The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Sarapan Pagi


__ADS_3

Ashnard menyadari ada suara di lantai bawah. Saat ini dini hari. Matahari bahkan belum terlihat cahayanya. Nina dan Eris tidur, membaringkan kepala mereka di meja perpustakaan setelah semalam asik membahas soal buku.


Dengan hati-hati, Ashnard menarik kakinya ke luar sebelum Nina dan Eris di sampingnya tersadar. Bahkan sampai di lorong, Ashnard melirik ke belakang dan mereka masih tertidur pulas.


Semua pintu terkunci, tertutup dengan rapat Tidak ada suara apapun di villa pada pagi hari itu. Semua orang beristirahat setelah perjalanan panjang dan membosankan mereka. Namun, masih ada tanda kehidupan di lantai bawah.


Ashnard menemukan Terenna dan Egon yang sudah berada di ambang pintu dan akan segara ke luar. Ashnard langsung turun dan menghampiri mereka.


"Sudah langsung ingin pergi? Kalian tidak ingin berpamitan ke yang lainnya?" tanya Ashnard.


"Semakin cepat kami pergi semakin kalian siap," jawab Egon, dengan muka murung khasnya.


"Ingat, Ashnard. Mereka semua ada di tanganmu. Kau harus menjaga mereka. Itu juga bagian dari tugasmu. Sebelum bulan purnama di hari ketiga berada di puncaknya, kalian tidak boleh pergi ke danau. Aku sudah peringatkan. Jika sudah waktunya dan jawabannya sudah terungkap, kau bisa mengaktifkan mantra sihir yang telah kuajarkan padamu," ucap Terenna. Menahan pintu saat Egon telah keluar terlebih dulu.


"Bagaimana jika ada sesuatu yang tidak sesuai rencana? Mungkin Pria Luka atau orang lain datang," tanya Ashnard.


"Jika itu terjadi, kau tahu harus apa dengan pedangmu," jawab wanita itu. "Aku tahu kalian adalah anak-anak yang kuat. Aku juga berharap sama sepertimu. Tapi, terkadang semua tidak berjalan sesuai keinginan kita. Kau harus bersiap atas segala kemungkinan apapun, Ashnard. Aku tak ingin menjadi sosok penjahat, tapi aku tetap harus percaya padamu. Kami semua, Servulius, Gerardus selalu percaya padamu."


Terenna telah menutup pintunya, meninggalkan Ashnard dan murid lainnya di villa yang terisolasi dari dunia luar. Ashnard menarik nafasnya tidak hanya untuk menghirup oksigen pagi yang segar, tapi juga untuk mempersiapkan dirinya. Ashnard berharap semoga dirinya tidak perlu sampai menggunakan pedangnya.


Ketika Ashnard kembali naik ke lantai atas, pintu kamar yang tepat berada di depan tangga terbuka. Muncul hanya kepala Liliya dengan wajah yang kebingungan keluar daru pintu yang terbuka sedikit, menyembunyikan tubuhnya di baliknya. "Ash, apa yang kau lakukan? Apa kau mengobrol dengan seseorang? Tadi aku dengar suara-"


"Ah, tidak ada!" potong Ashnard. "Aku hanya berkeliling villa saja. Kemarin aku tidak sempat melakukannya."


"Berkeliling di jam segini? Apa kau yakin?"


Ashnard tersenyum sambil mengangguk.


"Bagaimana kalau berkeliling saat sudah terang? Aku bisa menemanimu," tawar Liliya.


Ashnard tersenyum lagi dan mengangguk dengan seadanya.


Perjalanan mereka berkeliling villa di mulai dari depan. Sebenarnya, Ashnard tidak berniat melakukan ini, tapi dia terpaksa dan harus mengikuti Liliya.


"Lihat danau itu, Ash!" Liliya berlari penuh semangat saat melihat danau biru yang luas di depannya.


Ashnard dengan cepat menarik lengan Liliya sebelum dia mendekati danau. "Jangan! Terenna bilang kita tidak boleh bermain di danau."


Liliya langsung kecewa. Harapannya bermain air di danau kini pupus. Liliya hanya bisa melihat saja keindahan danau itu tanpa menikmati kesegaran airnya.

__ADS_1


Jalan dari mana mereka datang ternyata lebih padat semak-semak dan pohon dari yang Ashnard duga. Jalannya juga penuh batu seperti yang dia rasakan selama perjalanan. Ketika Ashnard melihat ke ujungnya, di tidak menemukan apapun selain titik kecil yang tidak terlihat di kejauhan.


"Apa menurutmu kita bisa mendirikan api unggun disini?" tanya Liliya tiba-tiba, menyadarkan Ashnard yang melamun, menatap ke ujung jalan.


"Api unggun untuk apa?" heran Ashnard.


"Tentu saja untuk bersenang-senang. Kau tahu seperti cerita seram, bermain, bernyanyi, menari mengelilingi api unggun sepanjang malam. Bukankah itu seru?"


Ashnard tidak mengira pemikiran seperti itu datang dari Liliya. Ashnard berpikir mungkin wajar saja Liliya menginginkan seperti itu karena masa lalunya yang membuatnya sulit untuk bersenang-senang.


Terenna tidak berkata apapun soal mengadakan acara malam api unggun, jadi Ashnard tidak melarang keinginan Liliya tersebut.


"Jika kau mau mengadakannya, sebaiknya persiapkan saja barang-barangnya dari sekarang," ujar Ashnard.


Dan sekarang, tepat berdiri di depan Ashnard dengan cara yang ajaib, sebuah villa yang sebelumnya seukuran buah kenari. Ashnard dan Liliya terkagum-kagum akan bagaimana villa itu muncul.


Jika di kota, villa ini termasuk mewah. Dan fakta bahwa villa ini dibawa kemana-mana oleh Terenna benar-benar mengejutkan.


"Bagaimana jika kita ada di dalam villa, lalu Guru Terenna mengecilkan villa itu. Apakah kita akan ikut mengecil?" tanya Liliya, diluar nalar Ashnard.


"Tidak bisa. Sihir itu hanya bisa dilakukan di benda mati. Juga tidak bisa sembarang benda kau kecilkan. Ada tahap dan proses panjang yang dilakukan Guru Terenna untuk membuat villa itu bisa disesuaikan ukurannya dengan sihir. Itu yang aku dengar darinya."


Setelah itu, mereka masuk ke dalam dan langsung menuju dapur sekalian melihat apakah ada sesuatu yang bisa digunakan untuk acara api unggun.


Mereka membuka laci-laci dan gudang makanan, menemukan banyak sekali persediaan dari roti, daging, keju, sayur-sayuran, hingga rempah-rempahan yang beragam dari berbagai tempat. Satu potong daging sepi besar dibenamkan dalam satu kotak besar penuh dengan garam.


"Kurasa ini lebih dari cukup," gumam Liliya.


Tiba-tiba, terdengar bunyi keroncongan datang dari perut Liliya seperti bunyi seekor monster yang sedang kelaparan. Lagipula, pagi ini juga sudah waktunya sarapan.


"Ash, apa kau bisa memasak?" tanya Liliya.


"Yah, aku tidak bisa bilang aku bisa memasak."


Dan lagi, jawaban mengecewakan lain yang membuat Liliya bersedih. Sekarang perutnya akan sangat menderita karena dia juga tidak bisa memasak makanan.


"Bagaimana kalau bangunkan yang lainnya? Ini sudah pagi, kita bisa sarapan bersama," ujar Ashnard.


Liliya lalu segera naik ke atas dan membangunkan satu per satu. Di mulai dari pojok kiri, kamar para lelaki. Gerlon seperti biasa setelah diberitahu untuk sarapan, langsung kembali lagi tidur. Kemudian Ulfang yang tidak jauh berbeda. Reinhard yang awalnya menggerutu sampai membuka pintu dan menyadari kalau Liliya yang membangunkannya dia langsung semangat. Atas perintah Liliya, Reinhard memaksa Ulfang dan Gerlon untuk segera bangun. Dia tidak segan memakai kekerasan jika mereka masih tidak akan bangun.

__ADS_1


Kemudian lanjut ke kamar bagian sebelah. Nina, Eris, Wilia dan Cynthia. Berbeda dengan para lelaku yang malas dan terus menggerutu karena tidur nyaman mereka dihanggu, para gadis tidak seperti itu. Terutama Cynthia yang sudah membereskan kamarnya dan memakai baju pelayan.


Seorang pelayan sudah menjadi tugasnya untuk melayani orang lain, terutama majikannya. Dia sudah menguasai semua pekerjaan rumah seperti memasak. Karena itu, dia dengan senang hati menawarkan diri untuk memasak sarapan.


Setelah Cynthia membantu merapikan kamar dan mengganti pakaian majikannya, Cynthia membantu Wilia menuruni tangga. Semua mata di ruang tengah tertuju pada seorang putri yang memakai gaun berbalut kain seputih salju.


"Kenapa harus repot-repot memakai gaun formal, tuan putri? Kita sedang sarapan, bukan pesta resmi," tanya Nina yang sudah bersikap menjengkelkan saat melihat Wilia turun.


"Mungkin sebaiknya, mulai dari sekarang kau harus memperhatikan pakaianmu, gadis api. Supaya laki-laki yang kau sukai semakin tertarik padamu," ujar Wilia, bersikap tenang.


Wilia menghiraukan tatapan tajam Nina, dan duduk dengan santai di kursi sebelah Reinhard.


"Hei, itu kursiku, tahu! Kursi untuk gadis di sebelah kanan," tegur Ulfang.


"Kursi ini bukan milikmu. Siapa saja boleh memilikinya. Tidak ada pembagian jenis kelamin di meja makan," jawab Wilia, sambil tersenyum tenang seolah bukan masalah baginya.


"Aku tidak mau di barisan para gadis!"


"Itu salahmu sendiri. Suruh siapa kau tidak tetap duduk di kursimu."


"Aku hanya keluar sebentar! Baru sebentar saja dan kau tiba-tiba muncul, langsung duduk di kursiku tanpa bertanya terlebih dahulu."


Dan dimulailah kegaduhan di pagi hari. Jika ini adalah kota, maka para tetangga di sebelah mungkin akan terganggu dan menegur mereka.


Sementara ada yang berusaha menghindari kegaduhan, ada juga ingin ikut meramaikan kegaduhan tersebut.


Eris memilih untuk menuju dapur. Menggunakan pengetahuan tentang memasaknya untuk membantu Cynthia. Walaupun dia tahu Cynthia tidak perlu membutuhkan bantuan apapu, tapi dia hanya tak ingin paginya menjadi berisik.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Cynthia, melihat Eris yang sedang gelisah.


"Aku hanya ingin menikmati pagiku dengan tenang," jawab Eris, berpegangan pada meja dapur. "Apa memang Wilia seberisik ini?"


"Nona Wilia berisik saat nona menyukai suatu hal. Kalau nona tidak menyukai hal tersebut, nona akan diam sepanjang waktu," ungkap Cynthia sambil memotong-motong jamur dan sejumlah sayur lainnya.


"Maksudmu, Wilia menyukai Ulfang?"


"Teman. Nona Wilia menyukai kalian sebagai temannya," jawab Cynthia tersenyum lembut. "Kau ingin membantu?"


Sementara Eris membantu Cynthia membuatkan sarapan. Nina justru menjadi orang yang ikut semakin membuat kegaduhan karena ingin membalas Wilia yang sudah mengejeknya soal cara berpakaiannya.

__ADS_1


Ashnard hanya bisa mendesah dan memijat keningnya. Kata menyerah sudah terlintas di benaknya saat menyaksikan sendiri pagi ini. Kini dia tidak yakin bisa menjaga mereka semua tanpa keributan.


__ADS_2