The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Tiada Kata Terlambat Untuk Belajar Sihir


__ADS_3

"Apakah ada cara untuk mengalahkan makhluk yang tidak bisa mati?" pikir Ashnard yang menggunakan tongkat sihirnya sebagai pemukul dan sambil menyeret Ein menjauh dari penjagal.


"Apakah aku bisa memberikan serangan telak padanya?" pikir Ashnard lagi saat semua pukulan tongkat sihirnya terasa sia-sia.


"Apakah aku bisa bertahan sambil mengurusi gadis yang tak berdaya ini?" pikir Ashnard yang sudah terlalu lelah menyeret Ein ke segala tempat. Akhirnya dia memutuskan menggendong Ein di belakang.


"Berhentilah berpikir. Kenapa kau tak melawannya?" tanya Ein yang sengaja mengucapkannya persis di telinga Ashnard.


"Terlalu dekat!" Ashnard sudah cukup kesulitan berlari sambil membopong Ein, ditambah ulah Ein yang semakin mempersulitnya. "Aku tak bisa sihir! Jadi bagaimana caraku melawannya kalau tongkat ini tak berguna di tanganku?"


Ashnard melihat sebuah pintu di ujung arena. Dia masuk ke dalam pintu dan mengikuti lorongnya, sampai dia mencapai luar menara. Terlihat penjagal masih mengikuti ke arah mana Ashnard pergi.


"Mau kuajarkan sihir sekarang?" Ein yang masih menempelkan bibirnya di telinga Ashnard, berucap sambil mengembuskan nafas yang membuat Ashnard merasa geli sekaligus merinding.


"Bisa kau hentikan melakukan itu? Jangan bicara dekat telingaku!" tegur Ashnard sambil menutupi telinganya.


"Tak bisa. Aku terlalu capek sampai suaraku juga melemah. Aku harus sedekat mungkin dengan telingamu agar suaraku bisa terdengar. Jadi, bagaimana? Mau apa tidak?"


Ashnard sadar kalau ini salah satu keusilan Ein, tapi di depan mata Ashnard juga sudah ada penjagal yang berhasil menyusulnya hingga ke luar. Ashnard terpaksa harus mengabaikan perbuatan Ein yang menganggunya dan fokus untuk menghadapi ancaman di depannya.


Dengan ajaran Ein, Ashnard berlatih sihir di situasi yang tegang ini. Sambil menghindar kesana kemari dari ayunan pedang sang penjagal.


Di belakangnya persis adalah sebuah hutan luas yang lebat. Penuh bahaya dan tidak ada jaminan untuk selamat. Berlari ke sana mungkin terlalu beresiko. Ashnard memutuskan untuk berlarian dan menghindar di mulut hutan yang cukup terbuka.


Fokusnya terbagi banyak. Laki-laki itu harus bisa membagi fokusnya untuk menggendong Ein, menghindari serangan musuh, melihat medan, dan memperhatikan apa yang Ein ucapkan soal dasar sihir. Memang merepotkan, tapi entah bagaimana Ashnard bisa melakukannya dengan sempurna. Mungkin karena dia memiliki kesadaran lain dalam tubuhnya sehingga dia sudah terbiasa untuk membagi fokusnya dalam satu momen.


Di telinganya, suara dan nafas sang gadis berpadu menjadi setengah bisikan antara manja dan lemas. Bisikan itu menjelaskan apa saja yang Ashnard perlu ketahui soal sihir. Ashnard cukup memahami dasarnya dari buku yang sudah dia baca saat di perpustakaan. Sekarang, Ashnard hanya perlu praktiknya yang lebih sempurna dari sebelumnya.


Pertama yang Ein perintahkan adalah membuat lingkaran sihir. Dasar dari sihir. Sebuah media kreasi. Pondasi yang menopang terciptanya sihir. Hal paling utama dan sangat penting yang harus dilakukan untuk melakukan sihir. Semua penyihir berpengalaman hingga pemula menggunakan lingkaran sihir untuk menjamin sihir yang lebih akurat.

__ADS_1


Pada umumnya, penyihir berpengalaman tidak perlu menggunakan lingkaran sihir lagi untuk mengeluarkan sihirnya. Namun, lingkaran sihir digunakan untuk sihir berskala besar karena lebih aman daripada tanpa menggunakan lingkaran sihir. Lingkaran sihir selain berfungsi sebagai media, tapi juga pengaman agar tidak terjadi kecacatan pada proses pembuatan sihirnya.


Karena saking pentingnya lingkaran sihir dalam ilmu sihir, maka harus dibuat sesempurna mungkin. Harus berbentukan lingkaran sempurna tanpa cacat. Tidak boleh ada garis putus atau kelokan.


Hingga akhirnya Ashnard berhasil membuat lingkaran air di udara dengan menggunakan tongkat sihir pemberian Irina, Ibu Ein. Tinta di kertas, tongkat di tanah, atau energi elemental di langit seperti yang Ashnard lakukan. Semua hal itu bisa digunakan untuk membuat lingkaran sihir.


"Bagus. Kedua. Tuliskan apa yang kau inginkan di lingkaran itu menggunakan aksara kuno."


"Sayangnya, aku tidak hafal soal itu," jawab Ashnard yang tersenyum malu.


"Tidak masalah. Aku yang akan mengurusi aksaranya."


Ein mengangkat tangan kanannya ke arah lingkaran sihir di depan. Saat melambaikan jari-jarinya di udara, perlahan muncul tulisan aksara asing berwarna putih yang melingkar di dalamnya.


Aksara kuno atau aksara sihir tersebut yang akan menjadi perintah untuk sihir yang dimunculkan akan seperti apa dan untuk apa. Langkah ini sama pentingnya dalam menciptakan sihir. Karena jika tidak ada, maka sihir yang muncul akan tidak sesuai. Sama halnya ketika seorang jenderal tidak memberi perintah pada anak buahnya, yang menyebabkan anak buahnya menjadi tidak terkendali.


"Sekarang, salurkan energimu kedalam lingkaran itu untuk mengaktifkannya!"


Alasan dari kegagalan sihir tersebut sebenarnya disebabkan pada kontrol energi Ashnard yang tidak sesuai. Sehingga menyebabkan bola sihir yang seharusnya tampak seperti bola biasa menjadi bola buas yang bergerak dan memantul tiada henti. Ashnard terlalu banyak mengirimkan energi pada sihirnya. Jika kurang juga akan membuat sihir menjadi lebih cepat nonaktif atau lebih lemah. Sempurna adalah kata yang tepat yang hanya bisa Ein sampaikan.


Ashnard sulit untuk mengerti, namun tetap dia lakukan karena kondisi mendesak. Penjagal datang dengan cepat ke arahnya. Sebuah kesempatan yang terbuka. Jika dia tidak melakukannya sekarang juga, dia akan menyesali kesempatan ini. Ditambah, Ashnard merasa sudah cukup untuk berlari terus-menerus. Sudah waktunya untuk membalas.


Lingkaran menyala lebih terang tanda aktif saat Ashnard mengirimkan energinya. Sesaat kemudian, di tengah lingkaran yang menghadap ke arah datangnya sang penjagal, muncul arus air sedikit demi sedikit hingga akhirnya menyemprot ke depan.


Tekanan air yang tampak tidak terlalu besar itu tersemprot ke depan mengenai sang penjagal. Penjagal berhenti dan terdiam saat air mengenainya seperti cipratan air biasa yang tidak menyakitkan sama sekali. Lalu, kembali menatap Ashnard dan menerjang sambil mengangkat pedangnya lagi.


"Dasar payah." Kata itu terlontar dari mulut Ein yang kecewa dengan sihir Ashnard. "Seharusnya kau bisa menciptakan gelombang tsunami dari sihir itu. Aku sudah mengaturnya untukmu."


"Gelombang tsunami? Aku bahkan tak bisa melakukannya dengan energi elemental!"

__ADS_1


"Itulah kelebihan sihir. Energi elemental seperti bagian dari tubuhmu. Ada batasan sendiri yang menyesuaikan dengan kapasitas tubuhmu, sedangkan sihir tidak. Meskipun sama memakai tenaga tubuhmu, tapi tidak ada batasan dalam kapasitas kekuatan yang dikeluarkan."


Meskipun terlambat, Ashnard menyadari bahwa tadi dia terlalu sedikit mengirimkan energinya yang memberikan hasil yang tidak maksimal. Energi yang dimasukkan kecil sama dengan tidak ada tenaga yang cukup untuk mentenagai lingkarannya. Dengan kata lain, air yang dikeluarkan menyesuaikan jumlah energi yang ditransfer.


Hal itu sudah sangat jelas, tanpa perlu diperdebati lagi. Namun, Ashnard masih membela dirinya dan menyalahkan kondisi yang mendesak sehingga dia tidak mampu untuk mengeluarkan tenaga sihir yang cukup.


Ashnard bukan Roc. Saat Ein menjelaskan kesalahannya dia terdiam seperti anak kecil yang dimarahi oleh orang tuanya. Dia kesulitan untuk membalas ucapan Ein, ditambah sang penjagal tidak sedikitpun terlihat kelelahan sama sekali. Tidak ada niat untuk berhenti dan mengampuni mereka di matanya.


"Kalau saja kau membawa sesuatu yang lebih berguna daripada tongkat sihir yang tidak bisa kau gunakan."


Gerutu Ein justru memberi harapan untuk Ashnard. Dia ingat bahwa sebelumnya Ibu Ein memberikan gulungan sihirnya pada Ashnard dan sekarang Alfeus sudah mengembalikan keempat gulungan itu padanya.


"Ein, bagaimana dengan ini?" Ashnard mengeluarkan keempat gulungannya. "Ibumu bilang gunakan ini saat keadaan benar-benar terdesak, bukan? Kita sekarang sedang terdesak!"


"Kau seharusnya melakukan itu dari tadi." Melihat keempat gulungan itu saja masih ada, sudah membuat Ein merasa lega.


"Tapi, yang mana? Ada empat gulungan." Ashnard menatap satu per satu gulungan itu dengan bingung.


"Yang kanan!" Ein menunjukan gulungan paling kanan tanpa basa-basi.


"Kenapa?"


"Buka saja!" desak Ein.


Wajahnya yang selalu datar itu yang justru membuat Ashnard tidak yakin apakah pilihan ini tepat atau tidak.


Ada sebuah lingkaran sihir terlukis di gulungan yang mau tidak mau dibuka tersebut. Bentuknya sangat berbeda dari lingkaran yang Ashnard sudah lihat sebelumnya. Ada banyak garis, bentuk, dan huruf yang Ashnard tidak mengerti. Gulungan itu tampak seperti sangat kuno di mata Ashnard.


"Apa kau yakin dengan gulungan ini?" tanya Ashnard menengok ke belakang.

__ADS_1


Penjagal melihat kecerobohan Ashnard dan sudah sangat dekat untuk mengayunkan pedangnya tepat di tubuh Ashnard. Ein yang menempel di punggung Ashnard seperti cicak pada dinding, melihat bahaya di depannya dan langsung menarik Ashnard untuk menghindar.


Ein menggunakan tangannya yang memeluk bagian pangkal leher Ashnard. Tanpa peringatan, mengeratkan pelukan di leher, mencekik dengan kuat sambil memiringkan tubuhnya ke samping sehingga Ashnard kehilangan keseimbangan dan terpaksa menjatuhkan diri ke kiri. Dia seperti sedang menjinakkan hewan liar. Ein berhasil membuat hewan liar itu jatuh, meskipun kesakitan tapi nyawanya terselamatkan.


__ADS_2