
Eris tersenyum melihat ekspresi Nina yang terkejut. Dia sejak awal sudah tahu, bahkan sejak pagi.
Dia dan Nina sudah seperti sepasang sepatu. Dimana mereka tidak bisa dipisahkan. Dimana ada Eris disitu ada Nina. Seperti laut dan pantai, gunung dan awan, hutan dan penghuninya. Maka dari itu, saat salah satu dari mereka berpisah, akan langsung terasa perasaan yang berbeda. Eris atau Nina akan sadar jika tidak bersama.
Eris yang sibuk meracik bumbu merasa resah saat Nina tidak ada di dekatnya. Walaupun hanya sebentar, tetap saja dia merasa seperti ada sesuatu yang kurang. Saat keluar untuk mencari sahabatnya itu, Eris menemukan Nina dan Ashnard di depan danau. Apalagi dengan posisi Nina yang berbaring di tubuh Ashnard sambil memandangi danau bersama. Sungguh pemandangan yang langka.
Eris cukup hanya dengan melihat Nina saja masih ada. Dia pun kembali untuk melanjutkan pembelajarannya dengan Cynthia.
"Jadi kau melihatnya? Kenapa tidak memanggilku saat itu?" Nina harus menutupi wajahnya yang sepenuhnya merah sebagai tanda rasa malunya.
Nina yang tertunduk malu tidak memikirkan hal yang lain saat bersama Ashnard di danau, tapi saat Eris menceritakan apa yang dia lihat, Nina menjadi terus memikirkannya.
"Kalau aku memanggilmu, kau justru akan lebih canggung daripada sekarang."
"Bertanya kepadamu juga membuatku malu, kau tahu," rengut Nina kesal.
Nina menatap telapak tangannya. Tangannya itu pernah menjadi saksi genggaman tangan seorang laki-laki. Nina saat itu menggenggam tangan Ashnard sangat erat sekali, tapi baru sekarang dia menyadari bahwa itu memalukan.
"Tidak ada gunanya untuk memikirkan itu. Yang terpenting sekarang, kau harus menentukan apakah dia adalah pangeranmu atau bukan. Yah, tapi itu juga masih harus menunggu. Masih ada yang harus kita lakukan tentang situasi kita saat ini," ucap Eris.
Suasana mendadak serius dari sebelumnya. Dalam jentikan jari, ekspresi riang Eris berubah menjadi lebih tenang dengan tatapannya yang tajam meskipun tanpa kacamatanya.
"Aku tak ingin berpikiran buruk ke para guru atau Kepala Akademi, tapi semua ini terlalu kebetulan sehingga pikiranku otomatis akan tertuju ke sana," gumam Nina.
"Aku tidak akan menyalahkanmu berpikir seperti itu. Akan tetapi, kita harus menunggu terlebih dulu. Teori tanpa fakta yang mendampinginya adalah ucapan yang lucu," ucap Eris.
Pagi telah tiba. Semua orang berkumpul saat melihat Ashnard duduk menunggu di ruang tengah. Awalnya Cynthia bangun lebih dulu, membangunkan Wilia, lalu dilanjut yang lainnya hingga Ulfang yang terakhir bangun.
Liliya yang melihat Ashnard dudum termenung di sofa, segera menghampirinya. "Ash, apa tanganmu sudah sembuh? Kau tak mau menimum dar-"
__ADS_1
"Tidak perlu, Liliya. Terima kasih," jawab Ashnard dengan cepat memotong ucapan Liliya.
Jawaban Ashnard spontan membuat Liliya terkejut. Begitu dingin dan tegas, tapi juga sedih. Tatapannya tidak menunjukkan keraguan. Liliya tahu Ashnard ingin mengatakan sesuatu yang penting saat ini.
Semuanya duduk di kursi dan sofa masing-masing tanpa perlu Ashnard perintahkan. Seolah mereka tahu apa yang harus dilakukan jika ada seseorang duduk di ruang tengah saat mereka terjebak dalam suatu kubah berwarna merah.
"Jika ada yang ingin kau sampaikan, cepat katakan saja. Tidak usah sok berdiam diri begitu," ketus Reinhard.
"Dilihat dari kondisi sekarang, memang tak ada jawaban untuk ini selagi menunggu Gerlon datang. Tapi, apa yang sudah terjadi ini sudah cukup, dan aku tak ingin situasi semakin parah. Karena itu, aku membuat sejumlah peraturan untuk kita semua," ucap Ashnard.
"Peraturan?" Semua mata dari segala kursi tertuju pada Ashnard.
"Ya. Pertama soal pembatasan tempat. Aku ingin jika ingin pergi ke suatu tempat harus meminta izin dariku terlebih dulu. Kalian tentunya tidak akan keluar dari kubah, jadi jika kalian ingin pergi ke sekitar villa, diperbolehkan. Hanya saja, setidaknya harus membawa satu atau lebih orang lain untuk saling menjaga. Kemudian tidak boleh mendekati danau. Aku ingin semuanya masuk ke kamar masing-masing setelah jam tujuh malam. Lalu, segera bangun setelah aku mengetuk pintu kalian. Melapor kepadaku adalah yang terpenting.
"Kemudian soal kebutuhan. Kita tidak tahu kapan kita bisa keluar. Oleh karena itu, kita harus meminimalisir makana yang kita konsumsi. Hanya ada sarapan dan makan malam. Makanan yang dibuat juga harus dengan bahan yang sederhana seperti roti mentega atau sup. Gunakan bahan secukupnya. Dan tidak boleh memasak makanan sendiri. Aku menyuruh Cynthia dan Eris yang bertugas mengurusi persediaan makanan. Dan satu lagi, tidak ada camilan malam.
Bukan ucapan Ashnard yang orang lain tidak mengerti, tapi keputusannya membuat peraturan yang tiba-tiba. Apalagi, tidak semua orang sepemikiran dengannya.
"Tiba-tiba membuat peraturan semena-mena seperti itu. Aku tak ingin ikut permainanmu!" ucap Ulfang sedikit keras.
"Aku tidak mengerti sedikitpun pola pikirmu. Siapa yang menunjukmu sebagai pemimpin? Kenapa kau tiba-tiba membuat sebuah peraturan yang kau tidak tahu itu baik atau buruk untuk orang lain," sambung Reinhard.
"Itu baik untuk kalian. Peraturan itu menjaga agar orang-orang sepertimu tidak membuat kekacauan lagi," jelas Ashnard
"Aku tahu kebaikanmu untuk membuat kami aman, Ash, tapi bukan seperti itu caranya. Akan lebih baik jika kau merundingkannya terlebih dulu," balas Eris. "Meskipun kau sudah memikirkan sendiri peraturan dengan matang, tapi peraturan harus dipikirkan berdasarkan keinginan dan pemikiran bersama. Peraturan harus menjadi pagar yang mengarahkan kita ke jalan yang benar, bukan kurungan yang membuat kita sulit untuk bebas bergerak."
Ashnard menghela nafas. Dia tidak percaya semua orang memojokannya. "Kekhawatiranku ada pada kalian yang sulit untuk menyelaraskan pikiran. Peraturan itu aku buat semalam dan yang terbaik untuk kalian semua."
Lalu, satu demi satu, mereka mengajukan pendapat mereka tentang keputusan Ashnard yang mendadak. Bukannya mereka menuruti ucapan Ashnard seperti yang Roc katakan, mereka justru keberatan dan berusaha mengubahnya.
__ADS_1
Bahkan Liliya yang paling lembut daripada yang lain juga tidak setuju karena dia sangat mengenali Ashnard. Saat Ashnard menolak tawarannya untuk meminum darahnya, Liliya sudah merasa kalau Ashnard tidak seperti dulu lagi.
"Tapi peraturan yang kau buat sangat tidak masuk akal! Selalu melapor kepadamu jika ingin pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu. Kenapa aku harus melaporkan semuanya kepadamu? Bagaimana jika aku hanya ingin buang air atau mencuci tanganku saja? Itu benar-benar merepotkan dan sangat tidak diperlukan." Reinhard melimpahkan semua keluh kesahnya saat itu juga. Mengungkapkan ketidaksetujuannya pada keputusan Ashnard. "Kau bukannya membuat kami aman, tapi justru membuat kami merasa tidak nyaman."
"Kau tidak setuju karena kau memang sangat membenciku. Itu benar. Kau membenciku, kan? Meskipun aku telah membantumu dan menyelamatkan dari Arlon, kau tidak berterima kasih padaku, tapi tetap membenciku seolah semua yang kulakukan adalah kesalahan di matamu! Kau tidak akan bisa bersimpati kepada orang lain jika yang kau lihat hanyalah kebencian saja!"
Reinhard sontak menggebrak meja dengan tangannya. Lalu, berdiri meraih kerah Ashnard dan menariknya dengan kuat. "Hentikan ocehanmu! Aku sudah muak dengan sikap sok pemimpinmu itu!"
Sebongkah es tiba-tiba terlempar di tengah-tengah dua lelaki yang sedang menatap tajam satu sama lain. Lalu, seketika membesar dan membuat lapisan es yang memisahkan mereka sebelum Reinhard sempat mendaratkan tinjunya.
Berdiri lalu membungkuk di samping meja, adalah Cynthia yang telah melepaskan es tersebut. "Maaf atas kelancanganku, Tuan Raegulus dan Tuan Asberion. Namun, keinginan Nona Wilia adalah mutlak. Nona ingin mengakhiri pertengkaran kalian sehingga nona bisa mengutarakan pendapatnya," jelas gadis berpakaian pelayan tersebut.
Berkat tindakan cepat Cynthia, pertengkaran tidak sampai ke puncaknya. Setelah memisahkan Ashnard dan Reinhard, Cynthia kembali ke posisinya yaitu disebelah Putri Wilia yang sedari tadi memijat keningnya.
Wajah Wilia yang selalu dikumandangkan karena menyerupai kecantikan bungan, kini sangat jauh berbeda. Cahaya di wajahnya pudar dan sorot matanya kembali menjadi sosok putri yang dingin.
"Aku akan berbicara serius. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Ashnard Raegulus. Kenapa kau tiba-tiba memutuskan untuk menjadi yang mengatur semuanya? Siapa yang menunjukmu? Seingatku tidak ada proses penunjukan. Dengan kata lain, kau bukan pemimpin kami. Dan kau tak berhak memberi kami peraturan. Jika memang harus ada pemimpin di antara kita, maka itu haruslah aku. Aku seorang putri kerajaan. Kedudukanku lebih tinggi dari kalian semua, dan kata-kataku lebih mutlak."
"Kau sama saja seperti Reinhard. Kau hanya melakukan demi keinginanmu saja, bukan untuk orang lain," dengus Ashnard.
"Reinhard tidak berbicara untukku. Tidak ada satupun yang berbicara untukku kecuali jika aku menyuruhnya. Dan berapa kali aku harus mengatakannya kepadamu? Aku ini seorang putri. Aku memikirkan lebih banyak orang daripadamu. Dan berani sekali kau berkata aku melakukannya demi keinginanku saja. Jika kau orang Rabalm, dan tidak ada situasi seperti ini, aku sudah pasti memberimu hukuman mati atas kelancanganmu."
Semua sikap dan perkataan Wilia sangat berbeda daripada yang mereka tahu. Bahkan suaranya, benar-benar memberikan tekanan yang hebat. Atmosfir di sekelilingnya begitu kuat. Setiap kali dia berbicara, ada suatu perasaan merinding, seolah ingin tunduk padanya. Mereka menjadi diam, patuh, dan tak berani untuk mengatakan apapun saat sang tuan putri membuka mulutnya.
Bahkan Nina sempat merasa tertekan meskipun Wilia tidak berbicara dengannya. Dia tertegun tapi sedikit kagum akan bagaimana Wilia bisa mengubah suasana dan mendiamkan orang lain hanya dengan kata-katanya saja. Nina juga merasa ciut saat Wilia dengan tegas menegur Ashnard dan Reinhard bahkan tanpa menggunakan amarah. Untuk hal ini, Nina mengakui kalau Wilia memang hebat.
"Ini yang ingin kukatakan. Di antara kita semua, tidak boleh ada yang menjadi pemimpin. Semua setara. Semua memiliki suara yang kuat. Semua memiliki peran yang sangat penting. Untuk peraturannya sendiri, aku tidak begitu mempermasalahkannya. Semua peraturan itu masuk akal. Akan lebih mudah dan adil jika kita melakukan pemungutan suara saja. Kalau begitu, siapa yang ingin peraturannya tetap ada?"
Wilia mengangkat tangannya tidak terlalu tinggi di udara, hanya setinggi pipinya saja, tapi sudah menunjukkan dengan bulat tekadnya. Diikuti dengan pelayan setianya, Cynthia. Eris berikutnya yang mengangkat tangan. Lalu, Ashnard dan terakhir Nina. Dan begitulah akhir dari pembicaraan mereka.
__ADS_1