
Kegagalannya membawakan kekecewaan dan penyesalan yang besar di lubuk hatinya. Terus-menerus dia berpikir bahwa seharusnya dia bisa melakukan yang terbaik. Namun pemikiran seperti itu hanyalah kesia-siaan. Halangan terbesarnya dalam menjalankan tugas bukan lah para musuhnya, tapi tugas itu sendiri.
Pria yang dijuluki sebagai Jenderal Kematian Putih itu menggeram kesal di ruangan tempat Ansalasor kembali ditancap. Warna putih adalah hal yang sangat bertentangan dengan unsur kematian, tapi Sang Kematian itu sendiri menyukai warna putih. Tidak heran dia mendapatkan julukan Kematian Putih, selain karena warna matanya yang putih sejak dia masih seorang manusia biasa yang memegang pedang dan tameng besi biasa.
Dia tak ingin siapapun mengganggunya saat ini. Dia menutup pintunya karena dia ingin menenangkan diri sekaligus berpikir, apa yang harus dia lakukan sekarang? Keberadaan Haidon selalu membuat kepalanya pening. Haidon adalah salah satu ancaman bagi alam roh, tapi Alfeus tidak menganggapnya begitu karena suatu alasan.
Jika saja Haidon tidak melepas jabatan sebelumnya, tidak terlalu egois dengan keinginannya sendiri, alam roh mungkin akan lebih tenang. Jika saja Haidon diciptakan tanpa perasaan dan ambisi seperti para penjaga lainnya, Haidon tidak akan membelot pada Kematian dan mengejar kebebasannya sendiri. Namun, jika itu terjadi, Alfeus tidak akan ada di sini.
Sang pria yang menyesali kegagalannya itu, duduk di antara kegelapan seolah ingin menjauh dari semua cahaya. Jika dia bisa melakukan sesuatu untuk tuannya, dia pasti tidak akan ragu untuk melakukannya. Yang jadi permasalahan yang dia rasakan adalah apa solusi untuk semua ini? Kenapa Haidon harus dibiarkan dan ditindak dengan tegas?
Sudah beratus-ratus tahun masalah ini menjadi kegelisahannya di Aula Pengadilan.
Ada saat dimana Alfeus ingin bergerak sesuai hatinya, tapi selalu tertahan dengan tanggung jawab yang sudah dia genggam sepenuh hati. Itu bukan kesalahannya, itu memang adalah keinginannya.
Kemudian, Ashnard yang merupakan suatu keanehan yang bisa menjadi ancaman datang ke tempat ini. Alfeus hanya bisa melihat satu hal, yaitu menahannya agar tidak ada yang menemukannya dan menyelidiki akar masalah ini. Karena jika tidak, mereka akan tahu suatu hal yang akan memengaruhi hatinya, alam yang diciptakan ini, dan Kematian itu sendiri.
Tapi, karena Ashnard ada di tangan Haidon sekarang, pikirannya takut dan semakin kacau. Alfeus tahu bahwa tujuan sebenarnya Haidon membawa Ashnard adalah sebagai senjata untuk menaklukan Kematian.
Haidon tahu bahwa Ashnard berhubungan dengan Kematian karena dia mengirim anak buahnya untuk menguping saat Alfeus sedang menjelaskan. Dengan Ashnard ditangannya, dia bisa menggulingkan Kematian dan menjadi penguasa yang menguasai kematian dengan caranya sendiri. Tujuan dari kebebasan yang Haidon ingin dapatkan.
Haidon dulunya adalah ciptaan terbaik Kematian yang paling disayangi. Karena rasa sayangnya yang sangat kuat tersebut, Kematian memberikannya emosi selayaknya manusia. Membuatnya menjadi kerangka mati yang merasakan hidup. Namun, sekian lama Haidon menguasai alam roh sebagai tugasnya, dia semakin berubah.
Haidon selalu bertanya pada tiap roh sebelum diadili tentang kehidupan yang dia rasakan. Dari sana, dia belajar bahwa sesungguhnya banyak orang yang mencintai kehidupan dan membenci kematian. Karena kematian selalu datang disaat yang tidak tepat. Kematian selalu membawa kesedihan dan menghapuskan kebahagiaan para manusia. Kematian membuat manusia takut untuk menjalankan kehidupan.
__ADS_1
Dari sekian roh yang ditanya oleh Haidon, hanya ada satu roh yang berkata kalau dia tidak takut dengan kematian. Roh tersebut menjawab, "Karena aku bisa bertemu dengan keluargaku kembali. Istri dan anak-anakku sudah menunggu mereka. Saat aku hidup, aku justru merasa sakit karena tidak memiliki siapapun lagi."
Tapi, setelah pengadilan diputuskan, roh tersebut baru menyadari bahwa kehidupan setelah kematian juga sama menyakitkannya. Dia mendapatkan dirinya tidak ditempatkan di alam yang sama dengan keluarganya.
Saat itu, Haidon yang duduk di depan Mimbar Pengadilan, mendengar jeritan penyesalan seseorang yang jatuh kedalam kebinasaan. Tidak hanya satu tapi setiap saat. Semakin lama membuat hatinya tercabik-cabik hingga meneteskan air mata. Jika hatinya yang merupakan pemberian merasakan kesedihan, bagaimana dengan dirinya sendiri?
Haidon sejak saat itu memiliki sebuah mimpi baru untuk merubah hukum dunia menjadi lebih baik. Kematian hanya akan datang bagi mereka yang menginginkan dan berbuat kejahatan selama hidupnya. Sementara itu kehidupan akan senantiasa bersama orang-orang yang berbuat baik.
Tentu saja pemikiran seperti itu tidak bisa diterima oleh Sang Kematian. Kehidupan dan Kematian bukan hal yang bisa ditentukan oleh siapapun. Itu adalah takdir. Datang tanpa ada yang menginginkannya, memang harus seperti itu sifat kematian. Kematian tidak boleh mudah dikendalikan oleh manusia. Kematian harus memberikan rasa takut agar para manusia menjauhi perbuatan yang mengundang kematian. Tapi, bukan berarti seseoranh tidak akan terhindar dari kematian. Penyakit, kecelakaan, perang, perkelahian, usia tua. Semua orang bisa merasakan itu.
Saat mendengar jawaban dari tuannya, Haidon berteriak di depan sebuah singgsana yang terbuat dari batu hitam. "Itu berarti kematian sama saja dengan memaksakan keinginan orang lain! Jika kehidupan dan kematian adalah suatu paksaan, kenapa kalian, para dewa memberikan manusia emosi dan mimpi? Kenapa kau memberikanku hati jika ujung-ujungnya aku hanya menjadi budak dari tanggung jawabmu saja? Kenapa kalian menciptakan keinginan jika pada akhirnya semua akan dipaksakan oleh yang namanya takdir?"
Kematian tidak memiliki jawaban untuk itu. Dia menjawab dengan diam.
Haidon menganggap diamnya Sang Kematian adalah ketidaksetujuan terhadap pemikirannya sendiri.
Masa-masa itu sungguh kelam bagi Kematian dan Alam Roh. Karena kepergian seseorang yang bisa dikatakan sebagai seorang putra baginya, membuat hati Sang Kematian terpukul. Alam Roh menjadi tidak seimbang karena tidak ada yang menjaganya. Para penjaga menjadi buta akan perintah dan para roh bebas berpergian dan menggentayangi dunia luar. Makhluk-makhluk mengerikan yang dipenjara di neraka berhasil masuk ke Alam Roh dan memangsa para roh yang tidak dijaga.
Akan tetapi, kehancuran alam roh tidak akan pernah terjadi, karena saat itu muncul harapan yang berasal dari dunia manusia.
Saat itu, ada sebuah wabah mematikan di sebuah kota. Membuat jumlah korban yang meninggal meningkat. Hari-hari itu adalah hari yang kelam, dimana perang masih berlangsung. Korban pembantaian di mana-mana. Dan tragedi mengerikan lainnya. Karena pembelotan yang dilakukan oleh Haidon, dunia kematian menjadi tidak stabil, memaksa Sang Kematian harus turun untuk menjemput para manusia yang sudah mencapai ujung waktunya.
Kematian sempat berpikir setelah kepergian Haidon. Dia mencoba untuk mengubah dirinya serta pemikirannya agar bisa merasakan langsung apa yang Haidon rasakan. Hasilnya dia menggunakan pendekatan yang lebih manusiawi daripada menyampaikan sebuah mimpi buruk.
__ADS_1
Sang Kematian menyadari apa yang sebenarnya ditakutkan oleh manusia dan cara untuk mengatasi rasa takut tersebut. Manusia cenderung menunjukkan senyumannya untuk menunjukkan kebahagiaan. Menghilangkan rasa rakut. Walaupun hanya hal kecil saja, namun sangat berdampak besar bagi manusia.
Manusia adalah ras yang mudah dipermainkan emosinya. Hanya dengan hal kecil saja mereka bisa marah hingga sampai membunuh. Hanya diberi mimpi buruk saja bisa membuat para manusia trauma. Hanya diberikan sebuah senyuman saja cukup untuk membuat kehidupan orang lain menjadi lebih bermakna. Itu yang Kematian pelajari saat berkelana di dunia manusia setelah ribuan tahun pekerjaannya diserahkan pada bawahannya yang tidak memiliki perasaan.
Di salah satu kota yang dia kunjungi, dia bertemu dengan seorang pria muda tampan yang sedang memberikan makanan pada tunawisma. Pria itu memakai tunik abu-abu dengan pedang di sarungnya dan memegang sebuah nampan berisi banyak roti gandum dan pakaian hangat. Pria itu juga selalu memberikan senyuman tiap mendatangi tunawisma atau orang-orang yang membutuhkan di pinggir jalan. Dan yang membuatnya tertarik adalah warna iris matanya yang putih.
Secara kebetulan, tidak lama lagi salah satu tunawisma yang sedang dilayani oleh pria itu akan menemui ajalnya. Sembari menunggu itu, Sang Kematian yang memakai jubah dan tudung coklat hitam gelap menemui seorang pria yang memiliki nama Alfeus tersebut.
"Jarang sekali melihat seseorang sebaik dirimu di era gelap seperti ini."
Alfeus terkejut karena mendengar suara seorang wanita dibalik jubah yang menutupi seluruh tubuhnya dan mengajaknya mengobrol.
"Itu tidak aneh, nona. Sudah sewajarnya kita saling membantu di masa-masa kelam seperti ini. Itulah tujuannya diciptakan perasaan dan keinginan, bukan? Untuk menyebarkan kebaikan pada siapapun. Lagipula, aku seorang ksatria. Sudah tugasku untuk melayani masyarakat."
"Kau seorang ksatria? Bukankah tugasmu adalah bertarung di garis depan?"
Alfeus tertawa mendengar respon dari wanita tersebut. "Itu tugas dari seorang prajurit, nona. Tugas ksatria tidak hanya ada di medan pertempuran saja. Tugas seorang ksatria adalah membela keadilan dan menciptakan kedamaian bagi rakyatnya."
Sekarang giliran wanita itu yang tertawa, tapi bukan tawa kebahagiaan yang lebar dan puas. Melainkan tawa kecil yang terdengar seperti mengejek.
Tawa kecil wanita itu cukup membuat Alfeus tersinggung, walaupun baginya tawa tersebut cukup imut. "Ada apa?"
Sambil bergiliran memberikan roti dan pakaian pada tunawisma, Alfeus sudah mencoba berbagai cara untuk mengintip wajah sosok bertudunh itu. Namun, apapun usahanya, dia tidak dapat melihat jelas wajahnya, seolah ditutupi sebuah kegelapan.
__ADS_1
"Jadi, kau berbuat baik bukan berdasarkan hatimu, tapi karena tugasmu? Itu berarti kau terpaksa melakukannya, bukan?"
Alfeus berhenti dan menatap bingung wanita yang berdiri di belakangnya. Alfeus memang merasa aneh dan curiga dengan wanita tersebut. Karena kemanapun dia menghampiri orang-orang yang akan diberikan makanan, wanita tersebut selalu membuntutinya seperti menginginkan sesuatu darinya. Dan sekarang wanita itu memberikan pertanyaan yang membuatnya berpikir.