The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Pertarungan Dua Mimpi


__ADS_3

Gemuruh dua senjata yang saling beradu memenuhi tiap ruang dan celah di menara. Bergema bagai dua badai yang tidak akan berhenti sebelum salah satunya lenyap. Sayangnya, sampai Ashnard muncul kembali, tidak ada tanda-tanda pertarungan itu akan selesai.


"Kau tidak akan pernah berhenti, huh?" Haidon tersenyum pada Alfeus yang berdiri tegak di hadapannya. Mereka seolah sepakat untuk menjaga jarak dan saling menatap sebelum pertarungan dilanjutkan.


"Sudah cukup, Haidon. Hentikan mimpi konyolmu itu."


"Bagaimana jika aku tak ingin? Apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan menghentikanmu, sesuai dengan perintahnya."


Haidon terkejut mendengar ucapan Alfeus. Sang Kematian sebelumnya tak pernah berniat seperti ini. Seolah-olah dia sudah mengabaikan Haidon. Dan sudah waktunya mengakhirinya. Itu membuat rasa sakit baru di hati kosong Haidon.


"Kenapa baru sekarang? Apa yang sedang dia pikirkan sebenarnya?" Seperti seorang anak yang menerima fakta bahwa orang tuanya telah mengusirnya, suara Haidon terdengar seperti kesakitan.


"Kau mengerti, kan? Mimpimu tidak bisa diterima oleh dunia. Kau harus melupakannya atau berakhir di tanganku. Itu pilihannya, Haidon."


"Jadi, maksudmu aku tidak bisa memiliki pilihan lain? Kebebasan macam apa itu!" Haidon menegakkan kepalanya ke depan dengan gagah seperti singa. Matanya menyinarkan cahaya merah terang. "Karena kau dan wanita egois itu, aku harus menciptakan duniaku sendiri. Mimpiku tidak akan pernah padam. Erida! Ingat itu!" teriak Haidon ke arah langit nan jauh di atas sana.


"Kalau begitu, ini dimulai." Alfeus mau tidak mau melanjutkan pertarungan ini sesuai perintah tuannya dan keinginan hatinya.


Pertarungan kembali. Dengan dua tekad yang digenggam erat oleh kedua petarung. Mereka tidak akan melepaskan pegangan hidupnya, bahkan jika nafas terakhirnya atau dunia akan hancur.


Meskipun memakai pedang, Alfeus tetap melancarkan serangan lain berupa pukulan dan tendangan. Lalu, dia berputar sambil mengayunkan pedangnya ke arah bahu kiri Haidon.


Clank


Tulang kerangka Haidon yang keras menjadi sebuah armor sendiri baginya. Ia mampu menangkis ayunan pedang milik Alfeus dengan mudah dan tidak tergores sedikitpun.


Karena pedang peraknya tak bisa menembus Haidon, Alfeus mengganti taktiknya dengan menjatuhkan pedang musuh terlebih dulu.


Alfeus melepaskan kekuatan energi di kakinya untuk melesat sekaligus menghindari serangan Haidon. Seperti bintang, dia melesat ke atas lalu menukik kembali ke arah Haidon dengan cepat. Lalu, menebaskan pedangnya ke punggung Haidon. Berbalik lagi saat Haidon berusaha membalaskan serangannya. Alfeus berputar lalu memukulkan pedangnya dengan pedang Haidon sangat keras hingga membuat pedang Haidon terlepas dari tangannya dan jatuh.


Akan tetapi, tepat saat Alfeus ingin menapakkan kakinya di lantai, muncul pedang baru yang langsung Haidon tebas dan membuat Alfeus tersungkur. Alfeus tidak menyadari bahwa anak buah Haidon telah menurunkan dari langit sebuah pedang besar dengan dua bilah yang terpisah dalam satu gagang. Pedang itu telah dipanggil untuk membantu tuannya mengalahkan musuh-musuhnya.

__ADS_1


Sebuah pedang unik dengan kekuatan yang cukup kuat. Ditempa dengan tulang-tulangnya sendiri membuat pedang itu menjadi bagian dari Haidon itu sendiri. Dia tidak akan tunduk pada siapapun, kecuali tuannya yang telah memberikannya kehidupan.


Lalu, dengan pedang hidup itu Haidon mengangkatnya tinggi-tinggi dan mengayunkannya dengan sangat cepat ke arah Alfeus yang kini tergeletak tak berdaya di tanah.


Ayunan penghabisannya itu tepat saat Ashnard tiba-tiba muncul di hadapan Haidon, berteriak untuk berhenti. Haidon segera menghentikan pedangnya tepat di atas kepala Ashnard. Lalu, ia menurunkan pedangnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Haidon.


Sementara, Alfeus terkejut dengan kehadiran Ashnard.


"Kau ada di sini ... jangan bilang?" Haidon menyadari apa yang membuat Alfeus terkejut. Meskipun tidak percaya, tapi Haidon membuka matanya untuk melihat kenyataannya. Dia tak bisa menghindari hal tersebut. "Jadi, begitu, ya? Kau telah membunuh penjagal. Maka, tidak ada alasan bagiku untuk tidak membunuhmu!"


Haidon menyerang dari samping, namun Ashnard langsung di dorong oleh Alfeus yang mengangkat pedangnya dan menangkis Haidon yang berniat menyerang Ashnard.


Sembari bangkit, dia membenarkan posisinya serta mengatur jarak sedekat mungkin. Alfeus memberikan serangan-serangan pendek namun cepat agar Haidon tak sempat membalas. Alfeus juga sambil melangkah maju sedikit demi sedikit yang membuat Haidon terkunci pergerakannya. Hanya bisa perlahan mundur sambil menangkis serangan Alfeus.


Sementara itu, di bagian tribun penonton, Roc yang melihat perlakuan Ashnard merasa marah. Dia pun turun dan langsung menghampirinya seperti gunung yang akan meletus.


"Aku tidak punya waktu untuk mengurusimu," usir Ashnard. Dia tahu apa yang sedang ingin disinggung oleh Roc. Ashnard mengerti apa masalahnya, tapi benar, dia sedang tidak bisa membantu Roc sekarang.


"Dimana Ein?" tanya Roc, melirik ke kiri dan ke kanan.


Ashnard diam tak menjawabnya, tapi justru membuat Roc curiga. Dia semakin kesal dengan sikap Ashnard dan berpikir jika terjadi sesuatu pada Ein.


"Jangan bilang? Kau telah menyakiti temanmu sendiri hanya karena keinginan egoismu yang bodoh! Kau telah mengecewakan dirimu sendiri!"


Ashnard masih tak melirik padanya. Dia berfokus ke depan, pada pertarungan Haidon dan Alfeus. Dia menganggap ucapan dan keberadaan Roc sebatas angin dingin menusuk yang cuman lewat sebentar saja.


"Ashnard, dengarkan aku!" teriaknya, mencoba membuat Ashnard menatap matanya, tapi itu tidak berhasil.


"Maaf, tapi kau harus mundur. Di sini berbahaya."


Setelah mengucapkan itu, Ashnard mengambil pedang yang tergeletak di tanah dan menerjang membantu Alfeus. Dia memang tak bisa masuk celah untuk menyerang Haidon, tapi dia bisa menghadapi para minion Haidon yang mengusik Alfeus.

__ADS_1


Ashnard menggunakan pijakan tumpukan batu dan melompat tinggi lalu menusukkan pedangnya di perut salah satu minion yang melintas di atasnya. Ashnard lalu berputar dan bertengger di atas punggung minion tersebut. Dengan begitu, dia bisa melompat ke minion terbang lainnya, menyerangnya, berpindah lagi, begitu seterusnya untuk mengalahkan mereka yang terbang.


Ashnard melihat satu minion di depannya. Dia pun mengulangi rencananya dengan melompat ke arah minion tersebut dari minion yang dia pijak. Saat di udara, tiba-tiba, Ashnard ditabrak oleh sesuatu dari arah samping.


Ashnard jatuh dan merosot ke tanah. Beruntungnya jarak jatuhnya tidak terlalu tinggi. Saat Ashnard bangun, di depannya minion yang dia kenali berdiri. Itu minion yang sama saat mengambil Mata Penuntunnya.


"Kau lagi!" geram Ashnard.


"Ini kedua kalinya kau tidak melihatku," ejek minion tersebut.


"Kalau begitu, yang ketiga tidak akan terjadi," balas Ashnard dengan maksud menerima tantangan minion tersebut.


Ashnard sudah mengangkat pedangnya, begitu pula sang minion. Mereka berlari ke arah satu sama lain untuk melancarkan serangan terakhir dan terkuat mereka. Sayangnya, Roc mendadak muncul di tengah-tengah membuat mereka berhenti.


"Roc! Apa yang kau lakukan? Sudah kubilang pergi dari sini!" kesal Ashnard.


"Aku berdiri untuk mimpiku sendiri."


Pada akhirnya, Ashnard tetap tak bisa membujuk temannya tersebut. Sementara Roc juga sudah lelah dengan kehidupan hampa di dalam alam bawah sadar Ashnard. Karena itu, Roc tak ingin mengecewakan kesempatan yang sudah ada di matanya. Kesempatan yang muncul ini tidak akan kembali lagi setelah sekian lama bahkan mungkin tidak akan pernah muncul lagi.


Disinilah terjadi pergulatan antar egoisme masing-masing. Roc yang menginginkan kehidupan dengan tubuh aslinya berada di sisi Haidon, sementara Ashnard yang tak ingin teman-temannya mengalami kekecewaan karena tahu rencana tersebut tidak akan berjalan sesuai keinginannya. Dia berdiri di sisi Alfeus yang memihak hukum yang sesungguhnya, hukum Kematian.


Ini adalah pertarungan antar peraih kebebasan dan pemberi paksaan. Roc dan Haidon ingin memiliki kebebasannya sendiri. Ashnard dan Alfeus ingin memaksa mereka untuk mematuhi peraturan yang sudah ada dan sudah membuat segalanya berjalan lancar ini.


Pertarungan ini tidak akan berakhir saat mimpi orang lain diredam atau dipatahkan seperti ranting. Pertarungan ini akan berakhir jika ada salah satu dari mereka mati dan menyerah pada mimpinya.


Tentu saja, Ashnard tak ingin membunuh temannya sendiri. Dia ragu untuk maju dan mengayunkan pedangnya.


Karena itu juga, Alfeus ada di sisinya. Dia yang sibuk menghadapi Haidon, berteriak untuk menyadari Ashnard. "Berdirilah, Ashnard! Keegoisanmu tidaklah salah. Kau hanya harus menatap ke depan dan mengangkat pedangmu pada apa yang menurutmu sebagai kebenaran. Kau adalah teman-teman mereka. Dan kau yang membawa mereka ke sini. Maka kau juga yang akan mengakhiri ini dan menyelamatkan teman-temanmu. Kau keturunan Raegulus! Ayahmu tidak akan menyerahkan keegoisannya sendiri dengan begitu mudah. Keegoisannya lah yang membantunya membuka harapan baru untukmu, Ashnard!"


Ashnard terkejut saat mendengar ucapan Alfeus soal ayahnya. Tapi, entah mengapa perkataan itu membuat tubuhnya bergerak sendiri. Dia sekarang mengangkat pedangnya dengan erat. Seperti seorang ksatria yang telah diberi semangat oleh pemimpinnya.


Mata Ashnard walau tak menyala tapi begitu membara seperti api. Dia mungkin telah ragu dengan tujuannya, tapi bukan berarti dia berhenti karena itu. Ashnard menegakkan kepalanya dan melihat ke depan, sebuah penglihatan dimana dia bisa membuka harapan baru.

__ADS_1


__ADS_2