
"Siapa kalian?" tanya seorang pria tua dengan mata mendelik dan jari yang gemetaran saat memegang lentera.
Pria tua itu muncul dari lorong pintu yang gelapnya bahkan seperti Ruang Kosong. Ashnard tak tahu bagaimana ruangan itu bisa segelap itu, ia berpikir jika itu adalah gudang atau ruangan bawah tanah.
"Seragam itu ... kalian dari akademi, kan? Pergilah. Tokoku bukan tempat untuk anak kecil seperti kalian," usirnya. "Toko ini tua dan sudah berdebu. Tidak ada kata menyenangkan yang biasa di pakai anak muda seperti kalian. Aku tak tahu apa sebenarnya tujuan kalian kesini. Kalau ingin mengejekku aku sudah terbiasa. 'Si Pak Tua Bau, Si Pak Tua Penyendiri, Pemilik Toko Sampah. Pria Tua yang Aneh'. Mereka sangat ahli dalam memberikan nama julukan. Padahal kota ini sudah sangat damai sebelum kedatangan kalian para murid akademi seperti kalian ...." Pria tua itu terus bergumam dan menggerutu sendiri sambil berjalan dengan tongkat ke arah tempat duduknya di meja kasir.
Ashnard dan Nina melempar pandangan bingung. Mereka seperti merasa aneh dan tidak paham apa yang pria tua itu katakan.
"Maaf, anda Tuan Flo, kan?" tanya Ashnard.
Pria tua itu tak henti-hentinya berucap pada diri sendiri dan mengabaikan Ashnard seperti tidak ada seorang pun di sana. Ia lalu duduk di kursi goyangnya dan masih bergumam, hingga tak lama kemudian dia tertidur tiba-tiba.
Pria itu tertidur sangat cepat hingga langsung mendengkur lebih keras daripada teriakan ketakutan Eris yang masih memeluk Nina.
"Permisi, Tuan Flo, ada yang harus kutanya padamu. Halo ...." Ashnard berusaha sekuat tenaga membangunkan pria tua yang tidak kunjung bangun tersebut.
"Ah, ada burung terbang. Jangan gigit aku! Enak sekali rasanya cahaya matahari. Banyak orang aneh berkumpul disini." Pria tua itu melantur dalam tidurnya, masih tak bangun.
"Mungkin kita tunggu saja hingga dia bangun," ujar Nina.
Padahal, pria itu baru saja meneriaki mereka dengan cara yang sedikit mengerikan, tapi sesaat kemudian pria itu langsung mengabaikan mereka dan tertidur begitu saja. Hal tersebut tentu saja membuat Ashnard kesal. Ashnard tak ingin meneriaki atau meninju orang tua, karena itu tak sopan. Tapi, ia merasa jika tidak melakukan itu, pria itu tidak akan bangun.
"Harus tunggu berapa lama?" tanya Ashnard mulai kesal.
Sambil tersenyum, Nina menjawab, "Bersabarlah."
Eris yang masih merasa takut, tak mengangkat sedikit pun wajahnya. Ia terus memeluk Nina sambil menekan wajahnya pada dada Nina. Nina tak ada pilihan lain selain berjalan dengan susah karena sambil memeluk Eris, dan membawanya ke bagian paling kanan ruangan di balik rak untuk menenangkannya.
"Kau masih saja penakut," ledek Nina sambil mengusap kepala Eris dengan lembut. Nina bisa merasakan nafas hangat memenuhi dadanya dan gumaman kecil Eris. "Kukira kau tak suka dipeluk olehku, tapi malahan kau duluan yang memelukku."
Eris seketika melepaskan pelukannya dan memalingkan wajahnya yang merah. "T-tidak, aku hanya sedikit terkejut saja."
"Ah, tidak usah malu begitu. Aku tidak mempermasalahkan, kok. Aku juga menikmati saat dipeluk olehmu dan saat kau membenamkan wajahmu di dadaku." Terlihat senyuman jahil Nina yang membuat Eris merinding.
"Kenapa kau tiba-tiba jadi orang yang mesum?"
"Padahal, kau sendiri yang tiba-tiba agresif."
__ADS_1
Nina tertawa cukup puas menggoda temannya sendiri. Ia paham kalau Eris bukanlah orang yang mudah untuk mengungkapkan perasaan aslinya. Eris adalah orang yang lebih mendahulukan logika daripada perasaan. Karena itu, Eris akan langsung malu ketika isi hatinya atau perasaannya terungkap. Hal itu jugalah yang membuat Eris mudah ditebak.
Sejak dulu, Eris selalu bersikap serius pada apapun disekitar. Di usianya yang masih kecil, ia bahkan bersikap seperti orang dewasa yamg serius dan selalu menggerutu. Ia jarang bermain selayaknya anak seusianya. Ia hanya fokus pada tujuannya yaitu membantu keluarganya yang sedang terpuruk.
Walaupun Eris selalu bersikap serius dan selalu memperlihatkan diri sebagai orang yang tegas dan kokoh hingga seperti tak memiliki celah, tapi hanya Nina lah yang berhasil menemukan celahnya saat itu.
Nina menggunakan celah itu untuk menjahili Eris hingga sampai saat ini. Menurut Nina, menggoda Eris sangat menyenangkan dan seiring waktu juga bisa membuat Eris lebih terbiasa dan terbuka dengan perasaannya sendiri.
"Kemarilah, kau bisa memelukku kapan saja," ucap Nina sambil merentangkan tangannya ke depan.
"Tidak mau!" Sontak, Eris melindungi diri dengan memeluk tubuhnya sendiri. "Ini tempat umum. Kau tidak bisa bersikap bebas seperti itu."
Nina tersenyum lebar, bahkan cukup lebar karena mengetahui maksud dibalik perkataan Eris yang sesungguhnya. Ia telah melihat celahnya.
"Baiklah, aku mengerti."
Obrolan mereka berakhir ketika Eris menemukan sesuatu yang menarik di antara barang-barang antik itu. Di rak yang menempel di dinding sebelah kiri, ia melihat sebuah benda hijau yang berbentuk seperti jantung tapi terbuat dari kaca yang tebal.
"Benda apa itu?" tanya Nina.
"Mungkin, itu benda antik aneh lainnya yang disukai para kolektor," tebak Eris. Akan tetapi, rasa penasarannya cukup kuat.
"Ini sangat memukau," ungkap Eris.
"Kau mau? Aku bisa membelikannya untukmu," tawar Nina.
"Tidak! Tidak perlu! Untuk apa aku memiliki benda itu?" heran Eris. "Aku tahu uangmu banyak, tapi jangan dibuat untuk membeli barang seperti itu."
"Uangku tak banyak, kok. Aku kan sudah bilang, uangku hanya 10 Merium emas saja. Jika benda itu seharga 10 Merium emas dan kau menginginkannya, aku akan membelinya."
Eris menggeleng sambil menghela nafas. "Tapi, tetap saja, Ayahmu akan datang ke sini untuk menambahkan uang sakumu."
"Tidak. Dia tidak akan datang," jawab Nina, membuat Eris terkejut.
"Kenapa? Bukankah Ayahmu bilang akan datang saat liburan? Apa dia sibuk?"
Nina mengangkat kedua bahunya seolah mengatakan, "Yah, begitulah." Ia membuang pandangan ke arah lain sambil menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Nina, kau menggigit bibirmu. Aku tahu kalau kau menggigit bibirmu sendiri itu berarti kau sedang gelisah. Apa kau yakin Ayahmu tidak akan datang?"
"Tentu saja. Dia mengirimiku surat tiga hari yang lalu. Aku tak memberitahumu karena aku kesal saat itu. Dia tak bisa datang hanya karena keluarga Ibuku sakit. Aneh, bukan?"
"Itu berarti pedang Ayahmu belum bisa menjadi milikmu." Eris mendekati Nina dan berusaha menenangkannya dengan memegang tangannya. Kini, giliran Eris untuk bersikap seperti seorang Ibu.
"Ayahku memang tidak berniat memberikan pedangnya padaku. Dia orang yang keras kepala. Dia juga berpikir jika aku masih terlalu lemah," ungkap Nina sebal.
Eris justru tertawa mendengar ucapan Nina. "Kau memang lemah, kan? Kau saja kalah dariku. Akulah satu-satunya orang yang bisa mengalahkanmu," ucapnya dengan nada sombong.
Tidak hanya Nina yang tahu kelemahan Eris, tapi Eris juga tahu kelemahan Nina. Eris juga tidak diam saja ketika dikerjain oleh Nina. Terkadang ia yang justru mengerjain Nina. Dan tentu saja sama seperti apa yang Nina rasakan, Eris juga menikmatinya.
Berbeda dengan Eris dan Nina yang saling meledek satu sama lain, Ashnard berjuang sangat keras untuk membangunkan Flo. Ia sudah bersabar cukup lama hingga ia menyerah.
Pada akhirnya, ia juga menyerah untuk membangunkan Flo dengan segala cara. Pria tua itu seperti dalam kondisi mati. Tak akan pernah bangun kecuali ada keajaiban.
Ashnard yang lelah berakhir duduk bersandar di meja kasir. "Apakah keturunan Leashira memang orang yang seperti ini? Huff, aku tidak yakin." gumamnya.
Tiba-tiba, kepala Flo muncul dari atas meja, tergantung ke bawah menatap Ashnard dengan mata tuanya. "Kau bilang Leashira? Dimana dia?"
Eris dan Nina langsung datang setelah mendengar teriakan terkejut Ashnard. Perasaan yang familiar terulang kembali.
Ashnard menyingkir dan bangkit. "Akhirnya kau bangun juga, dasar pria tua tukang tidur."
"Dimana dia? Dimana Leashira?" desaknya, mata lebarnya menatap Ashnard.
"Apa anda tidak tahu? Leashira sudah lama meninggal ratusan tahun yang lalu," jawab Eris.
"Tidak, tidak, tidak. Dia belum meninggal. Dia masih ada. Aku masih bisa mendengar suaranya, seolah dia ada di dalam kepalaku. Aroma lavendernya, langkah kakinya yang seperti ketukan lembut di tanah, suara tubuhnya yang menggesek benda lain aku bisa mendengarnya, dan bisikannya yang seperti desiran pepohonan yang ditiup angin. Aku tahu dia ada di sini. Dia selalu muncul di mimpiku tiap malam. Awalnya aku tidak paham, tapi kini aku tahu. Dia ingin menunjukkan kedatangannya padaku."
Ashnard dan Eris sama sekali kebingungan dengan apa yang dimaksud pria tua itu. Leashira sudah meninggal ratusan tahun, dan cukup aneh jika pria itu tahu tentang suara dan aromanya.
"Aku sangat merindukannya. Kami sudah lama tidak bertemua. Dia juga merindukanku. Dia selalu merawatku dari kecil hingga aku besar seperti benih kecambah. Ya, ya! Karena itu dia memanggilku kecambah kecil. Aku sangat menyukai senyumannya saat ia memanggilku kecambah kecil. Oh, Leashira, dimanakah engkau berada. Aku ingin sekali lagi mendengarkan nyanyian merdumu saat kau memandikanku atau saat kita berdua menikmati teriknya matahari," ucapnya begitu mendramatisir.
"Dia aneh," celetuk Ashnard, langsung disenggol oleh Eris.
"Maaf, Tuan Flo, ini mungkin sedikit tidak sopan bagi anda, tapi demi kebaikan anda sendiri. Biar kukatakan sekali lagi. Leashira sang herbalis dari Merybloom telah meninggal jauh sebelum anda lahir," jelas Eris.
__ADS_1
Pria tua itu tiba-tiba berhenti. Tiba-tiba juga ia menatap Eris penuh amarah dan kebencian. Wajah tuanya yang semakin dekat ke wajah Eris, membuat gadis itu ketakutan. Eris perlahan mundur.
Kemudian, muncul tangan yang hangat dan dipenuhi uap panas menahan bahu pria tua itu. Tampak pakaian coklat pria itu berdesis serta menimbulkan asap kecil di bagian bahu yang di tahan oleh tangan Nina. Nina dengan mata merahnya yang menatap tajam berkata, "Jangan macam-macam!"