
Ashnard melompat tinggi ke atas, menghindari serangan sang serigala. Namun, hujanan energi hitam yang Erik lemparkan membuat Ashnard terlempar, meskipun sudah menangkisnya.
Ia baru saja bangun, tapi serigala itu terus menekannya seolah tidak akan berhenti sampai Ashnard mati. Ashnard sudah menghindar, memukul mundur, atau mengganti targetnya, tapi tetap serigala itu tak pantang menyerah.
Ashnard berusaha mati-matian untuk menghindari cakaran dan taringnya yang telah melukai teman-temannya itu. Ia menahan cakar panjang dengan pedangnya. Lalu berputar untuk memberikan serangan balasan ke sisi tubuh makhluk itu.
Lagi-lagi, Erik melepaskan energi proyektil untuk menggagalkan serangan Ashnard. Ashnard terpental karena tak siap.
"Benar-benar merepotkan," geram Ashnard yang tersungkur di tanah.
"Sudah selesai?" Erik berjalan mendekati Ashnard, begitu pula serigala itu berjalan dari sisi kiri.
Selagi kedua musuhnya semakin dekat, Ashnard membisikkan sebuah kata ke pedangnya. Seketika dengungan keras terpancari dari pedang itu dan menyakiti pendengaran Erik dan serigala.
"Argh! Apa yang kau lakukan, sialan!?" erang Erik kesakitan sambil berusaha menutupi telinganya.
Serigala itu juga merasakan hal yang sama. Ia berguling di tanah dan meraung-raung penuh derita. Tampaknya suara dengungan itu cukup untuk menyakiti mereka berdua.
Ashnard memanfaatkan kesempatan itu untuk mengincar Erik. Namun, keputusan Ashnard terlalu cepat. Erik membuka mata hitamnya lebar dan menatap tajam ke Ashnard.
Entah bagaimana dia berhasil terbebas dari siksaan suara pedang Ashnard. Mungkin karena ia menyalurkan energi kegelapan dengan sangat tebal untuk menutupi pendengarannya sendiri.
Erik mengumpulkan energi di sekelilingnya secara masif, hingga daun-daun yang berputar di sekitarnya oleh energi gelap. Urat di sekitar mata hitamnya membengkak, disertai teriakannya.
Udara terkikis di sekitarnya dan hanya tersisa zat hitam yang mengalir keluar dari tubuhnya seperti darah. Zat hitam itu memadat dan membentuk sebuah tombak yang tajam. Lalu, Erik melempar tombak hitam itu ke arah Ashnard.
"Hoku, membesarlah."
Seketika, bilah pedang Ashnard membesar, menjadi sebuah perisai yang melindungi Ashnard dari tombak hitam.
Ekspresi terkejut Erik, membuat Ashnard terpuaskan. "Pedang yang bagus, bukan?" ucap Asnard tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.
Erik tak bisa menahan amarahnya lagi. Bahkan dengan kekuatan kegelapannya, ia tak bisa mengalahkan Ashnard. Ia sangat membanggakan kekuatannya tersebut, dan ia yakin jika seharusnya kekuatannya lebih kuat daripada Ashnard.
Namun, Ashnard yang masih bisa menyeringai santai dan memiliki pedang yang bisa berubah ukuran, membuat Erik semakin kesal. Ia heran, kenapa seseorang seperti Ashnard muncul di tengah rencana. Ia tak menduga semua ini. Semua perhitungannya gagal dan itu cukup untuk membuat ia semakin tertelan kegelapan.
Kewarasannya hampir hilang, ia menyerang Ashnard dengan teriakan dan membabi buta. Energi-energi kegelapan meluap dan terpencar ke mana-mana seperti bola lahar. Menghancurkan pohon, tanah dan bahkan mengenai serigala itu.
Bulunya rontok dan kulitnya meluruh, serigala itu berlari menjauh meninggalkan Ashnard dan Erik.
__ADS_1
"Kau harus cepat meredamkan kegelapan seperti saat kau melakukannya ke Arlon," ujar Roc.
"Tapi, bagaimana? Kegelapan di tubuh Erik adalah elemen murni, bukan seperti Reinhard atau Arlon yang dirasuki elemen kegelapan."
"Hei, tidak ada salahnya mencoba."
"Cih, aku yang repot, tahu."
Bola hitam meluncur ke arahnya, Ashnard harus menghindar jika tak ingin bernasib sama seperti serigala itu. Amukan Erik semakin tak terkendali. Luapan energi kegelapannya meledak ke mana-mana. Ashnard harus cepat mendekati Erik sebelum kesempatannya hilang.
Ashnard berlari menghindari hujanan bola hitam sambil mencari celah. Ketika ia menemukannya, ia langsung bergegas mengarahkan tangannya untuk mencengkeram kepala Erik.
"Sekarang!" teriak Roc.
Dengan sekuat tenaga, Ashnard memasukkan elemen astralnya ke dalam jiwa Erik sebagai pertahanan diri. Elemen astral yang Ashnard kirimkan bertarung dengan elemen kegelapan Erik.
Energi yang saling bertubrukan itu seperti fenomena cahaya di langit yang saling beradu dan tak ingin posisi mereka sebagai mahkota langit digantikan.
Pada akhirnya, dengan segenap tenaga Ashnard, berhasil mengalahkan kekuatan kegelapan tersebut.
"Berhasil!" serunya senang.
Erik terbangun dengan wajah kusut. "Sialan kau!"
Selagi Ashnard terperosok di semak-semak, Erik memutuskan untuk melarikan diri. Memutuskan untuk mundur daripada ia kalah di sini. Rencananya masih panjang dan Erik akan membalaskan dendamnya.
"Erik!" Ashnard lalu dengan cepat bangkit dan berusaha mengejar Erik.
Erik terus berlari hingga menuntun Ashnard di depan dua patung besar yang menjaga aliran sungai. Patung penjaga akademi.
Dalam pikiran Ashnard, merasa senang karena akademi dilindungi oleh lapisan sihir yang saling terhubung antar patung penjaga. Lapisah sihir itu mencegah siapapun untuk masuk atau siapapun untuk keluar tanpa izin. Melarikan diri ke arah patung hanyalah sebuah kesia-siaan saja.
Namun ternyata, Ashnard kedua kalinya merasa senang terlebih dulu sebelum hasilnya terlihat. Erik dengan mudahnya melewati lapisan sihir itu tanpa patung itu menghadangnya. Patung itu terlihat seperti tidak peduli atau tidak sadar, atau bahkan sedang tidak aktif karena sesuatu.
Apapun alasannya, Ashnard tetap tak berhenti dan mengejar Erik hingga keluar akademi. Mereka masuk jauh ke dalam hutan yang tidak dikenali.
Sekarang posisi mereka berada di sungai utara. Aliran sungai yang mengarah ke iklim yang lebih dingin, jika mereka terus berlari hingga ke titik terjauh.
Sungai yang mereka ikuti merupakan pemisah antara dua negera bersalju, Albens dan Eskalsia. Meskipun sama-sama tertutup salju dan hidup bersama es, kedua negara itu tidaklah satu ideologi. Pemimpin mereka saling bertentang dan tak mau mengalah. Apalagi jika mereka menemukan kedua murid dari akademi yang bertarung hingga sampai di perbatasan mereka.
__ADS_1
Ashnard yang sudah terlalu lelah dari berlari cukup jauh, sadar jika Erik sulit untuk dikejar dan tidak terlihat untuk berhenti sama sekali. Ashnard lalu memutuskan untuk mengakhiri kejar-kejaran ini dengan melemparkan pedangnya. Pedang itu tertancap di tanah di depan Erik. Lalu dengan perintah Ashnard, pedang itu membesar, memblokir jalan Erik.
"Sudah cukup!" teriak Ashnard yang terengah-engah.
Erik berbalik dengan muka penuh kejengkelan.
Pertarungan tak bisa dihindari lagi. Tapi, kali ini, Ashnard maju tanpa pedangnya melawan Erik. Ashnard memusatkan elemen air di tinjunya dan di kakinya agar dapat bergerak dengan lincah menghindari semua serangan Erik.
Ashnard berhasil menghindari semua serangan Erik dengan mudah. Bahkan terlalu mudah hingga ia dibuat terkejut. Walaupun pengalaman Ashnard tidaklah banyak, tapi ia sadar bahwa kemampuan bertarung Erik jauh di bawahnya.
Dengan melihatnya saja, Ashnard tahu pukulan yang Erik layangkan lemah, hanya diperkuat dengan elemen kegelapan saja. Tumpuan kakinya tidaklah kuat, posisi bertahannya salah, bahkan arah serangannya sangat lemah dan terlalu terburu-buru. Ashnard yang telah diajarkan cara bertarung oleh Ozark dan Para Penjaga Angin, sangat tahu bahwa semua titik di tubub Erik sangatlah lemah.
Hanya dengan berkelit sedikit saja, Ashnard berhasil menghindari semua seranhan Erik. Ketika Erik melancarkan pukulan ke samping, Ashnard menurunkan tubuhnya sampai pukulan Erik lewat. Lalu, ia berdiri tegak lagi dan melayangkan ke atas sebuah tinju yang mengenai rahang kanan Erik. Erik terpental tak berdaya.
"Kenapa? Kenapa aku tak bisa mengalahkanmu?" tanya Erik sambil memegangi pipi kanannya.
"Kau bukan seorang petarung. Aku tahu itu dari seranganmu yang lemah. Kau hanya mengandalkan kekuatan elemenmu saja," jelas Ashnard.
"Itu tidak masuk akal."
"Aku tidak tahu apa sebenarnya tujuanmu. Menjadi kuat atau hanya ingin membuat orang lain menderita."
"Tujuanku adalah menghancurkan semua orang yang pernah menyiksaku," jawab Erik.
"Apakah semua orang itu termasuk warga desa biasa? Apakah orang-orang yang tak bersalah juga termasuk?" tanya Ashnard. Saat Erik terdiam tak menjawab, Ashnard berdengus remeh. "Hentikan saja semua ini. Menggunakan elemen kegelapan hanya demi egomu saja adalah keputusan yang buruk."
Ashnard lalu mendekati Erik yang terbaring di tanah.
"Baiklah, sekarang kau diamlah. Aku akan menyingkirkan kegelapan darimu."
Erik sontak menendang-nendang pasir dengan kakinya. Berusaha menjauh dari Ashnard seolah tak ingin dirinya disentuh oleh tangan Ashnard. "Tidak! Menjaulah dariku! Jangan dekat-dekat!"
Akan tetapi, ada langkah kaki yang mendekat dan suara cekikikan yang terdengar di antara pepohonan di belakang Erik.
Sesosok pria muncul dari bayang-bayang pohon. Dengan seringainya, ia menyapa, "Kita bertemu lagi, Ashnard."
Ashnard bergidik, bukan karena suara pria itu yang lemah dan rapuh memberikan kesan mengerikan, tapi karena wajahnya yang penuh luka. Luka-luka yang terlihat sudah lama sembuh itu tak menghilangkan bekasnya, justru memberikan wujud unik atau bisa dibilang identitasnya sendiri bagi sang Pria Luka.
Jika seseorang melihat seorang pria dengan wajah penuh luka di depannya, tersenyum lebar meskipun hari tidak cerah, tidak perlu bertanya siapa karena namanya sudah ialah wajahnya.
__ADS_1