
Rasa lelah dan lapar menguasai kedua anak itu. Setelah melalui penilaian penguasaan elemental, Ashnard kehabisan semua tenaganya dan ia ingin mengisinya kembali.
Gemuruh perutnya berbunyi sepanjang jalan menuju kantin. Ashnard sudah tak bisa menahannya lebih lama lagi, tapi ia juga tak bisa buru-buru. Harus sabar dan tenang. Ashnard menghirup udara dalam-dalam dan melepaskannya kembali.
"Mereka hebat semua, ya," kata Gerlon merujuk saat kelas penilaian Ashnard, dimana ia ikut menemani dan melihat semua penilaian tersebut. Gerlon kagum pada para siswa yang meksipun masih belum sempurna, tapi berhasil mendapatkan nilai yang bagus.
"Sayangnya, tadi fokusku buyar sebentar. Kalau tidak, mungkin nilaiku yang paling tinggi," gerutu Ashnard sambil memegangi perutnya.
"Tapi, tak kusangka ternyata pengaktifan elemenmu lebih cepat daripada yang lain. Bahkan, murid yang memiliki nilai tertinggi butuh 5 sampai 10 menit sedangkan kau hanya 1 menit saja."
"Penilaiannya menyuruh untuk memproyeksikan elemen dalam volume yang lebih besar, jika lebih dikurangi mungkin aku bisa melakukannya lebih cepat," timpal Ashnard sombong.
"Tetap saja itu sudah lumayan untuk seorang sepertimu."
Mereka lalu berhenti di tengah jembatan, memandang ke lembah yang lebar dan asri. Sungai membentang di bawah kaki mereka, jika jembatan ini tidak menggunakan tali emas, mungkin mereka sudah jatuh dan tenggelam ke dasar sungai.
"Lihat itu," tunjuk Gerlon ke bawah pohon di ujung lembah yang jauh. Ashnard sudah menyipitkan matanya dan yang ia temukan hanyalah sebongkah batu besar seperti nisan.
"Batu?" tanyanya memastikan.
"Aku ingin lihat pengaktifan tercepatmu. Jika kau berhasil mengenai batu itu, aku akan memberikan makan siangku untukmu," tantang Gerlon.
Di hadapan tawaran yang menggiurkan, Ashnard tentu saja tidak akan menolaknya mentah-mentah. "Aku terima!"
Ashnard memejamkan matanya sambil menghirup nafas, mengisi tenaganya kembali. Lalu, ia mengarahkan telunjuknya ke depan. Terkumpul sebuah energi biru di ujung telunjuknya yang membentuk bola air kecil.
Volume yang kecil berarti membutuhkan tenaga yang sedikit juga. Tapi, Ashnard memperkuatnya dengan elemen astralnya. Peluru air itu melesat sekejap mata dalam kecepatan yang melebihi angin.
Mereka tak bisa melihatnya dengan jelas, tapi bisa dipastikan dari cipratannya peluru air Ashnard mengenai batu tersebut.
"Tiga atau lima detik. Baiklah, itu sangat cepat. Kau menang," ucap Gerlon, memberikan tepukan.
"Tentu saja!" ucap Ashnard bangga, merangkul temannya dan bersama-sama menuju kantin untuk mendapatkan hadiahnya.
"Setelah dari kantin aku ingin ke hutan," ungkap Gerlon memberitahu Ashnard jika ingin mencarinya.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau lakukan di hutan?" tanya Ashnard heran.
"Seperti biasa, menenangkan pikiran," jawab Gerlon tersenyum.
Setelah kelas, pada jam istirahat. Ada sekali banyak pilihan yang para siswa akademi lakukan saat jam-jam istirahat. Paling umum adalah kantin, ada juga yang bersantai di taman, bermain di lembah atau kembali ke asrama. Tak jarang juga ada yang memilih menjauh dari kerumunan. Menyendiri di pojok ruangan atau di hutan.
Orang-orang seperti itu bisa saja karena tidak suka keramaian, terbiasa sendiri atau mungkin muak dengan apa yang keramaian telah perbuat pada mereka. Inilah yang Arlon rasakan dan memilih menjauhi tempat yang ramai.
Ia muak juga kesal karena semua perbincangan mengenai Reinhard yang tak ada habisnya. Di kelas, guru membahas mengenai hebatnya dan kenapa seorang Reinhard harus dijadikan sebagai contoh. Obrolan soal Reinhard bahkan masih berlanjut meskipun sambil melahap di kantin. Para gadis di lorong membahas Reinhard, teman-temannya kini memuja Reinhard bak dewa.
Semua itu terjadi semenjak kedatangan Reinhard 5 hari lalu. Dan 5 hari cukup untuk membuat dirinya semakin benci kepada Reinhard. Dia turun ke lembah dan menuju tempat yang sepi untuk meluapkan emosnya pada sebatang pohon.
Penyok di batang kayu tercipta bersamaan dengan bunyi benturan. Hanya tangannya yang tak lecet sedikitpun.
"Kenapa selalu kau, Reinhard Asberion?" geramnya.
Bahkan ia menganggap bahwa jejak Reinhard juga ada di sini karena batu besar di bawah pohon memiliki lubang yang sangat rapi. Menurutnya, hanya Elemagnia hebat seperti Reinhard yang memiliki kekuatan untuk membuat lubang seperti itu.
Daun-daun berguguran seiring Arlon melayangkan tinju terus-menerus pada batang pohon yang menjadi sasaran kekesalannya. Ia tak henti-hentinya memukul seolah-olah amarahnya tidak pernah habis sebelum Reinhard lenyap dari kehidupannya.
Semua kebenciannya memang berawal dari 2 tahun lalu, saat Keluarga Asberion datang berkunjung ke Magnolia. Kedatangan Asberion membuat rakyat memberikan sikap yang berbeda daripada Nortrust.
Hubungan Magnolia dan Asberion memang sangat kuat apalagi semenjak Asberion membantu dalam perebutan Bukit Hilfork, menghasilkan tambang bukit itu sebagai wilayah milik Magnolia.
Keterlibatan Asberion sebagai bantuan yang sangat berharga membuat rakyat sangat mengakui Asberion dan segala kehormatannya.
Itulah yang mendasari rakyat bersikap lebih pada Asberion daripda Nortrust yang merupakan keluarga kerajaan baru. Menggantikan keluarga kerajaan yang asli 50 puluh tahun yang lalu.
Mereka memberi hormat, salam serta sorakan yang tak terhingga. Bagaikan gemuruh ombak yang menerjang kapal. Jalanan hingga alun-alun kota di penuhi rakyat Magnolia. Lebih ramai daripada festival tahunan mereka.
Sikap rakyat ini yang menurut Arlon berlebihan. Sebagai putra mahkota Magnolia, Arlon tentu saja tidak mau ketika gilirannya sebagai pemimpin negara dan rakyatnya justru memilih untuk berpindah ke sisi Asberion.
Arlon tidak suka ketika penduduk Magnolia membangga-banggakan keluarga bangsawan lain daripada bangsawan sendiri. Ia lebih tidak suka lagi ketika, ayahnya dan keluarganya justru tidak mempersalahkan hal itu dan menyambut Asberion dengan sangat ramah. Bahkan terlalu ramah hingga seperti menyambut seorang dewa.
Hampir sebagian hasil tambang Magnolia diberikan secara cuma-cuma kepada Asberion. Ayahnya juga membangun sebuah kediaman khusus untuk Asberion yang jauh dari kerumunan dan dijaga dengan ketat oleh sepertiga pasukan kerajaan. Terlalu berlebihan bagi Arlon, untuk keluarga yang bukan keluarga kerajaan.
__ADS_1
Saat itulah, ia bertemu dengan Reinhard yang sikapnya benar-benar sombong dan menjengkelkan. Arlon yang percaya diri kalau dirinya lebih kuat daripada Reinhard yang masih berusia 15 tahun--dua tahun lebih muda darinya--menantangnya di depan pertemuan dua keluarga.
Tantangan duel itu, diterima dengan bijak oleh Asberion tapi tidak oleh keluarganya sendiri.
Ayah Reinhard, Gerwin berkata saat di meja makan, "Pertarungan juga bisa memperkuat ikatan kedua putra kita melalui pedang dan kekuatan. Bisa dibilang cara lelaki untuk mengungkapkan isi hatinya."
"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Gerwin. Permintaan putra saya tidak usah di dengarkan," ucap ayah Arlon.
"Ada apa, Yang Mulia? Kedua putra kita juga terlihat bersemangat. Dilihat dari putra anda yang menyela saat jamuan makan dengan begitu bersemangat, ia pasti sangat percaya diri dan telah siap sepenuhnya. Ia dan Reinhard memiliki jiwa ksatria yang membara. Bukankah percuma jika dibiarkan api tersebut dibiarkan padam begitu saja?"
"Saya mengerti maksud anda. Akan tetapi, pertarungan ini dapat merusak citra keluarga anda dan saya yang telah saya bangun." Raja Magnolia berusaha memohon-mohon pada Gerwin.
"Citra? Ah, itu juga penting. Kalau begitu, bagaimana dengan pertarungan tidak resmi. Hanya keluarga saya dan anda yang datang, tapi tidak dilihat para warga. Apakah bisa, Yang Mulia?" tawar Gerwin.
Karena Gerwin masih tak menyerah dengan pendiriannya, raja tak ingin membuat hubungannya dengan Asberion menjadi longgar karena menolak. Raja akhirnya menyetujui dan segera melaksanakan pertarungan tak resmi yang hanya dilihat oleh Asberion dan Nortrust saja.
Pertarungan antar kedua putra keluarga bangsawan terjadi dan pemenangnya ialah Reinhard.
Kemenangan itu membuktikan sekali lagi bahwa Asberion masih lebih unggul dan harus dihormati. Di pihak Nortrust sendiri, kekalahan Arlon membuat Nortrust, bahkan Magnolia terjebak di ujung tebing.
Mereka semakin terperosok di hadapan Asberion. Semakin menunjukkan ketidakberdayaan mereka dan membuktikan bahwa meskipun hubungan masih terjaga, tapi Asberion lah yang tetap memutuskan untuk meninggalkan Magnolia atau tidak.
Sang putra mahkota sendiri telah menunjukkan betapa lemahnya Magnolia di tangan Nortrust. Meskipun tidak resmi, tetap disaksikan secara langsung oleh ayahnya sendiri.
Sang raja kecewa pada putranya. Ia ingin membuangnya atas rasa malunya yang lebih besar daripada kekayaannya. Tapi, tak bisa karena akan semakin menjatuhkan Nortrust dan Magnolia.
Hubungannya dengan Asberion mungkin baik-baik saja, tapi hubungannya dengan putranya sendiri berubah drastis.
Di kediaman, ayahnya perlahan tumbuh benih-benih kebencian pada putranya sendiri. Ibunya, sepupunya, dan juga pamannya. Keluarganya semakin menjauhi Arlon dan seolah mengasingkannya.
Sedangkan Arlon tak mendapatkan hasil apapun selain rakyatnya yang masih tetap mengagungkan Asberion daripada raja mereka sendiri.
Tidak ada yang lebih sakit daripada dibenci keluarga sendiri dan rakyatnya.
Arlon memutuskan untuk pergi ke akademi dengan sendiri dan melatih kemampuannya, agar suatu saat nanti ia bisa membalaskan dendamnya pada Asberion dan membuktikan dirinya.
__ADS_1