The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Kehilangan Mimpi


__ADS_3

"Karena keberadaan kita yang cukup kuat bagi manusia, kita tidak diperbolehkan memiliki Duw Marnaeth. Apa yang kau akan lakukan untuk mengurusi masalah itu? Ibu pasti tidak akan senang dengan keputusanmu."


Untuk itu, Erida tak memiliki jawaban yang pasti. Dia hanya bisa menatap kakaknya dengan serius tanpa ada hasil apapun di pikirannya.


Tiba-tiba, mereka merinding saat di langit terdengar suara lonceng yang sangat keras bahkan menutupi seluruh suara bising di Dunia Mimpi. Suara itu begitu menggelegar di langit, padahal hanya suara dering lonceng saja. Tapi, kedua kakak beradik itu tahu bahwa suara tersebut adalah suatu pertanda. Pertanda bahwa mereka dalam masalah besar.


Suara lonceng tersebut adalah peringatan bagi Eristhiar dan Erida. Alfeus tidak tahu apa maksud dari suara itu. Dia bersikap tenang sambil mengamati langit, sementara kakak beradik itu gemetaran ketakutan setengah mati. Wajah pucat mereka sudah menunjukkan pada Alfeus bahwa suara itu pasti pertanda sesuatu yang buruk.


"Apa yang harus kita lakukan, kak?" tanya Erida yang meremas ujung pakaian kakaknya. Suaranya gemetar seperti orang sakit.


"Kita ... sebaiknya kita tidak usah melawan. Kita turuti perintahnya dan datang seperti biasa. Kau harus tenang, Erida. Manusia ada banyak. Kau harus bisa melepaskannya," jawab sang kakak, membuat Erida kecewa.


"Aku tak bisa!"


"Tidak ada pilihan lain! Mereka tahu lebih cepat daripada yang aku perkirakan. Kita harus menuruti perintah. Suara lonceng di langit adalah tanda dimulainya hukuman kita. Aku dihukum juga karena aku membawa dia masuk ke alamku."


"Aku tidak bisa membiarkan mereka membawa Alfeus," gumam Erida. Tangannya sudah tidak gemetaran lagi. "Di dunia manusia, para dewa tidak akan ikut campur, bukan?"


Eristhiar tahu ke arah mana tujuan yang akan dilakukan adiknya. Ada sebuah peraturan dimana para dewa dilarang menginterpresi segala urusan manusia. Mereka dilarang ikut campur atau memberikan pengaruh secara langsung kepada tidak hanya satu manusia saja, tapi seluruh peradaban. Bahkan, mereka dilarang untuk menginjakkan kaki di bumi kecuali jika ada kepentingan yang sangat penting.


Eristhiar meyakini jika adiknya akan mengembalikan Alfeus ke dunia asalnya. Dengan begitu, para dewa tidak akan bisa mengambilnya kecuali satu hal. Para dewa akan bisa mengambil Alfeus saat jiwanya berada di alam mimpi atau saat dia mati.


"Itu akan sia-sia, Erida! Pada akhirnya semua akan mati!"


"Tidak jika aku menahan jiwanya."

__ADS_1


Seketika, Erida menghadap ke Alfeus yang sedikit kebingungan. Ini adalah perjumpaan terakhir mereka. Karena setelah ini, tidak ada harapan apapun yang bisa dia pegang. Erida tak ingin perpisahan ini menjadi perpisahan yang menyedihkan, tapi dia sendiri tak bisa menahan sebuah tetesan air di matanya.


Erida tak bisa melihat wajah sang pria yang gelisah dan khawatir. Setelah dipikirkan lagi, ini pertama kalinya seorang manusia mengkhawatirkan Sang Dewi Kematian. Hal itu membuat hati Erida cukup senang. Namun, semua ini harus berakhir dengan cepat.


Erida mengangkat tangan kirinya ke arah Alfeus. Lalu, di belakang Alfeus muncul sebuah portal hitam yang menghisap semua yang ada di depannya.


Walaupun angin terus menarik tubuhnya, Alfeus yang berusaha untuk terus maju, berusaha meraih tangan Erida. Berusaha menggapainya agar dia dan wanita itu tidak dipisahkan.


Erida adalah Sang Kematian. Dia sudah biasa melihat satu per satu manusia pergi. Namun, saat dia melihat Alfeus berusaha sekuat tenaga agar tidak terisap ke dalam portal, hatinya terasa sakit. Dia bisa saja meraih tangan Alfeus yang terus terayun sia-sia di udara, tapi dia tak melakukannya. Dia menahan diri hingga akhirnya kaki-kaki manusianya sudah tidak kuat lagi untuk bertahan.


Sebelum Alfeus tertelah sepenuhnya ke dalam portal, wanita itu menangis sambil memberikan senyuman penuh akan kebahagiaan dan kesedihan. Dia lalu berkata, "Maaf." Sampai pada akhirnya, pandangan mata Alfeus gelap total.


Kegelapan itu tampaknya karena matanya tertutup. Saat dia membuka matanya, dia terbangun di sebuah kamar. Kamar yang dia sewa bersama Erida saat di kedai. Tapi, tidak ada Erida di sisinya atau di tempat manapun yang dia temukan. Hari sudah menjadi pagi, dan semua yang terjadi dan masih ada di ingatannya itu terasa seperti mimpi. Mimpi tetaplah menjadi mimpi. Karena itu, apapun yang dia lakukan untuk bisa bertemu kembali dengan Erida dan Eristhiar hanya sebuah kesia-siaan saja.


Walaupun setelah terbangun dia tetap bersikap normal seperti tidak terjadi apa-apa, wajahnya tetap menunjukkan kegelisahan yang masih dia pikirkan. Teman-temannya bertanya apa yang terjadi saat malam itu dan bagaimana tentang wanita itu.


Senyuman dan ekspresi wajah yang menyedihkan itu mengingatkan teman-temannya saat Alfeus kehilangan adiknya. Sama seperti waktu itu, teman-temannya ada untuk menghilangkan kesedihan dan membawa kembali keceriaan Alfeus.


Hari berganti minggu. Kehidupannya berjalan normal kembalu seperti sebelum bertemu Erida. Namun, hanya satu yang berubah darinya. Ketika dia mencoba untuk tidur dan pergi ke Dunia Mimpi, dia tidak bisa bermimpi. Dia tidur dan bangun tanpa bermimpi. Tidak ada hal di alam bawah sadarnya kecuali kekosongan. Dia tidak ingat apapun selama bermimpi itu. Tahu-tahu hari sudah pagi dan dia terbangun. Alfeus berpikir jika Eristhiar sengaja membuatnya tidak bisa bermimpi agar Alfeus tidak lagi berurusan dengan dunia lain.


Itulah kenyataannya. Eristhiar sengaja melakukan itu atas perintah adiknya, sekaligus keinginannya sendiri. Jika Alfeus bisa kembali ke Dunia Mimpi, maka nyawanya akan terancam oleh para dewa. Alfeus menjadi mudah untuk dibawa saat di Dunia Mimpi karena peraturan untuk tidak mengusik manusia hanya berlaku di dunia nyata saja.


Saat pertama kali Alfeus tidak bermimpi, dia panik sekaligus bingung. Namun, akhirnya dia terbiasa setelah berhari-hari tidak bermimpi. Selama berminggu-minggu dia menjadi manusia yang tak memiliki mimpi, hingga berlanjut selama satu bulan.


Ketika manusia tidak lagi bermimpi, saat itulah kebahagiaannya sudah hilang. Selama sebulan penuh tidak bermimpi, Alfeus berubah menjadi pribadi yang pendiam. Suka merenung dan jarang sekali mengobrol. Cahaya di wajahnya pudar, seperti matahari yang redup karena gumpalan awan.

__ADS_1


Mimpi yang direnggut seperti jiwanya telah dicabut oleh Kematian. Tidak ada kehidupan di dalam wadah yang disebut dengan tubuh tersebut. Kekosongan ini disebabkan oleh kekuatan diluar batas manusia, Alfeus tidak bisa melakukan apapun untuk mengembalikan mimpinya. Begitu pula teman-temannya yang hanya bisa ikut bersedih melihat Alfeus seperti orang mati yang berusaha untuk hidup.


Mereka hanya tahu penyebab perubahan drastis dari Alfeus adalah wanita misterius di kedai. Pertama kalinya Alfeus mendapatkan seorang wanita tidak berjalan baik, tentu saja mengakibatkan kesedihan yang sangat mendalam. Mereka tahu tentang hal itu. Namun, yang mereka tidak tahu adalah kesedihan Alfeus tidak sesedarhana dicampakkan oleh seorang wanita.


Mimpinya telah lanyap, namun masih ada satu yang tidak lenyap darinya. Yaitu jiwa ksatrianya. Meskipun sikapnya berubah, namun Alfeus tetap menjalankan tugasnya dengan penuh hikmat sebagai ksatria sejati.


Tugasnya semakin hari semakin berat hingga puncaknya adalah perang.


Kala itu, negeri tempat Alfeus mengabdi terletak tepat di jalur strategis untuk kepentingan komunikasi dan transportasi. Sayangnya, negeri Alfeus sangat kecil dan rapuh. Rentan di serang maupun di ambil alih oleh pasukan musuh.


Karena letak tersebut membuat negerinya berada dalam posisi yang sangat tidak menguntunhkan. Perang bisa saja terjadi tepat di tengah negeri. Negara-negara tetangga menolak untuk memberikan bantuan karena akan sia-sia jika melawan. Negara-negara tersebut menyarankan untuk berkoalisi dengan salah satu negara yang sedang berseteru. Namun, tidak semudah itu untuk memilih kawan mana untuk dijadikan rekan.


Perang adalah tempat yang mengerikan. Sebuah mimpi buruk di mana segala kemungkinan bisa terjadi. Adu domba, pengkhianatan, dimanfaatkan, dikambing hitamkan, penuh tipu muslihat beserta intrik-intriknya.


Pada akhirnya, karena buntu dengan pilihan yang sulit. Negeri tempat Alfeus tidak memihak siapapun, akan tetapi memfokuskan tentara mereka untuk melindungi tanah dan kota pusat. Sambil mengawasi peperangan yang bisa berubah kapanpun untuk dimanfaatkan keadaannya.


Rencana itu berjalan cukup baik pada awalnya. Perang antara kedua kubu terpaksa harus menghindari penjagaan negeri Alfeus untuk mencegah pasukan mereka bentrok dan menjadi perang tiga pihak yang sangat merugikan semua yang terlibat.


Tanpa mereka duga, ternyata ada satu negara lain yang ikut dalam perang tersebut. Negeri dengan jumlah pasukan yang lebih besar. Mereka datang dari selatan dan membangun kemah di perbatasan


Tidak ada yang menduga kedatangan negeri tersebut, bahkan dua negara yang sedang terlibat sejak awal panik saat melihat kedatangan negara dengan pasukan yang sangat kuat.


Negeri yang baru datang itu dikenal sebagai negeri terkuat pada masa itu. Wilayahnya luas bahkan pasukannya sangat banyak. Jenderalnya yang terkenal akan kekuatannya yang besar dan selalu membawa kemenangan bagi kerajaannya.


Mereka datang di saat yang tepat karena dua negera sudah berada dalam kondisi kelelahan setelah perang pertama mereka. Namun, kedatangannya semakin memperburuk posisi negeri Alfeus.

__ADS_1


Tujuan negeri tersebut memang bukan untuk negeri Alfeus tapi untuk dua negeri lainnya. Walaupun begitu, negeri Alfeus tidak akan bisa menghindar atau bertahan lagi jika perang besar terjadi.


Saat terpojok itulah kedua negara bersatu untuk menghadapi negara terkuat. Mereka juga dengan bersungguh-sungguh meminta bantuan kepada negeri Alfeus untuk menghadapi ancaman yang sesungguhnya.


__ADS_2