The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Kegelisahan Nina


__ADS_3

Di sebuah ruangan luas lengkap dengan peralatan bertarung, Nina terlihat memegang sebuah pedang sendirian menghadapi sebuah boneka latihan. Boneka latihan itu terbuat dari kayu yang dibentuk seperti bagian torso manusia. Lengannya yang dibuat dari kayu dipasang memanjang memegang sebuah pedang kayu.


Nina membentur-benturkan pedangnya dengan pedang boneka tersebut dengan penuh kekuatan. Hingga benturan terakhir membuat pedang boneka patah.


"Belum cukup," gumam Nina. Keringat membanjiri seluruh wajah gadis yang dipenuhi emosi itu.


Dia menuju ke bagian kanan ruangan. Sebuah lemari besar yang berisi banyak cadangan pedang kayu. Namun, bukan pedang itu yang Nina ambil. Nina berjalan ke sampingnya dengan sebuah rak yang lebih kecil menyimpang pedang dengan bilahnya terbuat dari logam sungguhan. Nina mengambil salah satu pedang tersebut untuk dipasangkan kembali ke lengan boneka.


Sekarang dengan pedang beso boneka dan Nina dengan pedang kayunya. Tatapannya sangat kuat seolah-olah ingin membunuh boneka tersebut dengan pedang kayunya. Ketika dia ingin mengangkat pedangnya, seseorang memecah konsentrasinya.


"Belum cukup katamu? Belum cukup apa? Apakah untuk mengalahkan Ashnard atau sebenarnya untuk mengalahkan Ayahmu?"


Eris berdiri bersandar di ambang pintu sambil melipat tangannya. Dia menatap dingin ke arah gadis yang kelelahan tersebut. Di balik kacamatanya, sebenarnya ada tatapan yang lebih ramah yang dia berikan hanya pada si gadis berambut merah.


"Oh, tumben sekali kau ke sini? Sudah selesai bermainnya dengan Abe?"


Pipi merah merona menjelaskan perasaan Eris sekarang yang bertingkah panik seolah rahasia terdalamnya telah terbongkar.


"Lupakan itu. Aku hanya istirahat saja dari kejahilannya saja."


"Oh," jawab Nina singkat. Dia kembali melemparkan pandangannya ke boneka seolah hanya boneka saja yang ingin dia tatap. Sambil menguatkan pegangannya, dia melepaskan serangan miring ke arah pedang boneka. Seketika, sebuah potongan pedang melayang di udara dan terjatuh di lantai bersama serpihannya. Nina langsung melempar pedangnya yang sudah terpotong ke lemari seperti membuang sampah.


"Kapan pesta promnya diadakan?"


Nina duduk di sebuah kursi panjang yang menempel di tembok. Sambil mengatur nafasnya sambil mengelap kening dan lehernya dengan kain kering yang diletakkan di kursi.


"Minggu depan," jawab Eris menyusul duduk di sebelah Nina.


"Kau sudah mendapatkan pasangan dansamu?"


Eris tersenyum sekaligus tertawa kecil. "Belum." Dia lalu mengeluarkan sebuah kain serbet dari saku rok seragamnya. "Kau sendiri?"


Nina hanya membalas menggeram seperti seekor kucing yang sedang marah karena sedang disinggung.


"Kau ini ...." Desah Eris menandakan kekecewaan karena terlalu tinggi menaruh harapannya pada sahabatnya. Lalu, Eris secara mengejutkan meletakkan tangannya yang memegang kain di leher Nina. Tangannya masuk di kerah baju Nina untuk menggosokkan keringat dengan kainnya.

__ADS_1


"A-apa yang kau lakukan? Aku bisa membersihkan diriku sendiri, Eris!" Nina berusaha memberontak, menarik keluar lengan Eris yang masuk ke dalam kerahnya.


Tapi, Eris terus memaksa hingga tangannya masuk semakin dalam dan semakin menyusup ke balik kain penyangga. Sekarang tangannya sedang meraba bola lembut yang tersembunyi dibalik kain berwarna biru muda. Walaupun masih memakai kain kering, tapi kain tersebut sangat tipis sehingga Eris bisa merasakan langsung tekstur bola bulatnya yang bereaksi saat disentuh.


"Gantian. Kau sudah membantuku saat di kamar mandi, sekarang giliranku mengelap keringatmu," ungkap Eris.


"Ka-kau tidak perlu membalasnya," tolak Nina.


"Diamlah." Untuk memaksanya diam, Eris langsung mencubitnya sangat keras hingga berteriak kesakitan. Eris menyadari ternyata rasanya tidak buruk juga, sehingga dia terus mencubit berulang kali sampai puas.


"Hentikan!" tepis Nina, memaksa Eris menarik tangannya. "Berhentilah melakukan hal aneh!"


Eris spontan tersenyum sambil memasukkan kembali kain ke dalam sakunya. "Aku mengerti. Kau hanya ingin Ashnard yang melakukannya, kan? Tidak apa. Tidak perlu malu." Meskipun, Nina sudah menunjukkan ketegasannya, tapi Eris tetap berani untuk menggoda gadis itu.


"Kau!" Matanya menatap berang, lalu langsung padam kembali saat Eris memasukkan tangannya di balik baju Nina, dan membelai punggungnya yang panas.


"Sudah. Sudah. Tidak perlu marah. Aku hanya bercanda saja, kok," tutur Eris dengan nada selembut angin dari lautan.


Eris menyembunyikan niatnya. Di luarnya saja, dia tampak seperti ingin menenangkan Nina, tapi di satu sisinya dia menjangkau ke yang lainnya. Ia menyusup dari atas lalu ke bawah dan langsung menekannya tepat sasaran sehingga membuat Nina tak bisa marah karena harus ada sensasi lain yang harus dia tahan.


"Kan sudah kubilang aku akan membantumu mengelap diri. Di sini juga kotor, maka dari itu ...." Dalam sekali tekanan menggunakan ujung jarinya yang berada di dalam, seluruh energi Nina tercurahkan dengan cepat. Ia langsung merasa lelah. "Cepat sekali." Sambil diputar-putar, perlahan Eris menarik kembali tangannya, lalu mengelap tangannya dengan kain keringnya.


Eris hanya menyeringai lebar, tapi Nina tahu bahwa itu jawabannya berarti iya.


"Apa kau yakin tidak mengajak Ashnard ke pesta prom? Bagaimana jika ada gadis lain yang mengajaknya duluan? Apa kau tidak cemburu?"


"Untuk apa aku cemburu?" Nina bangkit dan merapikan pakaiannya yang dibuat lusuh gara-gara Eris. "Aku harus terus berlatih sebelum kembali ke rumah. Jika perlu, kulewatkan pesta dansa itu. Kalau tidak ...." Nadanya yang awalnya penuh tekad perlahan mengecil dan pudar. Tanpa basa-basi, Nina langsung beranjak ke arah pintu keluar, meninggalkan Eris yang gelisah terhadap sikap Nina.


Sebagai orang yang sangat dekat sampai sudah seperti saudara sendiri, Eris tahu apa yang Nina pikirkan, khawatirkan, dan gelisahkan. Tanpa perlu dijelaskan sekalipun, Eris sudah bisa menebaknya dari raut wajahnya.


Kembali ke rumahnya itu tidak hanya tentang kembali pulang, tapi Nina harus menghadapi keluarganya. Ejekan, ujaran kebencian, siksaan, kekecewaan, pembuktian, penyesalan, pengabaian, dosa, kutukan, rasa sakit, beban, dan tanggung jawab semua itu akan dihadapi Nina. Sebagai satu-satunya putri keluarga Vantalion, Nina diharapkan sangat tinggi oleh orang-orang termasuk ayah dan ibunya. Jika Nina berhasil melampaui ekspetasi mereka, itu akan menjadi akhir yang bahagia, tapi jika tidak, itu akan menjadi mimpi buruk yang akan terulang kembali.


Itulah tujuan sebenarnya dia berlatih. Bukan untuk pertarungannya dengan Ashnard, tapi untuk memenuhi ekspetasi orang tuanya.


Eris kembali ke kamar karena dia tak mampu mampu menemukan Nina. Ketika pintu terbuka, ada wajah yang sangat bahagia telah menyambutnya. "Siap untuk ronde kedua?"

__ADS_1


"Tidak sekarang, Abe," ucap Eris. Wajahnya lesu. Seperti tidak ada cahaya.


Eris terus berjalan melewati Abertha sampai ia duduk di tepi ranjangnya sambil merenung. Abertha mengikuti.


"Apa ada masalah?"


"Tidak. Hanya Nina."


Eris mengabaikannya, jadi Abertha yang memanjakan dirinya sendiri ke Eris. Dia bersandar di pundak, sambil memeluk lengan Eris seperti anak hewan dan induknya.


"Pasti masalah kepulangannya itu, kan?" tebak Abertha jawaban yang sudah dia ketahui.


"Mungkin sebaiknya dia tidak jadi pulang saja. Dengan begitu, dia tidak perlu memikirkan masalah ini lagi."


"Itu juga bagus. Tapi, apakah Ashnard sudah memberikan jawabannya? Jika dia ikut, mungkin dia bisa menjadi orang yang membantu, Nina, kan? Dia orang yang peduli pada Nina."


Ucapan Abertha itu cukup masuk akal. Mungkin jangan sebaiknya patah semangat terlebih dulu. Mungkin Nina memang harus tetap kembali pulang ke rumah untuk menaklukan ketakutannya, tapi jika dengan Ashnard di sisinya, situasi mungkin akan berubah.


"Kalau begitu, aku akan menemui Ashnard. Mumpung masih sore." Eris ingin beranjak tiba-tiba ditarik kembali oleh Abertha cukup kuat hingga membuatnya terbaring di atas kasur.


Abertha langsung menindihnya sambil memeluknya. "Jangan pergi dulu. Aku masih ingin waktu panjang," ucap Abertha yang tersenyum manja.


Eris ikut tersenyum dan dengan hati yang terbuka dia mengizinkan Abertha. "Baiklah, kalau begitu. Tapi, jangan terlalu berlebihan."


"Tidak seru kalau begitu."


Sampai malemnya pun diketahui kalau mereka terus melakukannya. Nina yang pulang dari latihan, menemukan Eris yang berbaring di kasur dengan wajah yang kelelahan. Dia menyelimuti tubuhnya yang terus bergoyang dan tersentak-sentak. Nina yang tahu memilih untuk mengabaikannya karena dia sendiri sudah merasa sangat lelah. Seluruh tubuhnya terasa terbakar dan ototnya serasa tertarik oleh sesuatu yang kuat, dia merasa harus beristirahat jika tidak ingin mati karena latihan yang terlalu berlebihan.


Sementara Nina sudah menuju istirahatnya yang nyenyak, Eris masih terus bermain bersama Abertha. Di balik selimutnya, ternyata kakinya terbuka lebar dan ada Abertha yang sedang melakukan pekerjaannya. Tapi, tidak hanya dirinya saja, ada juga kekuatan airnya yang ikut membantunya. Air tersebut mengulangi sama seperti sebelumnya pada Eris saat di pemandian.


"Hei, aku ingin tidur. Bisa berhenti sekarang?"


"Tidur saja. Aku akan terus disini untuk terus melakukannya."


"Tidak mungkin aku bisa tidur sementara kau terus melakukannya."

__ADS_1


"Tidur saja, Eris. Aku akan menjagamu, sekaligus sedikit menyakitimu."


Mata Eris yang tak kuat lagi pun akhirnya terpejam, tapi tubuhnya terus bergerak-gerak karena ada dorongan dari bawahnya. Walaupun ia merasa seperti sudah tidur, tapi ia juga masih merasakan sensasi yang Abertha perbuat. Sampai pagi dia bangun kembali.


__ADS_2