The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Tes Kelayakan


__ADS_3

Kepala Akademi itu memiliki mata ungu yang bagus. Memberikan tatapan yang serius tapi juga misterius. Mungkin bagi para wanita dewasa dan gadis remaja, melihat Kepala Akademi sebagai pria yang tampan. Tapi, bagi para lelaki, orang tersebut tidak lain adalah orang yang berbahaya.


Dengan kemeja biru gelapnya, ia berdiri di atas mimbar seperti sebuah langit malam yang tak tergapai. Ada sebuah bros bersimbol bintang di dadanya seperti menggambarkan sebuah bintang yang sedang tergantung di langit malam.


"Mereka telah terlambat dan tanpa sadar telah diberikan tugas yang tak penting oleh Tuan Egon," ungkap Terenna.


"Dan siapa nama mereka yang telat ini?" tanya sang Kepala Akademi.


Bisikan-bisikan dan gumaman para murid membuat hati Reinhard tertahan. Meskipun, mata para guru sedang tertuju ke arahnya, ia kesulitan mengalahkan rasa malunya sebagai Asberion.


Tanpa keraguan, Gerlon lah yang berinisiatif memperkenalkan diri dulu. Mendahului Reinhard yang tak berdaya pada bisikan.


Gerlon melangkah maju sedikit, lalu membungkuk. "Nama saya Gerlon, Tuan Kepala Akademi."


"Dan siapa nama keluargamu?"


"Saya tak memilikinya, Tuan Kepala Akademi. Saya berasal dari panti asuhan. Alasan saya datang terlambat pada siang hari ini, dikarenakan saya tak memiliki uang untuk membayar biaya transportasi. Oleh karena itu, saya berjalan kaki dari Magnolia menuju ke sini."


Lalu, salah satu guru wanita dengan rambut keriting bangkit dari kursinya. "Berjalan kaki dari Magnolia? Bukankah itu sangat jauh, nak? Apa kau tidak kelelahan sedikitpun?"


"Tentu saja saya kelalahan, nyonya. Tapi, demi akademi saya rela melakukan apa saja."


Seketika wanita itu terpuaskan dengan jawaban Gerlon yang tepat mengenai hatinya yang telah memberikan simpati. "Sungguh murid yang baik."


Setelah Gerlon, Reinhard menyiapkan dirinya untuk tak ingin kalah dari anak panti. "Saya Reinhard Asberion ...." Ucapannya terhenti saat ia semakin mendengar jelas bisikan tentangnya. "Ada kunjungan yang harus saya dan Ayah saya lakukan di Asteria, karena itulah saya terlambat."


Kepala Akademi tersenyum dan sedikit tertawa. "Ayahmu memang lebih memilih mementingkan kehormatan ksatrianya, ya."


Reinhard semakin membungkuk lagi. "Maafkan keterlambatan saya, Tuan Servulius."


"Tak apa, Asberion muda. Aku sebagai Kepala Akademi, merasa terhormat atas para pejuang dari garis keturunan Asberion yang masih mempercayai akademi untuk melatih putra-putrinya."


"Aku menerima kehormatan anda."


Lalu, mata sang pria beralih ke Ashnard yang sedari tadi melirik ke Reinhard yang sedang memperkenalkan dirinya. Mengetahui Kepala Akademi melihat ke arahnya, Ashnard langsung membungkuk dengan panik.


"Saya-"

__ADS_1


"Aku tahu kau, Putra Ebert," sela Kepala Akademi tersenyum. "Aku telah lama bertanya-tanya kapan kau akan datang ke sini."


Ashnard mengangkat tubuhnya dan terheran. "Anda kenal Ayahku?"


Kepala Akademi menjawab, "Ya, tentu saja. Dia adalah murid yang luar biasa. Paling menonjol daripada yang lain. Kau memiliki mata sepertinya."


Gerardus yang duduk di meja di belakang mimbar, bangkit dan menghampiri Kepala Akademi. Ia terlihat membisikkan sesuatu sambil sesekali melirik ke Ashnard disertai senyuman.


Senyuman perlahan merekah dari Kepala Akademi. Mendengar pernyataan Gerardus, ia langsung bertepuk tangan.


"Jadi, begitu, ternyata kalian adalah murid rekomendasi."


Sontak semua murid dan para guru berbisik atau saling melempar pandangan tak percaya. Murid rekomendasi berarti murid yang sudah dipercayai secara khusus oleh guru-guru yang berpengalaman melalui pengamatan yang panjang dan penilaian yang rumit. Dan guru yang memberikan surat rekomendasi pada Ashnard, Gerlon dan Reinhard adalah Gerardus.


Gerardus tentu saja tak asal menentukan siapa yang berhak mendapatkan rekomendasi darinya. Tapi, tidak dengan Reinhard. Meskipun Reinhard juga mendapatkan surat rekomendasi, pada dasarnya ia tak memerlukannya. Ketenaran dan kehebatan klan Asberion telah cukup memberikan pengaruh yang besar, dan sudah pasti ia akan diterima di akademi.


"Dengan surat rekomendasi tersebut, kalian sudah diterima menjadi murid akademi secara sah tanpa jalur pendaftaraan," lanjut Kepala Akademi memberikan sensasi bahagia pada diri Ashnard. "Tapi, kalian harus melewatu satu hal terlebih dahulu untuk menguji nilai standar kelayakan kalian."


"Nilai standar kelayakan?" Ashnard bertanya.


"Ya. Penilaian utama. Yaitu tes pertarungan," kata pria itu. "Ada tiga standar nilai kelayakan yaitu, Nol, Mesis, dan Exos. Nol adalah nilai paling rendah dan Exos adalah yang paling tinggi. Semua siswa di belakang kalian sudah melakukannya, tapi sekarang tersisa kalian yang belum.


"Dalam tes pertarungan kalian kali ini, dibebaskan untuk memilih atau menawarkan diri sebagai lawan kalian. Bisa dari kalangan murid, atau jika tidak ada, para guru bersedia menjadi lawan kalian.


Kepala Akademi lalu menatap Reinhard. "Silahkan. Sebagai putra keluarga Asberion aku memberimu kesempatan untuk memilih lawanmu duluan. Kau bisa memilih siapapun yang ada di ruangan ini. Seseorang yang kau kenal atau tidak. Bebas. Atau jika kau tak bisa memilih seorang pun, mereka yang bersedia boleh mengajukan diri."


Reinhard pun mengangguk, tapi tiba-tiba tangan-tangan dari kalangan para murid terangkat di udara dengan serentak. Jumlahnya terus bertambah banyak. Dari seseorang yang Reinhard kenal maupun tidak sama sekali, telah mengangkat tangannya untuk menantang Reinhard berduel.


Reinhard merasa kesulitan dalam memilih lawan tandingnya. Ia termenung selama beberapa saat sebelum Ashnard menyenggolnya.


"Banyak juga yang menantangmu," ejeknya. "Mereka tidak tahu kalau kau telah kalah dariku. Jika mereka tahu, mungkin mereka akan kecewa."


"Diamlah," geram Reinhard. "Aku yang sekarang sudah berbeda."


Ashnard mengangkat satu alisnya sambil tersenyum meremehkan. "Sungguh?"


Reinhard merasa jengkel, menunjuk Ashnard sambil berteriak dengan lantang. "Dialah yang akan menjadi lawanku!"

__ADS_1


"Maaf, Tuan Asberion, kalian tak boleh saling melawan. Kalian harus melawan orang lain yang sudah mendapatkan nilai kelayakan," tolak Kepala Akademi.


"Aku saja yang menjadi lawanmu, Reinhard Asberion!" Suara lantang terdengar dari barisan para murid, ialah pangeran dari Magnolia, Arlon Nortrast.


"Arlon," guman Reinhard sedikit menggeram. "Baiklah, kau boleh menjadi lawanku sekali lagi," katanya.


Reinhard tak memiliki pilihan lagi. Ia pun mengiyakan penawaran dari Arlon, karena Reinhard sendiri tahu betul dengan Arlon. Ia tahu karena dirinya lah yang telah memenangkan duel dengannya setahun yang lalu. Ia tidak perlu takut sedikitpun pada orang yang sudah pernah ia kalahkan.


"Bagaimana denganmu, Ashnard Raegulus?" tanya Kepala Akademi.


Sekarang giliran Ashnard untuk menentukan lawan tandingnya. Dalam penentuan lawannya tersebut, ia masih berpegang teguh ucapan Ozark dan Nous dimana ia tak boleh tampil menarik banyak perhatian orang-orang. Meskipun sekarang ia sudah melanggarnya dengan berdiri sebagai murid yang terlambat, Ashnard tak ingin memperburuknya.


Ia ingin memilih seseorang yang biasa saja. Sehingga untuk hasil akhirnya, entah menang ataupun kalah akan dianggap biasa saja. Tapi siapakah yang pantas menjadi lawan Ashnard?


Tanpa Ashnard sadari, Liliya sudah hampir mengangkat setengah lengannya di udara, tapi ia ragu dan tak jadi. Liliya ingin sekali membantu Ashnard, tapi keraguannya tetap menguasainya lebih dari keinginan sebenarnya.


"Kalau begitu, aku saja yang menjadi lawannya, Tuan Servulius," ucap seseorang dari deretan para guru, yaitu Gerardus sendiri yang menawarkan dirinya.


Tentu saja murid-murid semua terkejut tak percaya untuk kesekian kalinya. Mereka tak percaya jika seorang guru yang menawarkan dirinya melawan seseorang yang mereka anggap tidak lebih dari Reinhard.


"Apa kau yakin? Tuan Gerardus?" tanya Kepala Akademi memastikan.


"Ya, merekalah yang telah kuberikan surat rekomendasi dan mendapatkan momen tak mengenakkan di hari pertama mereka. Karena itu, aku ingin bertanggung jawab dengan sebagai lawan tanding yang pantas," jelas Gerardus.


Kini, Ashnard semakin mencolok dan semakin menjauh dari perintah yang telah diberikan sebelumnya. Ashnard tak memiliki pilihan lain selain menerima Gerardus.


"Dan yang terakhir, Tuan Gerlon. Bagaimana denganmu? Apakah kau sudah menentukan lawanmu?" tanya Kepala Akademi ke Gerlon.


"Saya sudah memikirkannya, Tuan Kepala Akademi. Saya memutuskan untuk tidak ikut dalam tes kelayakan ini," jawab Gerlon yang sekali lagi membuat para murid dan kali ini guru menjadi heboh.


"Kenapa jika aku boleh tahu?"


"Saya lebih memilih membuktikan kualitas nilai diri saya saat di ujian yang sesungguhnya. Ujian yang dilaksanakan tiap tahun untuk meninjau kemampuan para murid. Saat itulah aku bersedia akan melakukannya, aku akan menunjukkan semua hasil kerja kerasku."


"Tapi, jika kau tak ikut tes yang sekarang. Nilaimu otomatis adalah Nol, hingga ujian semester dilaksanakan. Ditambah, beberapa aksesmu di akademi di batasi karena ketidaklayakanmu. Apa kau akan menerimanya?"


Gerlon membungkuk dengan tangan kanan di dada kirinya, juga tersenyum lembut. "Dengan senang hati. Itu tidak masalah bagiku, Tuan Kepala Akademi."

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu semua sudah diputuskan. Dan tes kelayakan kalian akan dilakukan saat ini juga."


__ADS_2