya sudah utuh, tidak kosong seperti sekarang. Ada seseorang yang membuat ulang jiwamu, tapi tidak memperhatikan semua ingatan yang tersimpan dalam jiwamu."


Hanya satu orang yang ada dipikiran Roc mengenai ucapan Alfeus, dan orang tersebut adalah Dewi Ilna yang membawanya kesini.


"Bukan. Bukan dia. Dewi Ilna hanya bertugas untuk menyambut dan memandu roh saja. Dia tidak memiliki kekuatan seperti itu-" Alfeus berhenti saat melihat kepalan tangan Roc yang semakin menguat. "Meskipun kau ingin menemuinya, kau tidak akan bisa menemuinya. Kusarankan kau untuk berhenti sebelum kau mulai. Karena keberadaanmu saja sudah menjadi hal yang tidak lazim di dunia ini. Mulai sekarang, terbiasalah tinggal di tubuh Ashnard."


Ashnard langsung menyadari kalau Alfeus sebenarnya hanya menyembunyikan sesuatu darinya, dari Roc. Ashnard berpikir bahwa Alfeus tidak mungkin mengatakan sesuatu untuk memperjelas dan tiba-tiba berhenti tidak melanjutkan sisanya. Jika Alfeus ingin membawa mereka semua ke suatu tempat untuk menjelaskan sesuatu tentang jati diri mereka, seharusnya dia menjelaskan semuanya, bukan sepotong-potong.


Dia adalah Duw Marnaeth. Manusia yang menjadi pelayan dewa. Alfeus hanya ingin melindungi dewa yang dia layani. Tindakannya adalah hal yang benar dilakukan oleh seorang pelayan pada majikannya.


"Ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan pada kalian. Aku tidak bisa memulangkan kalian. Kalian harus ada di sini, terutama Ashnard dan Roc." Tiba-tiba, pintu ruangan tertutup.

__ADS_1


"Tunggu? Kenapa kita tidak boleh pergi?"


"Kau, Ashnard, sudah bertemu dengan Dewi Mimpi. Pertemuanmu dengannya adalah suatu hal yang ceroboh. Dia curiga pada keberadaanmu. Dia bisa membahayakanmu. Di luar sana, mereka bisa menemukanmu. Tapi, disini tidak."


"Apa maksudmu? Siapa yang kau maksud mereka?"


"Mereka-"


Getaran tiba-tiba muncul, semakin meningkatkan kepanikan di antara Ashnard dan yang lainnya. Getaran itu awalnya samar namun terasa sangat jelas. Langit-langit akan runtuh seperti gempa. Tapi, ini bangunan di atas langit.


Lalu, getaran semakin kuat saat bunyi dentuman terdengar. Bunyi itu juga semakin keras. Bunyi itu yang membuat Aula Pengadilan berguncang hebat. Dan perlahan bunyi itu terdengar sangat dekat. Seolah tepat di belakang Ashnard.


Dentuman yang sangat kuat seperti sebuah energi yang dikumpulkan sangat banyak lalu dilepaskan semuanya, membuat dinding di belakang Ashnard hancur.


Dengan senyuman lebar yang memperlihatkan gigi-gigi tajamnya, adalah sosok tinggi besar yang merupakan dalang dibalik guncangan tersebut. Matanya semerah darah. Ada dua tanduk panjang di kepalanya yang sangat mencolok.


Makhluk yang berdiri di antara puing-puing dinding meletakkan sebuah sabit raksasa di bahunya seolah ingin menyombongkan dirinya.


"Lihat siapa disini? Sepertinya aku menganggu obrolan tidak penting kalian." Suara seorang pria yang kasar dan berat terdengar dari mulut tengkorak merah.


Alfeus langsung tahu dengan sosok yang menghancurkan ruangannya tersebut. Mata putihnya langsung berubah tajam. "Haidon! Apa yang telah kau lakukan?"


"Aku tidak meminta maaf atas kerusakannya, Tuan Alfeus. Aku hanya ingin mengambil tamumu."


Makhluk bernama Haidon itu menjentikkan jarinya, seketika muncul ketiga sosok bertudung dari belakangnya yang bergerak sangat cepat. Salah satunya Ashnard sangat ingat, yaitu orang yang mencuri Mata Petunjuknya. Orang itu langsung menculik Ashnard dan yang lainnya membawa Ein dan Roc. Gerakan mereka sangat cepat hingga Alfeus hanya berhasil mendapatkan secuil robekan jubahnya saja sebelum mereka pergi.


"Sial! Haidon! Apa kau tahu apa yang telah kau perbuat? Mereka bukan roh, mereka hanya anak-anak. Jika kau membawa roh yang bukan kesepakatan, kau melanggar perjanjian kita!"


"Ya, ya. Perjanjian. Terserahlah. Pfft! Dari awal, mereka itu sudah milikku, kau tahu!"


Haidon melompat ke belakang sekaligus membuat angin besar dengan sabitnya yang diputar. Angin itu membuat batu-batu terbang yang kemudian menghalangi Alfeus untuk menggunakan kekuatannya.

__ADS_1


"Selamat tinggal, pelayan dewa payah!"


__ADS_2