
Terlihat rencana Reinhard untuk membuat sang putri keluar dari zona nyamannya gagal. Meskipun, memang Wilia berada di luar istana.
Upaya apapun yang Reinhard lakukan agar putri dapat bersosialisasi dengan warganya. Termasuk membuat skenario dimana dia seolah-olah ada urusan sehingga meninggalkan Wilia di kota sendirian.
Akan tetapi, Wilia yang menolak untuk ditinggal sendiri, berkata, "A-aku ikut!"
"Ini urusan penting. Aku harus pergi. Sebentar saja, oke. Tunggulah sebentar."
"Penting seperti apa? Memangnya aku tak boleh ikut?" desak Wilia.
"Tidak bisa. So-soalnya, um ... acara ini khusus laki-laki. Sama seperti malam para gadis, tapi ini dilakukan pagi," ucap Reinhard berusaha mencari alasan.
"Acara khusus laki-laki? Memangnya kau memiliki teman lain di sini? Bukannya kau selalu sibuk menggangguku?"
Reinhard tak bisa mengelak lagi. "Yah, itu, memang benar sih."
Dan lagi, rencana Reinhard gagal. Dia sama sekali tak bisa membuat sang putri berinteraksi dengan para warga. Sekalipun ingin menyapa, muka dingin dan tatapan merendah itu muncul secara otomatis yang membuat para warga menjauh.
"Baiklah, aku menyerah. Aku sudah tidak sanggup lagi," ungkap Reinhard.
"Baguslah. Aku juga tidak memaksamu. Lebih cepat berakhir lebih aku suka," sahut Wilia cuek.
Disinilah terakhir kalinya Reinhard bersama Wilia. Karena setelah itu, dia sudah harus kembali ke Winfor. Lagipula, tujuan kedatangan Asberion di Rabalm sudah berakhir beberapa hari yang lalu.
Perjalanan kembali ke Winfor begitu membosankan. Setelah dia selama seminggu lebih dipuaskan dengan pemandangan padang bunga Rabalm, kini yang bisa dia nikmati hanya bukit, rumput dan hutan saja.
Dia membuang nafas setelah melewati satu tempat dan terus melakukannya sepanjang jalan.
"Kau tampak tidak bersemangat, nak," ucap Gerwin mengkhawatirkan putranya.
"Yah, hanya sedikit kekecewaan saja." Reinhard mengembuskan nafas lagi.
"Bagaimana? Apa saja yang telah kau dapatkan di Rabalm?"
Reinhard menyandarkan kepalanya di jendela kereta kuda. Membiarkan angin mengibarkan rambutnya. "Tidak ada yang kudapatkan selain, ejekan tuan putri yang menyakitkan dan semua rencanaku yang gagal karena kesombongannya," ucapnya lemas seperti tidak ada semangat.
"Apa kau berhasil mendapatkan hati Putri Wilia?"
"Tidak. Dia benar-benar sulit didekati. Bermulut besar. Sedikit otak. Penakut. Dan gampang lemah. Semua yang keluar dari mulutnya tajam. Yang bagus darinya hanya wajahnya saja," ungkap Reinhard yang sesungguhnya. Semua itu dari lubuk hatinya yang terdalam.
"Tapi, kau memenangkan hati sang raja." Terlihat sebuah senyuman lebar Gerwin. "Yang Mulia mengizinkan kita, khususnya kau, Reinhard, untuk mengunjungi Rabalm kapanpun. Yang Mulia percaya pada kita dan memberi kita kebebasan."
__ADS_1
"Sungguh? Bagaimana bisa?" Reinhard tidak percaya dengan kata-kata ayahnya.
"Ayah akui, ini karenamu. Kau dan Putri Wilia tampak bersenang-senang bersama. Yang Mulia berkata kalau dia tidak pernah melihat putrinya menyentuh bunga atau bekerja keras merawat bunga. Dan itu sudah cukup menjadi alasan untuk raja menerima kita."
"Tapi, tidak ada satupun rencanaku yang berhasil sempurna."
"Tidak apa. Kau bisa menyempurnakannya lain kali, saat kita berkunjung ke sana lagi. Jika kau berhasil melakukannya, itu akan menjadi prestasimu yang membanggakan bagi Asberion."
Asberion adalah segalanya bagi Reinhard. Dia akan melakukan apapun demi Asberion. Mendaki gunung tertinggi atau melawan monster terjahat sekalipun. Jika dia berhasil menyelesaikan mis yang diberikan, tidak ada perasaan lain selain kebanggaan pada dirinya. Sebuah semangat yang mengalir di setiap darah para Asberion.
Karena itu, ketika Reinhard mendengar ayahnya yang memujinya, itu cukup membuat hati Reinhard bermekaran seperti bunga. Semua kekesalan, kekecewaannya sirna tergantikan oleh semangat dan rasa bahagia yang semakin menyebar. Dia tidak bisa berhenti senang saat itu. Dan Reinhard memutuskan untuk berusaha lebih keras lagi untuk membanggakan Asberion.
"Kapan kita akan ke Rabalm lagi?" tanyanya penuh semangat di sorot matanya.
***
Sementara itu, di Istana Veneburgh menjadi lebih sepi setelah kepergian Asberion. Wilia berdiri di jendelanya yang tertutup, memandang ke padang bunga liar yang luas. Dia menikmati kesendiriannya.
"Senang rasanya sudah tidak ada Asberion licik itu lagi disini. Benar-benar tenang dan ... sepi. Seperti biasanya."
Namun, wajah sang putri tidak menggambarkan perasaan senangnya sama sekali. Bahkan, di belakangnya saja, Cynthia bisa menyadarinya.
Inilah yang Cynthia takutkan. Takut jika majikannya tidak akan pernah berubah. Dan selamanya hidup dalam julukan tuan putri yang kejam.
Hingga suatu pagi, Wilia kembali ke kebun bunganya tanpa Cynthia mengerti alasannya.
"Cynthia, dimana bunga yang kutanam?" tanyanya.
"Di tanah yang ada papan nama nona," ucap Cynthia sambil menunjuk ke satu tempat.
Wilia berdiri di depan tanah kosong dengan sebuah papan bertuliskan namanya. "Jangan membohongiku, Cynthia! Dimana bunganya?"
"Bunga nona masih belum tumbuh. Tapi, jika nona merawatnya setiap hari dengan baik dan benar, aku yakin bunga nona akan segera tumbuh menjadi bunga yang cantik," ucap Cynthia.
"Begitu ya. Lalu, kenapa semua tanahnya kosong? Siapa yang melakukannya?" tanya Wilia kebingungan.
"Tuan Asberion, nona. Setelah nona pergi karena capek, Tuan Asberion mengganti semua tanaman yang rusak dengan tanaman yang baru."
"Reinhard melakukan semua ini? Kenapa?"
"Aku percaya, Tuan Asberion peduli dengan nona. Tuan Asberion menganggap kebun bunga ini seperti nona. Dia tidak ingin melihat keindahan kebun bunga hanya sebagian saja, karena itu dia menanam bunga baru di semua tanah. Seperti nona."
__ADS_1
"Sepertiku?"
"Ya, Nona Wilia. Kebun bunga itu seperti nona. Jika nona masih bingung, tanyakan saja pada Tuan Asberion jika berkunjung lagi."
Wilia terdiam di depan kebun bunga yang masih belum ada satupun bunga. Keheningan bisa berarti banyak hal. Cynthia takut jika lagi-lagi ucapannya membuat sang majikan marah. Nyatanya tidak.
Cynthia bisa merasakan kalau tidak ada kemarahan dalam diri Wilia saat ini. Mungkin kesedihan atau kerinduan. Cynthia sulit menebaknya. Dia hanya tahu bahwa setelah itu, Wilia melewatinya tanpa berkata apapun. Benar-benar hening seperti kolam yang dalam.
Sejak saat itu, Cynthia selalu menemukan majikannya tidak ada di kamarnya. Wilia bangun lebih pagi dan sudah berdandan cantik, serta memakai gaun indahnya. Wilia ditemukan di kebunnya, menyiram bunga sambil menunggunya tumbuh. Wilia melakukan itu setiap hari. Bahkan, Wilia sering membaca buku tentang bunga di perpustakaanya yang membuat Cynthia semakin terkejut.
Cynthia yang terus menemani Wilia kemanapun melihat sebuah senyuman kecil di wajah Wilia saat terlihat bunganya mulai keluar dari tanah. Senyumannya semakin melebar saat bunga-bunganya bermekaran.
Senyumannya terlihat lebih ceria dan penuh makna saat mendengar kabar bahwa Reinhard akan datang. Meskipun ia menahan sikapnya di depan ayahnya saat mendengar kabar itu, tapi Cynthia tahu bahwa putri sangat senang.
"Kita berjumpa lagi, tuan putri."
"Selamat datang kembali di Rabalm."
Kedua mata itu bertemu penuh kegembiraan, namun masih tetap menjaga sikap di depan kedua keluarga. Setelah itu, Cynthia bisa merasakan suasana yang jauh berbeda dari sebelum kedatangan pertama Reinhard.
"Tak kusangka, kau bertambah tinggi daripada waktu itu," puji Wilia.
"Dan tuan putri masih tetap terlihat cantik sama seperti sebelumnya," ucap Reinhard membalas pujian.
Wilia tersenyum tipis mendengar pujian dari Reinhard. "Oh, jadi menurutmu aku tidak ada perubahan? Kalau begitu, mari kutunjukan apa yang berubah."
Kebersamaan mereka semakin erat setelahnya. Mereka bermain bersama, merawat bunga, dan kadang Reinhard mengajari Wilia cara berpedang.
Terkadang, mereka menghabiskan waktu di perpustakaan. Membaca buku tentang bunga hingga fiksi. Semua buku yang mereka baca dipenuhi keseruan seolah dunia milik mereka berdua.
Memang ada saat dimana Wilia seperti Wilia biasanya, sombong dan suka mengejek. Namun, semakin sering Reinhard berkunjung semakin ia menerima sifat Wilia yang seperti itu. Wilia juga sudah banyak berubah dari biasanya.
Perubahan itu tentunya dapat dirasakan oleh pelayannya. Mulai dari Wilia yang semakin menyukai bunga, hingga sifatnya yang sedikit lebih terbuka. Ada saat minum teh atau saat sebelum tidur, Wilia sering memintanya saran atau bercerita mengenai kesehariannya dengan Reinhard.
Tingkah Wilia yang seperti memberi makna keberadaan ke Cynthia selain bahwa dirinya adalah seorang pelayan, tapi juga teman.
Begitu semangatnya dia bercerita hingga lewat tengah malam. Ketika, Cynthia bertanya apakan Wilia bersenang-senang, jawaban yang keluar dari Wilia kadang beragam. Kadang dia menyembunyikan kata senangnya dalam kekesalannya, kadang dia menolak untuk menjawab tapi bibirnya tersenyum, dan kadang dia mengakui secara terangan-terangan.
Apapun itu, dilihat dari ceritanya, wajahnya yang selalu ekspresif dan tingkahnya yang suka mengelak dari kenyataan, membuat Cynthia yakin bahwa kebersamaan mereka menciptakan sebuah perasaan baru yang sang putri dapatkan. Semakin lama tumbuhlah benih cinta.
Dan Wilia tidak menyembunyikan yang satu itu. Dia terus mengakui perasaannya terhadap Reinhard yang telah memberinya warna baru dalam hidupnya hingga saat ini. Meskipun dia tahu bahwa Reinhard memiliki perasaan terhadap orang lain, tapi bukan berarti perasaannya akan padam.
__ADS_1