The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Arena Pertarungan


__ADS_3

Tanpa menunggu lama lagi, Kepala Akademi langsung menunjuk seorang guru pria dan seorang guru perempuan.


Guru pria itu segera bangkit dan membungkuk setelah di tunjuk oleh Servulius. Namanya adalah Fleus. Tubuhnya kekar dan terlihat jelas aura petarung darinya. Cocok dengan tugas yang diberikan, yaitu wasit pertarungan.


Sementara guru perempuan yang bernama Nora, memiliki kemampuan pengobatan yang hebat. Karena itu, ia ditunjuk sebagai ahli medisnya. Juga Terenna diikut sertakan dengan alasan untuk membimbing para murid yang terlambat tersebut.


Guru-guru yang sudah ditunjuk itu kemudian mengantarkan para murid yang terlambat serta lawan tandingnya menuju arena pertarungan.


Sementara di aula, Kepala Akademi melanjutkan pembicaraannya yang telah terpotong cukup lama. "Aku menyerahkan ujian pada para guru yang bersangkutan. Dan sebagai pemberitahuan, ujian tersebut bukanlah acara umum. Murid-murid masih harus tetap di sini hingga waktu yang ditentukan."


Sontak terdengar paduan kekecewaan yang menggema dari para murid.


"Baiklah, kita kembali ke topik pembicaraan kita sebelumnya. Mengenai festival yang sebentar lagi akan diadakan. Tak hanya para guru saja, kalian semua-para murid, juga harus berpartisipasi dalam acara tersebut. Dari proses awal hingga penutupan."


Putri dari Rabalm, Wilia tiba-tiba berdiri bersama beberapa teman perempuannya dan berjalan menuju pintu keluar. Tanpa bicara sedikitpun. Kepala Akademi, guru dan semua murid terdiam heran melihat Wilia keluar.


"Apa yang dia lakukan?" heran Nina. Ia pun bangkit dari kursinya dan mengikuti Wilia keluar dari aula.


Tak lama kemudian, sejumlah murid pun beranjak keluar seperti yang dilakukan Wilia dan Nina. Termasuk dari keluarga bangsawan seperti Ruishorn yaitu Ulfang dan lainnya.


Mereka keluar berniat untuk menonton pertarungan Reinhard Asberion. Pertarungan dari keluarga Asberion adalah tontonan yang patut ditunggu. Apalagi ia akan berhadapan dengan pangeran dari Magnolia. Berita akan tersebar dengan cepat. Mereka yang mengenal sang Asberion tak ingin menyia-nyiakan momen spesial ini.


Meskipun Kepala Akademi sudah mengatakan kalau itu bukan acara umum, tapi masih saja ada yang mengabaikannya.


Liliya terlihat gelisah melihat sejumlah murid yang keluar.


"Apa kau yakin tak ingin melihatnya?" tanya salah satu teman Liliya yang berambut coklat panjang.


Liliya menunduk dan merenung.


Kemudian, teman Liliya yang lainnya, merangkulnya. "Sudah. Yuk kita pergi. Sekali-kali kita menjadi murid nakal."


Dukungan dari teman-temannya itu, membuat Liliya berani. Ia dan temannya pun juga menjadi salah satu yang meninggalkan aula.


Melihat murid-muridnya yang bertindak semena-mena, Kepala Akademi menggelengkan kepalanya. "Jika kalian keluar dari sana. Akan ada hukuman yang menanti," ancamnya dengan pandangan mata yang dingin.


Langsung saja para murid yang ingin ikutan, memilih kembali duduk di bangku mereka. Tunduk terhadap ancaman sang Kepala Akademi. Menyisakan Liliya sebagai murid terakhir yang melewati pintu. Gadis itu mendengar peringatan Kepala Akademi tapi ia tetap keluar.

__ADS_1


Banyak yang kembali dan mengurungkan niatnya untuk menonton pertandingan, tapi tetap ada yang tak peduli. Mereka yang tak peduli, jelas-jelas adalah oranh yang memiliki status atau koneksi yang kuat. Sehingga tak takut dengan ancaman seperti itu.


Akademi Evernia memiliki 5 bangunan utama. Aula Putih, asrama untuk laki-laki dan perempuan, perpustakaan, dan arena.


Gedung arena terletak di sudut selatan dalam bentuk formasi bintang empat sudut. Bagian luar arena memiliki bukaan yang cukup lebar, memperlihatkan bagian dalamnya yang berupa ruangan yang luas.


Rombongan tes memasuki gerbang arena dan disambut oleh obor-obor besar. Otomatis menyala saat ada seseorang yang masuk. Cahaya dari obor memperlihatkan wujud sejati arena pertarungan. Lengkap dengan tribunnya yang membentuk melingkar, juga tersambung dengan bagian luar arena yang terbuka.


"Sepertinya semua tempat di akademi benar-benar megah," kagum Ashnard.


"Aku jadi iri. Arena di sekolah lamaku tidak sebagus ini."


Di pinggir arena tersebut, lebih tepatnya di belakang tempat duduk para penonton, terdapat empat patung yang hampir sama dengan patung penjaga. yang ada di sungai. Patung tersebut memegang sebuah tombak yang ditusukkan dan menopang langit-langit. Tapi, ada salah satu patung yang tidak memegang tombak melainkan tongkat sihir.


"Nyonya Terenna, sebenarnya apakah ada makna dari patung itu? Aku juga melihat patung-patung seperti itu di sungai," tanya Ashnard.


"Patung di luar hanyalah patung penjaga, sementara patung di sini adalah patung perwujudan dari empat pendiri akademi," jawab Terenna.


"Eh, kukira pendiri akademi hanya ada tiga."


Terenna berbalik dan menunjukkan empat jarinya ke Ashnard. "Empat. Ordo Ksatria, Rabalm, Gundolium, dan satu orang yang tidak berafiliasi dengan negara manapun. Dialah penyihir terhebat pada era dulu dan sekaligus Kepala Akademi pertama."


Ashnard berada di ruang tunggu yang terhubung langsung dengan arena. Di sana, ia bersama dengan Terenna, Gerardus, Gerlon dan Nora. Sementara Reinhard dan Arlon sudah berada di arena dan sedang bersiap-siap.


Tak lama kemudian, sejumlah murid-murid yang meninggalkan aula datang. Lalu, mereka duduk di deretan bangku penonton. Kedatangan murid-murid itu membuat Ashnard sedikit gugup.


Ia lalu mengamati murid-murid tersebut dan menghitunganya untuk menghilangkan rasa panik. Berkat peringatan dari Kepala Akademi, jumlahnya tak lebih dari 15. Di antara murid-murid tersebut, ada beberapa yang pernah ia lihat saat di aula.


Di antaranya, yang paling menempel dalam ingatannya adalah gadis berambut merah.


"Pilihanmu bagus juga," kata Roc. "Gadis itu cukup lumayan. Tapi, aku lebih memilih gadis berambut pirang itu. Cara duduknya yang elegan, senyumannya yang tak berlebihan, dan tubuhnya yang ideal. Aku lah yang pantas dengannya."


"Kau?" Ashnard berdengus mengejek. "Pilihanmu terlalu tinggi. Dia terlihat seperti bangsawan yang kelasnya lebih tinggi dari Reinhard. Mana mungkin dia mau denganmu."


"Kalau tidak salah, dia adalah putri dari kerajaan Rabalm. Salah satu pendiri akademi," kata Gerlon yang tiba-tiba berdiri di samping Ashnard.


"Dia putri kerajaan?" Ashnard menganga tak percaya.

__ADS_1


"Ya, kau bisa tahu dari ikat bunga di rambutnya yang merupakah khas negeri Rabalm. Kalau kau mengincarnya, menyerah saja. Putri kerajaan bukan gadis biasa yang mudah untuk diajak keluar oleh orang sepertimu."


Ucapan Gerlon malah menyudutkan Ashnard. Tapi, Ashnard justru senang. Ia menertawakan Roc dan berkata, "Apa kubilang? Pilihanmu itu mustahil."


"Ck. Diamlah!" kesal Roc sambil memalingkan mukanya. "Bagaimana dengan pilihanmu? Mungkin saja sama mustahilnya untukmu."


Tentu saja Ashnard percaya diri dengan pilihannya. Ia pun menanyakan ke Gerlon untuk membungkam mulut Roc. "Hei, Gerlon, bagaimana dengan gadis berambut merah itu?"


Gerlon menyipitkan matanya ke arah penonton. "Hm, ada satu klan bangsawan berambut merah yang aku tahu, tapi kurasa bukan gadis itu. Soalnya klan tersebut tinggal sangat jauh dari akademi dan sudah tidak terlihat lagi kabarnya. Jadi, tidak mungkin dia berasal dari klan bangsawan tersebut."


"Maksudmu, gadis itu mungkin saja berasal dari keluarga bangsawan biasa lain?"


Gerlon mengangkat bahunya. "Mungkin."


Ashnard langsung bersorak-sorai di Ruang Kosong atas kemenangannya pada Roc. Kompetisi tak penting ini cukup membuat Ashnard tenang kembali dari kegelisahannya.


"Lihat, kan? Pilihan dan pengamatanku memang tak bisa diremehkan," ucap Ashnard sombong sambil menyilangkan tangannya.


"Kalau kau sombong begitu, ajak saja dia keluar atau kemana. Jangan lupa, dia bangsawan biasa sepertimu. Seharusnya kau bisa melakukannya," balas Roc.


"Tidak secepat itu, kawan. Kau terlalu tergesa-gesa."


Roc menyikut rusuk Ashnard, membuat anak laki-laki itu tersentak. "Kau mengincarnya, kan? Kalau kau ingin mengajaknya, ajak aku juga. Entah mengapa, aku merasakan sesuatu darinya."


Wajah Ashnard langsung tersulap serius. "Apa ada sesuatu dari gadis itu?"


Gerlon meninju perut Ashnard, mengubah wajah seriusnya menjadi rasa sakit. "Aku hanya bercanda soal itu. Aku hanya penasaran dengannya."


Terenna di belakang yang sedang memindahkan kursi sempat mendengar pembicaraan Ashnard dan Gerlon. "Itu wajar saja kau penasaran dengannya. Nama keluarga Vantalion tidak pernah muncul ke publik sebelumnya. Lalu, karena suatu kejadian, nama mereka tiba-tiba ramai di perbincangkan. Dari yang awalnya tidak ada menjadi ada, seolah-olah keluarga Vantalion baru terbentuk saat itu juga."


"Kejadian apa?" Ashnard dan Gerlon sama-sama penasaran.


"Lima puluh tahun yang lalu. Terjadi sebuah pemberontakan yang di pimpin oleh keluarga Vantalion di Kerajaan Agni. Yang berimbas dengan kematian Raja Agni saat itu."


Ashnard melempar pandangan ke Gerlon. Gerlon berkata, "Berarti musibah kerajaan waktu itu bukan karena luapan energi elemental yang secara tak sengaja, seperti yang dijelaskan di buku?"


"Buku hanyalah alat untuk menutupi kejadian yang sesungguhnya. Ada seseorang yang telah merahasiakan peristiwa itu. Dan seharusnya aku tak mengatakannya pada siapapun. Tapi, aku mempercayai kalian. Kalian adalah murid yang baik," jawab Terenna.

__ADS_1


Cerita tersebut membuat Ashnard sedikit gemetaran terhadap pilihannya. Tak disangka-sangka, ada sesuatu yang besar tersembunyi dalam seragam para siswa. Hal ini membuatnya campur aduk. Sementara Gerlon hanya menyeringai seperti telah menyadari sesuatu.


__ADS_2