The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Bahaya


__ADS_3

Cahaya lampu rumahnya menyala dengan terang. Pintu tak terkunci dan tak ada jendela yang rusak. Barang-barang juga ada pada tempatnya. Ashnard memanggil ibunya, tapi tak ada respon.


Ashnard tak tahu apa yang terjadi. Kenapa ibunya tak ada? Dan apa sebenarnya mimpinya tersebut?


Ashnard sudah mencari keseluruh rumahnya, tapi tak menemukan ibunya. Ibunya tak mungkin pergi tanpa memberitahunya apa-apa, dan meninggalkan rumah dalam keadaan seperti ini.


Kini, Ashnard sendirian di rumahnya, duduk di sisi kasurnya sambil merenung. Memikirkan apa yang terjadi saat ini. Pikiran dan hatinya masih memroses semua yang terjadi dalam malam yang singkat ini.


Ia takut jika apa yang ada dipikirannya menjadi kenyataan. Takut jika ia sekarang sendirian.


Apakah seseorang menculiknya?


Ashnard pun teringat saat kejadian di hadapan raja dan bangsawan. Ia langsung berpikir jika ini ulah para bangsawan yang membenci keluarganya.


Tanpa pikir panjang, Ashnard pun berniat untuk mengunjungi para keluarga bangsawan itu, entah dugaannya benar atau tidak.


Saat ia ingin membuka pintunya, pintu tersebut tiba-tiba terbuka dan muncul seseorang dari baliknya. Orang itu masuk dan dengan cepat menutup kembali pintunya.


Tanpa Ashnard sempat bereaksi, orang itu langsung menutup mulut Ashnard dan membawanya ke ruang penyimpanan peratan.


Mata Ashnard terbeliak saat melihat sosok itu, yaitu gurunya, Ozark. Ashnard berusaha mengatakan sesuatu dengan mulutnya yang dibungkam oleh pria itu.


"Diamlah," bisik Ozark. Ia lalu melepaskan tangannya. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya marah.


"Hah? Kau sendiri, apa yang juga kau lakukan?" Ashnard yang sama bingungnya juga bertanya sama.


"Jangan keras-keras!" Ia mendorong Ashnard ke dinding dan menekan tangannya lagi pada mulut anak itu. "Aku kesini untuk menyelamatkanmu."


Ashnard menggelengkan kepalanya, berusaha melepaskan tangan pria itu agar bisa berbicara. "Menyelamatkanku dari apa? Ibuku hilang, aku harus segera mencarinya."


Ozark menatap tajam pada Ashnard. Sinar matanya menjadi liar. "Kemana kau akan mencarinya? Kediaman Ruishorn? Asberion? Percuma! Kau tidak akan menemukan apapun disana," bisiknya sambil menggeram.


"Kau tahu Ibuku hilang? Kau tahu dimana Ibuku berada?" desak Ashnard.


"Aku tak memiliki jawabnya, tapi aku yakin Ibumu baik-baik saja," jawab Ozark.


"Bagaimana kau bisa tahu Ibuku baik-baik saja? Apa kau yang menculik Ibuku?"


"Jika aku yang melakukannya, aku tidak akan kembali ke sini dan memberitahumu. Ada seseorang yang mengincarmu, kau tahu? Kau berada dalam bahaya."


"Bahaya?"


"Dengarkan aku, apa kau memberitahu soal elemen keduamu pada orang lain?" giliran Ozark yang bertanya.


"Aku hanya memberitahu Liliya, Ibuku dan para Penjaga Angin," jawab Ashnard. "Tapi, aku tidak mengatakan apapun saat sidang."


Mata Ozark melebar. "Mungkinkah ada seseorang yang diam-diam mengetahuinya?"


Ashnard merasa takut dan bingung sekaligus. "Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Kekuatanmu, ada seseorang yang mengincarmu demi kekuatan tersebut. Kurasa mereka bergerak dalam bayang-bayang."


"Jadi ... Ibu terlibat gara-gara aku punya dua kekuatan?" ucap Ashnard hampir menangis. "Siapa seseorang itu? Kenapa mereka melakukannya?"


"Untuk dapat menguasai seluruh kekuatan elemen dan karena kau mendapatkan dua, kau adalah kunci dari semua ini. Mereka menginginkanmu."


Sembari bersandar pada tembok, Ashnard merosot hingga terduduk. Menutup kedua telinganya sendiri seolah tak ingin mendengar apapun lagi. Ashnard memejamkan matanya dan memanggil ibunya, berharap ini semua mimpi dan ibunya datang untuk memeluknya.

__ADS_1


Ozark menyadarkan bocah yang sedang ketakutan itu dengan sedikit kasar. Ia menggoyang-goyangkan pundak Ashnard.


"Ashnard!" teriaknya. "Dengarkan aku. Kau harus segera pergi dari sini. Carilah tempat yang aman untuk bersembunyi."


"Tidak, tidak. Aku tak ingin pergi. Aku ingin Ibuku."


"Sadarlah, Ashnard. Kau harus mementingkan dirimu sendiri. Mereka tak boleh menangkapmu. Kalau tidak, kau akan dijadikan eksperimen dan mereka akan menggunakan kekuatanmu sesuai keinginan mereka. Menghancurkan negara atau semacamnya."


"Kenapa? Kenapa aku?" gumamnya, bibirnya gemetaran.


"Kau harus tenang sekarang. Kau harus pergi sejauh mungkin dari sini."


"Maksudmu aku harus meninggalkan rumahku? Ke mana?" Ashnard menatap melas.


"Kau harus pergi ke akademi. Di sana adalah tempat teraman untukmu sekarang. Cepat kemasi barang-barangmu."


Tapi, Ashnard tak melakukannya. Dia hanya menunduk menekuri nasibnya. Pada akhirnya, Ashnard yang berani telah dikuasai rasa takutnya.


Tiba-tiba terdengar suara dobrakan dari luar ruangan.


"Mereka datang," bisik Ozark.


Pria itu lalu membawa Ashnard ke pojok ruangan, karena tak ada jalan keluarnya lainnya selain satu-satunya pintu di depan.


Tak lama kemudian, pintu tersebut terbanting dengan sangat keras, dan dibaliknya adalah sesosok figur manusia berbalut warna hitam dan memakai topeng. Sosok yang sama saat Ashnard melawannya di pantai, tapi yang ini memakai zirah tipis berwarna hitam.


Sosok itu mengeluarkan dua buah pisau tajam dan tanpa basi-basi berlari menuju Ozark dan Ashnard.


Ozark menghentakkan kakinya, membuat sebuah dorongan angin yang menghempaskan sosok itu ke menatap atap. Lalu, ia memukul sosok itu di udara hingga menabrak tembok.


Sambil berlari, Ozark melemparkan angin ke belakang ke sosok yang mengejar. Sosok itu memotong angin dengan kedua pisaunya.


"Siapa mereka?" tanya Ashnard juga menembakkan peluru air pada mereka.


"Prajurit Noir. Mereka diberi tugas untuk menangkapmu," jawab Ozark.


Mereka pun sampai di belakang halaman. Namun, sayangnya mereka telah di kepung dari berbagai sisi oleh prajurit yang menyatu dengan kegelapan tersebut.


"Kau masih bisa bertarung, kan?" tanya Ozark ke Ashnard.


Ashnard menghunuskan Hoku. "Kurasa."


Mereka lalu saling memunggungi.


"Kau tak perlu khawatir, mereka bukan manusia."


"Aku tahu. Aku sudah mengalahkan satu."


"Kalau begitu, kau bisa memulai duluan."


Ashnard menatap ke depan dengan serius. Keberaniannya telah kembali seperti saat melawan Jurang Kegelapan. Ashnard memerintahkan pedangnya, "Hoku, terbanglah!"


Bilah tersebut terlepas dari gagangnya, melesat ke depan. Memotong para prajurit kegelapan dengan cepat, beberapa ada yang lolos.


"Hoku, membesarlah!"


Seketika bilah tersebut membesar seukuran pohon, membuat yang sebelumnya berhasil menghindar, akhirnya terkena.

__ADS_1


Ozark mendengus. "Pedang yang bagus."


Pria itu tak ingin kalah dari muridnya. Ia mengambil sebuah benda dari kopernya, berbentuk seperti burung besi yang bisa terbang setelah ia lemparkan. Burung itu tertancap pada tubuh para Noir, lalu meledak.


Ia melanjutkan dengan membuat bola angin yang mengincar para Noir yang meledak. Bola angin tersebut membuat ledakannya semakin menyebar seperti lidah api, membakar para Noir.


Ashnard sibuk dengan lawannya, hingga ia tak sadar jika musuh yang dilawan Ozark telah habis duluan. Malahan Ozark ikut membantu Ashnard menghabiskan sisa lawannya.


Setelah semuanya aman kembali, Ozark mendekati Ashnard dan berusaha meyakinkannya sekali lagi.


"Ashnard, kau mengerti apa yang aku maksud, kan?"


Ashnard terdiam, tak tahu harus menjawab apa.


"Aku tak ingin kau terluka. Kau putra Ebert, putra dari orang-orang yang kukenal. Ibumu dan Ayahmu adalah sahabatku. Ebert selalu berkata padaku ingin melatihmu berpedang. Saat aku melatihmu, membuatku teringat dengan perkataannya."


"Ayah ...."


"Kau harus pergi saat ini juga. Pergilah ke akademi. Ini demi keselamatanmu, demi Ibumu."


"Bagaimana jika aku meminta perlindungan ke para Penjaga Angin?"


"Itu belum cukup. Seseorang yang berniat untuk menangkapmu ini, memiliki kuasa dan kekuatan yang sangat besar. Kau lihat para Noir itu? Elemen kegelapan terkandung dalam tubuh mereka. Orang yang menguasai kekuatan kegelapan bukanlah orang yang sembarangan," jelas Ozark. "Untuk berlindung dari orang yang memiliki kuasa besar, kau harus berlindung di tempat yang juga memiliki kuasa besar."


Maksud Ozark tersebut, bahwa akademi memiliki kuasa yang besar, alasannya adalah tiga negara yang menyokongnya. Sebagai wilayah khusus yang berpusat pada pendidikan sihir dan seni elemental terbesar dan tersohor, tiga negara besar pasti akan melindungi akademi dari ancaman apapun dengan cara apapun. Karena itulah akademi adalah tempat yang lebih aman darimanapun untuk Ashnard. Tujuan terbaiknya untuk menghindari kejaran para musuh.


"Apa yang akan kau lakukan? Kau tak ikut denganku?" tanya Ashnard.


"Maaf, aku tak bisa ikut denganmu. Aku harus mencari orang yang menculik Ibumu. Karena itu, bertahanlah hingga saat itu tiba. Aku yakin, kau akan bertemu Ibumu kembali."


"Apa yang aku lakukan nanti di akademi?"


"Cukup bersekolah saja. Bersikaplah seperti pelajar biasa saja. Jangan terlihat mencurigakan atau mencolok di depan orang-orang. Kau juga harus terus menyembunyikan kekuatan astralmu. Intinya, jangan mencari perhatian," jawab Ozark. "Aku akan terus menyelidiki masalah ini, lalu nanti aku akan mengabarimu. Mengerti?"


Ashnard mengeratkan genggamannya, lalu menunduk.


"Bagus. Kau itu berani seperti Ayahmu, aku percaya kau akan melakukannya."


Mereka lalu keluar dari rumah secara diam-diam, melewati bayangan kota malam dan cahaya lampu. Ashnard menuntunnya ke celah dinding kota yang selalu ia lewati bersama Liliya.


"Jadi, ini caramu keluar kota selama ini," ucap Ozark.


Ashnard sudah menyiapkan barang-barang yang ia perlukan. Ia membawa pedangnya, sejumlah kue, pakaian, kain, dan surat rekomendasi akademi. Semuanya ia letakkan pada tas selempangnya.


"Apakah kau sudah membawa semuanya?" tanya Ozark.


Ashnard memeriksa tasnya sekali lagi, lalu mengangguk. "Kurasa sudah."


"Baiklah, sudah waktunya. Maaf, kau harus melakukan perjalanan ini sendirian. Ini agar tak menarik perhatian orang-orang."


"Kau sungguh akan mencari Ibuku, kan?"


Ozark tersenyum. Meletakkan tangan kasarnya pada kepala Ashnard dan mengusapnya. "Tentu saja."


"Kalau begitu, aku pergi dulu."


"Berhati-hatilah."

__ADS_1


__ADS_2