
Nina dan Eris dengan santainya menuju kamar Ashnard. Nina menjawab ..., "Ini aku," ... saat Ashnard bertanya siapa yang mengetuk pintunya.
"Karena kemarin kau tidak menyukai buku yang kutunjukkan. Kali ini aku masih belum menyerah. Aku membawa buku yang aku pastikan kau akan menyukainya," jelas Nina saat Ashnard muncul dari pintu yang terbuka.
"Buku apa?" tanya Ashnard penasaran.
Nina memegang erat bukunya di belakang. "Nanti kau akan tahu."
Ashnard tersenyum mengejek, seperti merendahkan selera buku Nina. Dia yakin buku yang sekarang akan sama membosankannya dengan buku sebelumnya. "Baiklah. Kalau begitu, ayo ke perpustakaan." Ashnard mengiyakannya bukan karena bukunya, tapi karena dia ingin menikmati suara Nina saat bercerita.
"Tidak." Nina tiba-tiba, meletakkan telapaknya di dada Ashnard, menahannya. "Aku ingin membacakannya ... di ka-kamarmu," ucap Nina yang kesulitan saat berusaha menatap mata Ashnard.
Ashnard diam, tak mengucapkan satu kata pun, tapi gerak tubuhnya yang bergeser seperti mempersilahkan masuk.
Akhirnya, Nina masuk ke dalam. Ini pertama kalinya dia berada di kamar laki-laki. Jantungnya berdebaran ketika dia membayangkan jika kejadian di novel terjadi pada dirinya. Ada sensasi sejuk yang merasuk ke tubuhnya saat dia menghirup aroma kamar tersebut. Rasanya seperti saat dia menghirup udara pagi.
Nina menemukan pedang Ashnard yang di sandarkan pada dinding di samping kasurnya saat mengamati seisi kamar Ashnard. Dan kunci yang mereka cari, tergantung di atas pedang tersebut.
Nina lalu mengikuti Ashnard ke sebuah meja dan satu kursi di depan kasurnya. Ketika Nina membayangkan jika Ashnard duduk di kursi tersebut, itu berarti kuncinya ada di titik buta Ashnard yaitu di belakangnya. Eris akan lebih mudah mengambil jika Ashnard duduk di sana.
"Kau duduk di kursi itu, aku akan duduk di kasur," ucap Ashnard, melangkah menuju kasurnya.
Namun, dengan cepat Nina menarik tangan Ashnard dan membuatnya duduk di kursi. Tanpa takluk akan rasa malunya, Nina tanpa basa-basi duduk di meja depan Ashnard sama seperti posisi yang tidak sengaja terjadi saat di perpustakaan. Meskipun rona merah terlihat sangat jelas di pipinya, dia tidak gentar. Dia justru menarik kursi Ashnard agar semakin lebih dekat dengannya. Nina juga berhasil mempertahankan tatapannya pada Ashnard.
"Ni-Nina? A-apa yang kau lakukan?" tanya Ashnard gugup. Justru kali ini Ashnard yang kesulitan menatap mata Nina yang begitu penuh tekad dan percaya diri.
"Aku akan membacakan cerita padamu dengan posisi sepert ini. Jujur saja, kemarin kau menyukainya tapi tidak mau bilang, kan? Kalau begitu, kau seharusnya tidak keberatan sama sekali." Sejujurnya, Nina tidak tahu apakah ucapannya soal Ashnard yang menyukai posisi Nina yang bercerita seperti ini, benar atau tidak. Dia hanya mengarangnya saja untuk menekan Ashnard sehingga dia tidak bisa menjawabnya. Dia melakukan semua ini juga untuk memberikannya kesan dominan pada Ashnard.
Seperti dugaan Nina, Ashnard benar-benar tak berdaya. Dia berakhir seperti mainan bagi Nina.
__ADS_1
Setelah Ashnard mematuhinya, Nina menunjukkan buku yang ingin dia ceritakan pada Ashnard saat ini. Salah satu buku petualangan favorit Ashnard, buku petualangan ksatria bintang edisi pertama. Buku yang menunjukkan kisah sedih sang ksatria saat kerajaannya hancur. Buku ini juga menunjukkan awal mula bagaimana sang ksatria memulai tekadnya untuk melakukan petualangan, dan tetap tidak melepaskan sumpah setianya pada negerinya.
Ashnard terdiam membeku saat melihat buku itu karena merupakan salah satu buku yang paling berkesan baginya. Selain yang menjadi alasan Ashnard bercita-cita mengelilingi dunia, buku ini juga menjadi penghubung dirinya dengan ibunya. Ibunya lah yang pertama kali menunjukkan buku ini pada Ashnard.
Awalnya, Ashnard kurang terlalu suka membaca buku, tidak seperti ayahnya. Namun, saat ibunya datang ke kamar Ashnard saat rembulan bersinar melalui jendelanya, pikirannya berubah.
Sang ibu duduk di bawah cahaya bulan. Rambutnya berkibar ditiup angin malam yang masuk melalui jendela yang terbuka. Bulan dan malam yang menemani Ashnard pada saat itu seolah ada sebagai saksi dari kisah tersebut. Membawa jiwa Ashnard ke setiap aksi dan petualangan yang dilakukan ksatria bintang saat pedangnya bersinar perak layaknya bulan itu sendiri.
Suara wanita yang lembut seperti angin malam itu seperti memberikan ketenangan bagi Ashnard, meskipun kalimat yang dia baca menjelaskan kesedihan dan kegagalan sang ksatria dalam mempertahankan tanahnya. Meskipun bukan sedang bernyanyi, tapi Ashnard sangat menikmati alunan suara lembut ibunya.
Setiap titik dan koma memberikan sensasi yang pas di hati Ashnard. Simbol itu bukan sekedar untuk jeda, tapi juga pemberian waktu untuk Ashnard agar menyiapkan diri mendengar nasih selanjutnya dari sang pemeran. Sekalipun sampai di sebuah adegan tegang, Ashnard tidak takut. Berkat ibunya yang begitu semangat menceritakannya, seakan selalu mengingatkan Ashnard untuk tetap berharap.
Ashnard masih ingat betul saat setiap kali ibunya menyelipkan rambutnya yang terurai di belakang telinganya, itu berarti satu bab telah berakhir. Satu cerita dan masalah telah berakhir dan dilanjutkan dengan cerita baru.
Saat ini Ashnard teringat kembali perasaannya pada malam itu. Semua yang Ashnard rasakan saat Nina bercerita, sama seperti saat ibunya yang bercerita. Ashnard akhirnya paham kenapa dia waktu di perpustakaan begitu terpana mendengar suara Nina dalam bercerita.
Ashnard yang sudah tidak bisa berbohong lagi soal perasaannya, melingkarkan tangannya ke bagian betis kaki Nina, lalu memeluknya. Bersamaan dengan itu, Ashnard menjatuhkan kepalanya ke paha Nina, membuat gadis itu langsung terkejut dan mengangkat bukunya.
"A-A-Ash, apa ... apa yang kau lakukan?" tanya Nina yang gemetaran. Dia tidak bisa menyingkir karena kakinya dipeluk erat oleh Ashnard.
"Tolong, lanjutkan saja," gumam Ashnard.
Ashnard semakin membenam wajahnya pada paha Nina. Rasanya yang begitu empuk membuat Ashnard menggesekkan wajahnya ke sang gadis seperti anak anjing yang meringkuk manja pada majikannya.
Menyikapi hal tersebut, Nina terbata-bata. Tak bisa mengendalikan detak jantungnya seolah-olah seluruh sistem di tubuhnya tidak bekerja. Berbeda dengan Ashnard yang tertidur, Ashnard kali ini sadar dan melakukannya dengan terang-terangan. Pikiran dan jantungnya semakin kacau saat Ashnard semakin nyaman meletakkan kepalanya dan menggesekkannya di pahanya.
"Aku sangat menyukai cerita ini. Ketika kau menunjukkan padaku, saat itu aku langsung berpikir, dia harus membaca cerita itu untukku. Harus!"
Nina tidak bisa berpikir jernih jika dia sedang membacakan cerita, tapi Ashnard ada di pahanya. "Ta-tapi-"
__ADS_1
"Kau tahu, Nina. Mungkin agak aneh mengatakannya di saat seperti ini. Tapi, sepertinya aku menyukaimu. Aku merasakan hal yang seperti pada Liliya. Karena itu, aku tidak sebodoh sebelumnya. Aku langsung tahu dan aku tidak akan mengulangi hal yang sama. Berada bersamamu, entah mengapa membuatku nyaman. Aku hanya ingin terus bersamamu."
Nina seperti mesin yang kepanasan dengan asap sebagai tanda dia tidak kuat lagi. Dia bahkan merasa ingin pingsan saat Ashnard menyatakan perasaannya. Dia tidak tahu apakah Ashnard sedang bersungguh-sungguh saat ini atau dia sedang mengigau, tapi yang jelas terasa sangat nyata baginya.
Nina melirik ke Eris untuk meminta bantuan, tapi Eris hanya menatapnya saja. Melangkah perlahan ke belakang, lalu diam-diam mendekati kunci yang tergantung di dinding. Tangan Eris terhenti saat kunci tersebut tinggal beberapa inci saja dari genggamannya.
Gadis itu berhenti karena memikirkan ucapan Ashnard. Padahal, Ashnard menujukannya hanya pada Nina, tapi berefek juga ke dirinya. Eris bertanya-tanya, mungkinkah ada perasaan di dalam hatinya yang selama ini dia tidak ketahui. Secara diam-diam tumbuh dan berkembang seperti kanker dalam dirinya.
Eris mengabaikan pikirannya, dan kembali berfokus ke tujuannya. Dia mengambil kunci itu dengan sangat perlahan, hingga tak menimbulkan bunyi. Lalu, dia mengarah ke pintu keluar.
Dari gerak bibir Eris, dia seolah ingin mengatakan, "Kerja bagus, Nina. Lanjutkan saja bersenang-senangnya." Dia memberikan jempol pada Nina, kemudian keluar dan menutup pintu dengan perlahan seolah-olah tidak ada orang yang keluar masuk.
"Tunggu, Eris!" teriak gadis yang tak berkutik itu dalam hati.
"Entah kenapa, kau memberiku kesan seperti Ibuku. Mungkin itu yang membuatku merasa nyaman. Aku menjadi tenang karena tak perlu mengkhawatirkannya lagi. Aku memohon padamu, ceritakanlah padaku kisah itu."
Nina tidak tahu apakah seharusnya dia sekarang pergi karena tujuan utama sudah terpenuhi, atau tetap seperti ini. Memang sekarang dia tidak bisa berpikir tenang, tapi melihat Ashnard yang bersikap lunak seperti ini, membuatnya terenyuh. Melihat sisi lain dari Ashnard justru semakin membuatnya ingin terus mengenal Ashnard. Akhirnya, dia pun mengabulkan permintaan Ashnard untuk melanjutkan ceritanya.
Gadis itu berusaha setenang mungkin. Menarik nafas dan mengembuskannya lalu melanjutkan kalimat yang tadi terputus. Nina berpikir jika Ashnard menyukai hal ini, sudah sepantasnya dia tidak menghalangi Ashnard.
Sekarang, hanya mereka berdua saja. Dengan suara semerdu nyanyian burung phoenix yang memanjakan telinga Ashnard. Serta kelembutan paha seorang gadis yang Ashnard tidak tahu apakah paha Nina memang selembut dan seempuk bantal berkualitas tinggi, atau karena roknya yang membuatnya nyaman, atau karena stoking yang dia pakai sehingga terasa halus. Apapun itu, Ashnard tidak akan melupakan kenikmatan bak dunia surgawi ini.
Cerita sudah sampai pertengahan, tapi Ashnard sudah tertidur terlebih dulu. Mungkin semua persembahan ini ditambah tangan Nina yang mengusap kepalanya terlalu nyaman sehingga membuatnya terlelap.
Nina lalu mengakhiri buku tersebut meski baru sampai tengah cerita, menutupnya dan meletakannya di meja. Dia tidak bisa melakukan apapun saat ini, karena Ashnard yang tertidur di pahanya juga karena sekarang sudah malam. Dia tidak bisa keluar begitu saja.
Meskipun nasib Nina berakhir di kamar seorang laki-laki dan hanya berdua, Nina tidak menyesalinya. Nina justru menahan semua rasa pegal dan kesemutannya demi Ashnard.
Nina memandangi Ashnard yang tertidur dengan senyuman sambil pipinya ditopang oleh tangannya, sementara tangan lainnya membelai rambut dan kepala Ashnard. Dia tidak memikirkan bagaimana nasibnya selanjutnya, tapi dia sedang menikmati momen ini sebelum berakhir.
__ADS_1