The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Pedang Rabalm


__ADS_3

"Seorang Vantalion haruslah kuat seperti api suci yang melindungi Agnar."


Kalimat yang diucapkan ayahnya itu terus membakar di hati Nina seperti api. Bukan dengan cara yang baik. Terus membakar tanpa henti meskipun Nina sudah tidak sanggup lagi untuk berteriak. Luka bakar di punggungnya adalah salah satu akibat dari ucapan ayahnya.


Memang menyakitkan, tapi apa lagi yang Nina bisa lakukan selain mematuhinya. Dia hanyalah gadis kecil waktu itu. Sampai bertemu dengan Eris, dia tetaplah gadis kecil ayahnya. Namun, mereka selalu saling membantu satu sama lain.


Seperti Nina yang akan selalu membela Eris, Eris akan selalu datang untuk membantu Nina.


Saat mendengar suara keramaian, disanalah tempat yang Eris tuju. Karena dia yakin, ada sesuatu yang tidak beres. Sesuai dengan apa yang Eris pikirkan. Dia menemukan Nina yang sedang mencekik Wilia. Amarah gadis berambut merah itu ditunjukkan dengan aura panas yang mengaburkan cahaya.


Sesaat Eris berteriak memanggil nama Nina, tangan yang mencengkeram leher Wilia terbuka, melepaskan Wilia yang terbatuk di tanah.


Eris langsung mendekati Nina yang berdiri diam seperti anak kecil yang telah mengakui kesalahannya. Aura panasnya perlahan menyusut.


"Kau harus tenang, Nina. Jangan melakukan hal yang bodoh," ucap Eris yang merasa cemas saat melihat bekas jeratan di lengan Nina.


"Dia yang telah melukaimu, tak bisa kulepaskan begitu saja," gumam Nina, tangannya mengepal erat menyiratkan hanya amarahnya saja yang tidak padam.


"Sudah cukup! Aku tak ingin kau menyakiti siapapun lagi. Kau adalah Nina. Jangan jadi seperti mereka."


"Tapi, dia menyakitimu."


"Aku tahu. Aku memang membencinya karena itu, tapi bukan berarti membalasnya dengan kekerasan juga. Biarkan pihak yang berwenang yang mengurusnya."


Selagi perhatian Nina teralihkan ke Eris, Wilia mengambil kesempatan ini dengan menendang Nina, dan berputar balik ke belakang. Wilia menyadari bahwa pertarungan disini akan merepotkan karena tidak menguntungkan baginya. Dia lalu berbalik dan berlari menjauh.


"Kurang ajar!" geram Nina. Meskipun, Eris berusaha menghentikannya, Nina tetap kukuh pada emosinya dan langsung mengejar Wilia.


Wilia memancing Nina hingga sampai di luar kota. Di hutan yang jauh dari keramaian dan tentunya menguntungkannya.


"Tak kusangka kau gigih sekali," celetuk Wilia yang berhenti di tengah hutan, berhadapan dengan Nina.


Nina menggenggam kepalan tinju tangan kanannya di depan dadanya. Timbul sebuah kobaran api di kepalannya. "Wilia, kau harus menyesali perbuatanmu!" Dia lalu melesat ke depan sambil mengarahkan tinju apinya.

__ADS_1


Wilia tidak bergerak seincipun saat sebuah pukulan api dalam beberapa detik lagi akan menyasar di tubuhnya. Karena dia tahu dan percaya.


"Nona Wilia, tangkaplah!" Tiba-tiba, sebuah pedang meluncur dari kejauhan, dilempar oleh sang pelayan ke arah Wilia.


Tanah bergetar dan muncul sejumlah akar besar yang membuat dinding saat Wilia dengan sigap menangkap pedang itu. Dinding itu cukup tebal untuk menahan serangan Nina, meskipun apinya tetap membakar hangus akarnya.


Nina yang terkejut langsung melompat mundur. "Senjata rahasia Rabalm," gumam Nina.


Saat Wilia menggenggam pedang itu, dari gagangnya tiba-tiba muncul duri-duri tajam yang menusuk telapak tangan Wilia. Wilia mengerang kesakitan, tapi baginya dia sudah terbiasa dengan rasa sakitnya.


Darah mengalir dari telapak tangan Wilia dan teresap ke dalam gagang yang terbuat dari kayu tersebut. Di sisi bilah pedang itu tiba-tiba menyala hijau terang.


Lalu, Wilia mulai merasakan energi yang kuat merasuki tubuhnya. Energi yang didapatkan itu berasal dari pedang yang meminta darah pemegangnya. Namun, hanya darah khusus saja yang dapat diterima oleh sang pedang. Dan darah Wilia adalah yang cocok.


Pedang dengan gagang seperti dua akar yang saling melilit dan menahan bilahnya itu merespon keinginan Wilia untuk menggunakan darahnya. Melalui tusukan di telapak tangannya, darah akan mengalir terus untuk pedang rakus tersebut hingga akhirnya Wilia sendiri yang melepaskannya. Sebuah kontrak yang harus dilakukan oleh keluarga Walheimstein.


Dengan kontrak tersebut, Wilia mendapatkan kekuatan untuk mengendalikan tanaman. Dia menciptakan dinding dari akar tanaman yang menahan serangan Nina dan memanggil akar lainnya dari dalam tanah untuk menahan kaki dan tangan Nina.


"Pedang saja tidak cukup menghentikanku!" Nina memunculkan sebuah api di pergelangan tangan dan kakinya yang kemudian membakar akar tanaman tersebut.


Akan tetapi, Wilia terus mengeluarkan akar tanaman untuk terus mengikat Nina. Satu akar habis terbakar, lalu muncul akar tanaman baru yang mengikat Nina. Terus-menerus berulang. Tidak akan pernah berakhir hingga darah Wilia habis atau energi Nina sudah mencapai batas.


"Sudah cukup!" Nina yang tidak tahan lagi, melepaskan energi apinya yang cukup kuat hingga membakar sekelilingnya, termasuk semua akar Wilia.


Wilia terjatuh, berusaha menghindari panas yang menyengat. Namun, sebagian rok gaunnya terbakar.


Sementara, pakaian Nina sudah compang-camping. Penuh lubang bekas terbakar. Roknya yang awalnya setinggi betis kini hanya setinggi lutut. Lengan baju kirinya terkoyak hingga sampai ke setengah bahu dan dada kirinya. Jika dia melepaskan apinya lagi, pakaiannya akan hangus dan dia akan berakhir tidak berbusana.


"Sesuai namamu. Kau memang berapi-api, gadis api!" sindir Wilia yang bangkit sambil mengangkat pedangnya ke atas. Pepohonan di sekitar yang belum terbakar bergetar, menjatuhkan daun-daun yang jumlahnya sangat banyak.


Daun-daun itu dibuat menjadi sekeres batu oleh Wilia. Lalu, dia kumpulkan semua daunnya dan menerbangkannya ke arah Nina.


Dengan satu pukulan di udara, api berkobar dan menyembur ke depan. Membakar semua daun-daun itu menjadi debu hitam. Apinya terus menyebar hingga membakar pepohonan di sekitar. Semakin tinggi apinya, semakin tinggi asapnya. Hewan-hewan seperti burung dan tupai kecil melarikan diri dari rumah mereka yang telah hangus oleh pertempuran Nina dan Wilia.

__ADS_1


"Hei, kau sudah gila ya ternyata! Apa kau saking terobsesinya denganku, kau sampai ingin membakar hutan ini?"


"Aku tidak peduli!" geram Nina.


Meskipun Wilia telah memancing Nina di tempat di mana dia bisa menggunakan kekuatan pedangnya dengan bebas, dialah sebenarnya yang terpojok oleh pilihannya sendiri.


Dia tidak menduga jika kekuatannya justru menjadi bumerang sendiri baginya. Wilia terjebak oleh panas dan asap. Sekalipun telah menggunakan kekuatan unik yang diturunkan dari leluhur Walheimstein, dia tetaplah bukan tandingan Nina.


Kekuatan Nina terlalu besar bagi gadis sepertinya, setidaknya itu yang dipikirkan Wilia di ambang kekalahannya. Dia memang mengenal Nina, tapi belum pernah berhadapan satu sama lain. Tak disangka, kekuatannya sangat gila dan destruktif. Sangat jauh berbeda dengan sosoknya yang telrihat seperti gadis bangsawan polos biasa saja.


Sebagai seorang putri, tentu saja Wilia berpikir positif bahwa dia bisa mengalahkan Nina. Keluarga Vantalion hanyalah keluarga bangsawan yang lebih rendah daripada keluarga Wilia yang merupakan anggota kerajaan. Dia terlalu optimis sampai-sampai dia melewatkan satu fakta bahwa status tidak menentukan seseorang lebih kuat atau tidak.


Wilia menyesali pemikirannya itu, hanya saja dia tetap tidak terima fakta bahwa Nina memiliki kekuatan yang diluar nalar. Luka-luka diseluruh tubuhnya seolah biasa saja bagi Nina. Daripada disebut gadis api, lebih cocok disebut gadis gila.


Sampai akhir, Wilia tidak bisa melakukan perlawanan lagi. Darahnya juga sudah mencapai batas. Dia berlutut pada pedangnya yang tertancap di tanah sambil mengatur nafasnya yang sulit karena udara yang terbakar.


Cynthia juga tampak sudah kalah telak. Dia tergeletak tak sadarkan diri di belakang Wilia. Cynthia hanya bisa memberikan luka goresan di leher Nina saat membantu Wilia tadi. Esnya dengan cepat hancur oleh Nina. Lalu, dengan satu pukulan di perutnya, Cynthia kalah.


Sekarang, gadis api bermata merah itu berjalan dengan tegak menuju Wilia. Langkahnya menciptakan jejak api di tanah. Luka-luka yang diakibatkan oleh Wilia dan Cynthia di sekujur tubuhnya tidak seberapa dengan luka bakar di punggungnya. Tidak lama lagi tujuannya akan tuntas.


"Itu dia!" seru Eris yang akhirnya berhasil menyusul Nina setelah melihat pohon-pohon yang terbakar. Diikuti juga dengan Ashnard yang Eris minta bantuannya.


Eris berusaha mendekati Nina, tapi aura panas di sekelilingnya membuatnya sulit didekati. Kulitnya terasa melepuh saat tangannya berusaha menggapai Nina. Eris berhenti dan melindungi wajahnya. Dia tak mampu lagi untuk mendekat.


Saat itu, api yang melalap hutan terlalu besar. Akan berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Ashnard mengumpulkan air di tangannya hingga membentuk gelembung. Air-air dari kolam dan sungai terkumpul dan membuat gelembung semakin membesar. Saat merasa sudah cukup, Ashnard melemparkan gelembung itu di atas hutan lalu memecahkannya. Terciptalah sebuah rintikan hujan buatan yang memadamkan api tersebut.


Air mengguyur tidak hanya hutan yang terbakar, namun kedua gadis yang sedang berselisih. Namun, air menguap saat menyentuh tubuh Nina saking panasnya. Hujan dan kehadiran Eris tidak membuat gadis api itu berhenti. Dia tetap berjalan mendekati Wilia yang sudah pasrah.


Tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang. Wilia atau Eris tidak bisa membuat gadis yang marah itu menghentikan langkahnya. Dia seperti mesin pembunuh yang akan terus bergerak kecuali misinya selesai atau mesinnya yang tidak berfungsi alias mati.


Hingga akhirnya, Ashnard lah yang bertindak. Dia melihat bahwa ketidakmampuan Eris dan Wilia untuk menghentikan Nina, karena itu dia memutuskan untuk maju. Membuat sebuah tirai air dari tangannya yang dia gunakan untuk menyelubungi Nina. Ashnard memutari Nina dengan cepat agar tirainya mengelilingi tubuh Nina, lalu menekan aura panasnya dengan sensasi lembut dan sejuk dari airnya.


Nina langsung terduduk lemas saat tirai air Ashnard membungkus seluruh tubuhnya seperti selimut basah yang menenangkannya. Tak ada lagi api amarah atau emosi yang menyala di matanya, hanya ada kelelahan. Ashnard berhasil menjinakkan sang macan yang mengamuk. Nina tampak seperti putri yang sedang tertidur.

__ADS_1


__ADS_2