The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Kegelapan di Akademi


__ADS_3

Di lembah, mereka saling menatap satu sama lain, sementara Gerlon tersenyum merasa keinginan terdalamnya akan segera terwujud.


Selagi Egon yang tertidur di gubuk nyamannya, Gerlon menyarankan untuk masuk ke lebih dalam ke hutan, karena disana ia yakin tersimpan suatu misteri yang ia cari selama ini.


Dengan mengandalkan ingatannya, Gerlon mengikuti jalur yang di mana sebelumnya terdapat jejak misterius.


"Saat aku mengikuti jejak ini, aku merasakan perasaan yang tak enak seolah itu berusaha merasuki ke dalam jiwaku. Dan kupikir, bukankah itu sama seperti efek saat mendekati Jurang Kegelapan?" ungkap Gerlon selama perjalanan.


Ashnard terkejut dan melempar pandangan ke Liliya. "Bagaimana kau tahu?"


"Yah, ada banyak orang-orang yang dengan berani ingin merasakannya sendiri, lalu membuat sebuah buku untuk membagikan pengalaman mereka," jawab Gerlon.


Gerlon berhenti diikuti yang lainnya di sebuah jalan buntu. Bagian belakang hutan yang merupakan tidak ada hal lain selain dinding jurang setinggi ratusan kaki.


"Dan disinilah jejak itu berhenti," kata Gerlon menunjukkan dinding jurang itu.


Hawa dan atmosfirnya semakin aneh saat Ashnard mendekati dinding itu secara perlahan. Tidak perlu insting tajam untuk mengatakan kalau ditempat ini terasa sangat berbahaya.


"Kau merasakannya juga, kan?" tanya Gerlon ke Ashnard.


"Aku kenal perasaan ini." Wajah Liliya tampak gelisah.


Ashnard menyentuhkan telapaknya pada dinding batu yang dingin itu. Kekuatan aneh langsung menyembur di balik dinding itu dan terasakan efeknya berupa nyeri di kepala Ashnard. Kekuatan yang familiar itu tertahan di belakang dinding, yang menandakan ada rongga atau celah.


"Aku tahu kekuatan ini." Mata yang ia lemparkan pada Liliya melebar. "Ini ... kekuatan kegelapan!"


"Jadi, itu benar? Awalnya aku masih ragu sih," ucap Gerlon.


"Bagaimana bisa ada kekuatan kegelapan di akademi?" tanya Liliya yang justru tak ada yang bisa menjawabnya.


Belum sempat Ashnard memikirkannya, Roc mengatakan bahwa ia merasakan suatu pergerakan. Pergerakan yang halus dan samar-samar sehingga sulit untuk menyadari.


Ashnard melihat sekeliling dan tak menemukan apa-apa. Ia hanya bisa mendengar geraman yang menggetarkan jiwanya. Ashnard segera berdiri di depan Liliya.


"Sebaiknya kita pergi dari sini," ujarnya.


Geraman-geraman itu seolah memutari mereka di bawah bayang-bayang pohon. Mereka tidak tahu siapa atau apa yang sedang mengintai mereka. Mata dan telinga waspada pada sekitar seperti mangsa yang tahu kalau dirinya sedang diincar oleh pemangsa.


"Inilah saat yang kutunggu! Untuk mengungkapkan identitas misterius sang peneror!" Tidak seperti lainnya yang waspada, Gerlon justru yang merasa lebih bersemangat.


"Jangan bodoh! Aku tidak bisa bertarung. Aku tak membawaku pedangku," bentak Ashnard.

__ADS_1


Ia lalu meraih dan menarik tangan Liliya dan Gerlon, membawa mereka keluar dari bahaya. Mereka memutuskan untuk tidak kembali lagi dan bersiap lebih banyak. Ashnard tidak tahu pasti apakah ada elemen kegelapan di balik dinding itu dan ataukah ada makhluk yang berbahaya di sana, namun ia menyuruh Liliya dan terutama Gerlon untuk tak kembali lagi ke hutan sebelum mendapatkan informasi yang lebih banyak.


Ashnard dan yang lainnya juga tak berniat melaporkan pada gurunya karena kurangnya informasi.


Memang ada banyak sekali hal misterius dan pertanyaan yang mengganjal, tapi tidak boleh tergesa-gesa di situasi seperti ini. Ashnard lalu mengatakan kalau akan kembali lagi besok dengan persiapan.


Liliya mempercayai Ashnard sepenuhnya. Ia tidak bodoh dengan menuju hutan sendirian atau saat malam. Liliya setuju dan menurutinya. Berbeda dengan Gerlon yang lebih terobsesi daripada yang lain.


Bahkan saat sudah kembali ke asrama, Gerlon ngeyel dan berusaha pergi keluar sebelum Ashnard mencegahnya.


Ashnard tahu jika Gerlon selama ini mengamati jejak kaki, tapi tidak ada gunanya jika dia terluka atau mati. Oleh karena itu, Ashnard menyuruhnya untuk menunggu esok. Ashnard di kamar, menjaga Gerlon dan memperhatikan tiap gerak-geriknya. Karena tidak ada yang tahu meskipun Gerlon mengangguk bukan berarti ia mematuhi Ashnard.


Hingga malam pun tiba, Ashnard harus menunaikan tugasnya apapun yang telah terjadi hari ini.


"Kau dengar aku, Gerlon?" Ashnard memelototi Gerlon yang berbaring di kasur.


"Ya, ya, aku dengar," jawabnya cuek.


"Kita akan pergi bersama besok. Jangan pergi sekarang, ingat? Kau bisa terluka. Ada banyak yang harus kita pikirkan terlebih dulu. Belum lagi masalah Reinhard dan Arlon."


"Apa kau akan menanyakan langsung ke Arlon?" tanya Gerlon.


"Kurasa tidak ada pilihan lain."


"Maaf, ada yang ingin kutanyakan padamu," ucap Ashnard menyela latihan Arlon.


"Kau siapa?" tanya Arlon yang tak berbalik, sibuk mengayunkan pedangnya di boneka latihan.


"Aku pengganti Dester untuk sementara. Namaku Ashnard."


Arlon melirik sedikit melalui bahunya. "Oh, jadi kau. Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Ini soal dirimu dan Reinhard. Aku tahu kau membencinya tapi membawa kebencianmu lebih jauh kurasa itu tindakan yang juga salah. Sebaiknya kau hentikan."


"Apa maksudmu? Aku tidak tahu apapun soal ucapanmu."


"Tidak perlu berbohong. Aku mendengarnya kemarin malam. Kalian merencanakan sesuatu, kan?" tanya Ashnard memastikan.


"Kalian? Siapa yang kau maksud?"


Ashnard heran. "Kemarin, di tempat ini, aku mendengar kau berbicara mengenai rencana pembunuhan Reinhard dengan orang lain. Suaramu itu aku mengenalinya dengan jelas."

__ADS_1


Arlon yang berhenti mengayunkan pedangnya, berdengus mengejek. "Kau mungkin sedang berkhayal. Tidak ada siapapun disini kemarin malam."


Ashnard sudah menduganya jika Arlon tidak akan langsung menjawabnya semudah itu.


"Lalu, untuk apa kau berlatih hingga malam?"


Arlon berbalik dan matanya menatap tajam ke Ashnard yang berdiri di ambang pintu. "Tentu saja untuk menjadi kua-"


"Untuk membalaskan dendammu ke Reinhard, kan? Akui saja. Kau boleh membencinya, tapi kau tidak perlu berbuat sampai di luar batas," potong Ashnard.


"Kau tahu apa? Kau tidak tahu aku."


"Aku tahu perasaanmu, karena aku juga membenci Reinhard. Dia telah melakukan sesuatu padaku dan Ibuku hanya demi mendapatkan prestasi. Kita sama."


"Kalau kau membencinya, kenapa kau ada disini?" Pertanyaan Arlon membuat Ashnard bingung dalam sejenak.


Ashnard membenci Reinhard, sama seperti Arlon. Namun, sikap yang diberikan oleh mereka berbeda meskipun berdasarkan hal yang sama.


Dalam lubuk hati Ashnard, dia berbohong kalau berkata dia telah melupakan perbuatan Reinhard padanya. Dia ingat betul semua hal yang Reinhard lakukan padanya. Dan Reinhard tumbuh menjadi sebuah kebencian di diri Ashnard juga Arlon. Namun, apa yang dilihat Arlon adalah kebencian Ashnard tidaklah kuat.


"Kalau kau membenci seseorang, kau harus menggunakan kebencian itu untuk mengubah dirimu sendiri," ucap Arlon. "Kau tidak menggunakan kebencianmu itu dengan baik."


"Apa maksudmu?"


"Itulah bedanya. Kau hanya sekadar benci, tapi tidak menganggap kebencianmu itu bagian dari dirimu sendiri," jelas Arlon.


"Aku tidak paham."


"Kalau kau tidak paham, pergilah! Tugas prefek bukan untuk menceramahi orang lain. Sekarang aku sibuk," usirnya.


Arlon kembali mengayunkan pedangnya yang berarti ia mengakhiri pembicaraan. Karena tak ada hal yang di dapat, selain tahu kalau Arlon benar-benar membenci Reinhard, Ashnard lalu memutuskan untuk kembali daripada berlama-lama disini. Ia harus cepat kembali sebelum Gerlon pergi dengan seenaknya lagi.


Ayunan itu semakin berat dan semakin cepat, mengikis sangat dalam sebuah boneka latihan dari kayu yang tebal. Lalu, dengan satu tebasan ia mengakhiri boneka itu dan bersamaan dengan langkah kaki sang prefek yang semakin menjauh.


Suara bagian atas boneka yang terbelah dan jatuh, bergema di ruang latihan yang sunyi. Hanya dirinya, pedangnya, boneka, dan kegelapan.


Cahaya tak selamanya menggapai tiap sudut ruangan. Pasti ada satu bagian di sebuah ruangan di mana cahaya tak bisa meraihnya dan kegelapan menguasainya dengan tenang. Bahkan, juga ada di dalam diri manusia.


Hati sang pangeran sekalipun, memiliki celah yang rentan. Dan ketika dibuka oleh Erik, kegelapan mulai masuk berangsur-angsur. Mengisi hatinya yang kokoh seperti batu menjadi hitam selayaknya tinta yang tak bisa dihapuskan.


Ketika matanya terbuka, Arlon melihat semacam kekuatan di balik kenormalan yang mampu menembus batasan fisik manusia. Menciptakan kekuatan eksternal yang mampu menguasai jiwa dan pikiran seseorang, tak hanya melukai, mencemar dan merusak seseorang adalah perkara yang mudah. Merusak seseorang seperti Reinhard bisa menjadi hal yang dapat Arlon nikmati.

__ADS_1


Adanya kebencian yang sudah tertanam di hati Arlon seperti benih, hanya tersisa sebuah sumber tenaga untuk menumbuhkan benih itu. Dan apa yang Erik berikan telah berhasil menumbuhkan benih itu menjadi sebuah kekuatan.


Kekuatan kegelapan yang mengalir di nadinya terasa sangat hidup. Kekuatan itu mengandung segala sumber keburukan sang pemiliknya yang terus akan bertambah seiring keburukannya masih ada. Tidak hanya fisiknya saja, jiwa dan pikiran sang pemilik juga akan tertelan oleh keburukannya sendiri pada akhirnya.


__ADS_2