
Malam itu, Ashnard mencoba untuk tertidur. Mencoba untuk terhubungan dengan sesuatu atau seseorang yang muncul di mimpinya. Sosok itu telah muncul dua kali untuk memperingati Ashnard, karena itu ia dan Nous berharap untuk mendapatkan lebih banyak informasi dari sosok itu.
Seperti biasanya, awalnya hitam. Tak ada apapun selain kekosongan. Tak ada cahaya, tapi Ashnard masih bisa melihat dengan jelas ruangan kosong tersebut.
Ashnard memanggil-manggil sosok tersebut, tapi tak ada respon. Ia sedikit kecewa dan ingin menyerah.
Lalu, saat memejamkan matanya dan ingin kembali ke kesadarannya, dari belakang terdengar suara laki-laki. "Kau mencariku?" Sosok itu duduk di belakang Ashnard dengan santai. Satu kakinya terlunjur ke depan dan satu kakinya menekuk, menopang lengannya.
"Aku ingin jawaban darimu," sahut Ashnard.
"Tak ada jawaban disini. Sesuai namanya, Ruang Kosong. Semuanya kosong. Tak ada cahaya, tak ada udara, tak ada orang lain."
"Tapi, ada kau."
Sosok itu menoleh ke Ashnard. Kemudian, bangkit dan mendekat. Wajah polos putihnya sekarang berjarak sangat dekat dengan wajah Ashnard. Sangat dekat seakan-akan Ashnard bisa melihat menembus warna putihnya. Membuat Ashnard sedikit merinding, karena menatap wajah yang kosong.
"Seharusnya aku yang menjadi dirimu," ucap sosok itu.
"Menjadi diriku? Apa maksudmu?"
"Aku dulunya orang biasa sama sepertimu, sebelum aku mati. Seorang dewi bernama Ilna memberikan kesempatan untukku hidup sekali lagi. Itu yang kumaksud dengan menjadi dirimu."
Tentu saja, dengan semua pernyataan itu Ashnard tak akan percaya. "Kau tak perlu membual."
"Aku tak membual! Aku awalnya ditakdirkan untuk lahir menjadi dirimu, tapi ada jiwa lain, yaitu kau yang tiba-tiba mengganti posisiku. Aku sangat muak, kau tahu! Aku meninginkan kehidupan ini. Aku ingin merasa hidup sekali lagi. Tapi, sekarang aku justru terjebak dalam wujud ini putih aneh, telanjang, dan tak berwajah ini."
"Buktikan!"
"Buktikan? Apa yang kau maksud? Inilah bukti yang kau lihat. Kau tak perlu repot-repot mencari bukti, karena akulah buktinya."
"Itu tidak mungkin." Ashnard masih menyangkal. "Ini hanya mimpi, kan? Kau tidak asli. Kau cuman mimpi."
"Ini nyata. Kau tidak bisa lari dariku. Karena sejatinya, kita adalah satu sekarang."
Ashnard terdiam. Pikirannya masih memroses semua ini. Ia tak membayangkan jawaban ini. Ia tidak siap.
Ashnard masih percaya ini hanyalah mimpi semata. Tak ada yang namanya kenyataan dalam mimpi yang abstrak. Dunia mimpi tak bisa dihubungkan dengan dunia nyata, begitu pula sebaliknya. Karena itu, Ashnard memutuskan untuk terbangun dari mimpinya. Kembali ke kenyataan.
Saat ia terbangun, hari sudah cerah. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendelanya. Di jendela tersebut, berdiri memandang ke luar, adalah Nous.
Nous menyadari Ashnard yang sudah bangun. "Pagi," sapanya.
Ashnard tersenyum, tapi terlalu cepat untuk pudar.
"Bagaimana mimpimu?" tanya Nous.
Ingatan itu masih menempel, padahal Ashnard berharap semua akan terlupakan segera setelah ia terbangun, seperti mimpi umum lainnya. Ashnard menggeleng yang berarti tidak ada yang ingin disampaikan.
Nous dengan lembut membalas tersenyum. Ia tak ingin memaksa anak itu dan membuatnya tertekan.
__ADS_1
"Udara masih segar. Mau berjalan-jalan?" ajaknya sambil mengulurkan tangannya pada Ashnard.
Benar seperti kata Nous, udara pagi di desa itu begitu sejuk. Setiap tarikan dan embusan yang Ashnard lakukan, membuatnya segar kembali seolah-olah lahir menjadi sosok yang baru.
Udaranya tak begitu dingin dan mataharinya masih tak terlalu cerah, sangat pas. Warga desa masih tak terlalu ramai, tapi aroma lezat roti dan makanan hangat sudah menyertai. Inilah atmosfir yang Ashnard sukai. Membuatnya teringat saat bangun pagi di Winfor.
"Aku tadi malam melihat seekor rusa berlari ke arah sana," tunjuk Nous ke arah hutan di depan.
"Apa kau tak tidur?" tanya Ashnard.
Pria bertudung itu tersenyum. "Jangan khawatirkan aku."
"Kau menyuruhku untuk tidur, tapi kau sendiri tidak. Itu tak adil namanya," ucap Ashnard cemberut.
Nous mengacak-acak rambut Ashnard. "Aku sudah terbiasa tak tidur sejak dulu. Mata dan kekuatanku dibutuhkan untuk mengawasi kegelapan."
"Tapi, sekarangkan sudah tidak ada kegelapan. Tak ada yang perlu kau awasi atau lindungi lagi."
"Tidak. Ada kau yang harus kulindungi," jawabnya.
Sementara di penginapan, Finn baru saja terbangun. Ia melihat ke sekeliling, tapi sudah tak ada orang-orang. Ia kesal karena sadar bahwa Ashnard dan Nous telah meninggalkannya, tanpa mengucapkan sepatah kata perpisahan.
"Lihat, itu jejak rusa." Tunjuk Nous ke sejumlah jejak kaki di tanah.
Kedua orang itu sekarang berada di hutan. Nous berniat untuk mengajari Ashnard soal berburu.
Nous menyerahkan pada Ashnard sebuah busur dan anak panah yang dia dapat dari toko persenjataan di desa, atau lebih tepatnya, yang dia pinjam secara diam-diam dan akan mengembalikannya ketika dia ingat.
"Pegang busur dengan kuat. Tarik anaknya panahnya kebelakang. Fokuskan pada targetmu. Lalu, busungkan dadamu. Tetap tenang hingga kau yakin arah anak panahmu pasti tepat. Setelah itu, lepaskan."
Ashnard mendengarkan dan mengikuti semua yang Nous ajarkan padanya. Ia menghirup nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya. Bersamaan dengan anak panah yang melesat dengan sangat cepat. Anak itu tak mengedipkan matanya hingga panah itu mengenai rusa tersebut.
"Kerja bagus, nak."
Kesenangan yang tergambar dalam wajah anak itu tiba-tiba lenyap dalam jentikan jari. Ashnard merasa dadanya sakit seolah-seolah terpukul oleh sesuatu. Ia juga tak bisa menggerakkan kedua kakinya.
"Apa yang terjadi?" tanya Nous panik.
"Jangan kesana! Ada mereka!" Suara tersebut terdengar dalam pikiran Ashnard.
Ashnard lalu meraih tangan Nous dan menuju ke arah yang berlawanan. Ke arah desa. Tapi, baru saja bergerak, Ashnard mendadak berhenti. Lalu, ia menarik nafas kuat-kuat seperti seseorang yang telah tenggelam.
"Ashnard! Apa yang terjadi? Kau bersikap aneh." Nous menggoyangkan tubuh anak itu.
Ashnard menatap Nous dengan cemas. "Tasku! Suratku! Semua barangku ada disana!"
"Karena itu kita akan kembali ke desa," kata Nous.
"Tidak. Mereka ada di sana. Mereka menungguku."
__ADS_1
Dari tatapan Ashnard yang terlihat benar-benar panik, meskipun Nous tak tahu apa yang terjadu pada Ashanrd, ia tetap percaya dengan ucapannya.
"Tunggulah disini. Aku akan mengambilkannya untukmu," ujar Nous.
"Jangan pergi!" Ashnard menggenggam erat tangan Nous, seakan tak ingin melepaskannya.
Nous tersenyum, lalu secara perlahan melepaskan genggaman Ashnard. "Tidak apa, aku akan berhati-hati."
Dengan cepat Nous meninggalkan Ashnard sendirian di hutan. Ashnard saa itu tak mengerti apa yang barusan terjadi. Iri matanya melebar mengecil seperti berdenyut.
Tiba-tiba, Ashnard tergeletak pingsan. Kesadarannya berpindah ke Ruang Kosong.
"Kau ...." Di depannya, sosok putih itu berdiri.
"Aku membantumu, lho," ucap sosok itu. "Sudah kubilang kau tak akan bisa lari dariku. Kita ini saling terhubung."
Ashnard sebenarnya tak menyukai hal ini, tapi entah mengapa ia juga penasaran dan ingin masuk lebih dalam lagi. "Jika semua ucapanmu itu benar. Kumohon, jelaskan padaku! Kenapa ini semua terjadi kepadaku? Apa sebenarnya aku ini?"
"Sebenarnya, aku tak ingin menyembunyikan semua ini darimu. Hanya saja, kau masih anak kecil. Terlalu besar dan banyak takdir berat yang mengikatmu. Bisa dibilang, aku tak tega."
"Apa sebenarnya takdir yang mengikatku ini adalah karena kekuatanku?"
"Kau salah. Itu kekuatanku," jawabnya.
Ashnard terdiam bingung.
"Seperti yang kubilang, seharusnya aku menjadi dirimu. Seharusnya semua takdir yang menimpamu adalah takdirku.Tapi, semua berubah seketika semenjak kau mendahuluiku."
"Jadi, semua ini salahmu?"
"Hm ... di mataku, justru kau yang bersalah." Tunjuk sosok itu ke Ashnard. "Bagaimana caramu mengambil alih tubuh yang sudah ditakdirkan untuk orang lain? Kau tidak bisa menjawabnya, kan? Maka dari itu, aku tak bersalah atas semua kesialanmu."
"Aku tidah tahu siapa sebenarnya kau ini. Tapi, yang kutahu, kau hanyalah orang yang mementingkan diri sendiri."
"Apa maksudmu? Kita ini saling terhubung. Jika aku egois, maka kau juga egois."
"Jangan samakan aku denganmu yang ...." Ashnard bingung bagaimana cara menjelaskan wujud sosok tersebut. "... berbentuk apapun itu."
"Hei, kau ingin mendengar penjelasanku atau ingin mengejekku? Aku akan marah, lho, jika kau terus-terusan mengejekku."
Ashnard berdecak kesal. "Baiklah, aku mengerti. Tapi, aku ingin menegaskan kalau kita ini berbeda. Kita tidak saling terhubung atau semacam itu. Aku ya aku, kau ya kau."
Sosok itu agak lama diam, lalu berkata, "Terserahlah."
"Kalau begitu kau bisa mulai."
"Mungkin, pertama-tama, aku harus mengenalkan diriku dulu. Karena kalau tidak salah, ada sebuah pepatah terkenal di Winfor. Aku memberikan nama, kau memberikan cinta. Aku benar, kan?" ucapnya.
"Aku tidak akan pernah menyayangimu."
__ADS_1
"Baiklah." Sosok itu menyeringai. "Namaku Roc, dan aku bukan dari dunia ini."