The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Jalan-jalan di Alam Lain


__ADS_3

Sebuah celah muncul dan terbuka di Ruang Kosong. Celah itu seperti udara yang retak dan membuka sebuah jalan ke tempat lain. Alfeus bisa merasakan angin dan atmosfir yang berbeda datang dari retakan tersebut.


Wanita itu mengulurkan tangannya untuk Alfeus. "Ayo, akan kutunjukkan padamu."


Langkah pertamanya menuju alam lain, disertai dengan senyuman manis seorang wanita cantik yang menggandeng tangannya. Lalu, tampak sebuah langit ungu dengan gunung dan perbukitan putih yang menjulang bagaikan punggung bulan yang mendarat. Hamparan padang luas dengan rumput aneh serta pohon-pohon yang tidak biasa membentang di sepanjang mata memandang. Ada satu-satunya bangunan disana yang melayang di ujung matanya.


Kata pertama yang keluar dari mulut Alfeus adalah, "Indah." Seindah senyuman wanita yang menatapnya dengan gembira.


"Ini adalah Alam Roh. Tempat dimana para roh berkumpul sebelum diputuskan akan melanjutkan ke alam mana. Saat aku menciptakan tempat ini, aku hanya memikirkan sebuah tempat yang tenang bagi para roh tinggal untuk sementara. Hasilnya adalah seperti yang kau lihat sekarang ini."


Alfeus melihat ke sekitar dan memang dia melihat ada banyak roh-roh manusia yang bersebaran. Ada yang berkumpul dan ada yang menyendiri. Meskipun begitu, tidak terlihat satupun roh yang berwajah sedih. Semuanya tersenyum ramah, tenang, dan menunjukkan sikap penuh kedamaian.


"Kau bisa menciptakan alam ini?"


"Tentu saja. Kau mau kubuatkan alam sendiri untukmu?"


"Tidak perlu. Terima kasih. Sebuah alam untukku ... kupikir terlalu berlebihan."


Wanita itu membuka tudungnya. Semakin memperlihatkan dengan jelas rambut hitamnya yang lurus, telinganya dan wajahnya yang tidak jauh berbeda seperti manusia pada umumnya. Dia lalu mengantar Alfeus untum melihat-lihat alam ini.


Mereka berkelilinh ke danau yang tampak seperti cermin, bukit yang berpasir putih, serta hutan unik dengan pohon yang bisa bergoyang.


Alfeus menyadari bahwa apa yang dia lakukan bersama wanita itu bisa dibilang adalah sebuah kencan. Yang membuatnya berbeda, jika kencan pada umumnya, dilakukan dengan alun-alun atau kota, mereka berkencan di Alam Roh. Pengalaman yang luar biasa bagi seorang manusia.


Selagi wanita itu bersenandung, Alfeus bisa merasakan dan melihat tangan wanita itu dengan erat menggenggam tangannya. Bahkan, Alfeus sudah menyadarinya semenjak wanita itu ingin mengajaknya berkeliling. Meskipun seluruh tangan wanita itu dingin, tapi tidak membuat Alfeus tidak merasa nyaman sekalipun.


Mereka berhenti di depan para roh yang sedang berkumpul. "Nona Kematian! Anda kembali!" sapa salah satu roh.


"Ya. Bagaimana kabar kalian? Apa kalian masih belum memutuskan untuk di adili?"


"Maaf, kami masih ingin mengobrol. Anda lihat, ini pertama kalinya aku bertemu seorang bangsawan, elf, jenderal dan wanita cantik. Aku yang hanya seorang pedagang biasa ingin menikmati cerita hidup mereka," jawab roh tersebut.


"Aku salah mengira jika seorang pedagang seperti dia tidak tahu apa-apa. Faktanya, dia lebih banyak berkunjung ke negeri lain daripada diriku yang merupakan seorang bangsawan," kata roh bangsawan.


"Saya juga masih ingin berlama-lama disini, nona. Bangsaku selalui menjauhi interaksi apapun pada manusia. Padahal mereka makhluk hidup yang menarik dan penuh tawa. Aku berharap, para elf generasi selanjutnya bisa berbaur dan belajar banyak dari manusia," sahut roh elf.

__ADS_1


"Kalian tampak akrab satu sama lain," ucap Kematian.


"Maaf menyela, Nona Kematian, tapi siapa pria di sebelah anda? Aku belum pernah melihatnya." Sang wanita satu-satunya di kelompok itu bertanya.


"Dia adalah seorang ksatria, tamuku, tuan-tuan dan nona sekalian. Aku sekarang sedang membawanya berkeliling Alam Roh," jawab Kematian.


Sontak, Alfeus langsung membungkukkan badannya dengan hormat. Semua roh yang ada di tempat itu begitu murah senyum. Tidak ada yang sedang bersedih atau bertengkar. Alfeus menyadari jika alasan dibalik semua roh yang tenang adalah Kematian itu sendiri.


Dia melihat saat proses penjemputan roh saat di pinggir jalan satu bulan yang lalu. Saat itu, Sang Kematian dengan lembut memberikan senyuman dan mengajaknya seolah-olah dia memberikan sebuah persembahan terakhir untuk mendamaikan hati tiap para roh yang ditemuinya. Alfeus tidak tahu bahwa sebuah senyuman bisa sekuat ini.


Alfeus tidak tahu dan baru-baru ini mengetahuinya bahwa Kematian ternyata lebih ramah daripada yang dia duga.


Di sepanjang jalan putih, barisah para roh memanjang hingga mencapai sebuah bangunan megah yang ada melayang di langit. Sepanjang apapun barisan tersebut, tidak ada yang mempermasalahkannya selama di dunia ini tidak ada yang namanya rasa lapar, haus atau lelah.


Sang Kematian menjelaskan bahwa bangunan itu adalah titik tertinggi dan pusat dari Alam Roh. Tempat para roh diadili untuk melanjutkan ke alam mana mereka akan dikirim. Semua bersumber dari bangunan tersebut. Karenanya bangunan itu sangatlah berharga bagi Sang Kematian.


"Dulu, ada seorang ksatria yang menjaga tempat ini untukku. Dia adalah ciptaanku. Bisa dibilang dia adalah anakku. Namun, baginya aku hanyalah seseorang yang dingin dan tak berperasaan. Dia tidak terima aku memperlakukan manusia hanya untuk dicabut nyawanya saja. Karena itu, dia meninggalkanku sendirian dan membawa sebagian besar penjaga.


"Aku tidak marah atau mengejarnya. Aku pula tidak bersedih atas kepergiannya karena aku tidak memiliki hati ...."


"... saat dia pergi, aku menganggap itu sebagai kekalahanku. Aku tidak mampu membuat ciptaanku sendiri setia padaku dan aku seorang diri kesulitan untuk mengatur segalanya. Mungkin, jika aku seorang wanita manusia, aku akan menangis."


"Jadi, apakah kau menangis?"


Wanita itu tersenyum dan menjawab, "Tidak. Kematian tidak menangis. Kematian adalah personifikasi paling kaku, paling tegas dan tidak akan pernah bisa diubah. Kematian adalah konsep paling keras daripada konsep lainnya seperti mimpi. Dan juga, adalah sosok yang paling kesepian daripada yang lainnya."


"Maaf, Nona Kematian, aku merasa semakin mengenalmu, semakin membuatku yakin jika kau lebih menyerupai manusia."


"Begitu, ya. Mungkin kau benar. Mungkin tidak ada salahnya menjadi makhluk yang selama ini ada di bawah kakiku."


Wanita itu kembali mengarahkan pandangannya ke Aula Pengadilan setelah merasa puas menatap pria di sebelahnya dan mendapatkan jawaban darinya. Apa yang wanita itu sadari setelah bertemu Alfeus adalah tidaklah buruk untuk turun ke dunia dan berinteraksi dengan manusia. Dia seharusnya melakukannya lebih awal, daripada mengutus bawahannya yang menakutkan bagi manusia.


Di saat sedang menikmati pemandangan bangunan di atas langit, muncul celah di depan mereka. Namun, celah kali ini tampak berbeda. Ada seperti urat-urat berwarna emas yang merambat dan membuka celah tersebut di udara. Dan dibalik celah tersebut muncul sosok wanita berambut putih panjang yang melayang di udara.


Wanita itu turun perlahan menghampiri mereka. Alfeus bisa merasakan aura yang kuat dan menakutkan datang dari wanita tersebut.

__ADS_1


"Aku datang untuk menanyakan langsung padamu. Apa yang sebenarnya telah kau lakukan?" Terdengar suara tegas datang dari wanita itu.


Alfeus bisa melihat mata wanita itu yang berwarna kuning keemasan menatap Sang Kematian dengan tajam.


Sementara Sang Kematian mempertahakan senyuman lembutnya selagi ditatap dengan aura membunuh. "Sudah lama kita tidak bertemu, Kakak. Bagaimana kabarmu?"


"Tidak usah berlagak manis, Kematian. Hanya karena kau lebih ditakuti oleh manusia bukan berarti kau bebas melakukan apapun."


"Apa yang membuatmu datang ke alamku, kakak?"


"Alammu? Yang benar saja! Pria itu seharusnya ada di alamku! Dia seharusnya sedang bermimpi!" Wanita dengan ornamen emas seperti cabang pohon di punggungnya itu menunjuk ke arah Alfeus.


"Apa maksudmu, kak?"


"Jangan berlagak bodoh, Kematian!" Tiba-tiba, suaranya yang keras mengguncang langit-langit seolah ingin runtuh. "Membawa manusia hidup ke alam kematian adalah sebuah pelanggaran. Kau seharusnya lebih tahu itu. Ditambah kau juga melanggar perjanjian dengan membawa jiwanya melalui proses bermimpi. Kematian tidak pernah melanggar sebanyak ini."


"Hm, kalau begitu, aku minta maaf. Kami akan pergi." Sang Kematian menarik lengan Alfeus ke belakang.


Namun, sebuah lapisan emas tiba-tiba muncul dari belakang wanita melayang itu seperti akan menelan seluruh alam. Lapisan emas itu terus bergerak hingga menutupi jalan di depan Alfeus dan Kematian. Seketika semuanya kembali ke Ruang Kosong.


"Tidak semudah itu." Muncul sebuah kurungan berbentuk bola emas yang memenjarakan Sang Kematian dan memisahkannya dengan Alfeus. Lalu, bola emas itu diletakkan di udara.


Wanita misterius itu mendarat dan berjalan mendekati Alfeus. Dia menatap mata sang pria dalam-dalam.


"Jangan ganggu dia, kakak," ujar Kematian yang tak berkutik di dalam penjara bola emas.


"Siapa kau, manusia? Kenapa kau tidak bermimpi?"


"Aku memang tidak ingin bermimpi," jawab Alfeus dengan tegas, meskipun dia merasakan aura kuat yang menekannya hingga membuat tubuhnya gemetaran.


"Tidak ingin bermimpi? Manusia bodoh macam apa kau? Apa otak kecilmu telah dipengaruhi oleh wanita dingin itu? Dengar, manusia. Kematian bukanlah sosok yang ingin didekati oleh siapapun. Dia adalah makhluk paling kejam, bengis, dingin, dan tidak memiliki ampun. Dia suka menggunakan mayat manusia untuk dijadikan sebagai alatnya saja. Dia orang aneh yang memiliki selera pada potongan tubuh manusia dan tergila-gila karenanya. Dia tidak memiliki perasaan saat mencabut nyawa manusia. Dia adalah wanita gila. Dan seharusnya kau tidak mencoba mendekati atau mengajaknya mengobrol."


Alfeus sulit untuk mempercayai semua perkataan dari wanita misterius itu. Namun, Sang Kematian yang menganggapnya seorang kakak, maka wajar saja wanita itu mengetahui lebih dalam dari siapapun.


Saat Alfeus melirik ke Sang Kematian di dalam kurungan, wanita itu tidak membalasnya. Tidak ada senyuman. Wanita itu hanya menunduk menyembunyikan raut wajahnya dalam kegelapan, begitu juga perasaan sakit hatinya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2