
Semuanya berkumpul di meja makan. Tidak seperti sebelumnya, Ashnard tidak membangunkan yang lainnya. Ashnard sudah menunggu di meja makan ketika satu per satu orang datang dan duduk. Tampaknya ada yang ingin disampaikan, pikir semua orang di sana yang melihat Ashnard duduk dengan tenang.
Sementara, Nina yang turun, dan langsung mengambil kursi di sebelah Ashnard, merasa gelisah. Bingung dan canggung karena melihat dari kejadian semalam, Ashnard tidak menyinggungnya sama sekali. Ashnard hanya diam saja seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Nina jadi berpikir kemana-mana karena ini.
Tangan kanan Ashnard yang sebelumnya ada di meja, turun ke bawah. Lalu, secara perlahan meraih dan mengenggam kedua tangan Nina yang ada di pangkuannya. Ashnard menarik tangan kiri Nina, lalu membiarkan genggaman tangannya menggantung di udara. Di bawah meja, tersembunyi dari siapapun.
Nina memang sedikit terkejut, tapi dia merasa tenang karena Ashnard berarti tidak melupakan keberadaannya. Nina membiarkan tangannya di genggam oleh Ashnard. Sama seperti tangan mereka yang saling berpegangan, Nina juga berusaha menyembunyikan rasa bahagianya.
Jari-jari yang saling bersilangan dengan erat, tercampur antara rasa bahagia dan malu. Nina merasa tenang saat Ashnard menggunakan jempolnya untuk mengusap punggung tangan Nina.
Setelah sarapan mereka selesai, disitulah Ashnard langsung menyerukan niatnya. "Seperti yang Liliya inginkan, kita akan mengadakan pesta api unggun malam ini."
Tidak hanya Liliya yang terkejut, semua merespon sama. Wilia dan Eris saling melempar pandangan seperti mencurigai sesuatu dari ucapan Ashnard. Nina pun juga sama terkejutnya karena Ashnard tidak memberitahunya sama sekali tentang rencana ini. Ashnard mengatakannya tiba-tiba seolah dia baru saja memikirkannya.
"Apa kau serius?" tanya Reinhard.
"Ya, aku serius. Seharusnya kita mengadakan malam api unggun saat hari pertama, tapi karena ulah seseorang, rencananya batal. Demi menghargai Liliya yang selalu memberikan senyuman untuk menghangatkan suasana dingin, aku ingin mengabulkan keinginannya. Kau juga, Reinhard. Apa kau tidak ingin melakukannya?"
Tatapan mata Ashnard yang mengarah ke Reinhard seperti memojokannya. Ashnard tahu kalau Reinhard juga tak bisa menolak keinginan Liliya. Dan semakin Ashnard menatapnya, membuat dia tidak bisa melawan balik.
Reinhard mengangguk pelan. Sementara Ulfang mengikuti apa yang Reinhard pilih.
"Sungguh?" Di antara semuanya, Liliya lah yang paling senang. "Tapi, di kondisi seperti ini, apakah tidak masalah?" tanyanya ragu.
Memang kubah merah ini adalah ketidaksengajaan. Sesuatu di luar rencana Ashnard. Tapi, tugas yang diberikan padanya tetap tidak berubah. Dia tetap bertugas untuk menjaga teman-temannya sekaligus memberikan mereka kenyamanan. Merayakan malam api unggun adalah keinginan Liliya, dan pastinya akan sangat menyenangkan melakukannya bersama-sama. Selain itu, mencetak kenangan baru juga masihlah hal utama sebelum mereka dihadapkan dengan hasil akhir.
"Bagaimana? Apakah ada yang tidak setuju? Anggap saja kita ini sedang liburan," ucap Ashnard.
Bagi Wilia dan Eris, ini adalah kemungkinan yang mereka takuti. Mereka tidak tahu apakah acara malam api unggun adalah rencana buruk Ashnard atau hanya menikmati api unggun bersama-sama, tapi mereka sudah bertekad untuk terus waspada. Eris dan Wilia setuju untuk meriahkan acara api unggun.
Terakhir Nina yang tidak mungkin dia sendiri yang menolak. Dia sebenarnya cukup terkejut. Dia sudah membayangkan satu hari ini ingin melakukan apa saja bersama Ashnard. Nina akhirnya mengikuti saja keinginan semuanya. Dia juga optimis bisa menghabiskan waktu bersama Ashnard jika ikut membantu mengadakan acara tersebut.
__ADS_1
Akhirnya rencana pun di putuskan. Semua barang-barang yang diperlukan disiapkan hingga sempurna. Kompor portabel, kursi, kayu-kayu untuk api unggun, makanan-makanan. Hanya untuk kali ini saja tidak ada roti mentega dan sup. Malam ini adalah spesial.
Orang-orang cukup sibuk, terutama Ashnard dan Liliya yang begitu bersemangat. Liliya sudah menginginkan ini sejak awal. Sementara Ashnard bekerja lebih keras daripada yang lain, walaupun ini hanyalah acara api unggun biasa. Terlihat Ashnard menebang salah satu pohon dengan pedangnya untuk digunakan sebagai tempat untuk duduk nantinya. Serta ranting-rantingnya bisa digunakan untuk api unggun.
Kesibukannya dan pekerjaan yang melelahkan itu membuat Nina ingin membantunya. Setiap kali Nina ingin mendekati Ashnard dan mengajaknya mengobrol, Ashnard selalu menyuruhnya untuk menunggu karena dia lagi sibuk. Menunggu sampai kapan? Itulah pertanyaan yang selalu Nina ingin Ashnard jawab.
Bahkan, sekalipun dia bertanya ke sahabatnya, Eris juga tidak dapat memberikan jawaban yang membantu. Nina hanya berharap pada acara malam kali ini.
Api memercik udara, menyala dengan terang di antara hutan, danau, villa dan jalan setapak. Bunyi percikannya bahkan lebih ramai daripada sekumpulan anak-anak muda yang duduk melingkari api yang terus berkobar.
Sebongkah kayu dilemparkan ke dalam api oleh Ashnard. Rasa bosan menghinggapinya sehingga dia tidak peduli kalau api itu belum meredup. Dia tetap melemparkan kayu untuk dibakar lagi.
Malam ini begitu sunyi, tidak seperti pikiran Liliya. Acara yang dia harapkan penuh keramaian dan kehangatan ternyata sepi seperti kuburan. Mereka seperti orang asing yang tidak saling mengenal dan secara tidak sengaja duduk bersama di sekitar api unggun. Entah kenapa mereka semua saling berdiam padahal ada banyak hal yang bisa diomongkan saat api masih menyala atau mungkin mereka kelaparan dan menunggu makanan datang.
"Bagaimana jika selagi menunggu Nina, Eris dan Cynthia datang kita bermain jujur atau tantangan?" ajak Liliya, tak ingin malam yang ditunggu-tunggunya berakhir mengecewakan.
"Kurasa itu ide yang bagus," sahut Reinhard setuju. "Bagaimana menurutmu Wilia?" tanyanya ke sang putri yang duduk di kursi mewahnya sendiri.
Ashnard mengangguk dan memberikan senyuman ke Liliya.
Liliya bertepuk tangan dengan begitu gembira. Dia bisa melihat malam ini akan berjalan dengan lancar. Liliya lalu melempar pandangan ke setiap orang di sana, lalu berhenti ke sebelah kanannya, ke sosok yang paling tinggi dan berbeda dari yang lainnya. "Kalau begitu, Nona Wilia, kau duluan."
"Aku tidak perlu khawatir dengan apapun. Jika bisa, aku ingin memilih dua-duanya. Aku meladeni semuanya," balas Wilia dengan sombongnya.
Liliya menganggapnya sebagai tantangan bagi dirinya untuk memanfaatkan kesempatan ini. Dia menyeringai dan berkata, "Betapa baiknya, Nona Wilia. Sesuai dengan keinginanmu. Untuk yang jujur, apa yang sebenarnya telah kau langgar hingga mendapatkan hukuman disini?"
Wilia tersentak heran mendengar pertanyaan Liliya. "Sungguh? Pertanyaanmu sungguh membosankan. Padahal, kau bisa menanyaiku siapa orang yang kusuka, siapa orang kubenci, aku lebih memilih siapa dari dua orang yang tunjuk dan sebagainya. Aku siap menerima pertanyaanmu seperti itu, kok!"
"Jawab saja, Tuan Putri. Aku juga penasaran," goda Reinhard, dimeriahkan dengan Ulfang yang bersorak. "Jangan bilang kau takut untuk menjawabnya?"
"A-aku tidak takut!" bentak Wilia. "Baiklah, akan kujawab. Sebenarnya ada banyak, tapi aku tidak tahu yang mana yang membuatku dihukum disini. Yang baru-baru ini aku bertengkar dengan gadis api di kota, lalu aku memotong semak-semak di taman akademi tanpa izin, menggunakan sihir es Cynthia di kamar asramaku, kemudian mencoret-coret papan tulis, menghiasi kelas tanpa izin, masuk ke asrama laki-laki, dan menonton pertarungan tes Reinhard dan Arlon."
__ADS_1
Pelanggaran yang Wilia perbuat, kebanyakan memiliki satu kesamaan yaitu alasan dibalik dia melakukan semua itu adalah demi Reinhard.
"Kau seorang putri tapi pelanggaranmu begitu banyak," ledek Ulfang yang tertawa puas sebelum Reinhard menyikutnya.
"Hentikan itu! Kau dan aku, kita semua juga melanggar peraturan." Wilia seketika bahagia saat Reinhard secara tidak langsung membelanya. Meskipun dia tidak diperbolehkan untuk memperlihatkan kedekatannya di depan Liliya, Wilia tetap tak bisa menutupi senyum puasnya.
"Jujur sudah. Kalau begitu, tantangan! Tantangannya adalah ... hmm ... ini agak sulit. Karena kau seorang putri, bagaimana kalau kutantang kau untuk mencium kaki semua orang satu per satu?" ungkap Liliya.
"Mudah!" Wilia menyampingkan rambutnya ke bahu seolah menunjukkan bahwa dia cantik dan dia bisa melakukan segalanya dengan mudah.
Wilia mendekati dan membungkuk di depan Liliya. Meskipun, gaunnya menjadi kotor karena debu, dia rela berlulut. Wilia mengambil kaki kanan Liliya yang sudah telanjang, lalu menempelkan bibirnya tepat di punggung kaki Liliya.
"Oh, jadi begini rasanya dicium," gumam Liliya yang tampak bersemangat.
"Sebentar lagi akan ada pesta dansa. Sebaiknya kau segera mencari laki-laki untuk diajak berdansa. Kakimu cantik dan halus. Gunakan itu untuk memikat laki-laki lain. Seharusnya mereka tertarik dengan kakimu." Liliya tak percaya kalau dia baru saja diberi saran oleh sang putri langsung. Meskipun sarannya cukup menantang, Liliya akan berusaha mencobanya.
Setelah itu, Wilia menatap Ashnard cukup lama lebih dari siapapun sebelum dia berlutut. Ashnard sedikit kebingungan dengan tatapannya tapi dia tidak begitu mempedulikannya.
Wilia tidak benar-benar mencium kaki Ashnard. Dia tidak sudi dan hanya menempelkan pipinya ke kaki laki-laki tersebut. Wilia melakukannya juga kepada Ulfang.
Wilia sangat menantikan yang terakhir. Dia menyeringai sambil menatap Reinhard saat perlahan menurunkan tubuhnya. Tatapan dan senyuman itu selalu menggoyahkan hati Reinhard.
Reinhard gelisah karena jika Wilia mengeluarkan ekspresi seperti itu, dia akan bersikap diluar batas. Reinhard takut jika rahasianya terbongkar. Namun, ternyata hanya berlangsung cepat. Seperti sebuah kecupan kecil, Wilia melepaskan kaki Reinhard dengan begitu cepat. Bahkan, sensasi kecupan itu lenyap seketika sebelum Reinhard bisa merasakannya.
"Selamat! Putri Wilia memang hebat! Kau berhasil menyelesaikan kejujuran dan tantangannya," seru Liliya menyoraki Wilia yang berjalan kembali dengan angkuhnya. "Baiklah, sekarang giliran siapa?"
"Aku." Kedatangan Eris yang disusul Nina dan Cynthia di belakang mengejutkan mereka yang sudah menunggu di api unggun. "Aku menunjuk Ashnard. Jujur atau tantangan."
Eris memang baru saja datang, tapi dia seperti sudah menyiapkan segala hal. Matanya terkunci pada Ashnard dengan tajam dan menunggu jawaban darinya. Kini tinggal Ashnard lah yang menentukan alurnya.
"Tantangan," jawab Ashnard yang mencari aman.
__ADS_1
Eris mengangkat ujung bibirnya seolah-olah dia sudah bisa menebaknya sebelum Ashnard sempat mengucapkannya. "Kalau begitu, aku menantangmu untuk menjawab dengan jujur. Apa sebenarnya rencanamu?"