
Tidak banyak perubahan yang signifikan setelah pertarungan di arena dan konflik yang melibatkan Ashnard terjadi. Meskipun banyak kebingungan terjadi, tapi setelah guru menjelaskan masalahnya, semua murid dengan cepat melupakannya.
Hasil pertarungan menjadi misteri, tapi ada beberapa murid yang senang menyebarkan kabar palsu. Hanya beberapa orang yang tahu dengan hasil pertarungan itu, di antaranya para guru. Termasuk Fleur, guru yang dikendalikan oleh Erik agar diizinkan untuk menggunakan arena.
Setelah Dokter Nora menarik keluar parasit kegelapan dari tubuhnya, pria itu terlihat linglung dan tak ingat satupun kejadian yang telah dilaluinya selama terinfeksi parasit.
Meskipun ada kegemparan yang terjadi, tapi itu seperti angin sekelebat saja. Mereka menganggap pertarungan itu hanya pertarungan biasa. Sehari setelahnya, kehidupan normal di akademi berlangsung. Murid-murid tetap memuja-muji Reinhard. Lingkungan akademi tidak banyak perubahan.
Di sisi lain, Arlon bersikap seperti biasa. Kegelapan sudah dibersihkan di hatinya, namun bukan berarti ia langsung meminta maaf pada Reinhard. Karena sejatinya, kebenciannya adalah isi hati yang sesungguhnya, bukan karena kegelapan. Namun, ada kabar beredar kalau dia akan kembali ke Magnolia dalam waktu dekat.
Sedangkan, satu-satunya yang berbeda adalah keberadaan Erik. Erik sekarang telah meninggalkan akademi tanpa kabar. Servulius atau sang Kepala Akademi telah mengurus masalah itu hingga tidak menjadi masalah besar. Lagipula, banyak murid-murid yang tidak peduli dengan Erik, apakah dia masih ada di akademi atau tidak.
Erik, di mata mereka seperti batu kerikil di sungai, bukan masalah yang harus ditanggapi. Juga bukan orang yang harus dipedulikan. Padahal, jika Ashnard tidak ada, Erik bisa menjadi ancaman untuk akademi.
Bagi Ashnard yang tak bisa tidur semenjak meninggalkan ruangan Kepala Akademi, merasa sangat terbebani. Sementara Reinhard dan Gerlon sudah bersiap-siap, Ashnard masih di balik selimutnya, mencoba untuk tidur.
"Kau ingin bolos?" tanya Gerlon.
"Kalian duluan saja."
"Aku juga masih lelah karena semalam, tapi bukan berarti aku boleh malas-malasan," sahut Reinhard menasihati.
Ashnard tak menjawab di balik selimutnya, membuat Reinhard dan Gerlon memutuskan untuk meninggalkan Ashnard.
Ashnard tidak menceritakan apapun yang sebenarnya telah terjadi setelah ia meninggalkan Reinhard. Ia hanya menjelaskan kalau ia mengejar Erik sampai di gerbang akademi dan Erik berhasil kabur.
Ia tidak bilang mengenai pertarungannya dan bahkan menyembunyikan bekas luka di lehernya pada Reinhard dan Gerlon, sesuai yang Kepala Akademi katakan.
Ketika, mereka sudah pergi, Ashnard bangkit dari kasur. Wajah dan rambutnya acak-acakan, Ashnard memijat kedua bola matanya yang merah seperti monster. Mata merah itu bukan karena efek dari parasit kegelapan, tapi karena Ashnard yang tak bisa tidur memikirkan semua yang terjadi saat malam.
Saat ia membuka matanya dengan paksa, ia melihat secara kebetulan sebuah pena putih di atas meja lacinya. Pena itu memiliki tabung tulang putih yang berkilauan di bawah cahaya matahari.
Ashnard langsung teringat bahwa ia meminjam pena itu pada seorang murid dan lupa untuk mengembalikannya. Ashnard merasa bersalah pada murid itu karena lupa mengembalikannya. Ia pun memutuskan untuk mencari murid itu, daripada memaksa dirinya tidur.
Setelah membersihkan diri dan bersiap-siap, Ashnard berangkat. Sebenarnya, Ashnard tidak tahu siapa murid itu dan kemana harus mencarinya. Tapi, ia menuju perpustakaan, berharap murid itu juga ada disana sama seperti pada waktu itu.
Ashnard tahu sekarang adalah jam pelajaran, dan ia harus mempersiapkan jawaban jika ditanyai oleh sang penjaga perpustakaan. Ashnard akan menjawab sejujurnya, bahwa ia hanya ingin mengembalikan pena. Jika masih tidak diizinkan, Ashnard akan patuh. Namun, ketika Ashnard masuk, meja sang penjaga perpustakaan kosong. Tidak ada siapapun yang menjaga.
"Permisi." Suara Ashnard tidak disahut oleh siapapun. Perpustakaan menjadi tempat yang sekosong kuburan.
Hanya ada buku dan buku saja. Tidak ada keberadaan seseorang pun di jam sibuk seperti sekarang. Sepanjang lorong sepi, buku-buku berada di raknya tak terlihat tersentuh sama sekali.
Di salah satu lorong yang tidak Ashnard duga, gadis itu duduk di sana sambil membaca sebuah buku. Sementara di mejanya, ia menumpuk banyak sekali buku dari berukuran besar hingga kecil, sama seperti waktu itu.
__ADS_1
Gadis itu membaca dengan tenang, seakan tidak peduli dengan kedatangan Ashnard atau keberadaannya yang sendirian di tempat yang sunyi ini.
"Halo, aku ingin mengembalikan pena yang kupinjam darimu waktu itu." Ashnard menyodorkan penanya.
Gadis itu menoleh pelan, bukan seperti cara seorang putri yang terkesan elegan, tapi seperti boneka yang digerakkan. Mata yang menatap Ashnard masih sama seperti waktu itu, membuat Ashnard merinding ngeri.
"Ini, penamu." Karena gadis itu tak segera mengambilnya, Ashnard meletakkannya di sebelah buku yang gadis itu baca.
"Namaku Ein," ucapnya tiba-tiba.
"Oh, aku Ashnard. S-salam kenal," jawab Ashnard sedikit canggung.
"Duduklah." Suaranya yang lemah dan tak bernada itu seolah menghipnotis tubuh Ashnard untuk duduk di sebelahnya.
Di kursi yang panjang, gadis itu lalu bergeser mendekat sambil membawa bukunya juga, hingga bahunya dan bahu Ashnard saling menempel. Ashnard sedikit terkejut.
"Lehermu ... kenapa?" Ashnard tak menyangka gadis itu menyadari perban di lehernya yang ia sembunyikan dengan kerah jasnya.
"Hanya luka gores saja," jawab Ashnard.
"Oh, begitu ... hari yang buruk," kata gadis itu.
Kemudian, kembali diam-diaman seperti kedua pasangan yang sedang bertengkar, padahal mereka duduk sangat menempel.
"Pena ini kuambil dari tulang jari telunjuk manusia," ungkap gadis itu menjelaskan sesuatu yang tak ingin Ashnard tahu.
"Tulang jari? Maksudmu tulang sungguhan?" tanya Ashnard yang terkejut.
"Tidak. Aku hanya bercanda." Wajah gadis yang datar itu tak membuat candaannya lucu sedikitpun, justru Ashnard menganggapnya aneh. "Tulang itu palsu, meskipun aku sangat menginginkan yang asli."
Ashnard melirik ke buku yang Ein baca. Masih sama seperti waktu itu yaitu halaman dengan gambar kerangka manusia.
"Aku selalu dimarahi saat aku menggali kuburan untuk mengambil tulangnya. Padahal, itu hanya tulang biasa. Orang yang sudah mati, sisa tubuhnya bukan milik siapapun lagi. Lantas, kenapa aku tidak boleh mengambilnya?"
"Apa kau serius?" Ashnard menatap gadis itu tak percaya.
"Aku serius. Apa kau tidak bisa melihat keseriusan di wajahku?" tanyanya dengan wajah yang datar.
"Tentu saja mereka marah. Menggali kuburan dan mengambil tulangnya itu tidak sopan. Itu namanya kau tidak menghormati orang yang telah mati," jelas Ashnard.
"Begitu ya ... lalu, bagaimana caraku mendapatkan tulang asli dengan mudah?"
"Untuk apa kau menginginkan tulang? Itu bukan hobi yang seorang gadis remaja biasa lakukan, kan?"
__ADS_1
"Datanglah ke kamarku. Akan kutunjukan padamu," ajaknya.
Melihat sorot matanya yang tidak ada keraguan, kebohongan dan itikad jahat, Ashnard justru merasa hal yang buruk akan terjadi jika ia menyetujuinya. "Maaf, mungkin lain kali."
"Jiwamu harus dimurnikan seperti jiwa Ferez dan Monoz pada hari penyucian. Jika jiwamu kacau dan tidak seimbang, pengadilan tidak akan berguna untukmu. Kau akan tersesat seperti penggembala tanpa domba, atau lebih buruk lagi, menjadi domba untuk Si Hitam," gadis itu berkata tiba-tiba.
Ashnard tidak mengerti satu kata pun yang gadis itu ucapkan. Ashnard berpikir jika dirinya semakin lama disini maka situasinya akan semakin aneh dan mengerikan. Ia pun memutuskan untuk pergi dan tak berniat untuk menemui gadis itu lagi.
"Mungkin sudah waktunya aku tidur. Pikiranku bisa gila nanti," gumamnya.
Di tengah jalan, seorang gadis yang tidak lain adalah Liliya, melihatnya dari Aula Putih. Liliya berteriak memanggilnya sambil melambaikan tangannya, tapi Ashnard yang sudah mencapai asrama sudah terlalu sibuk dengan isi pikirannya sendiri. Ia tidak mendengar suara apapun, termasuk suara Liliya.
Namun, Liliya membawa keresahannya itu hingga malam. Sejak Ashnard memintanya untuk menyembuhkan Reinhard dan tiba-tiba menghilang, Ashnard belum menjelaskan apapun lagi padanya. Hal itu membuat Liliya penasaran, gelisah, dan bertanya-tanya apakah ada masalah lain yang terjadi.
Perasaan ini muncul karena Liliya tak ingin seperti di Winfor, yang justru membiarkan Ashnard dituduh oleh para bangsawan dan tidak membela disisinya. Liliya ingin menebus kesalahannya dengan membantu jika Ashnard mendapatkan masalah yang baru.
Liliya pun berendam di bak mandi sambil membenamkan seluruh pikirannya. Pikirannya membawa Liliya ke saat terakhir kali bersama Reinhard setelah pertarungan.
Saat Liliya menyembuhkan Reinhard. Seketika Liliya menggeleng-gelengkan wajah merahnya, membuat air terciprat ke mana-mana. Awalnya, Liliya tidak ada masalah dengan hal itu, namun setelah ia memutar kembali ingatannya, Liliya merasa sangat malu.
Setelah Liliya bangun, ia masih dalam pelukan Reinhard. Ia berusaha untuk melepaskan diri tapi tak bisa. Reinhard berkata kalau dia ingin terus selamanya seperti ini.
"Berhentilah berbicara sembarangan," kesal Liliya.
"Aku tidak bicara sembarang. Aku memang ingin terus seperti ini."
Mata Reinhard saat itu masih terpejam. Liliya tidak tahu apakah Reinhard sedang mengigau atau bicara dengan sadar. Yang jelas, ucapannya membuat pipi Liliya memerah.
Reinhard melepaskan Liliya setelah jam 2 pagi, satu jam sebelum Ashnard kembali dari ruangan Kepala Akademi. Selama ia sudah terbangun setengah jam yang lalu, Liliya terus mendengar degupan jantung Reinhard seperti melodi malam di telinganya. Padahal, jantungnya saat ini juga sama berdegup kencangnya dengan jantung Reinhard.
Setelah Reinhard terbangun dan melepaskannya, Liliya terkejut saat melihat Arlon yang sudah tidak ada di kasurnya, padahal sebelum Liliya pingsan, ia belum memberikan darahnya sama sekali.
"Kau belum memberinya darahmu?" heran Reinhard.
"Aku terlalu banyak menghabiskan darah untukmu, jadi aku melupakannya," ungkap Liliya.
"Mungkin lukanya tidak terlalu parah atau dia sudah disembuhkan oleh orang lain," pungkas Reinhard. Reinhard menolak Liliya terus memikirkan Arlon dan menyuruhnya kembali ke asrama.
Sebelumnya, Liliya juga telah tidur di bahu Ashnard sambil memeluk lengannya dan sekarang ia tidur di atas Reinhard. Pengalaman itu membuat Liliya tidak bisa berpikir jernih dan tidak bisa fokus lagi jika ingatannya tiba-tiba muncul, saat jam pelajaran, saat di kantin, bahkan saat berendam di bak mandinya.
Ditambah saat Liliya ingin menyembuhkan Reinhard dengan mengirimkan darahnya melalui mulut. Benar-benar pengalaman yang sangat intens. Liliya meyakini dirinya sendiri bahwa itu bukanlah sebuah ciuman.
"Apa yang telah kulakukan?"
__ADS_1