The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Gerbang di Perpustakaan


__ADS_3

Gadis itu akhirnya bangun. "Sudah selesai," ucapnya sambil menatap Ashnard.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku mengeluarkan jiwaku untuk merasuki tubuh Eris dan membuatnya tanpa sadar mencentang namaku."


"Kau bisa melakukan itu?" tanya Ashnard dengan terkejut.


"Kau pun bisa. Asalkan berlatih."


Ein lalu turun dari pangkuan Ashnard, memberikan Ashnard kebebasan dan perasaan yang lega. Ashnard meregangkan kakinya yang kesemutan ke depan.


"Terima kasih atas pangkuannya. Lain kali, aku ingin melakukannya lagi. Tapi, lebih lama." ungkap sang gadis dengan datar.


"Tidak boleh!" tolak Ashnard sedikit meninggikan suaranya.


Gadis berambut hitam pendek itu mengambil pena dengan tabung tulang itu dari saku roknya. Lalu, di lantai perpustakaan yang cukup luas, dengan jarak antar rak yang lebar, dia berlutut. Dia menggambar sebuah lingkaran dengan penanya.


"Kau menggambar sesuatu?" Ashnard mendekati gadis itu.


"Ada banyak cara untuk masuk ke alam roh. Cara yang paling umum adalah mati."


"Aku pasti tidak akan melakukannya."


Ein melanjutkan gambarnya. Membentuk sebuah pola belah ketupat di tengah lingkaran. Lalu, ditambahkan pola-pola kecil di sekitarnya dan tulisan dari bahasa asing di sepanjang lingkaran.


"Ini cara yang kulakukan saat pertama kali masuk ke alam roh. Aku membuat sebuah gerbang yang langsung menuju ke alam tersebut. Cara ini tidak akan membuatmu mati, tapi beresiko membuat para roh bebas dan berkeliaran di dunia kita," jelas Ein.


"Apa ada cara untuk mengatasi hal itu?"


"Tenang saja. Para penjaga roh pasti tidak akan membiarkan para roh pergi keluar. Saat penjaga itu sibuk mengurus roh-roh yang berusaha keluar, kita akan masuk." Ein lalu berdiri setelah menyelesaikan menggambar lingkaran gerbangnya.


Hanya dengan bermodal pena tulang seukuran jari saja, Ein mampu menggambar pola lingkaran beserta simbol-simbolnya yang mengisi penuh seluruh lingkaran dengan begitu detail dan rapi, tanpa ada cacat sekalipun. Karena sedikit cacat saja, lingkaran sihir tidak akan bisa bekerja.


Ein tidak berhenti satu lingkaran saja. Dia melanjutkan membuat sejumlah lingkaran kecil di luar lingkaran besar, lalu menghubungkannya dengan satu garis lurus.

__ADS_1


"Setelah gerbangnya terbuka, jiwamu akan keluar dari tubuhmu. Bisa dibilang kau berada dalam gejala mati total tanpa sebab fisik. Gejala ini tidak jauh berbeda saat nyawamu dicabut," jelas Ein memasukkan kembali pena di saku roknya.


"Kedengarannya mengerikan. Apa benar cara ini baik-baik saja?" tanya Ashnard yang merasa gelisah.


"Tidak perlu takut. Aku akan ikut. Aku cukup memahami seluk beluk alam roh."


Lalu, Ein membuka tas selempangnya yang diletakkan di lantai. Dia mengeluarkan setoples berisi gas berwarna ungu pucat, sebuah pisau, alang-alang putih, dam bubuk putih.


"Untuk apa semua itu?"


"Membuka gerbang alam roh membutuhkan persembahan."


Ein meletakkan alang-alang putih di satu lingkaran kecil pojok kanan atas. Dilanjutkan dengan meletakkan bubuk putih yang berasal dari tulang makhluk hidup yang dihancurkan lalu dihaluskan. Di pojok kiri atas, Ein membuka sebuah toples berisi gas ungun dan langsung membalikkan toplesnya di lingkaran tersebut. Ein membiarkan toples itu di tempatnya agar gas ungu yang merupakan bagian dari jiwa tidak lepas ke udara.


"Persembahan terakhir adalah darah. Kau ingin menggunakan darahmu atau darahku?" tanya Ein.


"Darahku saja."


Ein mengangkat telapak tangan tangan Ashnard dan menghadapkannya ke atas, kemudian dengan pisaunya, dia menyayat hingga darah mengalir keluar. Ein mengarahkan tangan Ashnard ke arah lingkaran terakhir. Saat darah menetes dan menyentuh lingkaran, cahaya berwarna hijau dan ungu muncul.


"Pegang tanganku. Mungkin akan terasa sakit bagimu yang pertama kali melakukannya," ujar Ein.


Kemudian, dari lingkaran muncul sebuah gerbang yang menghadap ke atas. Gerbang hitam yang menuju ke alam lain itu menimbulkan bunyi berdentam yang keras seperti pada benda berat dan besar. Di kedua sisi pintu gerbangnya, ada sejumlah simbol dan huruf yang sama dengan yang Ein gambar di lingkaran sihir.


"Bertahanlah." Eris berkata saat gerbang itu terbuka sepenuhnya.


Hembusan angin dingin yang menusuk, keluar tiba-tiba. Dengan jumlah yang banyak dan aura yang tidak mengenakkan. Ada suara seperti bisikan saat angin itu melewati Ashnard. Baru diketahui bahwa angin itu adalah para roh yang mencoba keluar. Saat semakin Ashnard melihatnya, semakin jelas bentuknya. Puluhan hingga ratusan angin itu terbentuk dari wujud transparan berwarna ungu yang bergerombol.


"Jangan sampai tubuhmu dirasuki roh-roh itu!"


Selain angin yang terbentuk dari kumpulan roh, muncul juga dua bentuk mengerikan yang memegang sebuah sabit dengan gagang berwarna merah. Mereka adalah penjaga gerbang. Memilik struktur tubuh seperti manusia tapi tanpa kaki, hanya bisa melayang. Dari balik jubah hitamnya yang compang-camping ada sebuah mata merah bercahaya tapi tanpa kehidupan yang terpancar.


Ashnard bisa merasakan aura yang kuat dari dua penjaga itu saat mengayunkan sabitnya yang besar. Dalam sekali ayunan, roh-roh yang tersentuh oleh sabitnya, seperti tertarik oleh energi dibalik gerbang. Berangsur-angsur, tubuh transparan mereka terobek sedikit demi sedikit dan terhisap kembali ke dalam tempat mereka seharusnya.


Selagi para penjaga mengurus para roh, muncul seperti tali raksasa berwarna merah dari keempat lingkaran kecil di sekitar. Bentuk panjang itu memiliki tekstur seperti otot makhluk hidup dengan ujungnya yang berbentuk seperti kepala bunga. Benda aneh itu langsung menikamkan kepala bunganya ke dada Ashnard dan Ein. Saat itulah rasa sakit yang tak tertahankan dapat Ashnard rasakan.

__ADS_1


Seperti jantungnya telah ditusuk oleh pedang lalu dihisap. Benda panjang itu menarik dengan sangat kuat jiwa mereka hingga akhirnya terbebas dari raganya. Saat jiwanya terbebas Ashnard sudah tidak dapat merasakan apapun lagi termasuk rasa sakit yang barusan ia alami. Tidak sempat untuk memroses semuanya, Ashnard dan Ein dilemparkan ke dalam gerbang sebelum akhirnya tertutup.


Serasa jiwanya diputar-putar di udara setelah dilemparkan ke gerbang. Ashnard mendarat dengan wajahnya dulu yang menyentuh tanah. Dia tidak merasakan apapun di lidah atau kulitnya, tapi masih bisa melihat bagaimana tanah di tempat ini sangat berbeda dengan tanah sebelumnya yang dia pijaki.


Tanah di sini berwarna pucat. Halus seperti terus ditumbuk terus menerus. Sementara langitnya berwarna ungu dengan hamparan cahaya hijau seperti yang dia lihat di mata Ein. Dengan tambahan para roh yang berkelana di padang tandus putih sejauh mata memandang. Serta makhluk-makhluk aneh yang menghuni tidak hanya daratan dan pegunungan, tapi juga di langit tanpa matahari.


Ashnard menoleh ke belakang. Bukannya menemukan gerbang dia masuk yang telah hilang, tapi justru menemukan kabut spiral yang membentuk seperti tangga yang menghubungkan ujung langit tak terhingga dan sebuah bangunan raksasa berbentuk melingkar seperti arena pertarungan.


Tidak hanya itu saja, dia juga bisa melihat tubuhnya sendiri yang tembus pandang, juga tubuh Ein.


Ini adalah pemandangan aneh yang Ashnard pernah lihat sebelumnya. Tidak ada kehidupan disini, hanya ada kehampaan dan kengerian yang Ashnard akan temukan kelak.


"Jadi, seperti ini alam roh," gumam Ashnard, menyapu seluruh pemandangan di sekitar lalu berhenti ke Ein yang terdiam sambil menatapnya.


"Ah, jadi dia alasan kenapa saat aku melihat jiwamu selalu ada cahaya putih yang menyilaukan." Tunjuk Ein ke belakang Ashnard.


Saat Ashnard mengikuti ke arah mana jari telunjuk Ein, wajah putih menyapanya. "Yo."


"A-Apaaa!!! B-b-bagaimana bisa!?"


"Akhirnya, aku bisa keluar dari ruang kosong itu. Bagaimana kabarmu, Ash?" Dengan tubuh serba putih dan tanpa wajah, Roc berdiri tegak di depan Ashnard.


"Roc! Bagaimana kau bisa ikut ke sini?" heran Ashnard.


"Aku juga tidak tahu, kawan. Saat, aku lagi enak-enaknya duduk, seperti biasanya. Tiba-tiba, aku tersedot oleh angin yang sangat kuat. Ini mengingatkanku saat meninggalkan Lembah Eden," ungkap Roc.


"Jadi, begitu. Kau tidak sengaja ikut terhisap karena kau juga bagian dari jiwa Ashnard." Ein lebih memperjelas lagi.


"Begitulah." Roc mengangkat kedua bahunya dengan santai. "Aku menyayangkan pengalaman pertamaku keluar dari ruang kosong ternyata di antah berantah. Tapi, aku tetap bersyukur daripada tidak sama sekali." Roc melanjutkan dengan melakukan peregangan. "Terima kasih, Ash dan gadis aneh, karena telah memberikanku kesempatan untuk merasakan dunia ... um ... luar sekali lagi. Kalau begitu, ayo kita berkeliling. Sebagai ucapan terima kasihmu, aku juga akan membantumu mencari Ibumu." Roc lalu melangkah lebih dulu ke depan.


"Memangnya kau tahu arahnya?" tanya Ein.


Roc berhenti dan berbalik. "Tidak."


"Sudah kuduga. Pertama-tama, kita akan pergi ke Hutan Bergoyang terlebih dulu," ucap Ein.

__ADS_1


Ashnard merasa aneh melihat Roc berjalan di sisinya setelah sekian lama ini dia hanya bisa diam di ruang kosong saja. Tapi, Ashnard juga merasa lega karena keluar dari tempat itu adalah keinginan Roc. Dengan kata lain, Ashnard berhasil mewujudkan keinginannya.


Sekarang, di dunia misterius penuh jiwa-jiwa yang mengembara. Mereka bertiga harus mengarungi seluruh lingkungan yang tidak familiar dan berbahaya demi satu tujuan. Dengan hanya berbekal tubuh mereka yang tersisa jiwanya saja, mereka melanjutkan perjalanan.


__ADS_2