The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Kebohongan Reinhard


__ADS_3

Setelah semua kesalahpahaman, Reinhard menjelaskan kalau dia hanya sedang mengobrol dengan Ulfang, tidak lebih. Namun, dia tidak menjelaskan obrolan apa. Dia hanya menolak untuk menjelaskan lebih lanjut dengan nada songong.


Reinhard mengatakan kalau dia ingin mengobrol tanpa orang lain mendengarnya. Dia adalah sang pusat perhatian. Seorang bintang akademi. Kemanapun dia pergi, akan selalu ada yang mengikutinya. Reinhard tak menginginkan mereka mendengar ini. Karena itu, ia melakukan percakapannya pentingnya bersama Ulfang di tempat sempit, sepi, dan jauh dari aktivitas para murid.


Ashnard dan lainnya justru berpikir sebaliknya. Namun, masih ada hal lain yang harus Ashnard utarakan dan itu lebih penting daripada pemandangan mencurigakan.


"Mungkin ... Pangeran Arlon akan menyerangmu," ucap Ashnard yang menjelaskan maksud kedatangannya.


Reinhard berdengus enteng, salah satu sudut bibirnya meninggi. "Omong kosong! Arlon mungkin membenciku, tapi dia tidak akan bertindak sampai ingin membunuhku. Apalagi di akademi. Dia itu seorang pangeran. Dia seharusnya tahu."


"Tapi, bagaimana jika tidak? Bagaimana jika Pangeran Arlon memang orang yang seperti itu?" Ashnard melempar pertanyaan.


"Tahu darimana? Kau tidak mengenalnya, kan?"


"Aku yakin, kau juga tidak mengenalnya. Aku mendengarnya. Kau tidak."


"Menurutku, dia benar, Reinhard, meskipun aku tidak begitu menyukainya," ucap Ulfang melirik tajam ke Ashnard.


"Kau mempercayainya?" Reinhard menggeleng tak percaya. "Dengar, aku tak peduli apa masalahmu dengan Arlon. Aku juga tidak peduli apa yang kau dengar. Tapi, jika Arlon memang berniat untuk membunuhku, dia sudah melakukannya semenjak tes."


Reinhard dan Ulfang yang memutuskan ingin pergi, dihentikan Ashnard yang berkata dengan bingung. "Tes? Bagaimana dengan lukamu yang waktu itu?"


Sontak kebingungan mengikuti Ulfang dan Liliya seperti mereka baru mengenal Reinhard.


"Luka apa? Kau tidak bilang soal luka apapun," tanya Liliya.


"Iya, kau juga tidak bilang apapun padaku," ucap Ulfang.


Ujung tebing yang berbatu dan dipenuhi semak, di atas bebatuan di belakang akademi, Reinhard berdiri dimana hari yang ditunggu telah tiba. Hari dimana kebohongannya terungkap.


"Aku berbohong soal itu," jawab Reinhard. Ia paham jika hal seperti ini akan tiba cepat atau lembat. Entah itu dari seseorang yang dekat darinya, atau dari musuhnya. Ia tidak ada pilihan. Berdiri di ujung tebing yang tinggi seperti gambaran akan dirinya saat ini.


"Kami butuh penjelasanmu," desak Ashnard yang tatapannya ditajamkan.


"Aku waktu itu bilang bahwa aku terluka karena Arlon yang menantangku. Itu tidak benar. Tidak ada tantangan, tidak ada Arlon. Aku mengarang semua itu," ungkap Reinhard. Tak berbalik menghadap mereka yang telah dibohongi. Tidak ada yang bisa melihat wajahnya sekarang. Apakah sekarang Reinhard sedang marah, kecewa, panik, atau dia biasa saja.


"Apa yang aku hadapi saat itu adalah memalukan."


"Hadapi apa? Siapa yang kau lawan?" Ashnard terus mendesaknya.


"Aku tidak tahu. Malam itu, saat menuju asrama aku melihat seseorang yang mencurigakan berjalan ke arah hutan. Aku mengikutinya dan tiba-tiba saja aku diserang."


"Diserang oleh siapa?"

__ADS_1


"Tenanglah, Ashnard, biarkan dia bicara," ucap Gerlon menyudahi desakan Ashnard.


"Saat itu gelap, aku tak siap dan dalam kelelahan. Aku tidak tahu apa yang menerjang ke arahku. Aku seperti orang yang dihantam dan digulung oleh ombak. Tak bisa melihat dan tak bisa merasakan. Semuanya berlangsung sangat cepat. Aku juga tak yakin seranganku mengenainya.


"Aku membuka mataku dan tak bisa melihat siapapun. Aku hanya bisa menemukan jejak kaki misterius, dan aku langsung teringat akan satu hal."


"Identitas misterius sang peneror," sahut Gerlon tak percaya.


"Aku melakukan hal yang paling memalukan bagi Asberion, yaitu kabur. Aku ketakutan dan langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan darah diseluruh tubuhku. Aku tahu saat aku sampai di asrama, orang-orang akan menghinaku karena kalah dan lari dari pertempuran. Karena itu, aku menuduh Arlon yang menantangku dan melakukan kecurangan." Penjelasan Reinhard berakhir di sini.


Ashnard tidak kaget. Dia tahu tentang kebohongan Reinhard juga terjadi padanya. Jika ada kebohongan lain lagi yang terungkap, Ashnard tidak akan heran jika itu ulah Reinhard.


"Kenapa kau berbohong? Apa yang membuatnya sangat penting hingga kau harus berbohong?"


Ashnard menyetir pertanyaan yang jawabannya sudah ia ketahui. Sesungguhnya, Reinhard adalah perwujudan dari segala hal yang buruk di mata Ashnard. Kebohongan adalah bagian terkecilnya saja. Licik dan arogan menjadikannya sosok yang amat dibenci Ashnard hingga puncaknya adalah tuduhan palsu di depan raja.


Mempermainkan keluarganya adalah kesalahan. Siapapun pasti akan melakukan hal yang sama. Akan tetapi, tindakan Reinhard tidak bisa dimaafkan.


Ashnard bukan orang pembenci yang membawa kebenciannya hingga di liang kubur. Tapi, ini berbeda. Ia akan memberikan kebenciannya itu jika memang diperlukan.


Lalu, apa masalahnya sehingga Ashnard masih membawa kebencian itu hingga kini, meskipun samar-samar atau jarang ia tunjukkan? Masalahnya terletak pada tiga hal. Keluarganya, dirinya yang tak bersalah, dan sikap Reinhard yang menyebalkan.


Sedangkan, jawaban untuk pertanyaan Ashnard adalah karena dia memang perwujudan dari dunia untuk Ashnard membencinya.


"Pasti tentang dinding itu. Kau pasti masih memikirkan dinding itu, kan?" sahut Liliya yang merasa kecewa.


"Dinding Asberion. Dinding yang membuat keluargamu dituduh melakukan kejahatan. Dinding yang mencatat prestasi, tapi tidak lain hanyalah sebuah dinding konyol!" jawab Liliya geram.


Ini pertama kalinya Ashnard dan Reinhard melihat Liliya yang marah setelah sekian lama mereka bersama. Mereka hanya bisa melihat senyuman di balik wajah yang penuh keceriaan itu. Tidak ada ekspresi lain, seolah kehidupan yang dijalani gadis itu sangatlah indah. Kemarahan ini berbeda. Seperti bunga merah yang sedang terbakar.


"Jika kau ingin membantuku mengakhiri perjanjian itu, tidak cukup hanya dengan mengakhirinya saja. Aku ingin kau harus melupakan dinding itu jika ingin membantuku," ucap Liliya.


Banyak hal terjadi di antara mereka, dan banyak kebingungan atau rasa penasaran yang ingin mereka puaskan. Ashnard tak tahu apa yang Liliya ucapkan. Gerlon tak tahu apa yang Ashnard dan Liliya maksud. Ulfang tak tahu kenapa Reinhard tidak mengatakan apapun padanya. Semua itu tertuju pada Reinhard.


Satu langkah melewati jurang, ia akan terbebas dari semuanya. Namun, Reinhard hanya terdiam.


Ashnard yang seolah mendapatkan kekuatan dari amarahnya, seketika menarik kerah Reinhard dan mendorongnya ke pohon. Cengkeraman anak itu sangat kuat, hingga bisa mengangkat sedikit Reinhard yang lebih tinggi darinya.


Semua itu berkat kemarahannya yang memuncak setelah penjelasan Liliya yang sangat memukulnya.


"Kau benar-benar brengsek!" geram Ashnard, matanya menyala liar seolah ada api di dalamnya.


"Lepaskan aku!" berontak Reinhard.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara kau! Gara-gara kau Ibuku ...." Ucapan Ashnard terhenti. Lalu, Ashnard berusaha melayangkan tinjunya tapi gagal. Liliya datang mengambil kesempatan untuk melerai.


Liliya dengan sekuat tenaga dan dibantu oleh Ulfang mendorong Ashnard menjauh dari Reinhard. Liliya setengah memeluk menahan Ashnard dan Ulfang menahan Reinhard.


"Dan apa yang kau lakukan disini? Kau sebenarnya merencanakan untuk menjatuhkanku lagi, kan?"


"Itu bukan urusanmu," jawab Reinhard sambil merapikan kerahnya lalu pergi bersama Ulfang.


Setelah ketegangan sesaat itu mereda semenjak kepergian Reinhard, Liliya melepaskan Ashnard.


"Maaf," lirihnya.


"Kau tidak perlu meminta maaf. Reinhard lah yang seharusnya meminta maaf. Tapi, orang sombong itu tidak peduli sama sekali. Dia bahkan bercerita ingin membuat kita kasihan. Cih, orang semacam dia tidak perlu dikasihani."


"Sekarang apa?"


Di dalam kebingungan yang melarut seperti tetesan tinta hitam di sebuah kolam, Gerlon yang sedari tadi diam. Ia selalu diam dalam ketegangan. Dan kini, wajahnya menyiratkan sesuatu yang membuat semangatnya berkobar.


"Ada apa? Kenapa kau tersenyum?" tanya Ashnard heran saat Gerlon menepuk bahunya.


"Kurasa semua ini masuk akal," ungkapnya.


"Apanya yang masuk akal? Bahwa Reinhard adalah tukang bohong? Yah, tentu saja."


"Meskipun menurutmu ceritanya berlebihan hanya untuk menarik simpati. Tapi, aku menganggapnya berbeda. Ada satu detil yang membuatku penasaran dan aku ingin menunjukkannya padamu." Gerlon mengatakannya dengan seringai lebarnya.


Gerlon membawa Ashnard dan Liliya turun ke lembah jurang. Di sebuah tempat di mana semua ini bermula. Tempat Ashnard pertama kali bertemi dengan Gerlon dan Reinhard di akademi.


"Kenapa kita di rumah Tuan Egon?" heran Ashnard.


Mereka berdiri persis di tempat pertemuan. Saat Ashnard dan Reinhard sibuk bertengkar sedangkan Gerlon berjongkok mengamati jejak kaki yang ia yakini jejak kaki dari salah satu tujuh misteri akademi.


"Maksudmu, tujuh misteri yang kau gumamkan waktu itu?"


Gerlon mengangguk.


"Aku juga tahu cerita tujuh misteri akademi," sahut Liliya.


"Yap, Reinhard berkata dia melihat jejak tapi tak melihat wujud pemilik jejak itu. Itu berarti yang menyerang Reinhard adalah salah satu misteri."


Gerlon berjongkok di tempat yang sama saat ia mengamati jejak kaki itu. Jejaknya memang sudah hilang, tapi Gerlon masih ingat persis di mana letaknya dan seperti apa bentuknya.


"Lalu, aku kembali untuk mengamati jejak kaki ini lebih dalam. Aku menemukan jejak kaki lain di hutan dan mengarah ke satu tujuan," lanjutnya.

__ADS_1


"Ohh, jadi itu alasan kau selalu berkata bersantai di hutan. Jadi ternyata kau tidak sedang bersantai," anggut Ashnard yang mulai paham.


"Ini caraku untuk bersantai," ucap Gerlon tersenyum.


__ADS_2